
"Dunia itu telah musnah, terlahap oleh kekosongan dan kehampaan, ribuan meteor jatuh dan menghujam permukaan tempat mereka hidup dengan ganas dan tanpa ampun, bumi seakan terbelah dan remuk sedikit demi sedikit, hujan badai, dan bencana lain datang dan terus menggempur planet yang sudah begitu tua dan rapuh, jerit kematian terus menggema disetiap sudut dunia, pada akhirnya, langitpun memilih turun untuk merengkuh bumi"
"Dia yang telah dikutuk tetap berdiri di moment akhir kehidupan Ras Shinobi, menyaksikan sedikit demi sedikit dunia itu hancur, itulah akhir. Jika kalian bertanya apakah "Dia"berdosa? Apakah "Dia"akan mendapat hukuman atas perbuatanya?"
"Tidak!,,, karena apa yang ia lakukan merupakan hukuman itu sendiri, "Dia"tak pernah meminta, namun sang pencipta sendiri telah berkehendak, ia sadar kehendak mutlak tuhan mustahil untuk ditawar, jika boleh memilih, ia lebih memilih untuk tertidur dan tak ingin bangun lagi sampai kapanpun, memilih tak dikenal, dan terhapuskan dalam kehampaan seakan exsistensinya tak pernah ada"
"Dan pada kenyatanya tuhan menginginkanya untuk tetap bangun dan terus melaksanakan tugasnya, jika demikian,, ia akan terus berjalan diatas takdir, tanpa berniat untuk melawan takdirnya sendiri, sekuat apapun ia berada di semesta ini, ia sadar, tuhanlah yang selalu bertahta diatas segalanya, ia hanya sebagian kecil dari kehendaknya, dan ia percaya-,,,
"-,,,Akan ada saat dimana nanti ia akan tertidur dengan lelap,, ditempat terindah yang siapapun tak berhak memilikinya, bukan Syurga, atau bahkan Neraka"
"Akan tetapi-,,
"
"
"
"
"
Tap
...
Tap
...
Tap
...
Langkah itu terdengar menggema disetiap sudut, mengisi kekosongan ditempat yang hanya dipenuhi kegelapan, entah kemana langkah kaki itu berjalan menggapai tujuanya, tak ada yang tau selain dirinya sendiri, tudung dari jubah hitam itu menjadi penghalang bagi siapapun untuk mengenali raut wajahnya.
Tap
...
Tap
...
Hanya langkah kaki itu yang terdengar ditempat kekal menuju bagian paling menyedihkan di alam semesta, sebuah tempat dimana mereka yang hina dan kotor kembali,, untuk mempertanggung jawabkan dosa-dosa mereka selama berada didunia.
...
Tap
...
Pada akhirnya langkah itu terhenti dalam diam ketika dihadapkan sebuah gerbang raksasa.
Wushh
Wushh
Dua obor tampak menyala disamping kanan dan kiri gerbang besar tersebut, menunjukkan sebuah ukiran dua tengkorak yang saling berhadapan, dan perlahan,,, gerbang itu mulai terbuka,, tampak asap putih perlahan bocor keluar dari celah gerbang tersebut. Diiringi pencahayaan merah terang yang mendominasi asap putih.
Krakk
Grakkkkkk
Wusshhhhhhh
Ketika gerbang itu terbuka seutuhnya, hawa yang begitu panas terasa menyengat kulit, dengan warna yang sepenuhnya didominasi merah terang.
Sosok berjubah hitam tersebut tetap diam ketika gerbang itu seakan mempersilahkanya masuk,, dan perlahan kembali melangkahkan kakinya, menerobos kumpulan asap putih yang tersimpan sesuatu yang begitu panas berwarna merah dibalik kepulan asap tersebut.
Dan kemudian gerbang itu kembali tertutup, seiring tenggelamnya sosok hitam barusan kedalam dunia tempat mereka para pendosa.
Yah!,,, itulah,,,,,
"Neraka"
,,,,
Pekikan demi pekikan kesakitan terdengar pilu menusuk Indra pendengaran, raungan memohon ampun, dan teriakan meminta tolong saling bersahutan dari jiwa-jiwa para pendosa, dan ketika tubuh mereka hancur bahkan secuil tulang pun tak tersisa, mereka kembali dibangkitkan, dan kembali disiksa dalam keabadian hingga dosa mereka lebur, tubuh yang terbelenggu rantai neraka, membuat jiwa-jiwa itu tak hentinya meronta sekuat tenaga, namun,,, semakin mereka meronta, semakin kuat pula rantai yang merajam tubuh mereka.
Pada jembatan kecil diatas lautan kobaran api Neraka, tampak sosok berjubah hitam itu berjalan dengan tenang,, tak memperdulikan teriakan kesakitan dan meminta tolong. Sesekali jiwa mereka melayang mencoba menggapai sosok berjubah hitam tersebut, akan tetapi pada akhirnya jiwa mereka kembali tertangkap rantai yang terus mengejar.
„„
Disudut lain ditempat tersebut,, terlihat sesosok makhluk yang disibukkan dengan sebuah buku besar bertuliskan nama-nama para pendosa.
Degggg
Tersentak kaget tatkala ia sang penguasa alam kematian kembali merasakan Aura gelap yang ditemuinya beberapa waktu lalu dialam kehidupan. Wajah itu mengeras seketika, gigi-gigi runcing yang tampak mengerat, dengan mata kuning predatornya yang bergerak liar kesegala arah.
[Aura ini? Grrrrrr,,, untuk apa "Dia"kemari?]
Tak berselang lama,,, dihujung pandangan Sang Shinigami tampak sosok berjubah hitam yang berjalan mendekat kearahnya.
Tap
..
Tap
..
Dan kemudian sosok berjubah hitam itu berhenti beberapa meter dihadapan si penguasa alam kematian dan Neraka.
[Grrrrr„„„?]
[Apa yang membuat makhluk sepertimu mengunjungi tempat ini lagi,, "Drago"?] 'berusaha setenang mungkin, karena Shinigami tau, sosok dihadapanya amat sangat berbahaya, tak ada jaminan jika Neraka akan tetap utuh jika "Dia"merasa tak nyaman dengan sambutan yang diberikan.
Sosok itu tetap diam,, tak berniat menjawab ucapan dari Shinigami, dan entah mengapa terdiamnya sosok tersebut membuat sang Shinigami merasakan hal yang tak mengenakkan.
"Tak ada,, hanya mengambil sesuatu yang tertinggal, jadi,,, tenangkan dirimu,,,, Shin, 'pada akhirnya sosok tersebut mengangkat suaranya, tak ada exspresi yang berarti dari ucapan sosok tersebut, hanya terdengar datar dan begitu kosong,, kemudian melengserkan Hoddie yang menutupi kepalanya hingga terlihatlah surai pirang keemasan yang membentang menutupi mata kananya, menjuntai kebawah hingga mendekati leher,, hanya raut wajah mati yang terlihat, tak ada exspresi lain yang bisa digambarkan dari potretnya selain kekosongan.
Lega,, begitulah yang Shinigami rasakan, karena melihat jika penguasaan tubuh tersebut berada dibawah kendali si pemilik asli,, setidaknya berbicara dengan wujud asli dihadapanya terasa lebih baik dari pada dengan "Dia".
[Grrrrr,,, apakah yang kau maksud adalah pedang hitam itu,, pedang yang selalu haus akan darah, dan pedang yang akan membawa dunia semakin mendekati kiamat-,,,
[-,,,Pedang Ragnarok]
"Kau benar!,,, Kau kira apa yang bisa kulakukan selain memenuhi takdir dan kutukan ini Shin,, aku ada hanya untuk bertempur dan mengirim mereka semua ketempat kembalinya masing-masing, dan pada akhirnya harus mengakhirinya saat itu juga, 'jawabnya lirih,, sembari memejamkan mata sesaat.
[Aku mengerti maksudmu "Drago",, karena itulah kau yang seharusnya merupakan ketiadaan harus ada, kau dikurung ditempat terdalam Neraka, untuk menunggu peranmu dimulai, dan-,,,
__ADS_1
[-,,Mencari pembebasan diri dari kutukan yang terus kau bawa, kau ingin terbebas, kau ingin semua ini berakhir, dan kau ingin kembali ketempat seharusnya kau berada]
"Begitulah!,, kau lebih mengenalku dari siapapun"
[Baiklah,, tak ada alasan untukku menahanmu disini, ambil saja pedang itu, lekaslah pergi dari tempat yang semakin terasa sesak ini dengan kehadiranmu,,, dan-,,
[-,,Jangan kemari lagi]
"Kau takut aku menghancurkan tempat ini lagi seperti waktu itu, "
[Cih!,, sudahlah, tapi sepertinya bukan hanya untuk itu kau datang kemari?] 'Mata khas predator itu memicing tajam.
",,,,"
"Kau sudah tau jawabanya"
[Lakukan sesukamu,, tapi ingat! Jangan membuat kekacauan]
"Kau tenang saja,, aku tak berminat mengacaukan tempat menyedihkan ini lagi"
[,,,,?]
Kemudian pemuda bersurai pirang keemasan itu kembali mengenakan Hoddienya, dan melangkahkan kakinya menuju bagian paling mengerikan di tempat ini, meninggalkan sang Penguasa alam kematian dalam kesendirian, mata khas predator itu terpejam.
'[Sayangnya pembebasanmu masih sangat lama,, "Drago"]'
„„
Dan disinilah ia berada,, tempat bagi mereka yang terhina dan terkotor dihukum, sebuah tempat spesial yang diperuntukan bagi jiwa-jiwa yang penuh akan dosa, tempat terpanas dari yang terpanas. Hanya terlihat lautan jiwa yang tenggelam dalam lahapan api Neraka yang terus berkobar ganas.
Sosok berjubah hitam yang tak lain adalah Naruto itu terus berjalan, seperti sebelumnya, sedikitpun ia tak peduli dengan teriakan penuh rasa sakit yang mengisi pendengarannya, itulah hukuman bagi mereka-mereka yang telah larut dalam keduniawian semasa masih bernyawa.
"Arrrrrggggggghhh, sakiiiiiiiiiitt"
"Ampuni a-,
"Arrrgggghhhhhhhhhhhhhhh"
"Tidaaaaakkk,, tolong ak-,,
"Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa"
"Huwaaaaaaaaaa panaaaaaaaaaaass"
"Ampuni aku kami-samaaaaaaaaa"
Teriakan demi teriakan kesakitan terus bertebaran ditempat tersebut, mereka dirantai, mereka dicambuk, mereka dibakar, dan disiksa tanpa henti, darah yang mengucur seakan menjadi minyak tanah yang semakin membuat kobaran api itu mengganas, ketika mereka mencoba lari dari keinginan Neraka, para Algojo kembali menyeret dan melemparkan mereka, kejadian yang terus berulang seakan hanya itu, dan hanya untuk itu, terpenjara dalam siksa dan kesakitan hingga entah kapan, setiap detik mereka lalui dengan susah payah, berharap ada sedikit pengampunan.
Dan entah sebuah kebetulan atau memang sudah direncanakan, terlihat ribuan jiwa yang tengah dirantai berjalan sempoyongan berbondong-bondong, keluar dari tempat penampungan setelah jiwa mereka diambil dari kematian, dengan didampingi para Algojo Neraka yang senantiasa memegang hujung rantai, sesekali mereka dicambuk untuk tetap berjalan menuju jurang penyiksaan.
Beberapa saat kemudian rombongan itu telah sampai dihadapan sosok berjubah hitam tersebut, dan seketika itu pula, mereka semua diberhentikan paksa oleh para Algojo bertudung hitam dengan lengan yang hanya terlihat tengkoraknya saja, dengan kata lain, tubuh yang tertutup jubah tersebut merupakan seonggok tengkorak berjalan.
Mereka yang tengah dirantai hanya bisa bernafas lega tatkala jiwa mereka bisa beristirahat sejenak, terlihat raut wajah ketakutan dari mereka para pendosa ketika melihat disekilingnya hanya terlihat kobaran api yang menyala-nyala, jiwa-jiwa itu bergetar, dan jatuh tertunduk sembari mengingat dosa-dosa mereka dikehidupan, sesal,, hanya itu yang mereka dapatkan setelah memori-memori kejam yang pernah mereka lakukan terus bertebaran difikiran mereka.
Salah satu Algojo Neraka itu maju kedepan, mereka tak mengerti siapa sosok berjubah hitam dihadapan mereka saat ini, karena mereka para Algojo saling mengenal satu sama lain, sedangkan mereka mengira apa yang kini dihadapannya sosok asing atau bisa mereka katakan sebagai penyusup.
Tap
..
Tap
..
Sosok itu tetap diam,, namun berbeda dengan Aura yang ia pancarkan,, Aura kelam dari makhluk awal yang menempati Neraka terdalam jauh-jauh hari sebelum para jiwa manusia yang kotor menghuni Neraka. Dan seketika itu mereka para Algojo langsung tunduk dan berlutut, mereka tau,, aura ini,, Aura yang konon sang pencipta sendiri yang memenjarakannya didasar Neraka, Aura dari makhluk penguasa kegelapan yang sesungguhnya.
[Ma-maafkan atas kelancangan hamba, "Drago-sama"!]
"Berikan aku tempat untuk menyapa mereka, 'balas sosok berjubah hitam tersebut.
[Ha-hamba mengerti]
Kemudian Algojo tersebut segera menyingkir dari jalan yang akan dilalui sosok berjubah hitam tersebut.
Tap..
Tap...
Kini,, ia telah berdiri tegak dihadapan ribuan pendosa yang meringkuk ketakutan dan kesakitan, ketakutan akan siksaan yang akan mereka terima cepat atau lambat.
Terlihat wajah-wajah yang begitu familiar dari mereka para pendosa, mereka semua kini tengah menatap sosok berjubah hitam yang berdiri dihadapan mereka saat ini. Harap-harap cemas jika itu bukan lagi sosok menyeramkan yang akan menghukum mereka. Hingga kemudian sosok tersebut menggerakkan lengannya untuk melepas Hoddie yang dikenakan.
Deegg
Deeegg
Ribuan pasang mata itu melotot tak percaya, entah kejadian buruk apalagi yang akan menimpa mereka, baru beberapa saat lalu mereka terbebas dari iblis berbentuk manusia yang mengantarkan jiwa mereka pada kematian, kini,,, iblis berwujud manusia itu kembali mengejar mereka,, tak tanggung-tanggung bahkan itu keneraka.
Dan ribuan pasang mata itu melihat bagaimana para Algojo yang menghukum mereka tunduk pada pemuda bersurai pirang tersebut, pemuda yang mereka jadikan korban diskriminasi dan penghianatan. Sungguh,, sungguh mereka tau seberapa mengerikannya pemuda itu, bahkan di Neraka sekalipun "Dia"berkuasa.
„„
"Apa kalian sudah mengerti?, 'ucapan yang begitu datar nan kosong kembali terlontar dari bibir pemuda berumur 23 tahun tersebut.
Tak ada jawaban barang sepatah katapun,, mereka semua terdiam dengan kepala yang tertunduk.
Ctarrrrrrrr
Ctarrrrrrrrr
"ARRGGGGHHHHHHHHHHH"
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAA"
[Cepat jawab?] 'mereka para Algojo tanpa segan melecutkan cambuk yang digenggam, menarik rantai mereka dengan kencang, membuat beberapa diantara mereka tersungkur.
"K-kami me-mengerti Na-naruto,, m-maafkan kesalahan kami, 'salah satu diantara mereka memberanikan diri untuk memberikan jawaban, dengan menahan sakit dan bergetar.
"Baguslah kalau kalian mengerti, dan-,,, "
"Nikmatilah kehidupan abadi kalian ditempat menyedihkan ini, seret mereka semua kedasar jurang"
[Kami mengerti,, "Drago-sama"]
"TIDAK NARUTO, KUMOHON AMPUNI KAMIII, 'teriak keras salah satu mantan rekanya, Nara Shikamaru.
"HIKZZZZ,,,, NARUTOOOOO, KUMOHON,, KUMOHON BANTU KAMI KELUAR DARI TEMPAT IN-,,
Ctarrrrrrr
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA"
__ADS_1
"TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK"
Dan satu persatu wajah itu berlalu dengan sendirinya, mereka menatapnya penuh harap, seakan mengisyaratkan penyesalan atas perbuatan mereka, berharap dibebaskan dari hukuman mereka di Neraka,, namun wajah itu hanya membalasnya dengan tatapan kosong, seakan sudah tak perduli sama sekali.
Dan tiba wajah itu berjalan didekatnya,, wajah dari mantan sahabat dekatnya yang berjalan paling belakang bersama kedua istrinya,, wajah dari tiga penyebab terjadinya petaka mengerikan yang menimpa seluruh Elemental Nation.
"Na-naruto,, apakah sebegitu bencinya kau terhadap kami, 'tak ada suara datar khas Uchiha lagi, hanya terdengar lirih yang tertahan, menahan sakit yang seakan terus menggerogoti jiwanya.
"Hiksss,,, kami semua mengaku salah,, 'lanjut Sakura dengan kepala tertunduk. Sedangkan Hinata hanya terdiam tak berani menatap mata penuh kekosongan itu.
"Kau sudah tau jawabanya,, Sasuke,,
Dan kemudian pemuda bersurai pirang panjang itu membalikkan badannya.
"Berharaplah jika Kami-sama meringankan hukuman kalian,, 'lalu kembali melangkahkan kakinya meninggalkan tiga jiwa yang menatap kepergiannya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Ctarrrrrr
Ctarrrrrrr
"Arrrggggghhhhhhhh"
"Kyaaaaaaaaaaaaaaaa"
[Cepat jalan]
„„„„
Baginya ia sudah tak perduli lagi,, apapun kenangan yang pernah tersimpan dilubuk hatinya telah ia kuburkan, dan semua telah Kompleks, dendamnya telah terbalas, dan dunianya telah ia hancurkan,, sudah waktunya menutup kisah lama dan mulai membangun kisah baru.
Langkah itu semakin membawanya ketempat terdalam,, tempat dimana ia pernah dikekang oleh sang pencipta.
Tap
...
Tap
...
Pada akhirnya langkahnya telah sampai dipenghujung tujuan,, Saffier beku itu mengamati tempat tersebut, melihat segala sudut untuk mencari apa yang menjadi tujuan utamanya datang ke tempat ini, sekilas tak ada yang berubah. Hanya terlihat bekas dari sebuah penjara yang hancur,, dengan ribuan rantai yang tergeletak berserakan. Ingatan dari jiwa barunya seakan membawanya pada kisah awal semuanya dimulai, bagaimana ia dipenjarakan sang pencipta, mulai menunggu dalam kekosongan.
Namun,, beberapa ratus tahun kemudian, "Dia" yang sudah mulai lelah dan muak untuk menunggu, memutuskan untuk berontak dan menghancurkan semua yang ada disekitarnya, tak ada yang mampu menghentikanya saat itu, bahkan Shinigami tak mampu berbuat sedikitpun. Setelah ia keluar sehabis memporak-porandakan Neraka, kemudian "Dia"mulai berpetualang dalam bentuk pecahan aura Negatif yang terus bertebaran kesegala penjuru dunia, mencari seseorang yang ditakdirkan menjadi tempat kebangkitannya. Seseorang yang diliputi pedih dan kesengsaraan hidup yang mengerikan.
Setelah beribu-ribu tahun "Dia"mencari,, tibalah saat dimana "Dia" melihat seorang bocah rubah bersurai kuning lahir kedunia, "Dia"melihatnya,, melihat takdir dan kesengsaraan berat yang akan dipikul bocah tersebut suatu saat,
Mulai dari situlah jiwanya perlahan masuk, dan tidur dalam diri pemuda tersebut, menunggu saat yang tepat untuk mulai menunjukkan Existensinya.
Bibir itu tersenyum getir ketika menyadari jika ia yang harus menjadi tonggak kesuksesan dalam misi mengerikan tersebut, tapi,, inilah jalan takdir dari sang pencipta yang diperkenankan untuknya. Rumit dan penuh darah, bersamaan dengan kematian yang selalu lapar akan jiwa-jiwa mereka yang kotor.
Langkah itu bergerak menuju sisi paling hujung lorong penjara tersebut, "Dia" merasakan sesuatu yang seakan memanggilnya.
Tap
..
Dihujung pandangannya ia melihat sebuah pedang hitam bersinar yang menancap pada sebuah batu cukup besar. Kemudian meneruskan langkahnya mendekat.
Tap
..
"Sudah lama menunggu?, 'ucapnya kemudian. Menyapa senjata kematian yang sudah begitu haus akan darah.
Pedang itu semakin bercahaya gelap seakan memberikan jawaban dari tanya majikanya.
Grebbb
Srinnnnggggggg
Pedang hitam sepanjang satu meter itu telah tercabut dari tempatnya berada. Pedang yang terasa begitu liar meski tergenggam erat oleh si pemilik.
"Sepertinya kau sudah kelaparan, 'ucap Naruto sembari mengamati pedang hitam tersebut, tak ingin terlalu lama mengulur waktu, kemudian langsung menyegelnya kedalam Fuinjutsu penyimpanan. 'Tunggulah,, semuanya baru saja dimulai'
"Kau sudah siap Kurama"
"Grrrr,,, kapanpun,, Naruto"
Mendengar ucapan antusias dari partnernya cukup membuat Naruto menorehkan senyum tipis, entah mengapa ia merasa ikut bersemangat saat itu pula.
"Bagaimana dengan ketiga manusia itu? "
"Tiga manusia? "
"Bocah pasir, bocah bodoh, dan juga bocah bulan itu,, apa tak apa membiarkan bocah bulan itu pergi bersama mereka? "
"Tak ada yang perlu dikhawatirkan, semua akan berjalan sesuai takdirnya,, Kurama, dan akan tiba saatnya nanti kita berkumpul kembali bersama mereka"
"Begitu,,, baiklah,, sekarang lebih baik kita segera pergi,, suasana disini semakin membuatku muak"
Tanpa menjawab pemuda bersurai pirang panjang itu langsung membuat robekan dimensi seukuran tubuhnya diudara kosong.
Namun,,, entah mengapa Naruto terdiam setelah membuka Robekan Dimensi, ia mengingat sejenak memori-memori masa lalunya, dari awal hingga berakhir seperti ini, melihat bagaimana ia kecil dipukuli, ia dibenci, mengais tong sampah untuk mendapatkan sisa-sisa makanan, meneguk ludah ketika ia harus melihat beberapa warga makan dengan lahapnya disebuah kedai, ia berjalan pulang dengan tubuh ringkih menahan lapar, ia menangis tertahan pada sebuah ayunan ditaman, ia melihat anak seusianya berjalan dengan bercanda ria bersama kedua orangtua mereka, ia sendiri,,, akan selalu sendiri,, dan sampai kapanpun akan tetap sendiri. Dan hanya satu yang benar-benar bersamanya sejauh ini.
"Terimakasih telah menjagaku-,,,,,
"-,,,Kurama"
Sebuah ucapan dan senyum tulus tampak membuat raut wajah mati itu terasa kembali hidup sesaat.
Moncong penuh taring-taring tajam itu seakan tertarik kebelakang mendengar ungkapan singkat dari sang-Hostnya,, entah mengapa ungkapan tersebut terasa begitu berarti untuk sang Rubah hitam tersebut, seakan kehadirannya benar-benar dihargai dan berguna.
"Sama-sama,,, Gaki, untuk kali ini saja, lain kali jangan ucapkan kata itu lagi, entah mengapa itu membuatku risih, 'balas Sang Rubah Hitam kemudian, namun tak bisa dipungkiri, terbesit rasa bangga ketika ia membalas rasa terimakasih dari pemuda bersurai pirang keemasan tersebut.
"Baiklah,,, kita pergi"
"Tentu,,, Naruto"
"Selama tinggal-,,
"-Kisah lama"
„„„
Wussshhh
Dan berakhirlah sudah kisahnya dalam Episode penghianatan dan dendam, dunia telah melihat dan menyaksikan langsung bagaimana caranya membunuh, caranya untuk membantai, dan caranya untuk menegakkan keadilan, terus menapaki jalan hitam penuh noda darah, entah sampai kapan makhluk sepertinya akan terus hidup dan membawa kutukanya, namun,, ia tak akan berhenti,, ia akan terus mencari jalannya untuk pulang dalam ketiadaan, meskipun itu dihujung alam semesta sekalipun-,,,,,
"-,,,Dia"takkan menyerah"
Jangan lupa like and Vote brooo biar nambah semangat:D
__ADS_1