Dark Creature

Dark Creature
Gabriel


__ADS_3

[Sampai jumpa dipertemuan berikutnya, wahai jiwa yang terkutuk "Drago"] 'sebuah ucapan yang terdengar perlahan mengisi pendengarannya, meski samar namun masih terasa jelas menyapa telinganya.


'Yah,! Sampai jumpa, 'balas sipemuda dalam hati.


Dan saat itu pula dunia kembali mendapatkan kesadaranya, angin kembali berhembus, awan kembali bergerak, dan tumbuhan mulai kembali bergoyang, termasuk kedua Malaikat jatuh tersebut.


'Apa yang terjadi,, entah hanya perasaanku saja tapi,, aku merasakan kehadiran Ayah sebelum semuanya seperti berhenti, 'pada kenyataanya Bellial sadar jika ada yang tak beres.


Sedangkan Azazel yang melihat perubahan exspresi dari Bellial hanya bisa menaikkan alisnya bingung.


"Ada apa denganmu Bellial? 'Tukas Azazel kemudian.


"Entahlah Azazel,, sesuatu seperti baru saja terjadi, 'balasnya kemudian, namun ia memilih untuk tidak mengungkapkan firasatnya.


"Sesuatu,, ah mungkin hanya firasatmu saja Bellial, dari tadi aku tak merasakan apa-apa, 'lanjut Azazel enteng.


'Hah,, dasar,, Instingmu tetap saja buruk Azazel, 'helaan nafas lelah ia keluarkan dalam hati, ternyata benar, rekan disampingnya tak merasakan apa yang ia rasakan.


Dan kemudian netranya menatap pemuda yang melayang jauh diatasnya.


'Pemuda itu,, apa yang sebenarnya terjadi, 'fikiranya masih tak mengerti.


Keduanya kembali bersiaga tatkala pemuda tersebut mulai turun perlahan.


Tap


Tubuh kokoh itu kini kembali menapak tenang dipermukaan tanah dipinggiran sungai, menatap kosong dua Malaikat jatuh dihadapanya.


Jarak yang terpotong antara mereka berkisar Kisaran 10 meteran, dalam jarak sedekat itu tak ayal membuat Bellial dan Azazel benar-benar dalam mode siaga satu, bagi mereka lawan dihadapanya dapat dengan mudah menggenggam kehidupan mereka hanya dengan mengandalkan kecepatan yang benar-benar terlampau mengerikan.


,,


"Pergilah kalian berdua, 'ucapnya datar, Saffier beku itu kembali menengadah kelangit, menatap hari yang semakin menjelang petang.


Deggg


Deggg


Tak bisa dipungkiri jika ucapan tersebut berhasil membuat kedua Malaikat jatuh tersebut tersentak.


"Apa maksudmu? Kami tak akan pernah lari meninggalkan medan pertarungan, lebih baik kami mati dari pada harus menyerah dan melarikan diri, 'balas Azazel sengit, mendengar ucapan pemuda tersebut entah mengapa harga dirinya sebagai Jenderal perang merasa diremehkan.


Bellial hanya terdiam, setidaknya ia masih memikirkan ucapan pemuda tersebut.


'Mungkinkah ini ada hubunganya dengan kehadiran Ayah yang kurasakan tadi, 'katanya dalam hati! Mencoba mendapatkan kesimpulan atas apa yang pemuda tersebut ucapkan dengan mengaitkan tentang firasatnya beberapa saat yang lalu.


Entah apa makna dari senyum yang kini tercetak jelas diraut wajah kosongnya, Saffier beku itu mengamati tenggelamnya matahari sedikit demi sedikit.


"Tak ada maksud apapun untuk itu,, pergi dan jadilah lebih kuat ,, bocah-bocah Syurga yang telah jatuh"


"Akan tiba saatnya nanti kita bertemu dalam medan yang sesungguhnya, 'ucap Naruto lirih.


Kali ini, Azazel dibuat bungkam dengan ungkapan pemuda tersebut.


'Apa maksudnya dengan medan yang sesungguhnya'


Disisi lain Bellial mulai mendapatkan sedikit pencerahan ketika mendapat kalimat tambahan dari pemuda tersebut.


'Apakah mungkin perang,'


Kemudian tubuh itu berbalik kebelakang, dan mulai melangkahkan kakinya dengan pasti.


"Mau lari kemana kau berengsek, 'teriak Azazel sembari mencoba mengejar kepergian pemuda tersebut.


Grebbb


"Hentikan Azazel, jangan melakukan hal bodoh, 'tukas Bellial kemudian.


"Apa maksudmu Bellial, biarkan aku membunuh pemuda brengsek yang telah meremehkan kita itu, 'balas Azazel sengit.


"Hah!,, berfikirlah sebelum bertindak, ini seperti bukan kau saja, "


"Kau harusnya bersyukur Azazel, 'lanjut Bellial kemudian.


"Bersyukur? Apalagi maksudmu? 'Balas Azazel bingung.


"Sejauh pengamatanku, pemuda itu jauh berada diatas kita, dengan kata lain, pemuda itu bisa saja membunuh kita saat ini dengan mudah, bahkan kau harus dua kali hampir kehilangan nyawa, dan itu sudah cukup untuk membuktikan jika kita bukanlah tandingannya, 'jelas Bellial kemudian.


"Lalu, apa kita harus menyerah dan kembali tanpa membawa kemenangan? "


"Ini bukanlah menyerah atau melarikan diri Azazel,, kau tak mengerti maksud sebenarnya dari pemuda itu, 'lanjut Bellial sembari menatap keberadaan pemuda bersurai pirang yang mulai tenggelam dalam kubangan kabut hitam dikala hari yang telah didominasi warna hitam remang-remang.


Terdiam,, dan mulai berfikir Realistis, begitulah yang tengah dilakukan Azazel, entah mengapa dirinya kehilangan pengendalian ketenangan dan selalu mudah terprovokasi, itulah perbedaan signifikan antara mereka berdua.


"Hah! Mungkin benar apa katamu Bellial 'ucap Azazel kemudian, berusaha menormalkan kembali keadaanya yang terasa kacau dan memalukan sebagai seorang Jenderal.


"Pemuda itu bermaksud menyuruh kita untuk berlatih lebih kuat dari saat ini, hingga kita kembali dipertemukan dalam pertarungan yang sesungguhnya didalam medan peperangan"


"Bagaimana bisa kau mengambil kesimpulan demikian Bellial? "


"Yah!,, itu hanyalah instingku,, "

__ADS_1


'Meski aku yakin jika ada hal lain tentang itu, 'lanjutnya dalam hati.


"Hah,,, baiklah kalau begitu, 'helanya pasrah.


"Kita kembali, 'ucap Bellial sembari mulai mengepakkan sayapnya untuk terbang, disusul Azazel yang mengangguk mengerti dan ikut terbang dibelakang sang Wakil Gurbernur Datenshi, dan mulai menembus gelapnya malam menuju Teritori mereka didunia bawah.


..


..


Change Sceane.


,,


,,


Malam itu terasa dingin dan begitu sunyi, dinaungi jutaan Bintang yang bersinar ala kadarnya. Masih berada didunia manusia, tepatnya pada sebuah kastil yang terletak dipulau terpencil, hawa dingin terasa menyayat kulit, menambah suasana mistis ditempat tersebut, pepohonan lebat nan begitu rimbun seakan menjadi penghias Kastil yang menjulang jauh keatas, dikelilingi menara tinggi disetiap sudutnya.


Disitulah tempat mereka hidup dan tinggal, bangsa malam pemakan darah, The Legend of Vampire, dimana existensi mereka dianggap mitos bagi kalangan manusia, namun,,, siapa menduga jika bangsa mereka benar-benar nyata, dan berbaur bersama mereka para Manusia, sama seperti Iblis, dan Malaikat jatuh, namun mereka memilih tinggal dibumi manusia dari pada harus ikut tinggal ditanah terkutuk Mekkai bersama dua Fraksi Akhirat.


Didalam kastil tersebut, terlihat sebuah singgasana megah dengan sesosok wujud yang mendudukinya, sama seperti Ras lainya dimana mereka memiliki satu pemimpin utama, hal itu juga berlaku pada Ras Vampire.


Mata merah itu bersinar tajam dikegelapan kastil, gigi taring yang terlihat jelas, ia lah sang Raja Vampire pertama yang berkuasa "Dracula".


Tap


Tap


Tap


Dikegelapan kastil tersebut terdengar sebuah derap langkah kaki yang begitu menggema di keheningan. Terus berjalan hingga kini berhenti tepat dihadapan Sang Raja Vampire.


,,


"Apa kau sudah menemukan keberadaan ledakan Energi besar yang meledak tadi siang,, Alucard? 'Tanyanya kemudian kepada sosok yang baru saja datang, bernama Alucard,, yang tak lain adalah putranya hasil perkawinannya dengan seorang perempuan dari Ras manusia.


"Ayah,,, aku tak mengerti apa yang kau khawatirkan, tapi,, aku tak berhasil menemukannya,, keberadaanya seakan terhapuskan begitu saja, 'jawab Alucard kemudian.


"Grrrrr,, bedebah,, ini tak bisa dibiarkan, cepat cari lagi keberadaan pemilik Aura sang Legenda Youkai itu, 'gerangan penuh amarah terdengar begitu jelas.


Alucard hanya bisa terdiam, ia sendiri tak mengerti mengapa ayahnya tersebut begitu khawatir, meski ia merasakan jika ledakan Energi tadi siang cukup untuk membuatnya berkeringat dingin.


"Bolehkah aku tau siapa Youkai pertama yang ayah maksud? 'Tanya Alucard kemudian demi memuaskan rasa penasaranya.


"Kau tak mengerti putraku, Ras kita sedang dalam bahaya, "Juubi no Ookami"sang dewa Youkai pertama merupakan makhluk mengerikan yang kekuatanya setara dengan sang naga hitam pembawa kehancuran, Trihexa, makhluk buas itu telah lama menghilang ratusan tahun yang lalu, dan asal kau tahu Alucard, makhluk buas itulah penghuni awal tanah terkutuk Mekkai jauh-jauh hari sebelum bangsa Iblis dan Malaikat jatuh datang, 'jawab sang Raja Vampire kemudian, ia yang telah hidup beratus-ratus tahun jelas mengerti bagaimana Legenda itu ada.


Deggg


"Lalu,, apa yang membuat ayah khawatir? "Lanjut Alucard kemudian.


"Kita sejauh ini memangsa para manusia dan Youkai, jika sang Dewa Youkai telah kembali menunjukkan Existensinya, kita akan kehilangan satu sumber makanan kita Alucard, bagaimanapun ia akan murka jika mengetahui ras nya dijadikan makanan bagi bangsa vampire, 'jelas Dracula kemudian.


"Jadi begitu,, baiklah aku mengerti, 'balas manusia setengah Vampire tersebut, meski demikian, sang ayah tak pernah mempermasalahkan status putranya tersebut, baginya Alucard mendominasi Gen Vampire miliknya, bakat dan kemampuanya, kelak akan menjadi pengganti yang pantas.


Dengan itu Alucard mulai meninggalkan tempat tersebut, hanya menyisakan sang Raja yang tampak memandang datar kepergian putranya.


'Sepertinya akan terjadi hal besar kedepan, 'ungkapnya dalam hati.


..


..


..


Change Sceane.


,,


,,


Ia terus berjalan dikeningan malam dunia, menembus setiap jalan gelap nan berliku, gelap adalah hidupnya, dan kegelapan merupakan jiwanya, sampai kapan, entahlah, bahkan ia harus menunggu ditengah rasa jengah dan lelah. Pembebasan, hanya untuk itulah ia terus bertahan dari kesakitan yang takkan pernah terpisah dalam setiap langkah yang dibawa.


Jubah hitam yang melambangkan warnanya kembali berkibar tatkala hembusan angin kencang kembali menerpa.


Tap


..


Tap


..


Langkah itu terhenti sesaat ketika ia menemukan sebuah ayunan dibawah pohon cukup rindang bergerak pelan tatkala terpaan angin menyapanya. Mata biru dibalik Hoddie yang menutupi kepalanya itu memandang diam ayunan tersebut.


Samar-samar siluet rekayasa bayangan sesosok bocah berambut kuning jabrik tampak dalam pandangannya, mengenakan kaos putih oblong yang tampak usang, menunduk diam dalam kesendirian, berayun dalam diam dengan pandangan sendu, ah rasanya masa lalu memang tak pernah bisa pudar. Begitulah mungkin apa yang berada dalam fikiran sosok berjubah hitam tersebut.


Tidak lain dan tidak bukan itu merupakan potret lamanya sebagai bocah Monster pecundang.


Tap


Tap

__ADS_1


Langkah itu membawanya semakin mendekat.


Deb


Entah hal apa yang membuat sosok tersebut mendudukkan tubuhnya pada ayunan tersebut.


"Apa yang membuatmu mengikutiku sampai sejauh ini, 'ucapnya pelan, namun masih dapat terdengar di Indra pendengaran sosok yang dimaksud.


Tersentak kaget saat keberadaanya telah diketahui, saat itu ia tak tau harus berbuat apa, berusaha lari, atau menunjukkan keberadaanya.


Pada akhirnya ia memutuskan untuk turun dan memilih untuk menunjukkan existensinya.


"Ma-maaf jika itu mengganggumu pemuda-san, tapi,, a-aku masih ingin tahu tentangmu, 'jawabnya jujur, terbesit rasa takut ketika ia dihadapkan sosok makhluk yang akan membawa dunia ini pada masa kehancuran.


Sosok berjubah hitam yang tak lain adalah Naruto itu terdiam sesaat ketika mendengar jawaban polos nan lugu dari Malaikat bersurai pirang tersebut. Dan perlahan ia melepaskan Hoddie yang menutupi kepalanya, menampakkan helaian surai pirang yang tak kalah lembut dan panjang dari sosok malaikat perempuan dihadapannya.


"Duduklah,,! 'Ucapnya datar,, sembari menggerakkan telapak tangan kirinya menepuk tempat yang tersisa diayunan yang ia duduki.


Entah apa yang harus ia perbuat lagi, Gabriel merasa ragu jika harus memenuhi permintaan pemuda tersebut, namun,, entah mendapat dorongan dari mana hingga membuat langkahnya berjalan mendekat.


"Maaf jika kehadiranku membuatmu tak nyaman Naruto-san, 'ucapnya lirih, berusaha meredam ketakutannya ketika jarak yang tersisa berkisar setengah meter dari pemuda tersebut.


Tak ada jawaban, dengan ragu Gabriel menolehkan kepalanya kesamping menatap sosok yang bersangkutan, dari situlah Gabriel dapat melihat dengan jelas raut wajah pemuda tersebut dari dekat. Meski dalam keadaan gelap sekalipun, mereka para makhluk supranatural diberkahi kelebihan dimana gelap tak menghalangi pandangan mata mereka.


"Siapa namamu? 'Dua patah kata berhasil lepas dari bibir pemuda yang tengah memandang langit, hanya terlihat satu Bintang yang tampak kesepian dalam pandangannya.


"Ga-gabriel,, kau bisa memanggilku Gabriel,, 'jawab Malaikat perempuan bersurai pirang tersebut.


Tak ada respon yang berarti, pemuda itu tetap diam dengan pandangan kosong, saat seperti itulah, Gabriel mampu melihat raut wajah mati tanpa sinar kehidupan dari pemuda disampingnya.


"Kau tak akan pernah mengerti apapun tentangku, 'kata pemuda tersebut.


Mendengar jawaban tersebut, Gabriel terdiam sesaat, memang benar apa yang dikatakan sang pencipta dan pemuda tersebut, "Dia"adalah makhluk yang tak bisa difahami.


"Apa kau tak pernah menyesali pilihanmu?, 'balas Gabriel sembari ikut menengadahkan wajahnya kelangit.


Senyum hambar terlukiskan pahit tengah menghiasi wajah pemuda bersurai pirang keemasan tersebut ketika mendengar sebuah tanya akan jalan yang ia tempuh.


"Tidak!, menyesal berarti aku memilih jalan untuk mati sebagai pecundang hina, 'mungkin, rasa lelahnya menjadi seekor keledai bodoh membuatnya menduduki posisi teratas sebagai makhluk pembawa kehancuran.


"Bu-bukankah itu lebih baik dari pada kau harus mengotori tanganmu dengan darah,, Naruto-san?, 'sahut Gabriel mengutarakan pendapatnya.


"Apa yang bisa kulakukan selain itu? "


Gabriel menunduk bingung ketika ia tak mampu menjawab ungkapan pemuda tersebut.


"Apa yang kau lihat tak berarti membuatmu mengerti bagian yang tak terlihat, semua tampak mudah namun pada pembuktiannya itu sulit, sama sepertiku,, kau bisa berkata mudah agar aku berhenti dari apa yang telah menjadi jalanku, namun,, kau tak mengerti sebuah konsekwensi jika aku lari dari takdir dan kutukanku"


"Konsekwensi? 'Balas Gabriel tak mengerti sembari menatap wajah pemuda tersebut lekat-lekat.


"Kau benar,, tapi,, lupakan saja,, ada saat dimana sebuah rahasia tak bisa diungkapkan, satu yang harus kau ketahui-,,,


"Semua tak akan berubah, dan akan tetap berjalan sebagaimana Ia menggariskan, termasuk tangan ini,,


"Yang harus terus kotor dengan darah para pendosa dalam keabadian, 'ungkap Naruto, memandang kosong telapak tangannya yang menengadah keatas didepan dada, tangan yang ia gunakan untuk mengambil ribuan nyawa manusia dengan kejam dan bengis bak seekor binatang buas yang tak memiliki perasaan.


Dadanya terasa sesak, ia tahu,, pemuda tersebut merasa sakit dalam hati, pemuda itu tak pernah ingin semua ini terjadi, dan ia melihat, raut kesedihan terpancar jelas diraut pemuda tersebut.


"Aku percaya,, kau melakukan semua itu semata-mata atas nama keadilan, kau adalah sosok yang ditunjuk Ayah sebagai Elemen penting kehidupan, 'balas Gabriel berusaha meredam lara dari pemuda tersebut.


"Aku tak perduli apapun kata orang lain, entah mereka menganggapku baik, buruk, jahat, kejam, atau bahkan hina sekalipun, karena pada akhirnya semua sama saja, mereka akan mati dalam sesal yang tiada hujung, mereka para pendosa tak akan bisa lari dari maut yang kugenggam, 'mata merah darah itu, kembali bersinar dikegelapan, kabut hitam mulai hadir perlahan melahap tubuh pemuda tersebut.


"Pastikan kau tak mengikutiku lagi, karena,,, ada saat dimana hasrat membunuhku bangkit untuk melihat darah dan kematian, 'ucapnya kemudian,, sekaligus mengakhiri perjumpaan dua makhluk berbeda Ras tersebut, tenggelam seutuhnya dalam pekatnya kabut hitam, meninggalkan sang Burung merpati Indah yang tengah termenung.


Gabriel hanya bisa terdiam ketika mengamati sirnanya wujud pemuda tersebut, sekaligus ketika mendengar ucapan terakhirnya.


'Kuyakin kau tak akan melakukan itu,,, kepada siapapun yang tak berdosa,,, pemuda-san, 'tukas Gabriel dalam hati, terlukis senyum tipis di bibir ranumnya.


Lalu,, kedua belas sayapnya kembali terbentang lebar, meninggalkan sebuah ayunan usang sebagai saksi awal kisah mereka yang tak akan pernah sempurna, kisah yang tak akan pernah lengkap, untuk sebuah akhir Indah yang tak akan pernah terwujud, karena,, mereka tak pernah ditakdirkan, dan tak akan pernah ditakdirkan untuk bersama.


..


..


..


..


..


..


..


..


..


..


..

__ADS_1


__ADS_2