
Futon : Daitoppa
Dadanya mengembang seperti balon, tertahan sedetik, lalu dengan sekali sentak berhembuslah gelombang angin kencang dari mulut pemuda tersebut.
Wussssssshhhhhhh
Blaaaaarrrrrrrrrr
Serangan berupa tebasan bulan sabit itu hancur dan mengurai kembali dalam serpihan cahaya, bagian dari kaum Tenshi itu tampak terkejut ketika hasil karyanya telah pecah menjadi partikel-partikel cahaya yang kemudian lenyap tanpa arti.
Tap
Wuuusssshhh
Belum juga sedetik kaki jenjangnya menapak tanah, pemuda itu langsung melesat cepat tanpa mampu dilihat dengan mata telanjang.
"A-appaa? "
Dalam sekejap, wajah berlumur darah itu telah berada tepat dihadapanya.
Greeeppp
"Argghhhhh"
Lengan kanan yang dibaluti perban penuh bercak darah itu mencengkram leher dari sosok Malaikat yang menyerangnya.
"Mengapa kau menyerangku brengsek? " kata pemuda tersebut mengintimidasi sosok malaikat yang berada dalam cengkramannya.
"Ugh,, k-kau hanya akan menjadi perusak, ma-makhluk sepertimu tak pantas dibiarkan hidup" jawab Malaikat tersebut meski ia merasakan jika untuk bernafas saja terasa sulit, namun, jawaban itu adalah sebuah kesalahan fatal, karena, pemuda itu akan dengan senang hati memberikan balasanya lewat kematian.
Kepala bersurai pirang itu terlihat dimiringkan ketika mendengar ucapan bak seorang pahlawan dari mulut malaikat tersebut, ironis memang, bahkan makhluk tuhan yang satu ini menganggap Existensinya sebagai perusak, apa malaikat dicengkramanya ini tolol. Harusnya mereka semua kaum Tenshi sadar dan tau jelas posisinya masing-masing, pada kenyataanya sang pencipta telah menggelar sebuah sandiwara didunia ini, dimana ada tokoh yang berperan sebagai protagonis, antagonis, maupun figuran. Dan tentu saja mereka menjalankan perannya masing-masing, dan tak sepantasnya ia yang menjadi pemeran utama dalam kisah ini harus disalahkan.
"Aku tak percaya malaikat sepertimu memiliki otak yang begitu dangkal"
"Ughh,, a-apa maksudmu sebenarnya? "
"Kau hanyalah pemeran sampingan yang tak menyadari posisinya nak! Bahkan mereka para binatang tau dimana peran dan tugasnya, tapi kau begitu naif"
"Di-diamlah makhluk laknat"
"Bocah syurga yang begitu menyedihkan"
Krakk
Krakkk
"ARRRRRRRRRRRRRGGGGGHHHHHHHHH"
Pada akhirnya satu nyawa lagi harus mati, Lolongan kesakitan itu terdengar menggema disegala sudut Mekkai tatkala pemuda bersurai pirang keemasan itu meremas leher dari sosok malaikat tersebut, terlihat begitu mengenaskan seperti baru saja dikoyak binatang buas.
Pyarrrr
Tubuh itu hancur menjadi serpihan kecil-kecil, terbang dengan damai menuju tempat persinggahan berikutnya bagi jiwa-jiwa yang telah mati.
"Anak yang terampuni kah? "gumam Naruto pelan ketika melihat Roh dalam bentuk cahaya putih tadi tampak pergi dengan tenang tanpa beban, karena dengan begitu tugas mereka telah selesai, terbebas dari keduniawian. Namun,, hal itu menjadi renungan tersendiri baginya.
Entah mengapa ketika melihat hal itu hatinya yang telah lama mati seperti merasakan sebuah getaran aneh, apakah suatu saat hal itu juga berlaku untuknya, apakah benar jika dunia akan membebaskannya dari kutukan ini, apakah pada masanya nanti ia benar-benar bisa tertidur dengan lelap tanpa harus terbangun kembali.
Kemudian kelopak mata itu terpejam, jikapun semua itu benar, pastilah masih sangat lama, sejauh yang ia ketahui, kehancuran ini bukanlah akhir yang menjadi penutup sampul cerita hidupnya. Namun ia tau jika tragedi ini merupakan sampul awal dari sesuatu yang lebih mengerikan lagi dimana semua ras berdiri dalam satu wadah, dan menentangnya yang akan memulai kiamat, mereka datang berbondong-bondong untuk mempertahankan keberlangsungan hidup mereka semua, mereka tak ingin semuanya berakhir, karena mereka terlalu nyaman berada dikehidupan, jika bisa mereka yang bernafas ingin hidup kekal tanpa harus terikat kematian dan takdir, tak perduli dari golongan mana, mereka akan berjuang untung menentangnya sebagai Exsekutor.
'Tunggulah!,, Ragnarok'
"MATILAH KAU BIADAABBB"
JLEEEEBBBBB
Sebuah tusukan benda tajam membuyarkan lamunannya yang tengah menyelam jauh.
"Hoshh,, hoshh, hossshhh,, rasakan itu keparat, kau harus dibinasakan" sosok Iblis yang merupakan pelaku penusukan berucap marah dengan nafas memburu. Amarah yang begitu besar terpancar jelas diraut wajahnya.
Naruto kembali membuka kelopak matanya, menatap dingin Iblis dihadapannya yang masih senantiasa memegang gagang pedang yang ditusukkan kedadanya.
"Apa yang kau lakukan? " ucap Naruto datar, ia tak suka jika ketenanganya diganggu.
"E-eeeehh"
Iblis itupun tersentak kaget mendengar pertanyaan ringan tersebut, apa pemuda dihadapannya benar-benar tak merasakan kesakitan sama sekali. Awalnya ia berharap mendengar targetnya merintih kesakitan, memohon ampun, lalu mati, tapi kenyataanya begitu berbeda dari rencananya.
"Te-tentu saja membunuhmu bangsattt" lanjut Iblis tersebut penuh Emosi.
"Lakukan yang kau bisa, aku tak akan menghalangi niatmu" ucapnya kosong, menatap hampa langit suram, sesuram kehidupannya.
"A-apaaa? Siall, ENYAHLAH KAU KEPPARAAAAAAT"
Jleebbbb
Jlebbbbbb
Dengan penuh amarah yang menggebu Iblis itu terus menerus menghujam tubuh pemuda tersebut tanpa henti, berharap apa yang dilakukanya saat ini mampu memberikan hasil yang memuaskan.
"Hoshh,, hoshhh,, hosshh," hanya terdengar nafas yang tersengal-sengal tak beraturan. Dengan tenaga yang tersisa Iblis tersebut menghujamkan pedang itu untuk yang terakhir kalinya.
Jleebb
__ADS_1
Brukkkk
Bukan tubuh si pemuda yang terjatuh melainkan Iblis itu sendiri, tenaganya telah mencapai batas, ia jatuh berlutut bertumpu kedua lengan dan lututnya, keringatnya tampak mengucur deras. Kemudian ia menengadahkan wajahnya keatas menatap si pemuda yang tetap tak bergeming sedikitpun, dan ia bisa melihat jika hasil tusukanya telah hilang dari tubuh pemuda tersebut.
"Kau tak akan bisa membunuhku nak! "
"Hosh,, hosshh,, ti-tidak mungkin"
Greebbbb
Lalu kepala dari Iblis tersebut dicengkram kuat oleh Naruto dan dipaksa untuk menatap luka didada kirinya.
"Kau lihat ini? Lubang ini telah menggantikan jantungku nak,, aku dikutuk untuk terus hidup, aku dikutuk untuk tidak mati, lalu,,, bagaimana kau bisa membunuhku?"
Sang Iblis hanya mampu memandang redup lubang bulat menganga dihadapanya, ia tak mampu berkata-kata, tubuhnya telah ringkih, tak ada lagi yang bisa ia lakukan.
Grebb
Lengan kiri yang sedari tadi menggengam pedang hitam itu kini berada dipundak kanan Iblis tersebut, sedangkan lengan kanan yang sedang menggenggam surai dari kepala itu terlihat semakin mengerat.
Kraaakkk
Krakkkk
"ARRRRRRRGGGGGGGGGHHHHHHHHHHH"
Brassss
Dalam sekali hentak kepala itu telah terpisah dari tubuhnya dengan mata yang melotot hampir copot dengan lidah yang menjulur keluar, si pelaku menatap tanpa exspresi hasil perbuatan biadabnya, bagaimanapun ini adalah bagian utama dalam peranya.
Mengenaskan,,,,
Mereka melihat lagi dan lagi, kenyataan pahit harus mereka terima, pemuda itu sungguh brutal dan biadab, tak memiliki emosi untuk merasakan rasa iba, ataupun naluri untuk berbelas kasih.
Mesin pembunuh itu, tak akan berhenti sampai disitu saja, dan mereka semua tau, ini bukanlah waktu yang tepat untuk putus asa, mereka harus terus berusaha hingga titik darah penghabisan, dan mencoba untuk terus mengulur waktu hingga para pemimpin mereka menemukan titik vital ataupun kelemahan dari pemuda tersebut. Mereka tau pemimpin mereka tak akan tinggal diam begitu saja ataupun sengaja mengorbankan pasukannya.
Dirasa perlawanan jarak dekat tak mampu membuat pemuda itu terdesak mereka semua segera membentuk lingkaran, mereka mengepung pemuda itu dari segala sudut, dengan si pemuda itu sendiri yang berada dititik tengah.
Dengan serempak mereka menciptakan jutaan tombak cahaya, bukan itu saja, dari Ras Iblis mereka menciptakan senjata-senjata berlapiskan afinitas lima Elemen yang ada, tergantung dari Elemen apa yang dikuasai sipengguna. Meskipun tekanan Energi suci dari para Ras Tenshi terasa berkobar didekat mereka, namun,, mereka kaum Iblis berusaha bertahan dengan mengimbanginya menggunakan Energi Demonic untuk melapisi tubuh mereka dari Radiasi Energi suci.
"MAKHLUK SEPERTIMU SEHARUSNYA TAK PERNAH ADA DIDUNIA INI,, JADI MATILAH KAU BEDEBAHHHHHHHH"
"HEYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA"
Pemuda itu tersenyum getir ketika mendengar kalimat barusan, benar apa yang dikatakan pendosa-pendosa itu,, ia seharusnya tak pernah ada didunia ini, dan membiarkan dunia mengalir apa adanya, tanpa perlu campur tangan dari makhluk sepertinya. Namun ini semua juga bukan keinginannya, karena dunia sendiri yang melahirkannya, dan tuhan yang menciptakan takdir untuknya.
'Siapa sebenarnya aku ini? ' bahkan ia sendiri tak tau siapa dirinya yang sesungguhnya.
Hal itu masihlah menjadi misteri yang akan terus ia renungi, seiring tujuanya mencari pembebasan, ia juga ingin tahu,, siapa sebenarnya dirinya.
Kelopak matanya terpejam, mencoba mengubur semua tanda tanya itu dalam-dalam,
'Kita yang terlahir dari keputusasaan, yang menjadi tumbal dalam kesengsaraan, yang hidup dari semua kesakitan, bangkitlah sebagai lambang dari penebusan dosa'
Wusshhhhhh
BOOOOOOOOOOOOOMMMMMMMMMMMMM
Serangan massal itu terus menghujani pemuda itu tiada henti, terus berdatangan seakan tak ada habisnya, menjadikan tempat keberadaan pemuda tersebut sebagai lautan api yang berkobar ganas, asap membumbung tinggi diudara seperti ledakan gunung berapi, ternyata hasil dari serangan kecil-kecil jika digunakan dalam intensitas besar-besaran akan menciptakan sesuatu yang mengerikan.
..
"Hah,, hah,, hah,, berhasilkah? "
"Hosh,, hoshh,, hoshh,, entahlah Iblis-san,,tapi,, kuharap serangan dari kita semua bisa menghancurkan tubuh pemuda itu"
"Hah,, hah,, kuharap juga begitu Malaikat-san"
"Hah,, kalian tenang saja,, hah, sekuat apapun pemuda itu, menerima serangan barusan kuyakin dia tak akan bisa selamat,"
"Huftzz,, kuharap juga begitu teman-teman,, kita lihat saja setelah asap-asap itu menghilang"
Perasaan tegang dan harap-harap cemas terlihat begitu kentara diwajah mereka, jantung mereka pun semakin berdetak cepat, baru kali ini mereka dihadapkan situasi semacam ini selama mereka hidup, dan tentunya cukup sekali dan untuk yang terakhir kali.
Seiring berjalannya waktu asap putih tebal itu pun mulai tampak menipis tersapu hembusan angin, dan samar-samar, mulai terlihat kawah raksasa sedalam 20 meter kebawah dengan lebar 50 meter,,
Bahkan mereka sendiri tak menyangka jika serangan besar-besaran barusan mampu menciptakan kawah sebesar ini, kemudian mereka menelisik kesegala sudut lokasi ledakan untuk mendapatkan apa yang mereka cari.
Hening!
Tak ada suara barang sekecil apapun, mereka tak menemukan apapun.
'Apakah pemuda itu telah musnah? ' mungkin kata-kata itulah yang mewakili kebingungan mereka saat ini,, mereka berharap menemukan seonggok tubuh yang tergeletak tanpa nyawa. Namun kenyataanya mereka hanya menemukan kekosongan didalam kawah besar tersebut.
menjadi lawan mereka semua, jika mungkin tubuh pemuda itu telah hancur ditelan ledakan besar barusan, mereka akan sangat senang, namun hal itu tidaklah pasti mengingat semuanya tertutup oleh ledakan itu sendiri.
Lama mereka menunggu dan keadaanya pun tetap sama, pemuda itu tak lagi menampakkan diri.
"Ki-kita berhasil,, SEMUANYAA KITA BERHASIL MEMUSNAHKAN PEMUDA ITU" sesosok Datenshi berteriak lantang menunjukkan kepuasanya ketika ia yakin jika pemuda itu benar-benar musnah terbawa ledakan.
"Be-benarkah,, "
"Tentu saja kawan, kita bahkan tak menemukan tanda-tanda keberadaanya, hanya ada satu kemungkinan yakni tubuh pemuda itu telah hancur menjadi partikel debu" balasnya dengan percaya diri.
__ADS_1
"Fiyuuhhh,, syukurlah kalo memang begitu,, tapi tetap saja masih ada makhluk-makhluk mengerikan itu"
"A-aaaahhh kau baru saja membuat mood baikku langsung buruk malaikat-san, tapi,, kau benar,, kita masih memiliki hal yang mengerikan untuk dihadapi"
Mereka bercakap-cakap satu sama lain, melepaskan sejenak rasa lelah dan ketegangan yang beberapa saat lalu mereka rasakan, beberapa diantara mereka duduk dan meletakkan senjatanya seakan semuanya sudah mencapai *******.
,,
Entah ini nyata atau tidak, tapi yang jelas mereka sendiri bertanya-tanya, apakah benar semua sudah berakhir, tak jarang diantara para pemimpin itu menunjukkan raut wajah kebingungan, bahkan untuk Sang Raja Iblis Satan itu sendiri, apakah memang semudah itu.
Mereka para petinggi dan pemimpin mencoba untuk merasakan hawa keberadaan pemuda itu, namun hasilnya Nihil, tak ada tanda-tanda keberadaanya sama sekali.
Ketika mereka semua merasa lega justru Bellial merasakan sebaliknya, perasaanya lebih mengarah kearah gelisah, 'Ini aneh sekali, sebuah keabadian sempurna tak mungkin mudah dilenyapkan begitu saja, pemuda itu,, mewakili sebuah Existensi tertinggi setelah Ayah, jika semua itu benar, aku tak yakin pemuda itu telah musnah'
"Kalian semua waspadalah," ucap Bellial tiba-tiba memecah kesunyian.
"Apa maksudmu Bellial?"
"Entahlah,, tapi yang jelas instingku mengatakan hal yang buruk akan segera terjadi"
Mendengar penuturan dari Mantan Malaikat paling jenius barusan membuat mereka bertanya-tanya kembali, apa lagi maksudnya, bukankah sedari tadi memang sudah terjadi hal yang sangat-sangat buruk, dari dua Naga Surgawi, lalu ketiga Dewa Naga, lalu kedatangan sesosok pemuda bersama Legenda Dewa Youkai. Itu bahkan terlalu buruk.
"Apa kau mau mengatakan jika pemuda itu masih hidup Bellial?" sahut sang pemimpin kemudian.
"Apapun bisa terjadi Ramiel, apa yang sedang kita hadapi ini bukanlah makhluk seperti kita, terlebih lagi bukankah itu terlalu mudah untuk ukuran makhluk Immortal, karena setauku,, keabadian sempurna tak akan lenyap dan pudar, meskipun raganya hancur sekalipun, keabadian tetaplah keabadian, dunia akan membentuk kembali raganya seperti sedia kala,,, -
"Dan jika instingku benar,, pemuda itu masih hidup,,,-
"Bahkan sedang mengintai kita semua"
Deg
Tepat setelah ucapan itu berakhir, muncul kabut hitam yang serasa menebar hawa kematian yang begitu pekat diatas permukaan tanah, bergerak perlahan menaungi daratan tersebut, namun mereka masih dapat melihat meskipun samar-samar.
"Astagaaa,, apalagi sekarang" gumaman itu terdengar bersahutan, baru saja mereka bisa bernafas lega sudah muncul lagi sesuatu yang tak mereka mengerti, dari mana datangnya kabut yang identik dengan warna hitam ini, dan apa pula maksudnya.
"Entahlah,, tapi sepertinya ini bukan sesuatu yang baik"
Teng
..
Teng
..
Teng
Entah ini nyata atau tidak, namun mereka dengan jelas mendengar bunyi lonceng yang membuat bulu kuduk mereka berdiri tegak, isyarat hawa kematian yang begitu pekat.
Guukkkk gukkkk
Uuuuuuuwwwww
Lolongan dari para Jeckel terdengar disegala sudut tanah terkutuk Mekkai, mereka seakan berkata sesuatu yang sangat mengerikan telah bangkit.
Kwak kwak kwakkkk
Burung-burung hitam beterbangan seakan mereka ketakutan, melintasi langit kelabu yang begitu suram.
Wussssshhhhh
Hembusan angin terasa menusuk tulang mereka tanpa terkecuali, tanpa sadar tubuh mereka bergetar hebat, suasana ini,, seperti sesuatu yang telah bangkit dari Neraka dan menebar Terror nyata.
Mereka menggerakkan kepala kesegala sudut, takut-takut sesuatu menerkam tubuh mereka.
Glekkkk
"Shiiiiiiiittttt,, ketakutan macam ini"
"E-entahlah,, a-aku bahkan merasa seperti kambing yang sedang diawasi seekor predator"
"Ayah,, kumohon selamatkan hamba"
„
[Khakhakhakhaaaaaaa]
DEEGG
"Su-suara apa itu? "
Sebuah tawa terdengar menggelegar disegala sudut, tawa itu serasa membawa hawa jahat yang begitu kental, sepertinya sesuatu benar-benar sedang mengintai mereka semua.
,,
,,
Takdir pada akhirnya mempertemukan para makhluk awal, sebuah ketetapan mutlak nan abadi, tak bisa untuk berpaling ataupun lari dari kenyataan, entah akan terjawab saat ini ataupun nanti, namun yang pasti, kematian selalu berada dalam pandangan mereka bertiga setiap waktu.
Dan adakah jalan untuk menghancurkan benang takdir itu?
Tiga pasang mata predator itu terbelalak ketika mendengar sebuah tawa serak nan berat yang menggelegar, bagaikan terus berdengung menertawakan, mereka ingat dengan jelas suara ini?
__ADS_1
Akhirnya makhluk terkutuk itu telah bangun, dan tentunya, nyawa mereka sedang terancam.
[ "DIA" TELAH BANGKIT......