
Duakk
Duakk
Duagkkkkk
Brugh
Dengan tenangnya Naruto menghantamkan kepala Kunoichi tersebut terus menerus pada Batang pohon, terus dan terus hingga penghujungnya tubuh itu ambruk dengan kepala yang telah hancur, tak ada lagi jerit kesakitan, karena nyawa telah terlepas dari raganya.
Wusssshhhhh
Jlebbbbbb
Tubuh tak bernyawa itu telah tertancap sebuah salib yang muncul dari ketiadaan. Gugur dan terhapuskan untuk selamanya, menyisakan untaian kisah pilu jikapun ada yang tetap hidup untuk mengenang tragedi berdarah ini.
Disudut lain, perempuan bersurai Indigo itu hanya bisa memejamkan matanya pelan, urat-urat sekitar matanya telah kembali seperti semula, dengan Byakugan, ia mampu melihat dengan jelas sebuah Chakra hitam yang terus menenggelamkan Chakra lainya, dan ia juga tau rekan-rekan seangkatanya, senseinya, telah tewas satu persatu dengan mengenaskan oleh "Dia".
'Benarkah cahaya itu telah hilang seutuhnya, 'hatinya miris melihat bagaimana kebencian pemuda itu menciptakan petaka mengerikan seperti ini. Karena penghianatan, "Dia"yang penuh keceriaan dengan senyum mentari yang senantiasa menghiasi wajahnya, kini telah berubah, wajah itu, sudah tak lagi memiliki exspresi untuk sekedar digambarkan, pandangan mata penuh kehangatan itu, telah digantikan wajah kosong tak memiliki sinar kehangatan.
Tak memperdulikan lagi entah kemana perginya Sarada dan Hirata, karena ia tau pasti, tak ada tempat untuk lari dan bersembunyi dari "Dia",, anganya hanya ia sematkan untuk terus mengingat bocah berambut pirang yang penuh akan keceriaan, entah mengapa, hanya mengingat semua itu membuat Hinata tersenyum kecil, sesuatu yang jarang ia tunjukkan lagi setelah menikah.
,,
,,
"Apa kau menunggu terlalu lama?, 'ucapnya kepada pemuda tambun yang tengah menunduk diam dikesedihan tiang salib, wajah itu nampak pucat, darah terus menerus keluar dari luka-luka ditubuhnya.
"Ughh,, kau,, te-terkutuklah k-kau Na-naruto, 'ucap Chouji lemah, mengutuk makhluk dihadapannya tersebut.
Sedangkan Naruto hanya bisa tersenyum miris mendengar ucapan Chouji.
"Jika memang kau percaya kutukan akan datang menyapaku, maka,,, kau salah besar, kau tak akan mengerti Chouji"
Debbbb
Tunjuk Naruto tepat pada jantung Chouji.
"Disinilah kalian memulainya, kesakitan yang kubawa lebih pedih dari yang kalian rasakan, dan asal kau tau-,,,
"-Aku tak ingin dan tak pernah ingin melakukan ini, karena kutukan jugalah yang hidup dan mendarah daging ditubuhku. Dan lihat ini, lubang inilah yang menjadikanku kutukan itu sendiri, lubang yang tak akan pernah tertutup selamanya, 'ucapnya sendu, menceritakan sedikit kepahitan yang ia lalui pada mantan rekanya untuk sekedar berbagi rasa sakit.
"Kalian semua tak pernah tau bagaiamana aku menyayangi kalian semua waktu itu, kukorbankan semua yang kumiliki agar kalian bisa tetap hidup, tetap hidup untuk bisa menikmati kedamaian, aku sangat bahagia ketika melihat kalian semua tertawa, dan aku bangga bisa menebus janjiku pada kalian untuk menciptakan perdamaian abadi, tapi,,,,,,, kenyataan apa yang kuterima setelah itu?"
Tesss
Tessssss
Tak ayal cerita singkat dari mantan sahabatnya itu membuat hati Chouji terhiris pedih, kejam dan menyakitkan. Itulah luka kepedihan yang ia dan seluruh dunia torehkan pada pemuda dihadapannya.
"Tak ada yang harus disesalkan"
,,
,,
"Ti-tidak, Na-naruto, a-aku mohon,, maafkan aku, 'panik dan ketakutan, adalah hal mutlak yang selalu mereka rasakan ketika hendak meregang nyawa.
Jlebbb
"Ohokkkkkkkk"
Jleebbbb
Jlebbbbb
Jlebbbbbbb
"Uhukkkkk,, ma-maafkan sa-sahabatmu i-ni"
Jleeebbbbbbbbb
Tewas dengan puluhan besi hitam yang menancap di anggota tubuhnya, tak ada tempat kosong dari bagian tubuh itu,, seluruhnya rata akan besi hitam, berdiri terbentang pada tiang salib.
Dan-,,,
Jleeebbbbbbbbbb
Besi hitam terakhir menancap tepat dikepala bangkai tak bernyawa itu, sedangkan Naruto sendiri hanya memandang kosong hasil perbuatanya, kemudian memandang diam telapak tanganya yang berlumur darah, tak ada rasa sesal, ataupun rasa ingin mengasihani, kemudian ia genggam erat tanganya.
'Sahabat tak akan pernah menikam, Chouji'
,,
,,
Melihat sekelilingnya yang penuh akan bangkai tak bernyawa dan tengkorak hidup itu membuat pemuda bersurai coklat itu panik, ia sudah sangat lelah dengan Chakra yang telah terkuras habis.
"Hosh, hosh, hosshhh,, Shi-shino, ba-bagaimana ini, tengkorak-tengkorak sialan itu terus bangkit setelah kita hancurkan, 'ucap Kiba dengan nafas yang memburu kelelahan.
"Entahlah Kiba, hah,, hah,, hah ! Semua berada diluar dugaan kita, bahkan seranggaku tak ada yang tersisa untuk kembali melakukan serangan"
Wussshhh
Braghhhhh
Bragggghhh
Kedua Shinobi yang tengah melakukan perbincangan monoton itu pada akhirnya terpental seketika tatkala sebuah serangan tunggal menerjang mereka berdua dari belakang.
"Ughh, siall,, siapa yang seenaknya menyerang kita berdua Shino? "
"Uhukk,, aku juga tidak tahu Kiba, 'lanjut Shino kemudian.
Kemudian kedua pasang mata itu melihat-lihat kesegala arah guna mencari si pelaku. Dan secara mengejutkan mereka berdua dapat melihat sesosok pemuda tengah menatap mereka berdua dengan pandangan kosongnya.
Degggg
"Shi-shino,, "Dia" Na-naruto"
Degggg
"K-kau benar Kiba"
'Tamatlah riwayatku, 'batin mereka berdua kompak.
Tap
__ADS_1
Tap
Dan kemudian Naruto berjalan pelan menuju kearah dua Shinobi tadi, detik itu pula, Kiba dan Shino hanya mampu meneguk ludahnya, mereka berdua tau, maut telah menjemput mereka.
"Shi-shino,, apakah ada ide? "
"Kurasa tidak Kiba"
,,
,,
Semakin dekat dan terus mendekat, waktu terasa begitu cepat untuk kedua mata tersebut.
"Si-sialll,, Shino, kita lawan pecundang itu bersama-sama, 'tampak sikap aroganya kembali muncul untuk sekedar menutupi ketakutanya.
"Mungkin itu ide yang buruk,, tapi,, hanya itu yang bisa kita lakukan, 'tukas Shino kemudian menimpali saran Kiba.
Hingga beberapa detik kemudian tampak lutut mereka berdua bergetar dan goyah. Memaksa tubuh mereka untuk tidak jatuh tatkala sebuah tekanan energi kelam memaksa mereka untuk tunduk.
Brughh
Brughh
Sekuat apapun,, pada akhirnya mereka berdua jatuh berlutut dengan nafas tersengal-sengal, peluh deras membasuh wajah Shino dan Kiba, tampak mata Kiba melotot seakan ingin lepas dari tempatnya, meski tertutup kacamata sekalipun, tak bisa dipungkiri, Shino juga tengah mengalami hal yang sama.
Tap
Tap
Tap
Kaki itu berhenti satu meter dari kedua Shinobi yang tengah berlutut tersebut, memandang apa yang berada di hadapanya tanpa exspresi yang berarti. Hanya itu raut yang bisa ia tunjukan, karena pada hakikatnya, "Dia"bukan lagi manusia yang bisa dengan bebas dan mudah mengekspresikan perasaanya.
,,
"A-apa yang sebenarnya k-kau inginkan?, 'ungkap Shino dengan lemah, mencoba sekuat mungkin untuk bisa bertahan dari gempuran energi kelam yang perlahan menyeruak keluar dari pemuda dihadapanya.
"Ughhh,, ke-kenapa? Kenapa k-kau membunuh semua teman-temanmu dengan k-kejam Naruto?"
",,,,"
"JA-JAWAB AKU SIALAAAAAAAAN"
Duaaaaaakkkk
"Ohokkkkkkkk"
"Ughhhhh,, uhukkk-uhukkk, ke-kenapa, uhukkkkk, k-kenapa kau melakukan semua ini kepada ka-,,,
Grebbbbb
"Kau tak akan mengerti, Kiba,, "
"Heh,,, k-kau tetaplah pecundang Na-naruto, sampai kapanpun kau akan tetap menjadi pecun-,,
Duakkkkkkkkkk
"Ohooookkkkkkkkkkkkkkkk"
Tersungkur bersimbah darah, kecongkakan dan keangkuhan tak pernah lepas dari jiwa mereka, meski ajal telah mendekat, mereka seakan buta dengan dosa mereka.
'Kiba, 'ucap batin Shino miris.
Duakkkkkk
"Ohokkkkkkkk, 'lagi dan lagi, jatuh tersungkur, bangkit dengan tertatih-tatih, kemudian jatuh tersungkur kembali.
Dan-,,,,
Grebbbbb
Surai coklat itu telah tercengkram erat oleh sebuah tangan kekar. Kemudian ditarik paksa untuk mendongak keatas menatap si pelaku.
"Dan pada akhirnya, pecundang inilah yang akan tetap berdiri hingga akhir"
Srettt
Bruagh
"Uhuk-uhukkkk, ughh, 'tak ada lagi yang mampu ia lakukan, Kiba sudah tak mampu lagi untuk menahan kesadarannya tetap terjaga.
,,
Jleeebbbb
Pedang hitam itu telah menancap diatas tanah, kemudian Naruto berjalan perlahan menghampiri Kiba yang tergeletak.
Greebbbbb
Kali ini Naruto telah memegang erat kaki kanan Kiba.
Sret
Sretttt
Bunyi dari suara gesekan dari sebuah tubuh yang diseret diatas permukaan tanah.
"Ti-tidak, a-apa yang akan kau lakukan, 'ronta Kiba ketakutan ketika ia tau kearah mana ia diseret, yakni ketempat sebuah pedang yang menancap kuat diatas tanah.
Dua meter, satu meter dan-,,,
Bruagggh
Tubuh kokoh itu tak bergeming ketika sebuah Batu dihantamkan kekepalanya, tak ada darah ataupun teriakan kesakitan darinya, menolehkan kepalanya pelan kebelakang, dan Naruto dapat melihat, Shino yang tengah memegang sebuah Batu cukup besar dengan tubuh bergetar, diiringi nafas yang memburu.
'Ughhh,, Shi-shino, 'batin Kiba haru yang melihat usaha Shino untuk menyelamatkanya.
Sring
Sringggg
Dua rantai hitam kembali muncul dari bawah tanah tempat Aburame Shino berpijak.
"Tahan serangga itu sebentar, 'ucapnya kemudian, seolah ia sedang berbicara dengan rantai-rantai tersebut.
Tap
__ADS_1
Grebbb
Setelah berada setengah meter dari pedangnya, Naruto mengambil langkah pelan dibelakang pedang tersebut.
Mata Kiba benar-benar melotot lebar tatkala pedang itu kini telah berada ditengah-tengah sel******nya.
"Ja-jangan lakukan itu Na-naruto, a-aku moh-,,,
"AAAARRRRRRRGGGGGGGGGGHHHHHHH"
Dengan sengaja Naruto memperlambat tarikanya pada kedua kaki Kiba, sungguh miris tatkala bagian k********a telah terbelah secara perlahan, terus naik keatas, perut, dada, leher, dan pada akhirnya menembus dengan sempurna membobol seluruh organ tubuh milik Kiba, dan tubuh tersebut, telah terbelah menjadi dua bagian dengan mata tampak melotot.
Darah menyembur dengan amat sangat deras, kematian dengan cara yang begitu mengerikan.
Dan diakhir semua kematian selalu diiringi teriakan pilu yang menyayat hati dari Shinobi lainya yang kini disibukkan oleh tengkorak-tengkorak gila yang terus menerus mengejar mereka.
Puas memandang mayat itu, lalu,,, Naruto membalikkan badanya untuk membereskan serangga yang tersisa.
Brak
Brak
Brakkkk
Shino hanya bisa terkapar tak berdaya ketika rantai itu terus menghantamkan tubuhnya pada tanah, beberapa tulangnya telah patah, kekuatan yang berbeda jauh, sangat-sangat jauh bahkan.
Tap
Deb
Tubuh ringkih itu kini menerima injakan sebuah kaki, Shino tau, setelah membunuh Kiba, Naruto pasti tak akan melupakanya begitu saja.
"Ughhh,, Na-naruto, ke-kenapa?, 'rintih Shino kemudian.
Buaghhhhh
"Ohoookkkkkkk"
Kemudian Naruto mengangkat kakinya cukup tinggi, tampak Chakra hitam menyelimuti kaki tersebut. Kemudian menghentakkanya dengan sangat kuat.
Bragggghhh
Krakkk
"ARRRRRGGGHHHHHH,, 'mata itu melotot dengan lebar tatkala merasakan sakit yang teramat sangat.
Kaki kanan Shino telah diremukkan dengan sekali injakan kuat berlapis Chakra. Tak henti di situ saja, Naruto kembali meneruskan injakanya pada bagian tubuh Shino yang lainya.
Duakkk
Braggggkkk
"Sa-sakit sekali, uggghhh, Na-naruto ma-ma-,,,
Grebbbbb
Belum puas hanya dengan itu, Naruto melanjutkanya dengan mencekal rahang dari Shinobi cap Serangga tersebut, lalu,,, sekuat tenaga Naruto merobek rahang Shino, perlahan namun pasti hingga tampak kini menganga lebar.
Grakkkkkkk
"AARRRRRRGGGHH-GGGHHHHHHHHHHHHHH, 'teriakan kencang seakan memekakkan telinga, kaca mata yang selalu bertengger diatas hidungnya telah hancur entah kemana. Memperlihatkan bola mata yang melotot lebar.
Dan pada akhirnya rahang bagian atas itu terlepas dari tempatnya berada. Satu lagi daftar hitamnya telah berganti warna merah darah, mengiringi kepergian setiap jiwa yang telah menghianati.
Hening untuk sesaat, angin kencang terus menerus bertiup tanpa henti, petir kembali bergejolak dilangit malam Elemental Nation.
,,
"Hikss,,, Sa-sasuke-kun,, a-aku takut,, 'rintih Sakura kemudian. Ia berani bersumpah, tubuhnya menggigil karena rasa takut yang sudah melebihi batas, ia sudah tak mampu lagi untuk bertahan dari keadaan sekitarnya. Penuh akan bau anyir darah, mayat yang tercerai berai, dan darah yang menggenang disetiap sudut tempat tersebut, dan, "Dia"lah yang melakukanya seorang diri dengan ganas, sadis, brutal, dan tentunya begitu biadab menurutnya.
Grebbbb
"Tenangkan dirimu Sakura, aku akan menghentikan Naruto saat ini juga, 'ucapnya penuh keyakinan diri.
,,
"Sai-kun,, 'ucap Ino lemah, perempuan bersurai pirang pucat itu hanya bisa bergetar ketakutan dipelukan calon suaminya.
Dan wajah pucat itu,, entah mengapa kini terlihat mampu mengexspresikan perasaanya, tampak raut kesedihan yang menghiasi wajah dari pemimpin Anbu Root tersebut. Mendekap erat gadisnya, berharap hal buruk tak menimpa mereka berdua.
"Shikamaru,, situasi semakin memburuk, Kiba, Shino, Chouji, Lee, Tenten, Guy-sensei, Kurenai-sensei, semua telah dibunuh Naruto, hanya kita yang tersisa dan kelima Kage saat ini, 'ungkap Sai kemudian.
"Kau benar Sai, mungkin kita harus berkumpul bersama-sama, untuk meminimalisir kematian, dengan begitu kita bisa saling melindungi, 'jawab Shikamaru kemudian, seorang Genius yang kehilangan kegeniusanya disaat kritis, meski sudah mengantisipasi sekalipun, tetap, ia tak mampu menolak takdir.
"Shika-kun,, aku takut,, 'ungkap Temari kemudian, sama dengan Ino, tubuh perempuan berkuncir empat itu tampak bergetar ketakutan. Sejauh ini, ia telah melihat sendiri, bagaimana sebuah pembantaian berlangsung.
'Temari, 'ucap Shikamaru dalam hati.
,,
,,
Dan kini, mereka yang tersisa, tampak berkumpul untuk menyatukan kekuatan, berharap dengan bersama dari semua Shinobi yang tersisa mampu mengalahkanya.
Tampak wajah-wajah lelah dari mereka semua, merasa dipermainkan tatkala tengkorak-tengkorak itu lenyap begitu saja, nafas yang memburu, peluh membasahi kulit mereka, sejauh mata memandang hanyalah tampak jejak-jejak kematian.
Lolongan serigala semakin terdengar menusuk Indra pendengaran mereka, dengan dinginya malam tak lagi dirasa, hanya ada ketakutan disetiap langkah yang mereka pijakkan, dan berbagai macam senjata telah mereka genggam untuk berjaga-jaga, karena kematian, bisa dengan mudahnya merengkuh tubuh mereka semua.
Detik-detik yang terasa begitu menegangkan, tak pernah sedetikpun mereka bernafas dengan lega.
"Se-semuanya telah mati, hiksss,,, Chouji, dan yang lainya, hikss, 'rasa kehilangan yang begitu besar mengingat teman-teman seangkatanya telah tewas.
"K-kau benar Ino, "Dia"telah membunuh semuanya"
"Ino, Temari, tenangkan diri kalian, dan waspadalah, ini bukan saat yang tepat untuk menangisi kematian mereka, 'peringat Shikamaru mencoba untuk setenang mungkin. Meski sejujurnya, hatinya begitu terasa perih ketika mengingat kematian rekan-rekannya satu persatu.
"Shikamaru benar, kita semua harus waspada, apa yang kita hadapi saat ini tidaklah sama dengan lima tahun yang lalu, "Dia" telah benar-benar berubah, 'ucap Kakashi menimpali ucapan Shikamaru barusan. Menatap sinar Bulan yang terlihat meredup.
'Mungkin aku akan melakukan hal yang sama sepertimu,, Guy, 'lanjutnya dalam hati, kembali larut dalam fikiranya untuk sekedar mengenang segala dosa-dosanya.
'Siapa kau sebenarnya,,,,, Naruto'
Sedangkan sang Hokage sendiri hanya bisa diam merenung, entah mengapa ia merasa akan segera kehilangan sesuatu yang begitu berharga dalam hidupnya.
'Hirata, Sarada, Hinata, kuharap kalian baik-baik saja ditempat persembunyian, 'hanya itu yang bisa ia fikirkan. Keselamatan istri dan anaknya.
Keheningan melanda sesaat, hanya terdengar detak jantung mereka yang seperti tengah terpacu cepat. Entah mengapa keadaan semakin terasa memburuk. Hingga samar-samar mereka mendengar sebuah gumaman.
__ADS_1
,,
"