Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 23. MENOLAK MAKAN DAN MINUM


__ADS_3

Jaysen pun terkejut dengan apa yang barusan terjadi. Dia mengusap wajahnya bekas tamparan Emily. Sekilas dia terdiam sebelum akhirnya dengan nada dingin memberi perintah.


“Bawa mereka berdua keluar dan jangan pernah ijinkan mereka masuk kesini lagi tanpa perintahku!”


“Tunggu! Kamu melakukan kesalahan.” seru Titus mencoba melepaskan diri dengan melawan beberapa pengawal yang berusaha menyeretnya. “Dia Emily bukan Eleanor! Eleanor mengalami kecelakaan dimalam yang sama dengan kamu dan dia dirawat dirumah sakit!”


Jaysen mengangkat tangan memberi tanda berhenti dan para pengawalnya serentak patuh. Titus menyentakkan tangan pengawal yang memegang lengannya, dia melepaskan diri dari beberapa pengawal yang tadi mencengkeramnya sementara Naura mendekat padanya.


“Eleanor mengalami kecelakaan dan sekarang dirawat dirumah sakit.” ujar Jaysen mengulangi ucapan Titus. Dia lalu berbisik pada Emily tepat ditelinginya sambil menghembuskan napas dengan sengaja, “Sayang, kalian ini sekongkol ya? Kenapa ucapan ayahmu sama seperti yang kamu katakan, hem?”


Kemudian lelaki itu menjentikkan jari dan para pengawal kembali menyeret Titus dan Naura.


“Itu benar! Putriku kembar dan yang sedang bersamamu sekarang ini adalah Emily, bukan Eleanor. Emily selama ini tinggal di New York bersama saudari perempuanku.”


Usaha mereka sia-sia saja karena tidak ada satupun yang Jaysen dengarkan karena lelaki buta itu sudah menyeret Emily pergi diikuti oleh Argya.


“Jangan menangis terus seperti itu dong sayang.” ujarnya dengan nada mengejek semenara Emily mencoba melepaskan dirinya tapi usahanya sia-sia. Lelaki buta itu mencengkeram lengannya dengan kuat.


”Bagaimana kalau kita teruskan acara minum tehnya? Nanti kamu bisa mendesah-desah dan mengerang meminta kumasuki lagi seperti tadi. Bukankah kamu menikmatinya sayang?”


“Brengsek! Bajingan kamu!” Emily berteriak sambil menatap Jaysen dengan penuh kebencian tetapi lelaki buta itu hanya tertawa terbahak-bahak mendengar segala sumpah serapah yang dilontarkan gadis itu padanya.


Dia menyeret Emily kearah taman. Emily terus saja meronta dan mengumpat dengan kata-kata cacian yang kasar pada Jaysen


********

__ADS_1


Sudah hari ketiga sejak kejadian itu, saat Jaysen sedang menikmati makanannya. Dia menyuruh Argya untuk mengecek Emily yang masih menolak untuk makan sejak kejadian tempo hari. Tak lama kemudian Argya kembali dan menghampiri Jaysen dan berdiri didepannya.


“Bagaimana?” tanya Jaysen mengusap bibirnya dengan lap. Dia baru saja menyuapkan sepotong daging sewaktu Argya datang melaporkan padanya. “Apa sudah ada perkembangan?”


“Nona Eleanor masih menolak untuk makan dan minum.”jawab Argya dengan nada tenang. Mendengar itu Jaysen diam, suasana diruang makan itu sunyi sesaat dan tak lama lelaki buta itu menghela napas.


Sikapnya membuat para pelayan dan pengawal yang menungguinya makan mulai merasa gelisah.


“Antarkan aku ke kamarnya.” ujar Jaysen melemparkan lap makannya begitu saja. Kedua tangannya mengepal disisi tubuhnya menahan amarah. Sejak kepergian orang tuanya Emily dengan keras menolak makan dan minum sebagai bentuk protesnya pada Jaysen.


Argya pun segera menemani tuan mudannya menuju ke kamar Emily yang masih saja mereka anggap sebagai Eleanor. Sepeninggal mereka, para pelayan dan pengawal yang masih berada diruang makan semuanya serempak menghela napas lega. Sejak tadi jantung mereka berdegup kencang tak karuan menunggu hal buruk apalagi yang akan terjadi berikutnya.


Sepengetahuan mereka, sudah tiga hari ‘Nona Eleanor’ menolak makan dan minum. Gadis cantik itu bahkan mengurung dirinya didalam kamar dan tidak mengijinkan siapapun boleh masuk kesana.


Dan selama tiga hari itu, Jaysen bersikap lebih diam dari biasanya. Memang tidak ada kemarahan atau amukan dari lelaki buta itu.  Lebih tepatnya belum mengamuk.


“Buka pintunya!” perintahnya membuat kedua pengawal yang berjaga didepan kamar Emily bertukar pandang saling bertanya.


“Mohon maaf Tuan Muda. No—nona Eleanor menolak untuk---” ujar seorang pengawal memberanikan diri bicara dengan ketakutan dan suara terbata-bata.


“Ta—tap---tapi…..”


“Cepat buka pintunya! Atau aku akan menghabisimu!” bentak jaysen dengan geramnya. Lelaki buta itu bukan orang yang suka mengulang kalimatnya tetapi sekarang dia harus melakukan itu sampai mengulang perkataannya tiga kali membuat emosinya semakin memuncak.


Argya segera memberi kode pada kedua pengawal itu agar menurut. Lelaki paruh baya itu paham bahwa Tuan Mudanya sudah melewati batas kesabarannya dan akan sangat berbahaya bila dibantah. 

__ADS_1


Akhirnya kedua pengawal itupun mengangguk, dengan terburu-buru satu pengawal membuka kunci pintu kamar untuk membukanya.


Namun sebelum pintu sempat terbuka lebar, Jaysen sudah terburu-buru masuk kedalam sehingga dia membentur daun pintu.


“Tuan Muda, apakah anda tidak ap----”


“Bagaimana keadaan gadis itu?” tanyanya memotong perkataan pengawal itu.


Argya terdiam sesaat lalu dia mengamati gadis yang duduk terpekur diatas tempat tidur. Pandangannya kosong dengan wajah terlihat pucat. Sambil menarik napas, pria paruh baya itu menjawab dengan suara pelan, “Nona Eleanor tampaknya kurang sehat. Wajahnya pucat sekali dan dia terlihat lemas.”


Rahanga Jaysen mengegrtak mendengarnya, sejak kedua orang tuanya datang dan diusir, gadis yang dikiranya Eleanor itu bertingkah seperti itu.


Dia terus saja mengurung dirinya dikamar dan sama sekali menolak makan dan minum. Emily memang sengaja melakukan itu sebagai aksi protesnya. Baginya, ini adalah langkah terakhir yang bisa ditempuhnya saat peluang untuk melarikan diri tidak ada.


Daripada dilecehkan dan diperlakukan kejam setiap harinya, dia berpikir menyiksa dirinya sendiri jauh lebih baik. Dengan harapan dia bisa mati secepatnya dan mengakhiri penderitaannya.


Ini sudah hari ketiga dan kesabaran Jaysen pun sudah habis. Selama tiga hari ini dia masih terus berusaha menahan dirinya dan bersabar. Tapi tidak kali ini, emosinya sudah meluap-luap untuk dimuntahkan.


Argya yang melihat ekspresi Jaysen pun paham jika lelaki buta itu sudah kehabisn kesabarannya, dan bisa saja mengamuk dan melakukan sesuatu yang buruk.


“Tuan muda, harap tenangkan dirimu. Semua akan baik-baik saja.” ucap Argya buru-buru mencegah Jaysen yang hendak mendekati Emily. “Nona terlihat tidak baik. Lebih baik jangan lakukan apapun padanya karena itu akan berakibat buruk nantinya.” tambahnya dengan nada sehormat mungkin. Agar tidak menyinggung Jaysen dan menyakiti Emily.


Sambil berdecak, Jaysen tetap melangkah menghampiri tempat tidur dimana Emily berada. Dia tidak mengubri ucapan orang kepercayaannya itu. “Ele! Ayo makan.” panggilnya tetapi tidak ada sahutan.


Emily tetap diam tak bergeming bahkan sekedar melirikpun tidak. “Ayolah Ele, kamu bisa sakit kalau terus-terusan begini. Setidaknya minum dan habiskan susunya ya?”

__ADS_1


Tetap saja tidak ada sahutan dari orang yang diajak bicara, membuat Jaysen mulai mengeluh didalam hatinya. Lelaki buta itu sama seali tidak paham mengapa dia harus merasa khawatir?


Bukankah dia membenci Eleanor karena pengkhianatan yang dilakukannya dibelakangnya selama ini? Lalu kenapa sikap diam gadis itu dan sikap acuhnya membuatnya merasa frustasi dan tertekan begini? Aneh! Ada yang aneh dengan dirinya. Jaysen menyadari sesuatu didalam dirinya mulai berubah meski dia sendiri belum memahami sepenuhnya.


__ADS_2