Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 79. MAAF


__ADS_3

“Kalau memang gadis yang bersama putra saya itu bukanlah Eleanor? Lalu siapa gadis yang terlihat sangat mirip dengan Eleanor itu? Saking miripnya sampai tidak ada satupun yang bisa membedakan wajah maupun postur tubuh keduanya.”


“Kecuali warna mata dan warna rambutnya Nyonya. Anda pun pasti sudah melihat dan menyadari warna mata dan rambut gadis itu!” kata Titus lagi.


“Warna mata dan warna rambut dari gadis yang kalian sebut sebagai calon menantu kalian itu berbeda dengan warna mata dan rambut Eleanor yang kalian kenal, iyakan?”


“Bisa saja dia memakai soft lens dan warna rambut juga model rambutnya bisa diubah sesuka hati. Hal seperti itu mudah dilakukan sekarang!’ sahut Deanna. Namun kini kedua orang yang sedang berdebat itupun saling bertukar pandang.


“Bagaimana saya bisa yakin kalau ini bukan salah satu dari cara licik anda agar Eleanor bisa lepas dari putraku?” desis Deanna, sekarang dia terlihat tersenyum namun masih terlihat jelas kemarahan yang dicobanya untuk ditahan.


“Bisa saja kan seperti itu? Anda mengarang-ngarang cerita bahwa gadis itu bukanlah Eleanor!”


“Saya mengatakan yang sebenarnya! Gadis itu bukan Eleanor! Dia adalah----” bentak Titus yang menahan amarahnya.


“Bicaralah dengan sopan Tuan Titus!” sela Ruben dengan nada dingin dan tatapan membunuh,


“Saya tidak akan pernah mentolerir segala bentuk ketidak sopanan yang anda lakukan pada istri saya! Anda harus tahu dimana anda berada sekarang!”


Sepasang suami istri pun tersenyum seraya saling melemparkan pandangan. Titus pun terpaksa harus menambah lagi porsi kesabarannya menghadapi keluarga itu.


“Emily!” ucapnya.


“Apa?” sepasang suami istri itu serempak bertanya.


“Gadis yang sekarang berada bersama putra kalian itu bukanlah Eleanor melainkan Emily! Dia adalah kakak kembar Eleanor yang putra kalian culik sewaktu dia baru tiba di bandara karena hendak menjenguk Eleanor yang mengalami kecelakaan. Ini adalah kebenarannya!” ujar Titus menjelaskan kebenarannya.


DEG!


“Apa?”


...*******...


“Jaysen?”


“Hmmm?”


“Bagaimana kabarmu hari ini?” tanya Emily. Namun tak mendapat respon, suasana sunyi sesaat tetapi tidak ada jawaban bahkan setelah beberapa saat berlalu namun Jaysen masih saja diam. Karena merasa penasaran dan ingin tahu, akhirnya Emily pun membalikkan tubuhnya.


Kalau tadinya dia berbaring memunggungi pria itu, sekarang mereka saling berhadapan. Kepala gadis itu mendongak dengan dagu bertumpu didada Jaysen. Dia menatap wajah tampan lelaki yang masih saja diam tanpa ada ekspresi sedikitpun.


“Jaysen? Kenapa kamu diam saja sih? Apa aku membuatmu marah?” tanya Emily lagi dengan suara lirih.


Emily mulai merasa resah dan tanpa sadar dia mengelus-elus tangan Jaysen yang menjadi alas bantalnya. Jemari gadis itu juga bergerak tanpa arah didada bidang Jaysen. Namun tak lama kemudian, lelaki buta itu menggenggam dan mengelus tangan Emily. Selama beberapa saat gadis itu berhenti menggerakkan tangannya didada Jaysen.

__ADS_1


Dia merasakand etak jantung dan juga kehangatan lelaki buta yang tampan itu. Ada debaran didada Emily yang dapat dirasakannya. Setiap detak jantung Jaysen selain memberikan rasa tenang juga membuat gadis itu semakin berdebar. Memberinya rasa nyaman dan perlahan Emily semakin terbiasa dengan kehadiran Jaysen disisinya.


Entah sejak kapan rasa takut yang dulu dirasakannya terhadap Jaysen kini mulai terkikis dan hilang entah kemana. Bersama Jaysen seperti saat ini, tidur bersama setiap malam seakan sudah menjadi hal yang biasa baginya.


“Jaysen?” Emily kembali memanggil nama pria itu. Jaysen lalu membawa tangan gadis itu dan menyentuhkan ke pipinya.


Secara otomatis Emily kini mengelus-elus pipi lelaki buta itu yang tengah berbaring memeluknya.


“Ele, apa ada hal yang harus kamu ceritakan padaku?” tanya Jaysen memulai percakapan.


“Ehm? Soal apa?” tanya Emily yang tak paham.


Jaysen menciumi telapak tangan Emily yang mengelus pipinya, sesaat Jaysen masih terdiam hingga akhirnya dia pun bicara lagi.


“Entahlah! Misalnya, apa yang kamu lakukan seharian ini? Aku bahkan nyaris nggak bertemu denganmu setelah sarapan!”


Sekujur tubuh Emily pun langsung menengang dan degup jantungnya semakin menderi, tapi dia berusaha memaksakan dirinya untuk tetap bersikap setenang mungkin. Apa Jaysen sudah mengetahui tentang dia pergi makan siang dengan Gian?


Emily memainkan anakan rambut Jaysen, “Ehm itu!” satu tangannya tanpa sadar mulai meraba dada bidang Jaysen yang telanjang, Emily mencoba memikirkan apa jawaban yang tepat.


“Tadi aku ke tempat Nyonya Sabrina untuk fitting baju pengantin sesi terakhir.”


“Ibu menemanimu terus kan?” tanya Jaysen lagi.


“Lalu apa saja yang kalian berdua lakukan selama disana?”


“Apa ya? Sepertinya nggak ada deh yang istimewa. Kami hanya, ya….fitting baju saja. Ada beberapa gaun yang harus dicoba dan aku bahkan harus mondar-mandir beberapa kali agar mereka bisa melihatku berjalan menggunakan gaun itu!”


“Lalu? Setelah itu?”


“Lalu….ya seperti biasa. Nyonya Sabrina dan para asistennya ribut sendiri mengenai aksesoris rambut atau hiasan tambahan untuk disematkan di gaun atau perlu tidaknya aku memakai veil. Dan…..ya banyak lagi yang lainnya. Sepertinya akan memakan banyak waktu kalau aku harus menceritakan satu persatu.”


“Tapi kamu nggak lupa makan kan?” tanya Jaysen. Kali ini Emily menggelengkan kepalanya. Tangannya yang tadi mengusap pipi dan memainkan rambut Jaysen kini berpindah kebahu bagian kiri lelaki itu. Perlahan dia mengelus tato yang tercetak dibahu kiri Jaysen yang berbentuk serigala.


”Ele?” panggil Jaysen karena Emily tidak menjawab dan malah mengelus-elus tatonya.


“Ya? Ada apa?” Emily menyahut tanpa memandang Jaysen.


“Apa yang kamu makan tadi sia----”


“Aku suka tatomu Jay.” Emily mengalihkan pembicaraan karena dia tidak mau Jaysen bertanya lebih banyak lagi tentang makan siangnya.


“Ya?” Jaysen mengeryitkan dahinya. “Kamu sudah mengatakannya kan Ele? Ya walaupun dulu kamu sering protes dan tidak menyukainya karena aku terlihat seperti berandalan dengan tato itu.”

__ADS_1


“Apakah sakit?” tanya Emily.


“Hmmm? Maksudmu?” Jaysen tidak paham apa yang ditanyakan gadis itu padanya.


“Waktu ditato, apakah benar-benar sakit rasanya? Kudengar sih seperti itu ya? Karena kulitmu akan ditusuk-tusuk pakai jarum. Apakah benar-benar sakit?” tanya Emily dengen eskpresi serius.


Jaysen mendengus sambil tertawa kecil.


“Mendengarmu bicara seperti ini bisa membuatku salah mengira kalau kamu juga ingin mempunyai tato, Ele.” ujar Jaysen.


“Aku mau! Tapi mau kecil saja.” sahut Emily.


“Apa?”


Emily menggambar dengan jarinya didada Jaysen dan berkata, “Tatonya kecil saja. Tidak sebesar milikmu. Model gambarnya bulan sabit dengan anak panah yang memanahnya.” jawab Emily.


“Ele----” Jaysen ingin protes tapi sepertinya gadis itu tidak peduli.


“Tapi bagusnya di tato disebelah mana ya?” tanya Emily bertanya pada Jaysen yang sudah mulai kesal.


“Ele! Hentikan! Aku nggak akan memberimu ijin untuk menato tubuhmu! Tidak akan!”


“Kenapa?” Emily menongak menatap pria tampan itu.


“Karena rasanya sakit sekali dan aku nggak mau melihatmu kesakitan.” jawab Jaysen dengan jujur.


Keduanya sama-sama terdiam. Hingga beberapa saat kemudian Emily beringsut bangun dan bertumpu dengan salah satu lengannya. Tangan gadis itu lalu mengelus wajah lelaki yang masih belum melepaskan pelukannya.


Jaysen sedikit kaget saat Emily tiba-tiba bangun dan langsung mempererat tangannya melingkar di pinggang gadis itu.


“Kamu khawatir padaku Jay?” Emily mengerjapkan matanya sambil terus mengelus dada pria itu.


“Apa maksudmu?”


“Apa kamu khawatir kalau aku akan kesakitan saat ditato?”


Jaysen mendengus kesal, “Iya. Tentu saja Ele.”


“Tapi kenapa? Aku bisa kok menahan rasa sakitnya. Lagipula aku buat tato kecil saja.” ujar Emily.


Jaysen menutup mulut dan menelan ludahnya. Kerutan didahinya semakin dalam sewaktu dia berpikir mengenai bagaimana sebenarnya perasaannya terhadap gadis yang selalu dipeluknya setiap malam ini.


Jaysen tidak yakin dengan apa yang dirasakannya sendiri. Dia juga masih belum yakin apakah dia mencintai gadis yang akan dijadikan istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2