Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 74. INGIN KABUR


__ADS_3

Setelah menoleh dan memberikan senyuman manis pada Deanna, Emily bergegas menyusul Sabrina. Dia baru saja menutup pintu sewaktu desainer cantik itu sudah menyambutnya dengan rentetan pertanyaan.


“Nah, sayang. Coba katakan padaku yang sebenarnya. Apakah kamu belum menerima kalung yang aku kirimkan padamu?” tanya Sabrina.


“Oh, itu! Saya sudah menerimanya dan sangat berterimakasih pada anda. Kalungnya cantik sekali Nyonya Saab! Sekali lagi terima kasih untuk hadiahnnya.”


“Apakah sesuai seleramu? Aku berusaha membuatkan desain yang kira-kira kamu sukai.” kata Sabrina bersemangat.


“Iya, saya menyukai kalung itu. Modelnya sederhani tapi tetap mempesona dan memukau.” jawab Emily mengatakan yang sebenarnya.


Karena dia memang menyukai kalung itu meskipun akhirnya Jaysen merebut kalung itu darinya dan tidak mengizinkannya memakai kalung itu lagi.


“Seperti itulah dirimu dimataku, sayang.” kata Sabrina dengan senyum lebar. Hal itu justru membuat Emily merasa bingung.


“Eh?” Emily sesaat tertegun sewaktu Sabrina mengusap rambutnya dengan lembut.


“Tapi kenapa aku tidak melihatmu memakainya kalung itu hari ini?” tanya Sabrina lagi membuat keringat dingin menetes didahi Emily.


“Ehm…..itu…..” dia memasinkan jari-jari tangannya sambil berpikir bagaimana cara untuk menjawab dengan baik. “Kalungnya……Jaysen…..”


“Oh lelaki itu?” Sabrina Saab mendesah putus asa lalu memutar bola matanya. “Seharusnya aku sudah bisa menduga sebelum aku mengirimkan kalung itu padamu.


“Sayang, apakah aku bisa meinta nomor teleponmu? Setidaknya ita bisa tetap berhubungan setelah, yah….semua ini selesai.”


“Ah itu…..” Emily berpikir kerasa bagaimana cara memberitahu wanita itu kalau semua barang miliknya termasuk ponselnya sudah disita sejak awal dia diculik dulu. “Ehm itu….sa----saya tidak eh….” Emil bicara tergagap tak tahu harus berkata apa.


“Oh ya Tuhan! Dia bahkan seposesif itu padamu? Lelaki itu benar-benar melakukan apapun agar bisa memerangkapmu, sayang.”


Sabrina Saab berkeluh kesah selama beberapa saat dan menghela napas berkali-kali. Sepertinya akan sangat sulit baginya untuk tetap menjalin komunikasi dengan Emily setelahnya.


“Andaikan keponakanku yang bertemu denganmu duluan, Artemis ku.” bisik desainer cantik itu didalam hatinya, dia benar-benar memasang wajah penuh penyesalan.


“Sayang, apa kau benar-benar siap dengan pernikahan ini?” tanya Sabrina lagi.

__ADS_1


“Eh? Iya?” jawab Emily singkat dan agak bingung dengan pertanyaan itu.


Sabrina Saab menggenggam kedua tangan Eily, sepasang mata birunya menatap tajam kedua mata abu milik Emily. “Jujur padaku. Apakah kamu yakin dengan pernikahan ini?”


Deg!


Emily spontan menelan salivanya lalu menggigit bibirnya. Kalau boleh berkata jujur sebenarnya dia tidak yakin. Namun dia masih belum bisa menemukan solusi dari masalahnya.


“Sayang, apakah dia memaksamu untuk menikah dengannya?” tanya Sabrina membelai pipi Emily sementara wajah gadis itu sudah memucat. “Apakah dia mengancammu, sayang? Katakanlah.”


Jawabannya pasti iya, benar begitu. Tapi tentu saja Emily tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada wanita cantik itu. Tapi, tunggu dulu! Bagaimana kalau Sabrina benar-benar bisa membantunya?


Bagaimana kalau desainer cantik itu bnar-benar bisa membantunya mencari jalan keluar dar permasalahan ini? Apakah dia harus mencobanya? Tidak ada salahnya mencoba bukan?


Emily baru saja membuka mulutnya hendak bicara tapi Sabrina sudah lebih dulu bicara. “Andai aku bisa membawamu keluar dar rumah itu, tapi tentunya aku tidak bisa melakukannya begitu saja. Bisa-bisa aku malah dikira menculikmu sayang.” ucap Sabrina dengan nada kecewa.


“Oh!” Emily mengerjapka matanya beberapa kali.


“Nyonya Sabrina, saya baik-baik saja.” Emily berkata begitu karena dia menyadari bahwa dia tida mungkin membuat Sabrina terlibat masalah. Sabrin Saab mengatakan hal yang benar, dia bisa saja nanti dituduh menculik calon mempelai keluarga Wisesa.


“Bisa-bisa nanti malah jadi masalah hukum.” gumamnya mencoba untuk tidak memikirkan bagaimana reaksi Jaysen seandainya desainer cantik itu membantunya melarikan diri.


“Pasti mengerikan! Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Jaysen padaku dan pada wanita ini.” Emily mendadak merasa merinding memikirkan hal itu.


Emily menghela napas panjang, dia merasakan kekecewaan didalam hatinya. Sekarang Udah jelas kalau Sabrna Saab tidak bisa membantunya melarikan diri. Setengah jam kemudian,Emily sudah selesai berganti pakaian. Lalu saat mereka keluar dari kamar, Emily mendapati sudah ada seseorang yang menunggunya disana.


“Selamat siang nyonya Sabrina.” sapa seseorang yang sedang menemani Deanna.


“Wah! Saya sama sekali tidak menyangka kalau akan bertemu dengan anda.” sambut Sabrina dengan kehangatan yang biasa ditunjukkannya.


Orang yang menegurnya itu tersenyum ramah lalu menoleh dan menyapa Emily.


“Halo Ele! Bagaimana kabarmu?”

__ADS_1


Orang itu menyapa Emily dengan suara ramah dan sikap yang hanga. Penampilannya rapi dan wajah kalemnya dihiasi senyuman yang simpatik. Emily mengerjapkan matanya dan terdiam sesaat. Orang yang menyapanya ternyata adalah Gian Elkana. Deanna sedang sibuk dengan teleponnya sehingga tidak terlalu memperhatikan keduanya.


“Nyonya, bolehkah aku mengajak Eleanor makan siang bersama? Tidak lama lagi dia akan menikah dan aku ingin mentraktirnya sebagai teman. Setelah ini dia sudah menjadi milik Jaysen dan aku mungkin tidak akan punya kesempatan lagi mentraktirnya makan.” ucap Gian.


Deanna tersenyum lalu menganggukkn kepalanya, “Tidak apa-apa! Kebetulan ayahnya Jaysen memintaku segera menemuinya. Eleanor, kamu makan siang dengan Dokter Gian ya? Biar nanti dia sekalian mengantarkanmu pulang.” kata Deanna yang tidak tahu niat pria itu yang sebenarnya.


“Ehm…..tapi bu…..”


“Tidak apa-apa. Dokter Gian adalah dokter keluarga kami dan juga kerabat keluarga. Jadi kamu tidak perlu takut. Maafkan ibu ya sayang, ibu tidak bisa menemanimu makan siang hari ini. Ini mendadak sekali dan ibu harus segera menyusul ayahnya Jaysen.” ucap Deanna dengan ekspresi bersalah. Namun dia tidak berpikiran buruk tentang Gian.


*********


“Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi.” kata Gian yang melihat Emily hanya memandangnya.


“Eh? Pertanyaan yang mana?” tany Emily mengerjapkan mata.


Gian tersenyum dan memandang Emil dengan tatapan mata yang lembut dan mendalam. “Bagaimana kabarmu?” tanya Gian mengulang pertanyaannya tadi.


Emily menunduk dan sedikit kikuk karena pria itu terus saja memandanginya dengan lekat. Hal itu membuat Emily merasa tidak nyaman. “Kabarku, ehm…..baik kok. Terima kasih sudah bertanya."


Gian tertawa renyah sehingga membuat Emily mendongakkan wajahnya dan memandang pria itu dengan tatapan heran. “Aku hanya senang bertemu denganmu lagi. Itu saja kok.”


“Jadi kamu mau makan siang dimana?” Gian berusaha ingin membuat waktu bersama Emily.


Namun gadis itu menjawab dengan gelengan kepala. “Terserah.” jawabnya.


Gian kembali tersenyum lalu membelokkan kemudi mobilnya. “Kalau kuajak ke tempat favoritku mau kan? Semoga saja kamu suka, makanan disana juga enak dan tempatnya nyaman.”


Emily kembali mengangguk. “Apa aku nggak akan apa-apa?”


“Maksudnya?” tanya Gian mengerutkan alisnya.


“Kita keluar berdua seperti ini. Apakah ngak akan jadi masalah nanti?”

__ADS_1


__ADS_2