
Emily memasang wajah tak percaya, dia memberi pandangan bertanya pada Argya. Namun pengawal itu langsung membungkuk dan pamit untuk mengambilkan kotak P3K yang diminta oleh Emily. Bukan hanya Argya saja yang mengeluh tetapi juga Sabrina.
Desainer cantik itu mengerti ******* putus asa dari ketiga asistennya, yah termasuk juga dirinya. Sepasang mata birunya menatap menyesal pada noda darah yang mengotori gaun dewi bulan mereka yang sempurna.
“Padahal gaunnya saja sudah seharga tiga juta dollar.’ keluhan Sabrina menyadari bahwa gaun perak itu sudah tidak akan bisa dipakai lagi.
Noda darah sangat sulit untuk dihilangkan apalagi pada gaun seperti itu yang penuh dengan aksen payet, manik dan bordiran. Rasanya nyaris mustahil untuk menghilangkan nodanya.
Sabrina mengamati Emily yang sekarang terlihat serius membersihkan luka ditangan Jaysen setelah Argya datang dengan membawakan kotak P3K.
Desainer cantik itu lalu tersenyum. Kedua mata birunya cermat memperhatikan sepasang calon pengantin itu. Dia melambaikan sebelah tangan menyuruh agar ketiga asistennya segera menyingkir. Lebih baik mereka menghabiskan waktu istirahat daripada harus menjadi obat nyamuk.
“Sudah kuduga, dia punya perasaan padamu, sayang.” ucap Sabrina tersenyum pada Emily lalu berbalik dan pergi bersama ketiga asistennya.
“Arg!” teriak Jaysen kesakitan, sebenarnya tidak terlalu sakit tapi dia hanya berpura-pura sangat kesakitan.
“Ap—apa sakit sekali ya? Maaf….maaf ya….aku nggak bermaksud menyakitimu.” tanya Emily yang panik dan merasa bersalah
“Nggak apa-apa kok sayang. Lanjutkan saja oke? Hanya sakit sedikit saja kok.” jawab Jaysen sedikit meringis.
Sambil menggigit bibir bawahnya, tangan Emily sedikit gemetar sewaktu menekan kain kasa yang sudah dibasahi alkohol ke atas luka ditangan Jaysen.
“Bagaimana kalau aku panggilkan dokter saja, Jay?” usulnya, dia berusaha menahan rasa ngeri melihat luka yang menganga di tangan lelaki buta itu. “Darahnya juga masih belum berhenti juga. Oh Tuhan!” pekiknya.
“Ada apa?…..sayang? Ada apa denganmu?” tanya Jaysen karena Emily tiba-tiba melepaskan tangannya dan berdiri,
Emily kebingungan saat dia baru menyadari kalau gaun pengantinnya terkena noda darah. “Gaun pengantinnya terkena darahmu Jay! Bagaimana ini?” ujarnya panik.
“Memangnya kenapa kalau kena noda darah?” sahut Jaysen acuh. Dia lalu mengangkat tangannya kearah Emily, ”Kemarilah. Mendekatlah padaku, sayang.”
“Ta—tapi gaunnya nanti akan tambah kotor, Jay! Bagaimana kalau aku ganti pakaia dulu? Nggak akan lama kok? Daripada nanti gaunnya tambah kotor dan nggak bisa dibersihkan lagi?” tolak Emily.
__ADS_1
“Eleanor Milena! Bukankah aku memintamu untuk mendekat padaku? Jadi jangan permasalahkan soal gaun itu dan datanglah kemari.”
“Ta—tapi Jaysen!”
“Kalau kamu mencemaskan soal biaya ganti rugi gaun itu, tenanglah akan kubayar.”
Emily mencengkeram gaun itu, dengan ekspresi wajahnya yang terlihat muram, “Tapi aku suka gaun ini.” kata Emily.
“Apa?”
“Aku menyukai gaun ini Jay! Tapi sekarang gaun ini malah nggak bisa dipakai lagi.” ucap Emily dengan suara lirih terdengar sedih.
Jaysen mengacak rambutnya dengan sebelah tangannya yang sehat. Dia menyergah dengan napas kasar dan dia bisa menangkap nada sesal dalam suara gadis yang dikiranya Eleanor itu. Jelas sekali kalau calon istrinya memang sangat menyukai gaun yang entah seperti apa bentuknya itu.
“Apa kamu sangat menyukai gaunnya?” akhirnya Jaysen pun menanyakan itu.
“Iya, modelnya memang sederhana tapi cantik dan nyaman dipakai. Lagipula warna gaun ini sama seperti warna abu mataku. Kata Nyonya Sabrina tadi kalau aku terlihat seperti dewi Artemis kalau memakai gaun ini. Makanya aku sangat menyukai gaun ini.”
“Iya!”
“Dewi bulan itu kan?” tanyanya yang terdengar sangat konyol Emily tidak menjawab, dia hanya mengangkat bahu sementara Jaysen tersenyum.
Pembicaraan semacam ini sangat kekanak-kanakan sebenarnya, dan bahkan Jaysen tidak pernah bayangkan dia melakukannya tapi nyatanya sekarang dia malah sedang membicarakan soal Dewi Artemis itu dengan Emily.
“Kemarikan tanganmu Jay!” dengan lembut Emily menarik tangan Jaysen yang terluka dan menaruh diatas pangkuannya lagi.
“Bukankah tadi kamu bilang kalau gaunnya kotor, hm?” Jaysen bertanya dengan nada rendah sambil menyentuh rambut Emily dengan sebelah tangannya.
“Sudah terlanjur kotor! Lagipula aku juga nggak mungkin membiarkanmu yang terluka begitu saja.”
Jari Jaysen kini menelusuri kening dan rahang Emily. Sesaat dia mengelus anting dan daun telinga gadis itu. Semua dia lakukan secara naluriah, seolah tangannya sudah otomatis bergerak menyentuh calon istrinya.
__ADS_1
“Jangan marah.” ucapnya dengan suara lirih.
“Apa?”
“Jangan marah padaku Ele! Jangan pernah membenciku. Ya?” Jaysen kembali bicara lirih. Ini membuat Emily terdiam sambil menghela napas berkali-kali.
“Apa kamu marah padaku?” tanya Jaysen dengan nada khawatir karena Emily tidak juga kunjung menjawabnya. “Ele?”
“Aku bukan Eleanor, Jaysen! Harus berapa kali lagi kukatakan kalau aku adalah Emily!” ujar Emily.
Kali ini Jaysen yang terdiam. Wajahnya memang masih sama terlihat datar tapi didalam hatinya dia mengalami pergolakan besar, memang benar jika Emily sudah sering mengatakan itu padanya.
“Jangan lupa kalau kamu sudah berjanji padaku. Kamu janji kalau kamu akan tetap berada disisiku kalau kamu nggak akan pernah meninggalkanku.”
“Meskipun aku bukan Eleanor?” tanya Emily mengerjapkan matanya.
“Apa maksudmu berkata begitu terus?” tanya Jaysen mengerutkan alisnya seperti tak senang.
“Jay! Kamu mengajukan perjanjian itu pada Eleanor Milena, bukan pada Emily Vionetta! Jadi apakah janji itu tetap berlaku meskipun aku bukan Eleanor?”
Ada keheningan diantara mereka. Argya yang berdiri tidak jauh dan mendengarkan semua percakapan itu dengan jelaspun hanya berdiri diam. Pengawal itu tahu bahwa ini adalah pembicaraan yang penting dan berharap semoga tidak ada yang akan mengganggu.
Oleh sebab itulah sewaktu Sabrina Saab kembali kesana, dia langsung meletakkan jari telunjuknya didepan bibir meminta agar sang desainer tidak membuat suara.
Sabrina hanya tersenyum dan mengangguk mengerti. Dia berdiri diam dengan kedua tangan bersilang, sepasanga mata birunya lalu menyapu kedua orang yang tengah duduk itu. Ekspresi wajah desainer itu terlihat senang seperti seorang yang baru saja menemukan sesuatu yang sangat menarik perhatiannya.
Emily duduk di kursi tempatnya mencoba riasan dan aksesoris perhiasan tadi sementara Jaysen duduk berlutu didepannya dengan tangan yang terluka berada dipangkuan Emily.
“Benar-benar terlihat seperti serigala hitam yang terluka dan sedang diobati oleh sang dewi bulan.” gumamnya sambil menyibakkan rambut keemasannya yang indah.
Jaysen menghela napas berat, ada rasa gelisah yang menggeliat didalam hatinya. “Apa kamu lupa soal ucapanku waktu itu?” tanyanya lirih.
Emily mengerutkan alisnya tidak mengerti apa yang Jaysen maksudkan. Dia terdiam sejenak dan mencoba berpikir untuk menggali ingatannya.
__ADS_1