Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 43. GLADI RESIK


__ADS_3

“Argya!”


“Ya Tuan.”


“Tinggalkan kami.” perintah Jaysen.


Sontak Emily tercengang. Dugaannya ternyata benar, Jaysen marah lagi dan lagi. Ini yang paling tidak disukainya dari pria ini.  Temperamennya sangat buruk. “Jay….ak----aku. Ah!”


Sepasang mata abu Emily terbelalak. Jaysen menciumnya namun ada hal lain yang membuat gadis itu terperangah.


Kalau biasanya lelaki buta itu menciumnya dengan kasar dan menuntu tapi kali ini ciumannya terasa lembut dan perlahan. “Jay?” bisik Emily yang mulai terhanyut dengan ciuman Jaysen. Tanpa sadar gadis itu menurut saja saat Jaysen menariknya turun dari kursi. Sekarang mereka berciuman dengan posisi Jaysem yang terbaring sementara Emily duduk diatas perut pria itu.


“Jay! Ahh!”


“Katakan kalau kamu menginginkanku Ele,” bisik Jaysen mencecap kulit leher Emily membuat gadis itu semakin menunduk menindihnya. “Jay! Aku bukan Eleanor.” ujarnya sambil *******-***** rambut lelaki buta itu.


“Terserah kamu siapa, aku nggak peduli. Yang jelas aku menginginkanmu, hanya kamu.”


Emily menggigit bibirnya, berusaha menahan *******. Entah sejak kapan tubuhnya selalu saja bereaksi seperti ini. Kalau dulu sentuhan Jaysen terasa menakutkan dan menjijikkan, tapi sekarang malah sebaliknya.


Dia begitu menikmati setiap sentuhan yang lelaki buta itu berikan. “Jay! Ohhhh!” Emily memejamkan matanya kuat-kuat. Emily meremang saat tangan besar itu menyentuh bagian sensitif tubuhnya. Napasnya bergetar sewaktu pria itu melakukan hal yang lebih jauh lagi dengan sentuhannya.


Tiba-tiba Emily menahan tangan lelaki buta itu saat ingin melepaskan pakaiannya. “Jay! Nggak boleh.”


“Kenapa?”


“Nggak boleh sebelum menikah.” ucap Emily.


“Jangan bergurau kamu Ele!”


“Tadi kamu sudah berjanji akan menuruti semua permintaanku.” ucap Emily mengingatkan pria itu.

__ADS_1


Seakan dipukul oleh palu raksasa, lelaki itu lalu memaki dan menyadari bahwa pada akhirnya dia termakan ucapannya sendiri.


“Apa nggak boleh ada pengecualian?” tanyanya masih mencoba bernengosiasi dengan gadis itu.


“Satu.”


“Apa itu?”


“Aku hanya bisa memberi satu pengecualian Jays. Jadi pikirkan baik-baik.”


Suasana kembali hening, tak ada seorangpun yang bicara hanya deru napas yang terdengar. Masih tidak ada jawaban yang diberikan oleh Jaysen. Lelaki buta itu hanya diam sambil mengelus-elus pipi Emily.


“Baiklah. Kamu boleh minta apapun dariku, kecuali satu Ele.”


Degup jantung Emily semakin tidak karuan.sekarang pun gadis itu sudah menyesali ucapannya sendiri yang memberi pengecualian tadi. “A—apa?”


“Jangan pernah tinggalkan aku.”


“Kamu boleh minta apapun padaku. Selama bisa kukabulkan, akan kulakukan kecuali satu. Kamu nggak boleh meninggalkan aku. Selamanya kamu harus tetap berada disisiku. Bagaimana?”


“Bagaimana kalau memulangkanku? Aku bukan Ele, Jaysen?”


“Sayangnya itu termasuk dalam definis meninggalkanku. Sayang, seperti yang sudah kukatakan tadi, aku nggak peduli kamu itu siapa yang jelas aku sangat menginginkanmu.”


Tubuh Emily seketika itu juga menjadi lemas setelah mendengar perkataan lelaki buta itu.


Dia kini menyadari bahwa semua jalan baginya untuk pulang sudah tertutup. “Rasanya kok aku sudah seperti menjalin kontrak dengan iblis.” keluhnya.


“Apa aku terlihat seperti iblis bagimu, sayang?” Jaysen memeluk Emily dan berguling merubah posisi mereka.


“Kalau begitu, bukankah itu berarti bahwa aku sangat tampan dan menawan? Karena memang seperti itulah rupa iblis.” ucap Jaysen tersenyum tipis.

__ADS_1


“Jay! Ahhhh! Apa yang kamu lakukan?” teriak Emily protes karena Jaysen malah merobek kemejanya dan melepaskan bra lalu membuangnya begitu saja. “Kamu sudah janji! Ahhhh!”


“Aku hanya janji tidak melakukan lebih jauh dari sekedar menyentuhmu kan? Tapi aku nggak pernah  janji untuk tidak menyentuhmu. Jadi mulai sekarang kamu harus terbiasa. Anggap saja ini gladi resik sebelum malam pertama kita nanti.”


Emily memandang pria itu tak percaya, dia merasa seolah sudah ditipu. Mulutnya sudah terbuka hendak berteriak marah, tetapi nyatanya malah ******* yang keluar dari bibirnya karena Jaysen sudah kembali menyentuhnya dan bermain-main ditubuhnya. Entah mengapa setiap kali dia menolak, justru reaksi tubuhnya malah sebaliknya.


“Ja—jangan…...” sengal Emily saat bagian tubuhnya yang paling sensitif disentuh oleh pria buta itu.


“Tenang saja, aku bukan orang yang suka mengingkari janji kok. Aku kan sudah bilang padamu kalau aku tidak akan melakukan itu sebelum pernikahan kita. Jadi kamu tidak perlu takut oke?” bisik Jaysen di telinga gadis itu.


Tiba-tiba sebuah kesadaran muncul dalam pikiran Emily! Sekarang dia mulai menyadari bahwa sejak awal dia memang sudah dijebak kedalam perjanjian ini. “Kamu keterlaluan Jay! Kamu menjebakku!” engahnya merasakan tubuhnya yang semakin bergetar. Dia bicara sambil menggeliatkan tubuhnya yang seolah menolak untuk menuruti keinginan logikanya.


Selama dua hari pria buta itu menghindarinya lalu tiba-tiba dia muncul kembali dan sepenuhnya berubah. Lelaki buta itu malah bersikap lembut padanya membuat Emily tidak waspada dan akhirnya jatuh kembali kedalam perangkap Jaysen.


“Sayang, kamu pikir selama dua hari kemarin apa yang kulakukan, hem?” bisik Jaysen sambil terus merayu dan menyentuh Emily untuk membuat gadis itu luluh dan takluk sepenuhnya padanya. “Dua hari kemarin aku memang sengaja menghindarimu. Apa kamu nggak tahu betapa beratnya bagiku menahan diriku? Hem?”


Dengan napas terengah, Emily memandang wajah tampan yang berada tidak jaug darinya itu.


“Eleanor Milena atau siapapun kamu, jangan harap bisa lepas dariku! Kamu selamanya akan menjadi milikku. Aku tidak peduli siapa dirimu yang sebenarnya! Aku menyukaimu!” bisik Jaysen lagi. “Masih ada waktu sebelum desainer itu datang, sayang. Jadi mari kita lihat sampai seberapa lama kamu akan bertahan untuk menolakku.”


Wajah Emily langsung pucat seketika. Dia memang tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaannya pada Jaysen tetapi satu hal yang gadis itu yakini bahwa dia sudah terperangkap dalam gairah lelaki uta itu. “Gawat!” keluhnya didalam hati. “Ini benar-benar gawat! Apa yang harus kulakukan sekarang?”


Emily semakin ketakutan dengan sikap lelaki buta itu. Sedangkan tubuhnya malah semakin hanyut didalam setiap sentuhan Jaysen. Dia hanya bisa mengutuki dirinya sendiri karena tak mampu menahan godaan Jaysen. Saat Emily pasrah dan hanyut dalam buaian hasrat, tiba-tiba terdengar ketukan dipintu.


Mendengar ketukan itu, Jaysen tetap mengacuhkan dan terus melakukan apa yang ingin dia lakukan. Sementara Emily berharap seseorang segera memasuki ruangan itu sehingga dia tidak perlu memasrahkan dirinya pada Jaysen.


Tapi, Ketukan di pintu kembali terdengar dan suara seseorang terdengar yang memberitahukan bahwa desainer baju pengantin sudah datang dan sedang menunggu mereka.


Mendengar itu Jaysen mengutuk dan marah! Karena untuk kesekian kalinya selalu saja ada orang yang mengganggu kesenangannya bersama Emily.


Mengingat dia sudah membuat janji dengan desainer itu, meskipun marah dan sambil bersungut-sungut Jaysen mengenakan kembali pakaiannya begitu pula Emily.

__ADS_1


__ADS_2