
Deanna mengamati jalanan kota disiang hari yang macet dan dia kembali berpikir. “Sebenarnya hal apa yang ingin disampaikan Titus ya? Bahkan meskipun sudah dipukul pun dia masih saja bersikeras ingin bertemu dan bicara.” Deanna mendesaj sambil memijat pangkal hidungnya karena merasa sedikit pusing memikirkan semuanya.
“Waktu itu istrinya yang datang dan seenaknya marah-marah dan mengata-ngatai calon menantuku. Sekarang malah suaminya sendiri yang datang. Kenapa sih mereka itu tidak bisa diam saja dan membiarkan pernikahan anakku berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan? Dasar!”
Dia masih saja menggerutu sepanjang perjalanan sampai-sampai dia tidak menyadari sesuatu.
“Oh Tuhan! Semoga saja Jaysen tidak tahu kalau Gian yang mengantarkan calon menantuku pulang! Seharusnya tidak masalah iyakan? Toh Gian sendiri yang bilang kalau dia memang ada rencana mau pergi kekediaman Wisesa hari ini.” Deanna menghela napas seraya mengangkat bahunya. Dia kini merasa lebih tenang dan lebih rileks.
”Pasti Gian datang kesana untuk memeriksa dan mengobati para pengawal yang terkena hukuman itu.” Deanna tersenyum merasa lucu dengan kenyataan yang dia ketahui tentang putranya itu.
“Oh, Jaysen! Dasar anak itu, didepan calon menantuku sok-sokan berkata kalau dia tidak akan memberi hukuman pada para pengawal itu tapi nyatanya dia menghukum mereka melalui Argya.”
Deanna menggelengkan kepalanya merasa geli sendiri, “Oh ya ampun Jaysen! Sejak kapan dia mulai bersikap seperti itu ya? Harus berpura-pura segala didepan calon istrinya. Apakah dia sedang memakai topeng berlagak menjadi orang baik? Ada-ada saja ulah anak itu sekarang.” Deanna menikmati sisa perjalanan dengan pikiran yang menyenangkan tentang putranya.
Namun kemudian ada pikiran yang melintas yang mengganggu perempuan paruh baya itu. “Ngomong-ngomong, kenapa ya Gian datang menemui Sabrina Saab? Rasanya kok agak aneh ya dia tiba-tiba muncul disana?” Deanna berpikir beberapa saat namun dia tak kunjung mendapat jawabannya. ‘Apa Gian juga berencana untuk menikah dalam waktu dekat?’ pikirnya.
Karena tadi dia sempat melihat dokter muda itu melihat-lihat model gaun pernikahan sehingga dia mengira-ngira mungkin Gian memang akan menikah juga. “Tapi siapa yang akan menjadi calon pasangan Gian? Setahuku dia belum memiliki pasangan?” Deanna mendesak lalu mengangkat bahunya untuk tidak memikirkan lebih lanjut lagi tentang pria itu.
“Aneh juga sih sebenarnya? Tiba-tiba muncul seperti itu disaat aku dan Eleanor sedang berada disana? Tapi----ya sudahlah. Toh itu bukan urusanku.” Deanna menyandarkan bahunya lalu melupakan tentang Gian dari pikirannya. Sekarang ada hal lain yang jauh lebih penting yang harus dipikirkan dan ditanganinya.
“Titus Maleakhi? Mau apa dia sebenarnya datang? Dasar! Suami istri sama-sama merepotkan saja. Ck! Apa mereka tidak bisa membiarkan kami tenang ya?” Deanna berdecak agak kesal apalagi dia mengingat bagaimana perlakuan Naura pada calon menantunya waktu itu.
“Dulu istrinya yang datang membuat masalah, sekarang suaminya juga ikut-ikutan.”
Sementara itu dikediaman Wisesa, mobil yang dikendarai Gian baru saja sampai dan melewati gerbang rumah mewah itu dan berhenti tepat didepan pintu masuk utama.
__ADS_1
“Selamat siang dokter Gian.”
“Selamat siang Argya. Bagaimana kabarmu?” sapa Gian sembari tersenyum. Dia terlihat sangat tenang dan bersikap seperti biasanya setiap kali bertemu dengan orang kepercayaan Jaysen itu.
Argya sedikit menundukkan kepalanya lalu memasang senyum formalnya. “Kabar saya baik-baik saja dokter. Terima kasih sudah bertanya.”
“Apakah kita bisa langsung atau----” Gian mengangkat kedua alisnya menatap heran kearah Argya yang memandangi mobilnya dengan cermat. Mendadak pikiran Gian pun menjadi kalut dan khawatir jika ada sesuatu dimobilnya yang membuat Argya curiga.
“Argya? Ada apa ya?”
“Maaf dokter Gian. Apakah saya boleh memeriksa mobil anda sebentar?” tanya Argya.
“Eh?”
Argya mengambil sedikit jarak, lalu mengamati mobil mewah yang hanya bisa memuat dua orang penumpang itu. Memang Argya tidak menyentuh mobil Porsche Boxster silver milik Gian tapi kepala pengawal itu bahkan berjalan mengitari mobil itu sebanyak dua kali. Dia hendak menunduk untuk memeriksa bagian bawah mobil sewaktu suara Gian terdengar menyela.
“Ada apa sebenarnya Argya? Kenapa kamu tiba-tiba saja ingin memeriksa mobilku?” tanya Gian ikut berjalan mendekati mobilnya. “Memang ada apa dengan mobilku? Sampai kamu harus memeriksanya seperti ini? Kamu tidak pernah melakukan ini sebelumnya.”
Argya pun urung memeriksa bagian bawah mobil. Dia berbalik menghadap Gian. Argya kembali memasang senyum formalnya, dan menjawab dengan sikap yang sangat tenang.
“Maafkan saya dokter tapi kalau anda tidak keberatan, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan.”
“Ya. Silahkan! Apa yang ingin anda tanyakan pada saya?” Gian menaikkan bahunya dengan santai. Dia terlihat sangat tenang dan tidak ada ekspresi cemas ataupun takut diwajahnya.
Argya terdiam sejenak dan terlihat seperti sedang berpikir. Lalu Argya menunduk dan berkata,
__ADS_1
“Maafkan saya. Sepertinya saya hanya salah lihat saja. Silahkan, saya antar keruang perawatan.”
“Ah tunggu.” sela Gian langsung berlari kearah mobilnya. Dokter muda itu lalu membuka pintu mobil dan memasukkan setengah tubuhnya.
Dia merunduk sesaat mengedarkan pandangan seolah mencari sesuatu. Dia menyusupkan tangan kesela-sela kursi dan meraih sebuah botol kecil yang terbuka lalu menutup botol tersebut. Lalu dia memasukkan botol itu ke saku celananya.
“Ada yang tertinggal.” ucapnya seraya tersenyum mengacungkan sebuah penlight yang sebelumnya dengan sengaja dijatuhkannya.
Argya mengangguk, dia merasa tidak ada yang aneh. Dia segera memandu Gian dan kedua pria itu segera pergi meninggalkan pintu masuk utama. Sama sekali tidak menyadari ada sebuah sosok bersurai coklat madu yang merangkak keluar dari bawah mobil. Tidak lama setelah kedua pria itu pergi. Ya, Emily lah yang bersembunyi dibawah mobil Gian.
‘Ya Tuhan! Nyaris saja!’ Emily menghela napas panjang sedikit terengah. Rambutnya berantakan dan bajunya pun kotor tapi wajah gadis itu terlihat lega.
‘Syukurlah aku tadi sempat bersembunyi. Bisa panjang urusannya seandainya Argya sampai tahu kalau tadi aku pulang bersama Gian.’
Lalu Emily bertopang dimobil Gian dan beringsut berdiri.
Dia lalu mengibas-ngibaskan pakaiannya yang kotor untuk mengurangi sedikit debu yang ada. Dia menoleh beberapa kali dan mencoba mengamati sekelilingnya. Lalu gadis itupun melesat berlari kesamping rumah, dalam kondisi seperti ini akan lebih aman kalau dia masuk dari arah taman samping rumah.
‘Semoga saja aku nggak ketemu siapa-siapa.’ gumamnya.
Dia berdoa didalam hati agar tidak ada yang melihatnya. Lalu yang paling dia harapkan sungguh-sungguh adalah, ‘Semoga saja Jaysen nggak tahu soal ini. Aduhhh bisa masalah besar nanti kalau dia sampai tahu. Ya semoga saja!’ ucapnya berbisik dalam hati lalu melanjutnya berlari hingga sampai di taman samping rumah mewah itu.
Sementara itu, Gian yang sudah berada didalam rumah itu tepatnya disalah satu ruangan pun merasa terkejut. “Kenapa mereka sampai terluka seperti ini?” tanyanya dengan dahi berkerut.
Setelah ketiga pasien yang dia periksa, semuanya memiliki luka yang nyaris sama. Dokter muda itupun mengambil kesimpulan bahwa kemungkinan besar sisa pasien yang lain juga memiliki luka yang hampir serupa.
__ADS_1