
Emily tahu bahwa ada yang tidak beres dengan dirinya. Kenapa dia begitu menginginkan Gian? Bukankah hal itu aneh sekali? Mereka juga tidak terlalu dekat atau sering bertemu. Terakhir kali dia bertemu dengan Gian adalah saat makan siang. Disaat Gian mengajaknya makan, sebelum akhirnya mengantarkan dia kembali ke kediaman Jaysen.
Ada apa sebenarnya dengan dirinya? 'Apa ada sesuatu yang aneh yang aku makan?' pikirnya diantara kesadaran yang timbul tenggelam. Dia merasa keanehan pada dirinya dan juga merasakan kalau dia seperti orang linglung.
Meskipun dia sudah berusaha keras namun gadis itu belum juga bisa memastikan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Seingatnya tidak ada apapun yang aneh yang dia makan atau minum saat dia bersama Gian.
Jadi, sebenarnya dimana masalahnya? Kenapa dia bisa bertingkah seaneh ini? Tubuhnya gemetar dan menggigil, kepalanya juga terasa sakit dan rasa cemas berlebih yang dia rasakan sejak tadi. Semuanya terasa nyata, bagaimana dia sangat menginginkan Gian.
Emily sama sekali tidak bermaksud melakukannya ataupun sengaja berbuat-buat. Lalu yang membuat Emily semakin terkejut adalah sewaktu dokter muda itu datang, dia yang semula menggigil dan gemetar dalam pelukan Jaysen, tiba-tiba saja langsung berlari menghambur ke pelukan Gian.
Dia bersikap seolah Gian merupakan sesuatu yang sangat dinantikan dan dirindukannya untuk menghilangkan segala gejolak dalam diri. Benar saja! Hanya sekedar menghirup aroma tubuh dokter muda itu, sudah membuat semua rasa sakit dan cemas Emily menghilang.
Tubuhnya yang semula menggigil dan gemetar pun kian menjadi tenang. Begitu juga dengan sakit kepalanya yang tadi seolah menghajarnya namun seketika berkurang dan secara perlahan menghilang. Emily merasa lebih santai dan nyaman.
Tubuhnya pun terasa jauh lebih ringan seolah melayang. Rasanya dia tidak ingin berpisah ari aroma yang manis ini meskipun sekejap.
"Ele.....sayang....."
Deg!
Emily bisa mendengar suara Jaysen yang terdengar sangat memohon bahkan terdengar seperti frustrasi. Emily ingin mendekat padanya. Dia ingin menjawab panggilan Jaysen namun tubuhnya seolah bukan miliknya lagi. Meskipun dia ingin berlari kearah Jaysen, tapi nyatanya tubuh gadis itu tetap memilih berada dalam pelukan Gian.
__ADS_1
"Aku.....kenapa? Ada apa denganku?" erangnya lirih merasa pusing dengan aroma manis yang begitu memabukkannya ini. "Gi---Gian......aku kenapa?"
"Ssstttt! Tenanglah! Sebentar lagi aku akan membuatmu merasa lebih nyaman, sayang!" bisik Gian ******* daun telinga gadis itu yang berbalas dengan suara ******* Emily. Dia berhenti didepan pintu kamar yang terlihat kokoh itu dengan ukiran mewah yang dijaga oleh dua orang pengawal disebelah kiri dan kanan.
Gian tersenyum lalu berkata, "Tolong bukakan pintunya. Aku harus segera memeriksa Nona Eleanor."
Salah satu pengawal itu mengangguk dan dengan sigap langsung membukakan pintu. Mereka sudah diberitahukan tentang kedatangan dokter Gian.
"Tolong bantu Nona Eleanor agar segera sembuh dokter," ujar salah satu pengawal mempersilahkan Gian masuk. Disertai dua orang pelayan wanita yang tadi diperintahkan oleh Argya agar terus menemani dokter muda itu.
Gian berhenti sejenak sebelum memasuki kamar dan menoleh kearahnya. Dengan wajah yang penuh senyuman, dokter muda itu menjawab, "Tentu saja. Setelah ini Eleanor pasti akan baik-baik saja."
Gian tersenyum melangkah memasuki kamar tidur yang luas itu. Dia mengamati kamar itu sekilas, wajah kalem dokter muda itu kembali mengeras.
"Jangan khawatir, sayang!" bisik Gian mengecup puncak kepala Emily. "Sebentar lagi aku akan segera membebaskanmu dari perangkap si iblis itu. Bersabarlah ya sayang."
Gian melirik sekilas kearah kedua pelayan wanita yang sekarang dengan cekatan menatap tempat tidur untuk Emily, Gian kembali tersenyum.
"Sekarang yang kuperlukan adalah menyingkirkan kedua pelayan itu untuk sementara. Tenanglah sayang, aku juga sudah tidak sabar ingin bersamamu....." Gian tersenyum menunduk dan kemudian berbisik ditelinga Emily, "Nyonya Eleanor Arkana."
Sebelumnya di kediaman Arkana. Waktu sudah semakin larut, tapi Gian masih belum bisa tidur. Dokter muda itu berada diruang kerjanya mengamati jam digital berukuran kecil yang bertengger diatas meja kerjanya.
__ADS_1
"Sebentar lagi! Aku harus sabar menunggu sebentar lagi!" gumamnya lirih mengetuk-getukkan jari diatas meja. Sesekali matanya masih mengerling mengawasi angka digital yang berubah setiap menit seakan menunggu sesuatu.
Sambil menghela napas dia mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam saku kemejanya. Ada senyum diwajah kalemnya sambil mengamati botol kecil yang berisi cairan bening itu. Ukurannya sangat kecil, hanya berisi 10ml cairan yang sekarang sudah berkurang lebih separuhnya.
"Kenapa aku baru kepikiran sekarang ya?" gumamnya lagi masih tersenyum sendiri. Dia menengadah di kursi kerjanya, dokter muda itu kembali menghela napas. Selang beberapa waktu lagi-lagi dia tersenyum. Cairan didalam botol kecil itu yang akan membantunya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Selama berhari-hari Gian berpikir dan mencari cara sampai akhirnya tanpa sengaja dia menemukan informasi soal isi botol kecil itu. "Ternyata solusinya sangat mudah. Malah barang ini sudah dijual bebas dan dengan harga yang sangat terjangkau pula. Kenapa tidak dari kemarin-kemarin aku kepikiran ya?"
Gian menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa sendiri. Tentu saja barang yang dia miliki sekarang tidak sebanding dengan yang dijual dipasaran. Barang yang dibeli dokter muda itu memiliki kualitas sangat bagus dan untuk mendapatkannya pun jauh lebih sulit.
Apalagi ada tambahan bahan tertantu yang dimintanya agar turut dicampurkan sehingga membuat barang itu sijual dengan harga yang jauh lebih tinggi. Gian memicingkan matanya mengamati cairan yang tidak berwarna itu. Memutar-mutar tangannya. Dia memastikan kalau tutup botolnya tertutup rapat.
Yang ada ditangannya saat ini adalah obat perangsang yang bisa dihirup. Berbeda dengan obat perangsang lain yang harus dicampurkan dalam makanan atau minuman, jenis yang satu ini lebih mudah menggunakannya.
Cukup membuka tutupnya saja atau bahkan diteteskan sedikit cairan dibaju atau di sapu tangan, lalu biarkan orang yang menjadi target menghirup aromanya. Reaksi yang ditimbulkan pun berbeda dengan jenis obat perangsang lainnya.
Kalau obat perangsang yang umum ada dipasaran selalu menimbulkan rasa panas dan gairah ingin disentuh, maka dengan obat yang Gian miliki tidak begitu. Orang yang menghirup obat ini awalnya akan memiliki perasaan bahagia dan riang.
Orang itu juga akan merasa bersemangat dan rileks sekaligus seakan lupa atas segala permasalahannya. Namun tentu saja tidak cukup! "Untuk mendapatkanmu aku benar-benar harus memutar otakku, Eleanor!" gumam Gian.
Kedua matanya terpejam sementara satu tangannya memutar-mutar botol kecil itu. "Aku bahkan harus mencampurkan koka dengan takaran tertentu dalam obat itu."
__ADS_1
Kalau aroma dari obat perangsang hirup itu bisa membuat perasaan seseorang menjadi bahagia, maka koka yang dia campurkan bisa memberikan efek ketagihan. Campuran yang Gian tambahkan sudah ditakar dengan jumlah yang tepat sehingga akan bereaksi dalam waktu yang dia inginkan.
"Sebentar lagi!" bisik dokter muda itu dengan seulas senyuman diwajah kalemnya. "Sebentar lagi mereka akan memanggilku untuk datang! Karena kamu Eleanor, kamu akan sangat ingin bertemu denganku. Kamu akan sangat menginginkanku hingga keberadaan si lelaki iblis itu tidak akan berarti apapun lagi bagimu."