Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 82. PERCAYA SAJA


__ADS_3

"Mereka---" Titus menenguk ludah dan menghela napas berat sekali. Didalam hatinya lelaki itu merasa bingung bagaimana cara untuk memberitahukan pada istrinya. "Naura,aku----"


"Titus? Ada apa? Cepat katakan apa yang terjadi disana?"


"Aku sudah memberitahukan kepada mereka semuanya." ujar Titus.


"Ah, syukurlah!" Naura menghembuskan napas lega. Perempuan itu bahkan sudah mulai tersenyum bahagia, "Oh begitu? Jadi kapan kita bisa menjemput putri kita? Oh Titus! Aku sudah tidak sabar lagi ingin segera bertemu lalu memeluknya."


"Naura....."


"Putriku itu pasti mengalami banyak kejadian buruk selama tinggal dirumah terkutuk itu. Jaysen si lelaki iblis itu pasti memperlakukannya dengan kasar." ujar Naura dengan nada marah.


"Naura....."


"Setelah Emily pulang, dia bisa tinggal disini untuk sementara waktu bersama kita. Lalu kita bisa fokus mencari dan menemukan dimana Eleanor berada. Oh ya Tuhan! Semoga saja anak nakal itu baik-baik saja. Semua masalah ini dia yang memulainya."


"Naura....." Titus untuk kesekian kalinya memanggil istrinya yang masih berceloteh tanpa mendengarkan panggilan suaminya.


"Sepertinya aku harus mulai menata dan merapikan kamar Emily yang lama. Semoga saja sesuai dengan seleranya dan dia bisa betah tinggal disini bersama kita."


"Pernikahannya akan tetap dilaksanakan." akhirnya Titus bicara.


"Aku juga akan membiatkan makanan kesukaan Emily. Kata Maya, anak itu sangat menyukai masakan Italia."


Naura terus saja berbicara dan tak mendengarkan apa yang dikatakan suaminya barusan.


"NAURA!" teriak Titus dengan frustasi.


Wanita paruh baya itu terkejut mendengar bentakan suaminya, akhirnya dia berhenti mengoceh dan menutup mulutnya. "Ya, kenapa suamiku? Apa ada yang ingin kamu katakan? Kenapa dari tadi kamu sibuk memanggilku terus?"


"Naura, mereka tidak percaya." ujar Titus memegang kedua lengan istrinya dan menatap tajam sepasang manik hitam milik Naura.


"Ap---apa? Mereka tidak percaya padamu?" Naura merasa tidak percaya apa yang barusan didengarnya. Sejak tadi dia berceloteh gembira memikirkan putrinya akan segera kembali pada mereka. Tapi, kenyataannya tidak seperti yang dia harapkan.


"Pernikahannya akan tetap berlangsung." ulang Titus lagi.


"TIDAK! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." teriak Naura dengan marah.


"Tidak ada yang bisa kita lakukan lagi untuk membatalkan pernikahan itu." ucap Titus dengan suara lirih.

__ADS_1


"Tidak. Titus?"


"Kecuali kalau Eleanor bisa kita temukan sebelum acara pernikahan itu atau ada orang lain yang bisa turun tangan untuk membatalkan pernikahan itu.  Apakah ada Naura? Apakah akan ada orang lain yang akan ikut campur dalam urusan ini dan membantu kita?" Titus menggelengkan kepalanya beberapa kali.


Sepasang suami istri itu saling berpandangan dan terlihat mulai sangsi. Adakah? Apakah ada orang yang bisa menolong mereka? Tapi siapa?


"Oh ya Tuhan-----"


Sementara itu di kediaman keluarga Ardana, Gian sedang berada diruang kerjanya. Dokter muda itu duduk dibalik meja kerja mengamati botol kecil yang dia pegang sambil memutar-mutarkannya. Botol kecil itu berisi cairan tanpa warna dengan tutup yang terpasang rapat.


Isi cairannya bening hanya tersisa separuhnya saja. Itulah yang membuat Gian terus menerus tersenyum sejak tadi. "Eleanor! Dengan ini segalanya akan semakin lancar. Kamu akan segera menjadi milikku, sayang. Milikku! Lelaki iblis itu tidak akan bisa lagi menahanmu dalam perangkapnya."


Gian mendengus melirik ponsel miliknya yang terletak diatas meja kerja dan senyumannya semakin lebar.


"Bukti kebusukanmu ada ditanganku, Jaysen! Ama menurutmu Eleanor akan tetap sudi menikah denganmu setelah dia mengetahui semuanya?" gumam Gian.


Dia mengusap wajahnya berulang kali, Gian nyaris tidak sanggup menahan rasa bahagianya. Membayangkan dia akan bersama dengan Eleanor dan menghabiskan malam-malam bersama membuatnya semakin bersemangat menjalankan rencananya.


"Nyonya Eleanor Ardana! Ah....kedengarannya jauh lebih bagus bila dibandingkan dengan Eleanor Avshallom! Cih! Menjijikkan, tidak ada bagus-bagusnya itu nama." bisiknya pelan mengeja setiap kata sambil tersenyum.


Dengan mata terpejam, kepala Gian penuh dengan hal-hal menyenangkan yang mungkin akan segera bisa diraihnnya. Dia sama sekali tidak menyadari ada sepasang mata yang mengawasinya sejak tadi.


Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam tetapi Deanna Avshallom masih belum bisa tidur. Matanya sulit sekali untuk terpejam sehingga dia berdiri didepan jendela dan mengingat setiap kata yang diucapkan Titus Maleakhi padanya.


Wanita paruh baya itu berdiri di depan jendela memandang langit malam dari kamar tidurnya yang berada dilantai atas. Suara suaminya terdengar memanggilnya dengan pelan.


"Deanna, kenapa kamu belum tidur juga? Ini sudah menjelang tengah malam." tanya Ruben Avshallom memeluk Deanna dari belakang.


Dia baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan sedikit heran saat dia masuk ke kamar tidur dan mendapati istrinya masih belum tidur.


"Ada apa? Apa kamu masih memikirkan soal tadi?" tanya Ruben Avshallom lagi kali ini sambil mencium pundak Deanna dan membelainya.


"Bagaimana menurutmu tentang apa yang dikatakan Titus Maleakhi tadi?" tanya Deanna.


"Entahlah! Aku juga tidak tahu." jawab Ruben. Dia menarik tangan istrinya lalu duduk berdua ditepi ranjang, Ruben menghela napas panjang.


"Apa menurutmu gadis yang bersama Jaysen itu bukan Eleanor? Apa calon menantu kita itu memang benar adalah Emily, kakak kembar Eleanor?" Deanna mencecar suaminya dengan banyak pertanyaan sehingga membuat pria itu tertawa.


"Ruben! Jangan hanya tertawa saja! Ini masalah serius." seru Deanna karena suaminya hanya tertawa kecil sebagai respon atas semua pertanyaannya.

__ADS_1


"Maafkan aku. tapi sikapmu lucu sekali." kekeh pria bule berkebangsaan Polandia itu.


"Maksudmu?"


"Maksudku adalah bukankah tadi kamu sendiri dengan penuh keyakinan mengatakan tidak percaya pada semua perkataan Titus? Lalu kenapa sekarang kamu malah jadi bimbang sendiri?"


"Oh itu. Itu karena aku masih sangat emosi tadi dan hanya ingin lelaki itu segera pergi dari hadapanku." jawab Deanna sekenanya.


"Jadi?"


"Apa maksudmu dengan jadi?" tanya Deanna menatap suaminya.


"Apakah kamu mempercayai ucapan Titus Maleakhi?"


Deanna terdiam mendengar pertanyaan suaminya. Wajah perempuan itu sedikit menunduk sedangkan kedua tangannya meremas kuat.


"Denna? Kenapa kamu tidak mempercayainya? Apakah kamu punya alasan sendiri, sehingga kamu yang tadinya sangat tegas menolak ucapan Titus?"


"Gadis itu----" Deanna terdiam lagi.


"Ya? Kenapa dengan gadis itu?"


Deanna menarik napas dalam-dalam sambil meremas kuat kedua tangannya, dia terlihat sangat gelisah. Namun Ruben tetap bersabar. Lelaki itupun diam menunggu respon istrinya.


"Oh ya Tuhan! Ruben....apa yang harus kita lakukan? Aku benar-benar tidak ingin kehilangan gadis itu."


"Deann! Apa maksudmu berkata begitu? Jangan katakan kalau----"


"Titus Maleakhi bisa saja berbohong iyakan? lelaki itu bisa saja berdalih agar putra kita gagal menikah. Ruben! Kamu tahu sendiri kan bahwa hubungan keluarga Avshallom dengan Maleakhi tidak pernah berjalan dengan baik. Dan bahwa lelaki itu si Titus Maleakhi itu bukankah dia sangat membenci kita?"


Ruben terdiam memandangi istrinya. Perempuan yang biasanya sangat tenang itu kini terlihat sangat cemas.


"Deanna?" panggilnya lagi.


"Kenapa tidak kita anggap saja seperti itu? Ya, masuk akal kan kalau jadinya seperti itu?" kata Deanna.


"DEANNA AVSHALLOM! HENTIKAN SEMUA OMONG KOSONG INI!" teriak Ruben kencang.


"KENAPA RUBEN? MEMANGNYA KENAPA? APA SALAHNYA KALAU PUTRA KITA MENDAPATKAN GADIS YANG TEPAT SEBAGAI ISTRINYA?" Deanna ikut berteriak kencang tak mau kalah dari suaminya.

__ADS_1


__ADS_2