Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 73. BERULAH


__ADS_3

Benar-benar gambaran seorang lelaki yang sempurna. “Dimana Mimi?” tanyanya saat bibi Yosefa mengantarkan sarapan. Belakangan ini perempuan itu selain membantu membersihkan rumah tapi juga terkadang dia memasak.


Tentunya dengan biaya tambahan yang dibayarkan oleh Gian. Beberapa kali dokter muda itu berpikir untuk merekrut beberapa pelayan tetap.


Tapi sampai sekarang dia masih menunda-nundanya. “Kenapa dia tidak ikut sarapan?”


“Kata nona Mimi, dia masih belum lapar dan akan sarapan nanti.” jawab bibi Yosefa.


Gian mengeryitkan dahinya, entah sejak kapan Mimi bersikap seolah menghindarinya. Adik tirinya itu seperti merasa takut apabila berduaan dengannya.


Ini bukan Mimi yang biasanya. “Kenapa ya? Sepertinya akhir-akhir ini Mimi selalu berusaha menghindariku? Ada apa? Apa ada yang salah?” gumam Gian mengunyah sarapannya perlahan.


Gian memang jarang mabuk-mabukan sekarang. Saat ini ada hal penting yang sedang dia urus dan perlu dipikirkan matang-matang sehingga dia tidak terlalu memperhatikan Mimi.


Hanya saja sesekali dia pulang kerumah dalam keadaan mabuk. Biasanya itu dia lakukan kalau sedang rindu pada Eleanor dan dia sudah tidak tahan lagi.


“Tapi anehnya aku selalu bermimpi bercinta dengan Eleanor setiap kali aku mabuk.” ujar Gian seraya merenung. Dia mencoba mengingat-ingat, malam-malam dimana dia berada dalam pengaruh alkohol.


Dia merasa selalu panas dan bergairah, sosok gadis bersurai coklat madu yang dia cumbu ssetiap malam terasa nyata bahkan saat gian tersadar dipagi harinya, sisa aroma percintaan masih samar-samar bisa diciumnya.


“Dan selalu seharian itu Mimi akan menghindariku dan aku tidak bisa melihatnya selama seharian atau bahkan beberapa hari.”


Untuk sesaat Gian memikirkan mengenai hubungannya dengan Mimi, kebiasaan pulang dalam keadaan mabuk yang terkadang dia bercinta didalam mimpinya selama semalaman yang terasa begitu nyata. Dan sikap Mimi akan berubah keesokan harinya seolah dia menghindari Gian.


“Atau…..jangan-jangan Mimi selalu melihatku memuaskan diri saat aku sedang mabuk?”


Gian mengusap wajahnya kemudian mengeluh, “Oh ya Tuhan! Kalau memang benar seperti itu kejadiannya, pasti sangat memalukan! Pantas saja akhir-akhir ini dia selalu menghindariku.”


Didalam hati Gian, berniat agar tidak pulang dalam keadaan mabuk.


“Tapi, mimpi bercinta dengan Eleanor selama semalaman itu benar-benar menyenangkan.” bisiknya sambil tersenyum sendiri.


Namun tak lama kemudian Gian kembali termangu menyadari bagian bawah tubuhnya yang sudah mengembung dan mengeras. Lelaki itupun kembali tersenyum puas.


“Oh, Eleanor! Rasanya aku benar-benar tidak tahan lagi ingin memilikimu!” bisiknya diam-diam meremas bagian tubuhnya. Gian sedang asyik membayangkan bagaimana rasanya bercinta dengan Eleanor.

__ADS_1


Apalagi disaat sarapan pagi seperti ini, sewaktu dia mendengar suara bel pintunya bebrunyi. Tak berapa lama bibi Yosefa datang dan membawakan sesuatu untuknya.


“Ini ada titipan untuk anda, Pak Dokter.” ujar perempuan paruh baya itu.


“Kiriman? Dari siapa? Tumben ada kiriman.”


“Iya betul Pak Dokter! Sepertinya undangan pernikahan.” jawab Yosefa.


Deg! Perasaan Gian seketika kacau dan berkecamuk, tapi dokter muda itu berusaha tetap tenang dan menyunggingkan senyuman. “Terima kasih.” ucapnya. Wajah dokter muda itu terlihat kalem sejenak lalu berubah mengeras sewaktu membaca undangan yang diterimanya.


“Jaysen dan Eleanor…..pernikahan mereka dipercepat?” bisiknya.


Gian mengeratkan rahangnya lalu *******-***** undangan itu. Kemarahannya tiba-tiba memuncak didalam hatinya yang panas membara.


“Kalau begini, berarti rencanaku benar-benar harus kujalankan! Aku tidak mau kehilangan Eleanor!” bisiknya seraya menggeram.


“Jaysen, jangan harap kamu bisa memiliki Eleanor dengan mudah!”


“Tidak akan pernah! Apalagi dengan sikapmu yang sangat kasar dan tidak manusiawi pada gadis itu. Aku tidak akan membiarkanmu memperlakukan gadis itu dengan buruk!” wajah Gian terlihat muram.


“Elearnor tenanglah! Aku pasti akan membantumu lepas dari lelaki iblis itu. Setelah itu, kita bisa menjalani hari-hari penuh cinta dan gairah,” Gian tersenyum dan sangat yakin dengan rencana yang sudah disusunnya dengan matang. Gian pun melanjutkan kembali berkhayal akan sosok gadis bersurai coklat madu dan berwajah cantik itu.


“Eleanor……oh Eleanor….!” bagian tubuhnya pun semakin mengeras dan menegang. “Eleanor!”


...***********...


Sementara itu disalah satu hotel mewah, penthouse suites. Dikamar kerja Sabrian Saab.


Hari ini Deanna memang mengajak Emily ketempat desainer itu menginap untuk mencoba kembali gaun-gaun yang akan dikenakan Emily saat pernikahan nanti. Sebenarnya Sabrina Saab berjanji untuk datang kekediaman Wisesa dua hari lagi.


Tapi rupanya perempuan paruh baya itu sudah tidak sabar menunggu.


“Cantiknya…….” desah Deanna jelas terlihat begitu terpesona. “Oh ya Tuhan! Menantuku memang sangat cantik dan anggun sekali.” pujinya tiada henti mengagumi kecantikan Emily.


“Dia calon menantumu, Nyonya Avshallom! Bukan menantu…..” Sabrina Saab menyahuti ucapan Deanna dengan senyuman diwajahnya.

__ADS_1


“Oh, memang apa bedanya? Toh tanggal pernikahannya bahkan kurang dari satu minggu lagi.”


“Bedanya adalah, Artemisku ah, maksud saya……gadis itu bahkan belum sah menjadi istri putra anda. Jadi dia masih calon menantu! Bukan menantu!” ujar Sabrina Saab penuh penekanan. Dia terdengar seperti tidak senang dengan pernikahan itu.


“Segera! Tidak lama lagi dia akan menikahi putraku dan resmi jadi menantuku.” balas Deanna.


“Tetap saja! Artinya, dia masih belum resmi menjadi menantumu.”


Tidak hanya Emily yang kebingungan dengan sikap Deanna dan Sabrina. Bahkan ketiga asisten desainer cantik itupun sama-sama berdiri dengan wajah melongo.  Sementara Anne murid dari Sabrina Saab beberapa kali melirik dan mengamati Emily.


Dia akhirnya melihat dan bisa menemui siapa gadis yang terus saja dibicarakan oleh desainer cantik itu. ‘Memang sesuai dengan gambaran Artemis.’ gumamnya memandang sosok Emily dengan mata berbinar.


“Mata abunya yang paling luar biasanya tapi rambut coklat madunya itu juga mengagumkan. Dan sikap gadis itu sangat manis!”


“Nyonya Sabrina memang benar! Gadis itu pasti bisa menjadi pasangan yang sempurna untuk keponakannya yang tampan itu.”


Emily berdiri gelisah karena merasa bingung dengan perdebatan antara Deanna dan Sabrina. Dan dia pun merasa kalau ada orang yang sejak tadi terus saja memandanginya, membuatnya merasa sangat tidak nyaman sekarang.


“Ehm….anu…..maaf. Tapi apakah saya sudah boleh ganti pakaian?”


“Sayang, kamu memanggilku dengan sebutan apa? Coba, aku mau dengar.” kata Deanna.


Emily mengerjapkan matanya menatap Deanna dengan tatapan tidak mengerti.


“Eh….ehmm…..I-----ibu.” jawab Emily dengan suara bergetar karena takut akan salah bicara.


“Oh iya Nyonya Sabrina. Apakah anda dengar itu? Menantuku bahkan sudah mengganggpku sebagai ibunya sendiri!” ucap Deanna menyombongkan dirinya.


Sabrina Saab terdiam sesaat lalu menghela napas panjang. Desainer cantik itu lalu mengibaskan rambut keemasannya dengan anggun dia berjalan menghampiri Emily.


“Nah, Artemis! Bagaimana kalau aku bantu untuk mengganti pakaian? Ayo ikut aku keruangan sebelah.” ujarnya tersenyum manis.


Emily mengerjapkan matanya, dia memahami arti dibalik pandangan Sabrina padanya. Sambil tersenyum, gadis itu pun berlalu dan berkata,


“Baiklah Nyonya Saab!”

__ADS_1


__ADS_2