Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 45. MERASA KESEPIAN


__ADS_3

Benarkah?


Emily mematung, dia mempertanyakan dirinya sendiri. Selama ini Emily berpikir bahwa yang selama ini orang-orang itu bicarakan adalah Eleanor, bukan Emily! Selama ini Emily percaya bahwa dirinya bukanlah seorang perempuan ******. Dia bukan murahan dan bahkan dia tidak akan berlaku rendahan dengan menggoda seorang pria sembarangan.


Tapi, nyatanya apa yang terjadi?


Kenyataannya, dia malah bermesraan dengan Jaysen dan mereka bahkan nyaris bercinta. “Apa yang sudah kulakukan?” tangisnya, dia merasakan sesak yang luar biasa. “Apa yang sudah kulakukan? Kenap kau bodoh sekali Emily!”


Tiba-tiba, Emily merasakan ada kesunyian yang mendadak menderanya. Dia merasa begitu kesepian dan sendirian tanpa ada seorangpun yang peduli padanya. Tak ada seorangpun yang mengakuinya sebagai Emily Vionetta! Suaranya tak pernah didengar, bukan oleh orang-orang dirumah mewah itu saja tetapi kedua orang tuanya juga. Tak ada yang mempedulikannya.


...*******...


Sementara itu diruang tamu keluarga Wisesa. “Keluar kalian semua!” perintah ayahnya Jaysen dengan suara gemetar.


“Ya tuan.”


“Keluar semua! Sudah kukatakan berulang kali! Keluar kalian semua!” pria paruh baya itu mengulangi kalimatnya dengan berteriak marah. “Apa kalian semua sudah tuli hah?”


“Ayah, sudahlah! Berhentilah marah-marah. Nanti tekanan darah ayah naik lagi lalu stroke.” ujar Jaysen dengan santai melemparkan tubuhnya duduk disofa.


“Semua orang akan darah tinggi kalau berurusan denganmu!”


“Ssstttt….” kali ini Jaysen menempelkan jari telunjuknya didepan bibirnya.


“Sedang ada tamu penting disini. Jangan berisik ayah. Tidak baik bukan kalau tamu kita nanti merasa terganggu? Lalu, bisa saja cerita mengenai keluarga Wisesa yang tidak tahu sopan santun tersebar luas diluaran sana. Wah, bukankah ayah sendiri tadi yang bicara soal sopan santun?”

__ADS_1


Urat dipelipis Ruben sudah terlihat menonjol dan berkedut-kedut mengerikan. Kedua tangan lelaki itu mengepal erat sedangkan wajahnya sudah merona merah bahkan yaris berubah warna ungu saking emosinya. “Sopan santun ya? Lalu apakah soal penampilanmu dan gadis ****** itu tadi termasuk sopan? Hah?”


Sepasang alis Jaysen bertaut saat mendengar perkataan ayahnya. Tidak ada perubahan di ekspresi wajahnya tapi nada bicaranya saat dia membalas perkataan ayahnya terdengar berbahaya. “Jangan panggil dia gadis ******!”


“Lalu aku harus memanggilnya apa lagi? Seorang gadis yang tinggal bersama dengan seorang lelaki di satu rumah lalu keluar menyambut tamu dengan keadaan berantakan seperti itu? Sebuah kebodohan besar bagimu untuk bisa terpikat pada perempuan murahan semacam dia!”


“Ruben!” sela Deana tapi dengan isyarat tangan Ruben segera meminta istrinya itu agar diam.


“Dan lagi, aku juga mendengar tentang kasus Titus Maleakhi, kamu juga ikut campur tangan sehingga dia bisa bebas dari penjara! Kamu bahkan turun tangan sendiri untuk membersihkan nama baik pria itu. Semua itu pasti atas permintaan gadis ****** itu! Iyakan?”


Jaysen menggertakkan rahangnya. Tentang pembebasan Titus Maleakhi dan membersihkan nama baik lelaki itu hanyalah masalah kecil baginya. Toh sebenarnya yang menjadi dalang penangkapan Titus Maleakhi memang Jaysen sendiri. Jadi tidak jadi masalah kalau dia sedikit mengulurkan tangan bukan?


Setidaknya dia bisa mengambil keuntungan dari situasi itu, datang sebagai pahlawan penyelamat. Terutama didepan Eleanor. Sebagai balasan bahwa Jaysen sudah bersedia membantu membebaskan Titus Maleakhi, akhirnya gadis itu bersedia menikah dengannya.


Muncul seringai di wajah tampan Jaysen. Akhirnya dia berhasil mengikat gadis itu agar tetap berada disisinya selamanya. “Ayah,” Jaysen berkata pelan dengan senyuman diwajahnya. Tapi terlihat jelas ada ancaman disetiap kata yang dia ucapkan. “Sekali lagi kukatakan! Jangan panggil dia gadis ******.”


“RUBEN!” teriak Deanna marah. Suara keras perempuan itu terdengar menggaung menyela pertengkaran antara ayah dan anak lelakinya itu. Ruang depan rumah keluarga Wisesa yang mewah itupun seketika menjadi sunyi.


Baik Ruben, Jaysen dan juga beberapa pelayan yang sejak tadi terpaksa tetap berdiri ditempat, semuanya terlihat tercengang. Jarang sekali Denna sampai marah dan membentak seperti itu, dia bahkan tidak pernah melakukan itu. Wajahnya selalu terlihat lembut dan tersenyum ramah, tetapi sekarang memasang ekspresi marah.


“Jangan memanggilnya seperti itu.” ujarnya, memandang tajam suaminya itu. “Ruben, bagaimana pun putra kita juga bersalah. Jadi jangan hanya menyalahkan gadis itu.”


Ruben melongo memandang istrinya dengan tatapan tidak percaya atas perkataan istrinya itu.


“Ini, Eleanor bukankah dari dulu dia memang selalu bersikap seperti itu? Dia kan memang gadis penggoda murahan yang----”

__ADS_1


“Ruben! Apa kamu buta?” ujar Deanna.


“Apa?”


Deanna memejamkan matanya sesaat, mengingat betaap kaget dan pucatnya wajah gadis itu tadi melihat kedatangan mereka. “Kalau memang dia hanya berpura-pura, berarti aktingnya sangat bagus.” gumam Deanna masih menemukan sedikit rasa ragu dalam dirinya.


Kemudian perempuan lembut itu teringat akan sepasang mata berwarna abu yang tadi memandangnya. Dia teirngat bagaimana tatapan gadis itu seperti sedang memohon.


Deanna merasa seolah ada teriakan minta tolong yang ingin disampaikan gadis itu melalui tatapan matanya. Deanna menarik napas panjang lalu memandang putranya.


Sesaat lelaki buta itu membuang wajah seolah tidak ingin Deanna melihat bagaimana ekspresi wajahnya sekarang. Sambil mengerutkan dahi, tanpa perlu mendengar jawaban dari putranya Deanna sudah bisa menebak. Setidaknya dia mempunyai sedikit gambaran soal apa yang sebenarnya terjadi.


“Ruben suamiku! Apa menurutmu hanya gadis itu saja yang menggoda putra kita? Apa kamu tidak melihat bagaimana penampilannya tadi? Dia adalah korban disini.”


“Aku tidak sudi melihat gadis murahan itu lebih dari tiga detik!” ucap Ruben.


“JANGAN PANGGIL DIA GADIS MURAHAN!” teriak Jaysen penuh amarah. Matanya nyalang menatap ayahnya.


“Jay!”


Jaysen sudah melompat berdiri, hanya karena suara tegas ibunya saja yang membuat lelaki buta itu tetap berdiri ditempatnya. Kalau tidak, bisa-bisa dia sudah menerjang ayahnya dan memberinya pelajaran.


Marah….ada rasa marah yang timbul didalam dirinya setiap kali Eleanor direndahkan. Jaysen juga tidak mengerti, mengapa dia bisa semarah itu? Dulu dia tidak pernah bertindak segila ini. Dulu dia tak pernah peduli tentang apapun yang orang lain katakan dan pikirkan tentang Eleanor.


Dia merasa seolah semua hinaan yang ditujukan pada gadis itu juga merupakan hinaan bagiya. Seolah kehormatan gadis itu juga merupakan kehormatannya. ‘Aku ini kenapa? Apa sebenarnya yang terjadi padaku? Kenapa aku bisa seperti ini?’ bisik hatinya Jaysen. Bukankah tujuannya adalah untuk menghancurkan Eleanor?

__ADS_1


Bukankah Jaysen ingin menghukum gadis itu atas pengkhianatan yang telah dilakukannya? Jaysen kembali duduk sambil meremas rambutnya merasa frustasi. Dia merasa bingung pada dirinya sendiri.


“Ruben suamiku,” Deanna kembali memanggil suaminya setelah dia melihat Jaysen sudah kembali tenang. “Kemarilah. Duduklah disampingku.”


__ADS_2