
Baik kedua pengawal maupun kedua pelayan wanita, semua mendengus menahan tawa.
“Kenapa?” tanya Emily heran karena merasa tidak ada yang lucu. “Apa ada yang salah? Kenapa ketawa?”
“Ma---maaf Nona.” sahut seorang pengawal diantara usahanya untuk menahan tawanya. “Hanya saja sedikit aneh kalau ada yang baru saja merasa kesal tapi malah menjawab ucapan salam dengan sopan.”
Emily memiringkan kepalanya, masih tidak mengerti apa yang salah dengan kata-katanya sehingga membuat pengawal dan pelayan wanita itu tertawa.
Memangnya apa salahnya menjawab salam? Namun kelakuannya itu malah membuat keempat orang itu tidak sanggup lagi menahan tawa. Meski sebisa mungkin menahannya, tapi semburan tawa mereka tetap keluar.
Dengan terkikik geli mereka terus tertawa membuat Emily memerah malu. “Tolong bukakan saja pintunya. Aku ingin menemuinya.” ujarnya kembali sambil mengerutkan kedua pipinya yang bersamu.
“Mohon maafkan kami Nona.” seorang penagwa mengusap airmatanya yang tadi keluar saking gelinya.
“Tapi Tuan sedang mendiskusikan hal yang penting bersama dengan Tuan Argya didalam.”
“Apa masih lama?”
“Wah, kalau itu kami tidak tahu, Nona.”
“Bagaimana kalau Nona menunggu beliau sambil membaca buku saja diperpustakaan atau minum teh di balkon kamar atau jalan-jalan di taman belakang?” usul seorang pengawal lain.
Dia menyebutkan satu persatu kebiasaan baru yang dilakukan Emily belakangan ini untuk menghabiskan waktunya. Emily merengut, “Minggir!” ujarnya, “Aku nggak mau membaca buku atau minum teh atau jalan-jalan. Aku mau menemui dia sekarang. Aku tidak punya waktu nanti.”
Sekali lagi kedua pengawal itu bingung harus bagaimana menyikapi permintaan Emily. Eleanor yang mereka kenal selama ini sangat sombong dan sewenang-wenang pada semua orang. Sifatnya nyaris mirip seperti Tuan Muda mereka sehingga membuat mereka melayani gadis cantik itu sekedarnya saja sesuai perintah saja.
__ADS_1
Namun, Nona Eleanor yang bersama mereka dalam sebulan terakhir ini berbeda. Membuat mereka merasa lebih nyaman melayaninya, bahkan tidak sedikit sikap gadis cantik itu yang menurut mereka sangat lucu dan sering membuat mereka tertawa. Bisa diakta, suasana di kediaman Wisesa perlahan berubah.
Yang biasanya selalu dingin, suram dan tegang sekarang terasa lebih ceria sejak ‘Nona Eleanor’ datang dan tinggal dirumah mewah itu. Bahkan para pengawal yang biasanya selalu irit bicara dan bersikap dingin, bisa berbincang santai dan tertawa bersamanya. Bahkan sikap Emily jauh dari kata sombong ataupun sinis. Dia seorang gadis yang ramah dan ceria setiap saat.
Sedangkan para pelayan jangan ditanya lagi, semua pelayan jatuh hati dengan ‘Nona Eleanor’ sehingga mereka bahkan tanpa diminta sekalipun selalu membuatkan cemilan manis atau makanan lainnya yang menjadi kesukaan gadis cantik bermata abu-abu itu.
“Tolong minggit! Minggir sana!” pinta Emily kali ini menjejakkan sebelah kaki karena kesal.
“Maaf Nona. Mohon mengerti tapi kami tidak bisa mengijinkan Nona masuk. Nanti Tuan Muda akan memarahi kami dan menghukum kami karena tidak menjalankan perintahnya. Saya harap Nona bisa mengerti posisi kami. Mohon pengertian Nona.”
“Tapi ada hal penting yang perlu kupastikan padanya. Ayolah, bukakan saja pintunya untukku.”
Kalau bukan karena bayangan menyeramkan dari amarah Tuan Muda yang mungkin saja mereka terima apabila melanggar perintah, kedua pengawal itu pasti akan dengan senang hati membukakan pintu kamar dan mengijinkan Emily masuk.
“Setidaknya biarkan aku mengetuk pintunya, diar dia sendiri yang memutuskan apakah aku diperbolehkan masuk atau tidak.” tawar Emily lagi mencoba untuk bernegosiasi.
“Baiklah, Nona. Silahkan dicoba saja.”
Meskipun dari tadi dia memaksa, tapi nyatanya Emily harus menghabiskan waktu beberapa lama untuk menarik napas dalam-dalam dan menyakinkan dirinya untuk mengetuk pintu. “Jay!” paggilnya sambil mengetuk pintu. “Ini aku. Tolong buka pintunya, ada yang ingin kutanyakan padamu.”
Hening tak ada suara apapun dari dalam.
Kedua pengawal saling bertukar pandang dengan muram dan kedua pelayan wanita juga menggeleng lemah. Mereka paham kalau Tuan Muda mereka tidak akan semudah itu untuk ditanganu.
Sambil berdecak kesal Emily nekat memukul-mukulkan tangannya ke daun pintu sambil berteriak memanggilnya. Dia sudah tidak peduli apa tanggapan pria buta itu nanti padanya.
__ADS_1
“Jay! Buka pintunya! Aku mau tanya soal janjimu padaku saat itu! Bukankah ayahku dibebaskan hari ini? Beritahu aku atau setidaknya biarkan aku menemuinya. Jay! Buk----ahkkk!”
Dia sama sekali tidak mengira pintu akan dibuka begitu saja dari dalam sehingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh kedepan.
Tiba-tiba ada yang langsung menangkap tubuhnya dan memeluknya, lalu menyeretnya masuk sehingga dia selamat dan tidak jadi jatuh.
Pintu kamar itupun langsung ditutup kembali nyaris bersamaan dengan saat dia ditarik masuk kedalam. “Aku menangkpmu kucing kecil!” seru sebuah suara yang akhir-akhir ini begitu akrab ditelinga gadis cantik itu.
Emily terperanjat lalu mendongak. Napasnya seketika melihat siapa yang sedang memeluknya saat ini. “Jaysen….”
Jaysen tersenyum membuat Emily merasakan detak jantungnya semakin kencang. Ini aneh….sangat aneh. Seharusnya dia tidak boleh berdebar saat menghadapi lelaki iblis ini. Baru saja Emily mencoba mengingatkan dirinya bahwa dia memiliki kekasih saat itu juga Jaysen tiba-tiba mencium puncak kepalanya dan berbisik, “Lain kali hati-hati. Kamu bisa jatuh tadi.”
Lalu pria itu melepaskan pelukannya dan berjalan kembali begitu saja dan kembali duduk di sofa meninggalkan Emily yang berdiri terpaku. Bukankah ini…..aneh. Emily mengusap keningnya dan menepuk kedua pipinya. Dia...tidak sedang bermimpi kan? Jadi ini benar-benar nyata? Sejak kapan Jaysen berubah seperti ini?
‘Apa yang terjadi? Biasanya aku sampai harus berontak agar dia mau melepas pelukannya.’ gumam Emily mendadak berpikir keras. ‘Sejak kapan dia berubah menjadi lembut begitu?’
“Ele….apa yang kamu lakukan berdiri diam disitu?” suara Jaysen terdengar lagi membuat Emily mengerjapkan matanya. “Jangan berdiri saja. Kemarilah.’ ujar Jaysen lagi menepuk tempat disebelahnya.
“Ngg….maaf karena sudah mengganggumu.” ujarnya. Emily tetap berdiri ditempatnya, sama sekali tidak berminat untuk duduk disamping pria buta itu. Lelaki itu mungkin saja sudah sedikit berubah tapi belum tentu keadaan sudah aman bukan? Jadi lebih baik baginya agar tetap waspada dan berjaga-jaga, jangan sampai dia kehilangan kewaspadaannya pada pria itu.
“Jay….aku kesini hanya untuk bertanya soal ay…..”
“Ele! Kamu kesini atau aku yang datang kesitu?”
“Ha---hah? Maksudnya apa?”
__ADS_1
“Kemarilah. Duduklah disini.” ulang jaysen menepuklagi tempat disebelahnya.
Emily menggigit bibirnya kemudian memandang Argya untuk meminta pertolongan. Namun lelaki paruh baya itu hanya terdiam sambil memberinya anggukan kecil. Menghela napasnya, Emily tahu kalau dia tidak punya pilihan lain. Dengan berat hati gadis itu melangkah, tapi saking takutnya dia malah tersandung ujung karpet dan terjatuh.