
Seumur hidupnya Jaysen tidak pernah percaya dengan yang namanya cinta dan sialnya lagi sampai sekarang dia masih belum berhasil mendapatkannya. Satu-satunya yang dia pelajari soal menjalin hubungan dengan orang lain adalah selama ada uang maka semuanya akan beres. Tidak perlu repot dengan segala macam perasaan. Toh ntanya semua gadis yang mendekatinya selalu hanya tertarik dengan harta dan kekuasaannya.
Termasuk juga Eleanor. Namun Jaysen tidak bodoh sampai tidak memahami bahwa selama ini Eleanor hanya membutuhkan harta dan relasi Wisesa yang luas sehingga profesinya sebagai model bisa semakin menanjak dengan mulus. Oleh sebab itulah selama nyaris dua tahun dia berhubungan Eleanor, lelaki itu tidak pernah melibatkan perasaan. Namun kali ini berbeda.
Jangankan membayangkan, sekedar memikirkan kalau gadis itu akan merasakan sakit di tato saja sudah membuat dada Jaysen sakit.
“Jay? Hei? Kenapa diam saja?” panggil Emily.
“Pokoknya tidak boleh! Aku tidak ijinkan.” jawabnya.
“Ya?” Emily nampak kecewa dengan penolakan lelaki buta itu.
Jaysen menarik Emily kedalam pelukannya. Dia mengelus rambut gadis itu dan menunduk. Lalu dia menciumi bahu dan tengkuk Emily. Menenggelamkan wajahnya disana dan menghirup dalam-dalam aroma buga favoritnya. “Nggak boleh! Aku ngak mau kalau kamu sampai kesakitan Ele. Lupakan soal itu oke?” ujar Jaysen berusaha menolak keinginan gadis itu.
“Tapi kenapa?” tanya Emily mengerucutkan mulutnya.
“Karena aku tidak suka.” jawab Jaysen singkat.
“Kenapa tidak suka? Kenapa kamu ngak suka kalau aku kesakitan Jay? Bukannya kamu benci aku?”
“Aku----” lagi-lagi Jaysen terdiam. Lelaki itu bingung sendiri harus menjawab apa. Dia selalu ingin berada didekat Emily.
Berjauhan terlalu lama dengannya membuat Jaysen sangat gelisah. Entah sejak kapan keberadaan gadis itu sangat berarti baginya. Bisa dibilang kalau Jaysen merasa takut kehilangan. “Aku----ak---aku----” Jaysen tidak tahu darimana munculnya naluri protektifnya yang sangat kuat ini datangnya. Mungkin karena kebersamaan mereka selama beberapa bulan ini.
Sehingga membuatnya mulai memiliki perasaan seperti ini. Satu hal yang Jaysen pahami adalah membayangkan Emily disakiti membuat sesuatu didalam dirinya menggelegak. Seolah ada monster gila yang hendak lepas dan akan mengamuk. ‘Aku ini kenapa ya? Padahal aku sudah berulang kali menyakitinya.’ bisik Jaysen sangat lirih nyaris tidak terdengar.
__ADS_1
Perlahan dia meraih tangan kiri Emily lalu mengelus pergelangan tangan gadis itu lalu menciumnya, “Apa masih sakit?” tanyanya. Ada nada khawatir yang jelas terdengar.
“Nggak kok!” Emily menggeleng. “Kadang masih suka nyeri. Apalagi kalau ada yang mencengkeramnya kuat-kuat seperti yang ibu lakukan waktu itu.”
Ada suara gemertak dari rahang Jaysen yang mengatup kuat setelah mendengar ucapan Emily. Monster didalam dirinya seolah marah bahwa ada yang menyakiti gadisnya. “Jay, sesak! Aku bukan squishy, Jay! Jangan memelukku terlalu kuat.” gerutu Emily sambil memukul-mukul lelaki itu.
“Maaf.” ucap Jaysen merenggangkan pelukannya.
“Apa?” Emily seakan tak percaya mendengar pria itu meminta maaf. Tidak ada jawaban dari jaysen membuat Emily bertanya-tanya.
‘Apa tadi aku salah dengar ya? Masa seorang Jaysen Avshallom Wisesa mengatakan kata maaf? Sepertinya aku terlalu banyak berkhayal.’ gumamya kembali menenggelamkan wajah kedada bidang Jaysen. Dia hanya bisa diam-diam menghela napas panjang.
“Dimana?” tiba-tiba Jaysen bertanya.
“Apanya? Aku tidak paham Jay.”
“Jadi boleh aku buat tato?” tanya Emily yang langsung tersenyum.
“Belum kuputuskan.” ujar Jaysen. Emily langsung memasang wajah cemberut lalu merebahkan diri.
Kali ini dia tidur memunggungi Jaysen. Lelaki itu memeluk Emily dari belakang, Jaysen menyusupkan wajahnya dibahu kiri gadis itu. Dia lalu meraih dan menggenggam tangan Emily. Dengan lembut ibu jari Jaysen mengusap-usapnya. “Disini saja.” bisiknya membuat Emily merasa geli terkena semburan hangat napasnya. “Buat tato bulan sabitnya dengan anak panah disini. Kecil saja agar tidak mencolok.”
“Jadi, apakah sudah boleh?” tanya Emily mengerjapkan matanya.
“Apa kamu sangat menginginkannya?” tangan Jaysen mengelus-elus perut Emily membuat gadis itu kegelian. Dengan napas terengah-engah dia menjawab, “Aku mau.”
__ADS_1
“Tapi ada syaratnya sayang.” kata Jaysen yang tak mau memberi izin semudah itu.
“Apa lagi? Kenapa selalu ada syarat kalau aku mempunyai permintaan?” tanya Emily mendengus.
Jaysen tersenyum mengangkat tubuh EMily dan membalikkannya. Sekarnag gadis itu menghadap kearahnya, “Syaratnya ngak aneh-aneh kok. Tenang saja, sayang.”
“Apa syaratnya?” tanya Emily. “Fuuuhhh! Selalu saja bilang begitu tapi----” gadis itu kembali cemberut dan mengerucutkan bibirnya.
“Harus ada huruf J di tatomu nanti.” jawab Jaysen tersenyum penuh arti.
“Kenapa?” tanya Emily keheranan belum menyadari kalau sekarang Jaysen sedang membuka kancing piyamanya satu persatu. Lelaki itu menyelusupkan tangan ke belakang punggung Emily dan membuka kancing bra yang dikenakannya, “Kan dinamaku sama sekali nggak ada huruf J-nya?” kata Emily.
“itu inisial namaku, sayang.” jawab Jaysen yang dengan lihai perlahan melorokan piyama dan celana gadis itu.
Sehingga tanpa sadar Emily sudah dalam kondisi polosan. “itu artinya kamu milikku. Milik Jaysen, sayang. Dan hanya menjadi milikku selamanya.”
Emily menjerit kaget saat menyadari bagian bawahnya sekarang sudah tidak memakai apapun. Namun dia terlambat menyadari dan bereaksi karena Jaysen langsung membuka lebar kedua kaki jenjangnya. Lalu menenggelamkan kepalanya diantara kaki gadis itu. Emily sontak menengadah menahan nikmat saat lidah Jaysen menyesap kedalam. Napasnya tersengal dan kedua matanya melebar. Setiap sentuhan lelaki itu memberikan sengatan listrik di sekujur tubuhnya.
“Akh! Jaysen! Akh!” desahnya menggeliat tidak berdaya. Apalagi saat Jaysen sudah menjamah kedua aset Emily sambil meremasnya. Seolah-olah kedua bukit itu tidak ubahnya seperti mainan saja. “Akh! Jaysen!” Emily mendesah lagi.
Jaysen hanya tersenyum ditengah kesibukannya. Suara Emily yang pasrah dalam kenikmatan membuat lelaki buta itu semakin bersemangat menjelajah, bertekad mengantarkan gadis itu ke puncak kenikmatan. “Akh! Jay! Akh! Akh!”
Sama seperti malam-malam sebelumnya, kamar luas dan remang-remang itupun kembali dipenuhi oleh desah dan erangan kenikmatan. Hari ini adalah hari ketiga sebelum pernikahan mereka. Sedangkan di hari yang sama di kediaman keluarga Maleakhi. Nampak Naura Maleakhi tengah duduk sendiri diruang depan dengan gelisah.
Berkali-kali dia melirik ponsel ditangannya dan berkali-kali pula dia menghela napas berat karena benda pipih itu masih sama, tetap diam dan tak ada suara. “Kenapa dia lama sekali? Padahal sudah malam begini? Apa semuanya baik-baik saja?” keluhnya dengan wajah cemas. Dia tidak betah hanya duduk saja, akhirnya dia berdiri dan berjalan mondar mandir diruang depan.
__ADS_1
Sesekali wanita itu melirik jam dinding yang menunjukkan sudah pukul sembilan malam. Ini sudah delpan jam berlalu sejak suaminya Titus Maleakhi berpamitan hendak pergi ke kediaman Avshallom. “Apa dia berhasil bertemu dengan lelaki Polandia itu? Kabar yang kudengar, lelaki itu tidak memiliki hati dan sangat kejam. Bahkan dia tidak segan untuk menghabisi lawannya.” gumam Naura.