Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 34. HAMPIR SAJA


__ADS_3

Emily menahan rasa sesak dalam dadanya lalu menggelengkan kepala dan menjawab dengan suara pelan, “Bukan begitu. Aku tahu biayanya pasti akan mahal dan aku ini kan hanya tawanan buatmu. Jadi kamu nggak perlu repot-repot mengurusiku dan mengeluarkan uang banyak untukku juga.” ujarnya *******-***** ujung roknya.


“Ummmpp...” mata Emily terbelalak dan otaknya seketika terasa kosong saat Jaysen menariknya kedalam pelukannya lalu menciumnya. Tubuhnya didesak hingga berbaring di sofa, ditopang dengan lengan kekar lelaki itu sementara bibirnya dilumat habis-habisan.


“Uhhmmm...Jay! Stop!” engahnya disela ciuman, tapi Jaysen sudah kembali membungkamnya. Lidah Jaysen berhasil menerobos masuk kedalam mulut Emily. Mencicipi rasa, seakan menyesap madu yang tersedia didalam sana.


Seakan ada percikan api yang tersulut didalam diri Emily. Api yang menyulut dan membakarnya membuat pikirannya benar-benar kosong seketika.


Bahkan bayangan John pun seakan terhapus cepat dari benaknya berganti dengan kebutuhan untuk ikut menikmati sentuhan yang terkesan memaksa ini.


Gadis itu bahkan tidak sadar jika kedua tangannya sudah mengalung dan mencengkeram belakang kepala Jaysen. Bibirnya pun membalas ciuman itu dengan semangat yang sama besarnya dengan pria itu.


“Jay,” engahnya dengan napas tersengal-sengal meraup udara dan meremas kuat rambut jaysen saat lelaki buta itu mencium dan menyesap tengkuknya. “Jay…..ahhh….”


“Aku sudah menahan diriku Ele, tapi kamu terlalu menggodaku.” bisik Jaysen menggigit daun telinga emily. “Apa menurutmu aku marah karena harus memanggil dokter brengsek itu dan mengeluarkan uang untukmu?”


Lelaki itu berdiri membuat Emily merasa lega dan  sekaligus kecewa. Tapi kenapa dia merasa kecewa? Bukankah seharusnya dia merasa senang karena pria itu melepaskannya lagi?


Atau jangan-jangan karena Jaysen tidak menginginkannya sehingga dia merasa kecewa? Emily menggelengkan kepala berusaha untuk mengingatkan dirinya bahwa semua perasaaan dan pikirannya ini tidak benar.


John, dia mempunyai John kekasihnya jadi dia tidak boleh menyukai sentuhan lelaki lain. Dia seharusnya menjaga dirinya sebaik mungkin bukannya malah tenggelam pada pesona pria itu.


Kedua mata abu-abu milik emily kembali membelalak saat Jaysen segera melepaskan kemeja yang dipakainya dan melemparkannya begitu saja.


Tubuh kekar sixpacknya yang kokoh segera terpampang didepan Emily. Membuat gadis itu menyadari apa yang sedang terjadi saat ini.


“Jay?”


Lelaki buta itu tidak menjawab, malah dia tampak dengan santainya. “Lepaskan pakaianmu Ele!” suara lirih Jaysen terdengar tajam dan jelas memberinya perintah yang harus dituruti.


“Jaysen?”

__ADS_1


“Kamu sendiri yang melepas pakaianmu atau aku? Tapi kalau aku yang melepaskannya jangan harap bajumu itu masih bisa utuh.” geramnya tidak sabaran lagi.


“Jay! Tung—tunggu dulu.” ucap Emily dengan suara terbata-bata. Secara refleks gadis itu mencengkeram baju yang dia pakai seakan bertekad akan mempertahankannya.


Jaysen berdecak dan menyugar rambutnya dengan tersenyum miring lalu berkata, “Baiklah. Itu berarti aku yang akan melepaskan pakaianmu Ele.”


Emily benar-benar tidak berdaya saat lelaki buta itu menerjangnya. Sejenak dia kembali terpaku memandang tato serigala hitam dipundak kiri Jaysen, tanpa sadar tangannya bergerak mengelus tato tersebut.


“Kamu menyukainya Ele?” bisik Jaysen menarik paksa kemeja yang dipakai Emily. “Bukankah dulu kamu sangat membenci tato ini karena tidak terlihat elit dan berkelas bagimu? Ada apa denganmu?”


Lagi-lagi Jaysen merasa aneh dengan wanita itu. Karena Eleanor sangat benci dengan tatto itu dan bahkan pernah meminta Jaysen untuk menghapusnya.


Emily menggigit bibirnya menahan ******* saat Jaysen meremasnya. “Jawab Ele. Apa kamu menyukai tatoku?” bisik Jaysen.


“I—iya. a—aku suka Jay.” desahnya lirih.


“Kenapa?”


Jaysen tersenyum seakan menyukai jawaban gadis itu kemudian dia mencium bibir mungilnya. Tubuh gadis itu tersentak. “Aku akan memuaskanmu Ele. Jadi mengerang dan mendesahlah sekuatmu, oke?”


“Jay….sakit.” erang Emily sewaktu Jaysen menggigit telinganya.


“Jangan pernah menolakku Ele. Kurasa kita sudah terlalu lama nggak melakukannya ya? Sejak aku memergokimu sedang berselingkuh dengan Danny, aku belum melakukannya lagi denganmu.”


Emily ingin mengatakan bahwa itu bukan dirinya, tapi nyatanya gadis itu hanya bisa mendesah dan terengah. Bagaimana ini? Seharusnya dia menolak keras pria ini tapi kenapa tubuhnya malah bereaksi lain?


Sangat jelas baginya bahwa Jaysen sangat berpengalaman dalam bercinta. “Jay...akhhhh.”


“Keluarkan erangan dan desahanmu Ele. Biar kudengarkan erangan nikmatmu.”


Sesuatu dalam diri Emily meledak membuat tubuh gadis itu kaku dan melenting disertai suara lenguhan tertahan. Jaysen kembali menciuminya sewaktu Emily mengejang beberapa kali.

__ADS_1


Emily merasa lelah dan lemas setelahnya, dia bahkan tidak menyadari sewaktu jaysen merobek pakaiannya.


Lelaki buta itu mengangkat Emily keatas sofa. Ada sedikit sisa kesadaran yang dimiliki Emily.


Tapi itu semua segera kabur sewaktu Jaysen menyentuhnya. "Jangan pernah mengingat si brengsek itu saat kamu bersamaku."


Gadis itu menggigit bibirnya sewaktu merasakan sesuatu yang hangat menyeruak. Seketika ada rasa panas dan perih yang dirasakannya membuatnya tersengal. Namun belum terlalu dalam, terdengar suara ketukan di pintu.


“Tuan Muda, dokter Gian sudah datang. Apakah kami bisa masuk kedalam?”


“Sialan!” makinya. Rasanya saat itu dia ingin membunuh Argya saja yang tidak bisa memilih waktu yang tepat untuk menyela kegiatannya. Hampir saja dia merasakan kehangatan gadis itu dan sekarang mereka harus urung melakukannya?


“Beri aku waktu lima menit!” teriaknya dengan hati dongkol. Sejenak dia mendesis saat terpaksa menarik diri sambil terus menggerutu saat memakai kembali pakaiannnya. “Pakai kembali bajumu Ele! Aku lupa bajumu sudah kurobek! Sial!”


Tubuh Emily masih gemetar saat Jaysen membantunya duduk. Pikirannya benar-benar panik saat ini.


Apa tadi mereka nyaris melakukannya? Emily Vionetta apa yang ada dalam pikiranmu? Kenapa kamu menurut saja tadi dan malah menikmati? Emily mengusap dahinya yang berkeringat, dia merasa kebingungan karena tadi tubuhnya seolah bergerak sendiri merespon setiap sentuhan Jaysen. “Kenapa aku bisa begitu?” gumamnya syok.


“Pakai saja bajuku Ele!” ujar Jaysen langsung memakaikan kemejanya pada Emily yang jelas kebesaran padanya. Ada aroma segar pepohonan yang Emily hirup dari kemeja pria itu. “Ini parfummu Jay?” tanyanya sambil mengendus-endus lengan kemeja yang dia pakai.


“Kenapa?”


“Aku suka wanginya.” jawabnya.


Emily menjawabnya secara spontan tanpa dia sadari, hanya saja gadis itu memekik saat Jaysen meraih pinggangnya lalu mengangkatnya dna mendudukkannya dipangkuannya.


Lalu dia kembali mencium bibir mungil gadis itu dengan rakus. “Jangan menggodaku terus, Ele.” bisiknya dengan suara parau.


"Jangan sampai aku benar-benar kehilangan akal sehatku dan langsung menyerangmu. Sekarang diamlah dan jangan berulah."


Si brengsek itu sedang menunggu didepan pintu untuk memeriksa kakimu.” ujar Jaysen lagi sambil menekan kepala Emily seolah ingin menyembunyikan wajah gadis itu didadanya.

__ADS_1


__ADS_2