Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 39. AKU MENCINTAIMU


__ADS_3

Sementara itu dahi Gian berkerut sewaktu dia menyadari tubuh Emily yang bergetar. Kenapa gadis itu sampai gemetaran seperti itu? Apakah gadis itu memang sangat ketakutan pada Jaysen?


Ditambah lagi karena tadi dia mendengar Jaysen memaki-maki tidak jelas. Apa setiap hari lelaki buta itu selalu bersikap kasar pada Eleanor?


“Kamu sangat ketakutan sekali rupanya Ele,” bisik Gian sangat lirih hingga tidak ada yang bisa mendengarnya. Sambil membalutkan perban dengan rapi di pergelangan kaki kiri Emily. “Tunggulah sebentar lagi. Aku akan memikirkan cara untuk mengeluarkanmu dari sini.”


“Sudah selesai.” ucap Gian melepaskan sarung tangannya. “Untuk sementara jangan terlalu banyak dipakai untuk berja----”


“Gian cukup! Keluarlah sekarang!” potong Jaysen dengan suara tertahan. Dia lalu menunduk dan mencium rambut Emily berniat meredakan api yang berkobar dalam dirinya.


Namun, bukannya padam justru api itu semakin bergelora. “Argya! Antarkan dokter Gian keluar. Sekarang.” ucapnya dengan suara tercekat, berusaha mati-matian menahan gairahnya.


“Tapi aku belum memberikan resep ob---”


“Beritahukan saja pada Argya! Sekarang keluarlah. Kalian berdua cepat keluar. Sekarang1”


“Mari dokter, saya antarkan keruang tamu.” jawab Argya dengan sopan tapi tegas. Lelaki paruh baya itu menggandeng lengan Gian lalu menggiringnya keluar. Meski tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi Argya paham kalau Tuan Mudanya itu sudah sangat menahan diri sejak tadi.


“Aku tidak mau diganggu lagi. Siapapun, alasan apapun jangan ada yang berani  menggangguku!”


Merasakan hawa dingin yang menusuk, Argya segera keluar mendorong Gian keluar ruangan itu. Pengawal itu merasakan adanya bahaya besar yang akan terjadi kalau mereka nekat berlama-lama berada didalam ruang kerja.


Begitu pintu ruang kerja tertutup, Jaysen langsung membaringkan Emily. Gadis itu terlentang di sofa sementara Jaysen sudah ingin melanjutkan apa yang tadi tertunda.


“Sekarang kita bisa melanjutkan apa yang tadi tertunda.” bisiknya ditelinga gadis itu yang membuat Emily merona.

__ADS_1


Wajah Emily panas merona, “Jay!” panggilnya dengan suara serak namun kata itu saja yang sanggup diucapkannya karena Jaysen sudah membungkam mulutnya dengan ciuman.


Emily terkejut dan napasnya tersengal menerima perlakuan Jaysen. Segala rasa takut dan bersalah seolah menghilang dari benak Emily.


Emily sepenuhnya terperangkap dalam pesona dan gairah yang diciptakan oleh Jaysen.


“Jaysen….”


“Aku mencintaimu Eleanor.” bisik Jaysen kali ini dengan suara lembut, dia kembali mencium bibir mungil berisu gadis itu. ”Dulu kukira aku hanya menyukai tubuhmu saja tapi sekarang kuakui kalau hatiku pun menginginkanmu.”


DEG!


Ucapan Jaysen itu terasa bagai tamparan keras bagi Emily dan menyadarkannya. Tentu saja, semua perlakuan Jaysen padanya ini karena lelaki buta itu mengira kalau dia adalah Eleanor. Bagi seorang Jaysen, tidak pernah ada gadis bernama Emily Vionetta. Itu berarti, bagi Jaysen dirinya ini bukan siapa-siapa dan tidak berarti apa-apa.


Kenapa Emily bisa sampai lupa diri? Entah mengapa kenyataan itu membuat hatinya sangat sakit. Setelah tinggal dirumah itu sekian lama, dia merasakan perubahan sikap Jaysen padanya yang dulunya sangat kasar perlahan menjadi lembut. Selain itu Emily pun merasakan sedikit kebebasan dirumah mewah itu meskipun dia tidak diijinkan pergi keluar.


“Ele, kenapa?” tanya Jaysen kebingungan karena gadis yang dikiranya Eleanor itu tiba-tiba menangis. Gairahnya yang sedari tadi sudah sangat memuncak, mendadak padam setelah mendengarkan isakan tangis gadis itu. Sakit.


Hatinya terasa sangat sakit. Setiap kali dia mendengar Emily menangis hatinya terasa sangat sakit. Seolah ada ratusan jarum yang ditusukkan ke jantungnya. Padahaldulu dia tidak pernah merasakan seperti itu.


“Ele! Kenapa menangis? Apakah pergelangan kakimu terasa sakit lagi? Apa perlu aku memanggil Gian lagi?” tanya Jaysen dengan suara penuh kehawatiran.


Tidak ada jawaban. Jaysen menghela napas lalu memangku dan memeluk Emily sambil sesekali menciumi rambut gadis itu. Dia sama sekali tak habis pikir kenapa gadis itu mendadak menangis?


Apa gara-gara dia yang menyatakan perasaannya pada gadis itu?

__ADS_1


“Apa kamu malah nggak suka ya kalau aku memiliki perasaan padamu Ele?” bisiknya seolah berbicara dengan dirinya sendiri. “Apa kamu masih tetap ingin kembali pada Danny? Kekasih gelapmu itu? Apa kamu memang sebenci itu padaku?”


Tetap tak ada sahutan. Tanpa Emily sadari dia sudah tertidur dalam pelukan Jaysen. Ruang kerja itu pun sekali lagi menjadi hening sunyi, sedangkan Jaysen tenggelam dalam pikiran dan prasangkanya sendiri.


...*****...


Mimi yang tengah berbaring diatas tempat tidur, bergulung dibalik selimutnya kala terdengar suara keributan dari luar. Awalnya dia tidak terlalu memperhatikannya tapi suara pecahan kaca dan barang-barang yang dibanting semakin nyaring terdengar.


Dahi gadis itu berkerut. Rumah ini biasanya sangat sepi karena hanya dia dan Gian saja yang tinggal dirumah itu. Mereka memang memiliki beberapa pembantu tapi itu petugas yang mereka bayar untuk membantu membersihkkan rumah setiap dua hari sekali.


Ada juga pihak laundry yang menangani pakaian kotor mereka setiap hari tapi dirumah juga tersedia mesin cuci. Sementara mengenai makanan, sudah ada katering khusus yang mengirimkan makanan dengan menu berbeda dua kali dalam satu hari.


Semuanya diatur oleh Gian karena dia tidak terlalu suka bila ada banyak orang yang tinggal dirumahnya.


Dokter muda itu menyukai suasana yangtenang dan dia juga tahu bahwa tidak banyak orang yang bisa menerima kondisi fisik Miranda atau Mimi. Itulah sebabnya nyaris sepanjang hari gadis itu hanya sendirian dirumah.


Meskipun tetap ada beberapa penjaga yang bertugas diluar rumah secara bergiliran. Lagipula Mimi juga tidak keberatan, sudah bertahun-tahun berlalu sejak kecelakaan mengerikan itu terjadi dan dia kehilangan pita suaranya.


Sejak itu pula, bagi Mimi sosok Gian adalah satu-satunya tempatnya bergantung. Lalu apa yang menyebabkan keributan ini? Seperti ada orang yang sedang marah-marah dan mengamuk sambil membanting barang-barang diluar. Tapi siapa?


Sambil menghela napas, Mimi perlahan bangun lalu melihat jam diatas nakas. Seharian ini Mimi merasa tidak enak badan karena demam sehingga dia terus berbaring dan hanya bangun untuk makan dan minum obat yang diberikan Gian setelah memeriksanya tadi.


Sudah jam tujuh malam, ini waktunya bibi Janni orang yang bertugas membersihkan rumah untuk pulang.


Lalu apa yang sebenarnya terjadi sih? Kenapa masih ribut-ribut diluar? Apa ada orang lain masuk kedalam rumah? Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dan suara bibi Janni terdengar.

__ADS_1


Gadis itu bergegas bangun karena menangkap nada panik dari suaranya. Tapi bahkan sebelum dia melangkah turun, dia mengeryit menahan sakit.


__ADS_2