Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 60. PERGI DENGAN IBU MERTUA


__ADS_3

“Ahhh….Artemis.” Lennie menepukkan tangannya bersemangat. “Yang anda bicarakan adalah calon mempelai keluarga Wisesa itu kan? Sayang sekali, saya tidak bisa datang saat fitting baju pengantin. Saya benar-benar penasaran bagaimana rupa Artemis sampai bisa menarik perhatian anda, Nyonya Sabrina.”


Lennie masih saja mengoceh, gadis berusia 23 tahun itu merupakan murid dibawah asuhan Sabrina Saab sekaligus mahasiswi fashion design di Accademia DeLusso di Milan. Biasanya dia selalu mengikuti sebagian besar pekerjaan Sabrina tapi sayangnya kali ini dia datang sedikit terlambat sehingga baru bisa datang tiga hari setelah proses fitting baju selesai.


 


“Saya benar-benar merasa penasaran dan ingin bertemu dan melihatnya secara langsung.” keluh gadis dengan bintik-bintik diwajahnya itu.


“Nanti juga kamu akan bisa bertemu.” sela Sabrina yang mulai merasa bosan dengan keluhan muridnya itu. “Di hari pernikahannya nanti kamu akan membantuku jadi kamu bisa menemuinya saat itu.” sambungnya lagi.


 


“Iya itu benar. Kalau pernikahannya memang benar-benar akan terjadi.” balas Lennie menggerutu. “Nyonya Sabrina, bukankah minggu kemarin anda menemui Nyonya Deanna untuk membujuknya agar membatalkan pernikahan putranya?” kata Lennie lagi.


 


Sabrina Saab tidak menjawab, dia hanya tersenyum saja. Desainer cantik itu lalu bersandar dengan santai sambil membaca majalah fashion ditangannya.


“Apa mempelai prianya sangat buruk rupa sampai anda mengusulkan hal seperti itu?” tanya Lennie lagi yang menjadi penasaran. Dia menunggu jawaban dari Sabrina dengan menatap desainer cantik itu.


 


Terdengar Sabrina tertawa, “Oh ya ampun Lennie! Sebenarnya apa yang ada dikepalamu itu? Sampai kau membayangkan hal semacam itu hah?”


“Habisnya saya merasa penasaran sekali. Ketiga staf anda sudah heboh sendiri sewaktu bercerita soal lelaki itu dan malah membuat saya semakin bingung.”


 


Sabrina menghela napasanya, setelah beberapa menit berlalu dia merasa tidak bisa mengabaikan Lennie lagi yang masih setia menunggu jawabannya.


“Oh Lennie! Rasa ingin tahumu itu besar sekali! Itu tidak baik, apa kamu tahu itu?” desahnya mengambil sepoton biskuit dan menggigitnya sedikit.


“Ya baiklah. Memang benar aku memberikan saran kepada Nyonya Deanna agar perempuan itu mengusulkan pembatalan pernikahan putranya.”


 


Wajah Lennie langsung terlihat berbinar saking senang dan bersemangatnya mendengar penjelasan dari Sabrina. Dia menahan diri agar tidak terlihat terlalu mendesak Sabrina untuk bercerita. Gadis itupun bergegas berpindah duduk disebelahnya.

__ADS_1


“Calon mempelai lelakinya tidak buruk rupa malah dia sangat tampan.” ucapnya lalu berhenti sejenak.


 


“Tubuhnya bahkan sangat seksi dan menggiurkan dengan tato serigala dipundak kiri. Meskipun kedua mata lelaki itu buta tapi menurutku dia tetap gagah. Secara penampilan, seorang Jaysen Avshalom Wisesa hampir sempurna. Dia benar-benar pria yang gagah dan tampan dengan tubuh yang seksi.”


 


Lennie menelengkan kepalanya, memasang ekspresi wajah kebingungan. Gambaran calon mempelai lelaki yang diceritakan Sabrina tadi bahkan membuat gadis itu meneteskan air liurnya. Lalu kenapa desainer cantik ini malah berharap batalnya pernikahan itu? Apa sebabnya?


 


“Aku hanya tidak suka sifat laki-laki itu.” ujar Sabrina dengan wajah sedikit muram. “Sekali bertemu saja aku sudah bisa tahu betapa keras kepala lelaki itu. Belum lagi sifat arogan, dominan dan dinginnya itu, aku bahkan sudah merasa kesal hanya sepuluh menit mengobrol dengannya. Lalu bagaimana dengan Artemismu jika harus menghadapi lelaki itu nyaris 24 jam sehari?”


 


Sabrina terlihat agak emosi saat dia bercerita, setelah menghela napas panjang beberapa kali dan menghabiskan sisa tehnya barulah desainer cantik itu terlihat kembali tenang.


“Artemisku terlalu berharga untuk berakhir bersama lelaki semacam dia.” gerutunya. “Kalau saja Mike-ku yang lebih dulu bertemu dengan Artemis.”


 


Sabrina tidak menjawab, dia hanya tersenyum lalu kembali menikmati tehnya. Lennie yang tahu diri akhirnya memilih pamit dan pergi sehingga akhirnya desainer cantik itu bisa bersantai sendiri. Toh rasa penasaran Lennie sudah sedikit terjawab.


 


“Hari ini ya rencananya Deanna akan menemui Artemisku? Oh Deanna…..kira-kira keputusan apa yang akan kamu ambil untuk masa depan dan kebahagiaan Artemisku itu?” Sabrina bergumam sendiri dan seperti membayangkan.


Dia melemparkan majalah begitu saja, kemudian berbaring di sofa. Kepalanya mulai pusing memikirkan semuanya, hatinya terasa tak ikhlas jika Emily menikahi Jaysen.


 


Dia merasa lebih baik menikmati waktu yang ada sambil menunggu datangnya kabar. “Kalau Artemis bisa bertemu dan bersama Mike, pasti itu akan menjadi sesuatu hal yang luar biasa.” wajah Sabrina nampak tersenyum bahagia membayangkan seandainya Mike bisa bersama dengan Emily.


 


Sementara itu ditempat lain. Entah sudah berapa kali Emily menghela napas berat. Gadis itu memang terlihat sangat tenang dan wajahnyapun mengulas senyum namun jelas terlihat kecemasannya dan malah semaking meningkat. Dia merasa ketakutan dan keringat dingin mulai membasahi punggungnya.

__ADS_1


 


“Apa kamu segelisah itu karena sedang bersamaku?” tanya Deanna mengamati gadis yang sedang duduk disebelahnya.


“Eh? Ya?”


“Apakah aku terlihat galak dan seperti akan memakanmu?”


 


Emily terus berusaha bersikap tenang dan tersenyum kecut, keringat dingin mengucur keluar. Ini jelas situasi yang tidak pernah dia perkirakan. “Maaf kalau membuat nyonya merasa tidak nyaman.” Emily menjawab dengan suara sedikit tercekat.


“Nyonya?” Deanna mengeryitkan dahinya mendengar panggilan Emily padanya.


 


“Eh, ya?”


“Sejak kapan kamu memanggilku nyonya?”


‘Ya sejak sekarang,’ batin Emily mulai panik. Didalam hatinya gadis itu mati-matian menekan rasa gelisahnya dan berusaha terlihat tenang. Ya tentu saja karena dia pergi bersama seorang perempuan yang mungkin saja akan menjadi ibu mertuanya.


 


Ini sungguh hal yang tidak pernah dibayangkan oleh Emily. Lagipula siapa yang tidak akan gugup jika dalam situasi seperti sekarang ini? Oke dia memang memiliki kekasih dan berpacaran tapi hubungan mereka masih belum sejauh itu. Meski terkadang Emily membayangkan apakah dia akan menikah dengan John tapi itu hanya pemikiran sesaat saja.


 


Bukanlah hal yang pernah dia pikirkan serius tentang hubungannya dengan kekasihnya itu. Sedangkan situasinya sekarang ini? Jadwal fitting baju sudah dilakukan minggu lalu dan sekarang dia pergi bersama calon ibu mertuanya, itu bagaikan sebuah hantaman keras bagi Emily.


 


Seolah menyadarkannya bahwa semua yang dialaminya ini nyata. ‘Tapi kan seharusnya Eleanor yang berada disini dan menjalani pernikahan ini?’ keluhnya dengan hati kalut. Harusnya kan Eleanor yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa Jaysen? Harusnya kan Eleanor yang menikah dengan lelaki itu? Harusnya Eleanor yang pergi bersama calon ibu mertuanya ini?


 


Tapi kenyataannya tidak! Nyatanya justru Emily yang ada disini dan terlepas dari apakah gadis itu setuju atau tidak, semuanya dia yang harus menanggungnya sekarang. Dia tetap menyunggingkan senyuman dan memaksakan dirinya untuk tetap terlihat tenang meskipun didalam hatinya sesungguhnya Emily ingin menjerit saking frustasinya.

__ADS_1


__ADS_2