Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 56. MENGALAH


__ADS_3

“Iya aku janji. Jadi jangan marah lagi padaku atau jangan pernah menangis ya. Jangan pernah berniat untuk pergi jauh meninggalkanku.” ujar Jaysen membelai pipi Emily. Nada suaranya terdengar lembut berusaha untuk membujuk gadis itu.


Emily tidak sanggup menjawab, dia hanya menghela napas berat. Gadis itu malah sibuk berpikir sehingga tidak menyadari kemuraman wajah Jaysen karena tidak kunjung mendapat jawaban darinya.


 


“Cium aku.” ujar Jaysen tiba-tiba.


“Apa?” tanya Emily terkejut dengan perubahan yang tiba-tiba itu. Lelaki buta ini memang benar-benar sulit diprediksi.


“Cium aku sayang. Aku sudah mau mengalah padamu jadi aku berhak mendapat hadiah bukan? Anggap saja ini sebagai imbalanku sudah berbaik hati padamu hari ini.”


 


Emily memandang Jaysen tidak percaya, hal seperti itu dia dapatkan darimana teorinya? Toh sejak awal yang mempermasalahkan tentang kalung ini kan Jaysen sendiri? Tapi sekarang lelaki buta itu malah meminta imbalan?


“Dasar egois! Nggak sadar diri!” omel Emily sembari mendengus kesal.


 


“Iya, aku memang egois sayang.” jawab Jaysen sekenanya.


“Seenaknya saja! Dimana-mana tidak ada yang seperti itu, yang salah malah dapat imbalan. Ck!”


“Iya, aku memang suka bersikap seenaknya saja, sayang. Jadi kapan orang yang egois dan suka seenaknya ini bisa mendapat ciuman sebagai imbalan? Hem?”


 


Emily mendengus kesal, dia tahu kalau dia tidak punya pilihan lain. Emily tahu kalau kali ini Jaysen tidak akan mengalah untuk melepaskannya begitu saja, karena lelaki buta itu memang selalu bersikap seperti itu.


“Aku membencimu Jay!” bisiknya didepan bibir Jaysen sebelum akhirnya dengan gemetar dia menempelkan bibirnya ke bibir lelaki buta itu.


 


“Hati-hati sayang! Awalnya kamu benci tapi nanti bisa berubah jadi benar-benar cinta loh. Selalunya memang begitu, sayang.” Jaysen balas berbisik lalu ******* bibir manus yang disukainya itu.


“Jay…...” gumam Emily diantara ciuman mereka.


“Ehm…...” dia gemetar sewaktu akhirnya ciuman mereka terlepas dengan keduanya terengah-engah.

__ADS_1


 


Namun itu tidak berlangsung lama karena setelah Jaysen mengusap bibir Emily yang agak bengkak, lelaki itu meraih dagu Emily lalu menariknya mendekat. Saat berikutnya mereka kembali berciuman sama sekali tidak menyadari seseorang yang memperhatikan mereka dalam diam dari sedikit celah pintu perpustakaan yang terbuka.


...*****...


Deanna mengangkat cangkir tehnya dengan kedua alisnya yang bertaut seakan ada sesuatu hal yang sedang dipikirkan perempuan itu dengan serius.


“Apa aku sedang berkhayal?” gumamnya seraya meletakkan kembali cangkir tehnya tanpa meminumnya. Tadi sesampainya di kediaman Jaysen, dia diberitahu bahwa Jaysen sedang berada di perpustakaan memeriksa pekerjaannya.


 


Seketika dahi perempuan itu berkerut mendengarnya. Selama ini Jaysen selalu bekerja diruang kerjanya dan jarang sekali pergi ke perpustakaan. Lalu kenapa sekarang putranya itu malah betah berada disana? Ada apa sebenarnya dengan putranya itu?


 


“Ah, mungkin saja dia sedang membutuhkan perubahan suasana.” gumam Denna yang meminta pelayan untuk menyiapkan teh, sementara dia langsung berjalan kearah perpustakaan.


Langkahnya terhenti karena tidak mendapati satupun pengawal yang berjaga didepan pintu perpustakaan. Ini hal yang juga dirasanya aneh. Baru pertama kalinya dia melihat tak ada pengawal disana.


 


 


Tentunya pengawal itu ingin menyampaikan perintah dari Jaysen soal pengalihan semua kiriman yang ditujukan untuk Emily agar diserahkan kepada Jaysen terlebih daulu. Deanna mengangkat bahunya memutuskan untuk berjalan mendekat.


Saat tangannya baru terulur untuk mengetuk pintu karena Jaysen biasanya tidak suka kalau ada orang yang memasuki ruangannya tanpa ijin.


 


Saat Deanna menyadari bahwa pintu perpustakaan tidak tertutup rapat dan sedikit terbuka namun dia mendengar suara dari dalam ruang perpustakaan. Deanna mengeryitkan dahinya lagi karena dia mendengar seperti ada orang yang sedang mendebat putranya itu. ‘Siapa yang berani berdebat dengan putraku seperti itu?’gumamnya.


 


Sejauh ini hanya suaminya dan ayah Deanna saja yang bisa bertahan berdebat dengan Jaysen.


“Sejak kapan kaca menjadi lebih berharga dibanding berlian?” suara dari dalam perpustakaan.


Deanna bisa mendengar suara putranya dengan jelas namun kedua alis perempuan itu meninggi saat ada suara lain yang mendebat putranya.

__ADS_1


 


“Semuanya tergantung siapa yang memberikannya Jay! Tergantung dari niat orang yang memberikannya juga karena tidak semua pemberian itu dinilai dari harganya tapi dari niat dan juga ketulusan hati yang memberikan.”


 


Deanna mulai merasa tertarik untuk terus mendengarkan perdebatan itu secara diam-diam. Dia juga melarang pelayan yang hendak mengantarkan teh untuk dia minum bersama putranya dan menyuruh pelayan itu menjauh dengan isyarat tangannya.


Bahkan sewaktu Argya datang dengan tergopoh-gopoh, Deanna segera meletakkan telunjuk didepan bibir meminta agar pengawal itu tidak berisik.


 


Deanna sedikit mendekat dan mencoba mendengarkan lagi perdebatan didalam ruang perpustakaan dan perempuan itu mendapatkan kejutan. Sejak kapan putranya itu mau mengalah? Selama ini putra tunggalnya itu sudah terbiasa mendapatkan semua yang diinginkan sehingga Jaysen jarang sekali mau didebat atau disangkal.


 


“Tapi sekarang Jaysen sudah mau mengalah? Terlebih dengan gadis itu? Bagaimana bisa?” bisik Deanna tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar dan dilihatnya. Rasa pusing seketika menyergap kepalanya membuat Deanna harus berpegangan kuat pada kusen pintu.


 


Apalagi sewaktu dia melihat Jaysen yang merengek meminta ciuman. “Sejak kapan Jaysen jadi bersikap manja seperti itu?” rasanya Deanna nyaris syok saat melihat putranya yang biasanya bersikap dominan, sekarang malah merendah dihadpaan seorang gadis. “Apalagi gadis itu adalah Eleanor! Gadis yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya.” gumamnya makin bingung.


 


“Sa---saya akan minum teh dulu.” ujarnya pada Argya yang memandang khawatir karena Deanna terlihat sempoyongan. “Saya baik-baik saja, terima kasih.” tolak Deanna sewaktu Argya hendak membantunya berjalan.


Setelah berhenti berjalan beberapa langkah, Deanna menoleh, “Saya tidak pernah datang ke depan ruang perpustakaan dan hari ini kita bertemu Argya!”


Argya pun terdiam dan segera menunduk. Pegawal itu memahami perintah yang tersirat didalam perkataan Deanna. Ingatan wanita itu kembali berputar dengan pembicaraan terakhirnya dengan Sabrina Saab, enam hari lalu.


Flashback on


“Saya mohon maaf atas kejadian kemarin Nyonya Sabrina.” ujar Deanna yang terlihat sungguh menyesal. “Saya sama sekali tidak menyangka kalau putraku dan---”


 


Deanna menarik napas dalam sekejap lalu melanjutkan, “Dan eh, calon istrinya akan berani menemui anda dengan penampilan yang tidak layak seperti itu.”


Saat itu mereka berada di kediaman Avshallom dan Deanna memang sengaja menundang desainer kelas dunia itu untuk datang ke kediamannya karena merasa tidak enak atas kejadian kemarin.

__ADS_1


 


__ADS_2