
Gian mengangkat bahunya dan tersenyum lembut lalu dia menjawab dengan nada santai. “Kab bisa saja kita beralasan kalau jalanan macet atau ya….kalau memang dia memaksa, katakan saja yang sebenarnya kalau kita mampir untuk makan siang sebentat. Memang apa salahnya?”
Emily mendongak dan memandang pria itu.
Memang yang dikatakan pria itu tidak salah tapi perasaan gadsi itu mengatakan kalau ini akan menjadi masalah besar kalau sampai Jaysen tahu.
“Kita pulang saja sekarang ya? Aku sudah kenyang dan tidak mau makan lagi.” ujar Emily lirih dengan tatapan memohon.
Gian terdiam sejenak dan kembali memandangi Emily lekat-lekat. “Apa kamu sangat takut padanya Ele?” tanya Gian Elkana.
Emily menelan salivanya tidak mengatakan apapun. Gadis itu kebingungan soal bagaimana perasaannya pada Jaysen. Dia takut Jaysen, ya itu memang benar. Lelaki buta itu memang terkadang masih membuat Emily merasa ketakutan terutama saat dia sedang marah. Terutama saar Jaysen mengeluarkan aura gelapnya yang mengerikan.
Bahkan hanya sekedar mengingat hal itu saja sudah membuat Emily merinding ketakutan. Namun dia juga menyadari perubahan sikap pria itu. Gadis itu merasakan bahwa Jaysen mulai bersikap lebih pengertian dan perhatian padanya. Ya, walaupun disisi lainnya lelaki buta itu tetaplah sosok yang mengerikan dimata Emily.
‘Bahkan sekarang Jaysen sudah mau mendengarkan permintaanku.” gumam Emily entah mengapa mendadak dia merasa ingin segera bertemu dengan lelaki itu.
‘Nyatanya dia bahkan tidak menghukum para pengawal itu. Dan dia tidak sekasar dulu lagi padaku, setidaknya dia mau berubah menjadi lebih baik.’ bisik hatinya.
Sedangkan Gian memang sosok lelaki yang tampan dan ramah. Sikapnya juga hangat dan sangat cocok dengan profesinya sebagai dokter. Jujur saja, bisa dikatakan bahwa Gian Elkana adalah tipe lelaki idaman kaum wanita.
Namun entah mengapa Emily tidak bisa merasa nyaman bersama dokter itu. Didalam hati gadis itu seolah ada sesuatu yang mengganjal.
Tapi dia sendiri tidak tahu apa itu, dia juga tidak paham. Baginya sosok dokter muda itu terasa berbeda seolah ada sesuatu yang diinginkannya. Emily merasa kalau dokter muda itu seperti memakai topeng, entah wajah seperti apa yang berada dibalik topeng yang dipakainya. ‘Apa mungkin karena aku belum terlalu mengenalnya ya?’
Diam-diam Emily mengamati Gian yang sedang menyantap makanannya dengan santai. ‘Seharusnya aku nggak boleh berpikiran buruk pada orang lain. Tapi kenapa aku merasa aneh pada pria ini? Aku benar-benar merasa tidak nyaman dan seperti ada sesuatu didirinya yang seperti sebuah teka-teki yang sulit kupahami.’
__ADS_1
Pikiran Emily semakin berkelana kemana-mana, dia melihat pria itu masih duduk santai tapi dimata Emily justru Gian terlihat seperti sedang berpikir serius. Dan ekspresi wajah pria itu terlihat bukan sesuatu yang disukai Emily.
Tiba-tiba dia teringat pada Jaysen, ‘Sedang apa ya Jaysen sekarang? Apa dia sudah makan siang? Eh? Loh?’
Emily terpaku dan kaget sendiri dengan pemikirannya. ‘Kenapa aku-----kenapa aku jadi aneh begini sih? Kenapa aku malah terus-terusan jadi kepikiran Jaysen? Aissss!’ Emily menggerutu sendiri, bibir mungilnya terlihat cemberut.
Sepanjang makan siang itu dia uring-uringan sendiri mencoba mengusir bayangan Jaysen yang membandel dan terus melintas di pikirannya.
Emily mengerjapkan matanya dan dia baru saja menyadari sesuatu. “Oh iya Gian? Kenapa tadi kamu bisa berada ditempat Sabrina Saab?” tanyanya sewaktu Gian menggiringnya masuk kemobil seusai mereka makan siang.
Bukannya menjawab pertanyaan Emily, tapi Gian malah tersenyum sambil membantu gadis itu memasangkan sabuk pengamannya.
Dokter muda itu juga mengambil kesempatan membelai pipi Emily dan memandangnya dengan tatapan penuh arti. Sebelum akhirnya dia menyalakan mesin mobil dan mengemudi.
“Nanti kamu juga bakalan tahu kok.” hanya itu yang diucapkan Gian. Mobil Porsche Boxster itupun melajy menembus kemacetan jalanan disiang hari.
Tak ada lagi pembicaraan diantara mereka berdua, karena saat Emily bertanya namun dia hanya melihat ekspresi Gian yang seolah tidak mendengarnya.
Sementara itu alasan Deanna bergegas pergi meninggalkan Emily tadi adalah karena suaminya yang meneleponnya. Suaminya memintanya segera pulang karena Titus Maleakhi ayahnya Emily sedang berada dikediaman Avshallom.
“Dia memaksa sekali ingin bertemu denganku.” kata ayah Jaysen saat ditelepon tadi.
“Padahal beberapa pengawal bahkan sudah memukulmya meskipun tidak sampai babak belur. Tapi lelaki itu tetap saja ngotot ingin bertemu. Entah apa lagi maunya kali ini.”
“Sayang, lalu kenapa kamu meneleponku? Urus saja masalah itu sendiri seperti biasanya.” gerutu Deanna yang tidak suka apabila kebersamaannya dengan Emily terganggu.
__ADS_1
Padahal dia jarang sekali bisa menemui Emily, sejak kejadian belanja bersama waktu itu, Jaysen tidak pernah lagi memberikan kesempatan pada Deanna untuk menemui calon menantunya itu.
“Anak itu ada-ada saja alasannya.” gerutu Deanna teringat pada ulah putranya sendiri. “Aku mau bertemu calon istrinya saja sulit sekali. Sikapnya itu seperti ketakutan kalau bakal ada yang akan mengambil gadis itu dari sisinya.”
Deanna senyum-senyum sendiri dan dia juga menyadari adanya perubahan sikap putra semata wayangnya itu. “Oh, akhirnya si tembok baja itu akan segera takluk.”
“Deanna? Apa kamu masih mendengarkanku? Apa kamu bisa segera pulang?” suara
Deanna mendengus sebal, dia benar-benar tidak suka kalau harus meninggalkan Emily bersama Sabrina Saab disana.
Bisa saja kan kalau nanti desainer cantik memprovokasi calon menantunya agar tidak jadi menikahi Jaysen? Deanna pun semakin kesal mengingat perkataan desainer cantik itu padanya.
“Haruskah aku pulang? Apa aku juga harus menemui lelaki itu?” tanya Deanna yang masih bersikukuh tidak mau pulang kerumahnya.
“Sepertinya memang harus Deanna. Titus Maleakhi bilang kalau ada sesuatu hal yang aneh soal calon menantu kita.” jawab Ruben Avshallom dengan nada sabar.
Mendengar suaminya memanggil gadis itu calon menantunya membuat Deanna pun tersenyum.
Namun perempuan paruh baya itu juga merasa heran dengan maksud dan tujuan Titus Maleakhi datang menemui mereka. “Apa sebenarnya niat lelaki itu datang?”
“Katanya pernikahan ini harus dibatalkan! Tidak boleh sampai terjadi.” jawab Ruben lagi.
Deanna menggeram dan sudah tidak dapat menahan kesabarannya lagi. “Tunggu aku disana. Aku akan segera pulang sekarang.”
Dia masih merasa bimbang apakah harus menghubungi kediaman Wisesa untuk mengirimkan mobil dan pengawal lain untuk Emily sewaktu Gian menawarkan bantuannya tadi.
__ADS_1
“Baguslah.” gumamnya menyandarkan punggungnya ke sandaran mobil. ‘Setidaknya aku tidak perlu memberitahu Jaysen kalau aku terpaksa meninggalkan calon istrinya dikamar hotel Sabrina Saab. Anak itu bisa mengamuk nanti kalau sampai dia tahu.’