
Sudah semakin larut tapi Titus Maleakhi maasih belum juga pulang kerumahnya. Naura pun semakin cemas dan mengkhawatirkan suaminya itu. "Apa dia berhasil bertemu dengan Ruben Avshallom? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya? Bisa sajakan? Mungkin saja dia dipukuli habis-habisan?" Naura memkik ketakutan dan berdiri dengan kaki gemetar.
"Jangan-jangan.....jangan-jangan dia sudah dibu....." Naura tidak sanggup melanjutkan ucapannya sendiir. Dia membekap mulutnya dengan kedua tangannya.
"Oh ya Tuhan? Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan sekarang? Bahkan teleponnya pun tidak bisa dihubungi sejak tadi. Apakah dia baik-baik saja? Kenapa dia masih belum pulang juga?"
Sekian menit yang bagai berjam-jam pun berlalu. Naura tersentak saat mendengar suara deru mobil memasuki pelataran rumahnya. Dia segera berlalu keluar rumah, terlebih karena mendengar sedikit keributan diluar rumahnya itu.
"Tuan kenapa penampilan anda seperti ini?" tanya pelayan menyambut Titus.
"Bagaimana keadaan anda, Tuan?" tanya pengawal yang membantunya keluar dari mobil.
"Saya akan membantu Tuan masuk" ujar pelayan lain segera menghampiri Titus dan membantu membopongnya.
Langkah Naura baru saja mencapai teras rumah saat dia mendadak berhenti dan menjerit kaget, "Oh ya Tuhan! Kenapa keadaanmu seperti ini suamiku?"
Dia bergegas mendekat lalu memapah suaminya masuk kedalam rumah, "Tolong ambilkan kotak P3K," serunya kepada salah satu pelayan. Titus mendesis dan merintih kesakitan membuat wanita paruh baya itu semakin cemas saat dia melihat luka lebam diwajah suaminya.
"Apa perlu kupanggilkan dokter? Titus, kamu terluka dimana saja?" tanya Naura dengan nada cemas.
"Tenanglah, istriku. Ini hanya lebam biasa saja. Aku baik-baik saja." jawab Titus.
"Bagaimana bisa kamu bilang kamu baik-baik saja dengan lebam sebanyak ini?" hardik Naura sambil menuangkan alkohol ke kasa lalu menekankan ke luka suaminya dengan sedikit keras, membuat Titus meringis kesakitan.
"Pasti mereka yang melakukannya padamu iyakan? Para pengawal Avshallom itu? Apa mereka benar-benar tidak punya hati memukuli orang sampai separah ini?" protes Naura lagi dengan menahan kemarahannya.
__ADS_1
"Naura, tenanglah dulu!" Titus meraih kedua tangan istrinya lalu meremasnya, "Bukan salah mereka sepenuhnya sehingga mereka memukuliku. Akulah yang memaksa masuk karena ingin menemui Ruben Avshallom! Aku bahkan sempat membuat keributan disana tadi."
Mendengar perkataan suaminya, ekspresi wajah naura seolah protes bahwa dia masih tidak bisa menerima alasan semacam itu. Wajah suaminya sampai lebam seperti ini, bagaimana mungkin dia bisa menerimanya? Dia benar-benar marah dengan perlakuan keluarga Avshallom pada suaminya.
Sedangkan Titus menampakkan ekspresi wajah muram, dia bahkan menarik napas berkali-kali sehingga menarik perhatian Naura. "Titus, suamiku! Lalu bagaimana? Apakah kamu, eh.....berhasil menemui lelaki itu?" tanyanya sambil memegang pundak suaminya dengan hati-hati.
Tidak ada respon dari pria paruh baya itu. Lelaki itu masih saja menundukkan wajahnya sambil terus menghela naps berat.
"Titus? Suamiku, ada apa? kenapa kamu diam saja?" Naura kembali bertanya sembari memegang pundak suaminya.
"Iya, aku sudah berhasil menemui mereka." akhirnya Titus pun merespon.
"Mereka? Maksudmu?" dahi Naura mengerut.
"Aku menemui Ruben dan Deanna Avshallom!" ucap Titus lirih.
"Perempuan itu. Perempuan yang sok bergaya dan sombong itu yang seenaknya memanggil putriku sebagai calon menantunya. Perempuan itu maksudmu kan?"
Titus mengerutkan kedua alisnya menatap istrinya dan dia kembali menghela napas panjang, "Naura! Sudahlah, bersabar saja."
"Apa katamu? Sabar? Mana mungkin aku bisa sabar? Awalnya Maya yang sudah mengambil putriku dari sisiku. Tidak hanya mengasuhnya sebagai keponakannya tetapi dia malah mengangkat Emily sebagai anak sehingga kita terpaksa menghapus nama Emily dari kartu keluarga. Padahal perjanjian awalnya kan tidak seperti itu? Awalnya dia hanya akan mengasuh Emily sebagai pancingan agar dia bisa hamil lagi?"
"Iya tapi nyatanya sampai sekarang adikmu itu masih belum hamil kan?" sahut Titus.
"Tapi harusnya dia tidak mengambil keputusan sepihak untuk mengangkat Emily sebagai anak! Sekarang secara resmi, putriku sudah tercatat sebagai bagian dari keluarganya, bukan lagi sebagai putri keluarga Maleakhi!"
__ADS_1
"Sudahlah Naura! Maya melakukan itu karena dia kesulitan mengurus pendidikan Emily di New York. Makanya semuanya akan lebih mudah kalau Emily dimasukkan kedalam kartu keluarganya sebagai anak mereka. Meskipun itu membuat kita terpaksa menghapus nama Emily dari kartu keluarga." ujar Titus.
Dia menahan rasa perih ditubuhnya sambil mengelus punggung istrinya mencoba menyabarkan perempuan yang sekarang sudah terisak-isak tanpa suara itu. Dia menghelas napas berat berkali-kali. Dia memahami bagaimana perasaan istrinya karena dia pun merasakan hal yang sama.
Selama bertahun-tahun mereka terpaksa tinggal terpisah dengan salah satu putri kembarnya. Memangnya orang tua mana yang sanggup melepaskan anak kandungnya? Demi menopang hati yang seakan remuk itu, Titus maupun Naura berusaha sebisa mungkin untuk tidak memberi Emily perhatian.
Mereka khawatir apabila mereka memberikan perhatian lebih pada putrinya itu yang tinggal sangat jauh di benua lain, maka mereka tidak akan punya keteguhan hati untuk melepaskan kembali putri mereka itu. Mereka memang tidak pernah datang ke acara kelulusan atau acara penting Emily yang lain tetapi mereka selalu mendapatkan kiriman video dari Maya.
"Hanya melihatnya melalui rekaman video saja, rasa rindu ini seakan tidak sanggup untuk dibendung. Apalagi kalau kami datang dan menyaksikannya langsung? Bisa-bisa kami tidak akan sanggup berpisah dengan putri kami itu lagi." Titus menarik napas dalam mencoba mengurangi beban berat didalam hatinya.
Selama ini dia juga selalu berusaha bersikap dingin pada putrinya itu dan dia menyadari sepenuhnya kalau apa yang mereka lakukan pada Emily itu salah besar.
"Pasti dimata Emily, aku ini bukan ayah yang baik. Aku ini ayah yang tidak pernah menyayanginya, ayah yang bersikap pilih kasih padanya."
Cara mereka bertahan selama bertahun-tahun adalah dengan berpura-pura tidak peduli dan tidak memperhatikan Emily. Mereka menahan semua rasa sayang yang sebenarnya sangat besar pada putri mereka itu.
"Sekarang malah muncul masalah ini," keluh Titus meremas rambutnya dengan kedua tangannya, "Emily tidak tahu apa-apa. Dia tidak bersalah malah harus terseret dalam masalah ini. Ya Tuhan......aku tidak bisa membayangkan betapa menderitanya dia disana."
Sambil menghela napas berat, Titus berusaha keras agar tidak meraung frustasi.
"Lalu bagaimana?" tanya Naura membuyarkan lamunan Titus. Perempuan itu sudah mengusap airmatanya dan memandang suaminya dengan tatapan menunggu jawabannya.
"Apa kamu sudah memberitahu mereka tentang kebenarannya? Bahwa yang sedang disandera si laki-laki iblis itu bukanlah Eleanor tapi Emily? Bahwa yang akan mereka paksa untuk menikah itu adalah Emily bukan Eleanor? Titus, kamu sudah mengatakan semuanya pada mereka kan? Lalu apa tanggapan mereka?"
Naura memberondong suaminya dengan pertanyaan sekalgus, dia memandang tidak sabar pada Titus yang malah hanya diam tak mengatakan sepatah katapun.
__ADS_1
"Titus, suamiku? Katakan sesuatu. Kamu sudah memberitahu mereka kan? Apa mereka akan membatalkan pernikahan itu jangan diam saja! Jawab aku!"