
“Aroma tubuhmu membuatku ingin memakanmu saja.”
“Jangan!” ucap Emily tertahan.
“Hmmmm? Kenapa?”
“Ak---aku jangan dimakan Jay. Nggak enak loh. Sungguh!”
Sudut bibir Jaysen menaik membentuk senyuman lalu dia mempererat pelukannya, dan mulai menciumi pundak gadis itu.
“Kamu lucu sekali sayang.” dengusnya menahan tawa, ada nada geli dalam suara Jaysen. “Tubuhmu gemetaran seperti ini dengan suaramu yang terdengar panik……sayang, orang lain bisa salah mengira kalau kamu nggak pernah tidur dengan lelaki saja.”
‘Memang belum pernah.’teriak Emily dalam hatinya dengan panik.
“Padahal kita sudah berkali-kali melakukannya, iyakan? Jangan lupa kalau kamu juga sudah melakukannya dengan pria brengsek itu.”
“Jay! Bukan begitu----ehmmmm-----”
Emily tidak sanggup mengeluarkan suara karena Jaysen sudah mengunci bibir mereka dengan ciuman.
Mereka saling memagut dan menyesap, sekarang Emily bahkan ikut membalas ciuman Jaysen meski kadang gadis itu masih belum bisa menandinginya. Dia mulai terhanyut dan tanpa sadar tangan Emily memeluk tengkuk lelaki itu dan meremasnya. Sebelah tangan gadis itu berpegangan ke lengan Jaysen yang kokoh.
Sementara kedua tangan lelaki buta itu sibuk bergerilya. “Ehmmm….hmmm…..hmmmmmm.” gumam Emily dengan suara tidak jelas karena Jaysen sudh baermain-main didalam mulutnya.
Tubuh Emily bergetar lalu menghilang dan digantikan oleh rasa panas. Bak energi listrik yang mengalir dan menyengat kulit gadis itu setiap kali jemari Jaysen menyentuhnya.
Tangan Jaysen menyusup kedalam piyama yang dikenakan Emily. Mengelus-elus perut ratanya membuat Emily kegelian. Segala sentuhan Jaysen seolah membuat kedua kakinya lemas. Bukan hanya itu, pikiran gadis itupun seolah menjadi kosong dan tidak sanggup berpikir. Saat ini tubuh Emily seakan bergerak mengikuti dorongan hasrat semata.
“Kamu mau, sayang…..” bisik Jaysen menghembuskan udara hangat ditelinga Emily membuat gadis itu berdesis. Emily menggelengkan kepalanya sebagai jawaban karena dia tidak mau Jaysen melangkah lebih jauh lagi.
“Aku----ehmmm…..!” Emily hanya bisa mendesah tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Dan Jaysen kembali menciumnya.
Lagi-lagi ciuman lelaki buta itu terasa liar dan menuntut, seolah ada dahaga yang sejak tadi ditahannya dan dia sudah tidak mampu lagi membendungnya. Sedangkan Emily sudah mulai kehabisan napas, dia mendorong dan memukul pundak Jaysen namun sia-sia saja karena lelaki buta itu justru tetap mengunci ciuman mereka hingga memaksanysa mundur.
Sampai akhirnya terantuk pinggir tempat tidur dan mereka sama-sama terjatuh diatas kasur.
__ADS_1
“Jay!” engah Emiy saat ciuman mereka tidak sengaja terlepas. “Akhh------”
Emily kaget karena tiba-tiba Jaysen menggendongnya. Lelaki buta itu mengangkat dan menidurkannya diatas kasur lalu segera menindih gadis itu.
“Jay! Mau apa?” cici Emily menjadi panik. Jaysen tersenyum menahan tubuh dengan sebelah tangan sedangkan tangan satunya lagi membelai pipi Emily dengan lembut.
“Apa masih sakit?” tanyanya dengan nada khawatir. Suaranya yang biasanya terdengar dingin dan datar kini terdengar penuh kekhawatiran.
“Seharusnya aku bertanya dulu sebelum langsung menyerangmu seperti tadi.” ucapnya.
Mata Emily terpejam menikmati belaian lembut tangan Jaysen. “Sudah tidak sakit lagi kok.”
“Itu luka disudut bibirmu pasti sakit kan waktu aku menciummu tadi?”
“Makanya jangan asal cium-cium aja. Sudah tahu aku terluka tapi kamu masih sering sesuka hatimu.”
“Soalnya aku sudha nggak tahan lagi sayang.” ucap Jaysen.
“Setidaknya bersikaplah lembut Jay! Kamu tidak bisa terus-terusan bersikap seperti itu padaku.”
Anehnya, tidak ada kemarahan dalam diri Jaysen menghadapi sikap Emily yang dengan paksa mendorongnya tadi. Padahal biasanya lelaki itu tidak pernah mendapatkan penolakan dari siapapun. Tidak peduli dengan alasan apapun juga.
“Sayang,” gumamnya menarik Emily agar mendekat kearahnya lalu memeluk gadis yang sedang memunggunginya itu. “Kamu marah ya?”
Emily tidak menjawab dan berusaha untuk menenangkan degup jantungnya yang kembali menggila. Sepertinya setiap kali berdekatan terlalu lama dengan lelaki buta itu sama sekali tidak bagus bagi kesehatan jantungnya.
“Kamu mau aku bersikap lembut kan?” bisik lelaki itu lagi sementara tangannya sudah kembali menyentuh tubuh Emily.
“Bisa kok. Kalau kamu memang ingin permainan yang lembut pasti bisa kulakukan.” ucapnya lagi.
Dahi Emily mengerut, sepertinya ada kesalahpahaman antara apa yang dia ingin sampaikan dengan apa yang ditangkap oleh Jaysen.
Yang Emily maksudkan adalah dia ingin sikap Jaysen agar lebih lembut padanya tapi kenapa lelaki buta itu malahmembahas soal permainan panas lagi sih? Benar-benar nggak yambung sama sekali.
“Jay! Maksudku bukan begitu!” protes Emily.
__ADS_1
“Lalu bagaimana sebenarnya maksudmu sayang?” Hemmm? Bicaralah yang jelas supaya aku paham.”
“I----itu----akh----” Emily kesulitan berpikir dan bicara. Segala sentuhan yang Jaysen lakukan membuat gadis itu kehilangan akal sehatnya.
“Jay! Hentikan……jangan begitu!”
“Apa kau yakin mau aku berhenti, sayang?” bisik Jaysen sambil terus memainkan tangannya menyentuh Emily membuat gadis itu tidak bisa konsentrasi lagi. “Kamu yakin mau berhenti sekarang sayang? Sudah sejauh ini apa kamu tidak mau dilanjutkan saja?”
Tidak ada kata yang sanggup Emily berikan selain erangan dan *******. Sedikit kewarasan yang tersisa menyentilnya.
Dia mencoba berteriak mengingatkan bahwa apa yang mereka lakukan sekarang itu salah. Bahwa dia tidak seharusnya menikmati semua ini dan hanyut dalam pesona lelaki buta itu. Tapi lesakan kenikmatan yang menyerbunya begitu membutakan dan Emily hanya sanggup menggeliat dan merasakan kenikmatan itu.
Hasrat menguar diantara mereka mengalirkan hawa panas dan mengalahkan dinginnya pendingin ruangan. Bibir Emily kembali dibungkam dengan ciuman dan gadis itu tidak kuasa menolak. Emily menyambut ciuman Jaysen dengan bergairah menghadirkan senyuman puas diwajah lelaki tampan itu.
“Jay!” erang Emily terbaring dengan napas terengah sementara Jaysen sudah merobek piyamanya.
“Jay! Kumohon.” Emily memohon dengan suara lirih membuat Jaysen terpaku. Hasratnya saat ini sudah sangat tinggi bahkan nyaris tidak sanggup untuk menahan dirinya lagi.
“Apa kamu nggak menginginkannya sayang?” tanyanya membelai rambut Emily dan mengusap keringat didahi gadis itu. “Apa kamu nggak menginginkanku sayang?”
Emily menggigit bibir, separuh durunya sangat menginginkan sentuhan Jaysen tetapi separuh lagi masih bersikeras menyatakan kalau apa yang mereka lakukan itu salah. Tidak seharusnya dia begini.
“Baiklah kalau begitu.”
“Eh, apa?” Emily mengerjapkan matanya, heran karena pria itu mengalah begitu saja.
Jaysen berguling kesamping dan tidur disebelah Emily lalu menarik gadis itu kedalam pelukannya. Dia menarik selimut menutupi tubuh polos gadis itu.
Sementara gadis bersurai coklat itu masih merasa kebingungan dengan perubahan sikap Jaysen yang tiba-tiba saja. “Jay! Kenapa-----”
“Sayang aku sedang berusaha menjinakkan monsterku. Jadi tolong ya kamu bantu aku jangan bergeraj-gerak terus.” ujar Jaysen menghela napas panjang berusaha menenangkan dirinya.
Emily terpaku mendengar perkataan Jaysen, dia masih tidak percaya dan setengah mengira kalau dia hanya bemimpi. “Jay----Jaysen…….”
“Hmmmm? Ada apa memanggilku begitu, sayang?”
__ADS_1
“Biarkan aku memakai bajuku dulu ya.” ujar Emily memohon. Dia merasa tidak nyaman saat ini.