
“Para pengawal ini, kenapa mereka sampai terluka seperti itu? Apakah ada penyerangan yang terjadi baru-baru ini?” tanya Gian mencecar Argya dengan pertanyaan. Sedangkan matanya mengedari ruangan itu.
“Tidak ada sesuatu yang berbahaya yang terjadi. Tidak ada penyerangan juga, dokter. Anda tidak perlu khawatir. Mereka terluka karena----” Argya terdiam sesaat. “Semacam latihan tambahan yang saya berikan pada mereka.”
Tidak ada perubahan baik di ekspresi wajah maupun intonasi suara Argya. Kepala pengawal itu tetap bicara dengan nada datar dan tenang. Sehingga sulit untuk melihat apakah dia mengatakan yang sebenarnya atau tidak.
Luka-luka yang diderita para pengawal itu sebenarnya berasal dari hukuman yang diberikan Argya tiga minggu yang lalu. Jadi, luka-luka itu sebenarnya tidak terlalu parah dan sebagian sudah hampir sembuh.
Hanya saja, karena sebentar lagi ada acara penting yang akan berlangsung maka Argya ingin memastikan semua anggotanya dalam kondisi bai. Setidaknya itulah alasan yang dia berikan untuk meminta dokter Argya datang hanya sekedar melakukan pemeriksaan ringan. Gian menghela napas dan tidak memperpanjang lagi masalah itu.
Cukup jelas baginya kalau Argya sepertinya tidak mau menjelaskan dan membahas hal itu lebih panjang lagi. Tapi----tunggu----siapa tahu dia bisa membujuk salah satu pengawal yang diperiksanya itu? Tapi untuk melakukan itu tentunya Argya harus disingkirkan dari ruangan itu dulu. Gian tentunya tidak bisa bergerak bebas apabila ada kepala pengawal itu disana.
Apalagi Argya adalah salah satu orang kepercayaan Jaysen. ‘Nggak majikannya, nggak pengawalnya kepercayaannya semuanya sama saja, sedingin tembok.’ keluh Gian mulai memeriksa dan membersihkan luka yang sudah nyaris sembuh itu.
“Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada kalian? Sampai bisa meninggalkan luka yang mengerikan seperti ini?” bidik hati Gian yang semakin besar rasa penasarannya dan ingin mencari tahu.
“Argya, apakah aku bisa minta tolong untuk diambilkan minuman? Apapun itu terserah. Tenggorokanku terasa sangat kering” Gian menyuguhkan senyuman ramahnya mencoba untuk mengusir Argya dari tempat itu secara halus.
“Baiklah dokter Gian. Mohon tunggu sebentar.” jawab Argya.
Sesaat ada harapan yang melambung didada Gian tapi seketika itu juga harapnnya mengempis karena Argya tidak pergi untuk mengambilkan minuman untuknya. Argya malah hanya melambaikan tangan dan menyuruh pelayan yang segera mendekat untuk mengambilkan minuman yang diminta oleh dokter muda itu.
“Saya mohon maaf, seharusnya tadi saya sudah langsung menghidangkan minuman untuk dokter. Anda jadi repot meminta minuman seperti tadi.” ujar Argya disertai sikapnya yang tenang dan kesopanan yang luar biasa. Gian membuka mulut hendak mengatakan sesuatu tapi dia menutup mulutnya lagi dan terpaksa berpikir ulang untuk mencari cara lain.
__ADS_1
Ternyata sebuah perkara mudah untuk mengelabui kepala pengawal sekelas Argya itu sangat sulit. Kenapa susah sekali untuk bisa mengorek informasi dari dalam rumah ini? Pikirnya.
‘Sial!’ Gian mengumpat didalam hatinya. Dia tidak bisa menemukan cara lain yang efektif untuk mengusir Argya dari sana. Jika kepala pengawal itu tetap berada disana naka dokter Gian tudak akan pernah bisa mencari kebenarannya.
Sementara itu dikediaman keluarga Avshallom.
“Hal apalagi yang ingin anda bicarakan Tuan Titus Maleakhi?” tanya Deanna yang langsung bersuara bahkan sebelum dia memasuki ruangan itu.
Dia bahkan tidak menyapa untuk memberitahu kedatangannya. Perempuan yang biasanya terlihat lemah dan lembut ini kini terlihat tegas dan sedikit galak.
“Kalau yang ingin anda bicarakan adalah soal pembatalan pernikahan, maka lupakan saja! Tidak ada satupun kata dari anda yang bisa membatalkan pernikahan antara Jaysen dan Eleanor.
“Bagaimana kalau yang akan dinikahi putra anda itu bukan Eleanor?”
“Apa katamu?” Deanna Avshallom menatap Titus dengan pandangan tajam seolah lelaki itu kurang waras.
‘Seperti singa betina yang siap mengamuk dan menerkam mangsanya saja.’ gumam lelaki Polandia itu. Dia mencatat didalam hatinya baik-baik agar sebisa mungkin tidak membuat masalah dengan istrinya.
‘Bisa gawat kalau aku membuat masalah sembarangan. Apa dia sedang PMS ya?” Ruben menggelengkan kepala dan kembali mengamati Titus Maleakhi.
“Gadis yang bersama putramu itu bukan Eleanor!” ujar Titus lagi. Sesekali dia meringis merasakan nyeri dibeberapa bagian tubuhnya akibat pukulan dari para pengawal Avshallom.
“Dia bukan Eleanor. Tapi putriku yang lain.”
__ADS_1
Deanna mendengus kasar, sebenarnya dia sudah tidak sabar ingin melempar lelaki yang didepannya ini keluar dari kediaman Avshallom.
“Kalau saja dia bukan ayah dari calon menantuku yang manis, sudah ku tendang dia keluar.” Deanna menggerutu sendiri saking kesalnya. “Pasti akan benar-benar kulakukan!”
“Apa sebenarnya maksud perkataan anda, Tuan Titus?” Deanna bertanya dengan suara keras dan sikap yang angkuh. Sementara Ruben memilih duduk dan membiarkan istrinya saja yang menangani masalah ini. Toh, sebenarnya dari awal dia sudah tidak berminat dengan urusan pernikahan Jaysen putra semata wayangnya itu.
“Padahal masih banyak gadis lain yang jauh lebih baik dibandingkan dengan gadis model yang murahan itu!” gerutunya sambil memijat pangkal hidungnya.
Dia merasa tidak ada gunanya untuk terlibat dengan masalah menyebalkan ini. “Kenapa Jaysen ngotot sekali ingin menikahi gadis itu? Padahal sebelumnya dia sangat membencinya dan dendam pada Eleanor.”
“Kenapa sekarang keadaannya malah terbalik? Deanna juga begitu, sekarang malah menyukai gadis itu. Padahal dulu dia juga tidak pernah menyukai keangkuhan dan ketidaksopanan gadis itu. Tapi kenapa justru dia yang paling bahagia dan mendukung pernikahan ini? Semuanya benar-benar tidak masuk akal.”
Ruben Avshallom menghela napas panjang, dia akhirnya menyerah untuk memikirkannya. Kalau memang Jaysen dan Deanna sudah memutuskan pernikahan maka ya…..biarkan sajalah. Asal kedua orang yang dicintainya itu bahagis. Maka Ruben tidak akan segan-segan untuk melakukan apapun untuk membahagiakan istri dan putranya.
‘Tapi jika sekali lagi gadis itu membuat ulah, maka jangan harap kalau aku akan memaafkannya dan membiarkannya begitu saja. Eleanor perhatikan langkahmu baik-baik karena ini adalah kesempatan terakhimur.” akhirnya Ruben Avshallom pun memutuskan.
“Tuan Titus Maleakhi.” suara Deanna kembali terdengar memecah keheningan diruangan itu.
“Apa maksud anda bahwa yang sedang bersama Jaysen itu bukanlah Eleanor tapi putri anda yang lain?” tanya Deanna mengulang pertanyaannya.
Tampak Titus menghela napas berulang kali lalu menatap Deanna. “Betul Nyonya Avshallom! Yang bersama dengan Jaysen dan yang kalian paksakan menikah dengan putra kalian itu bukanlah Eleanor.”
“Apa maksudmu gadis itu bukan Eleanor?”
__ADS_1
“Saya sudah mencoba menjelaskan berulang kali pada putra anda tpai rupanya dia setuli tembok dan semua ucapan saya tidak digubrisnya. Jadi---”
“Apa kita bisa langsung bicara ke inti pembicaraannya saja?” potong Deanna yang benar-benar sudah tidak sabaran lagi.