Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 64. DILEMA EMILY


__ADS_3

Kalau tadi perjalanan mereka sewaktu berangkat sempat diwarnai keheningan yang canggung tapi kali ini keheningan yang ada terasa berat dan mencekik. Deanna menatap cemas Emily yang terus saja diam.


Gadis itu terus saja menunduk dengan kedua tangannya saling meremas dan tubuh gemetar. Ada sesak yang Deanna rasakan sewaktu dia melihat sudut bibir Emily terluka dan berdarah.


Tamparan Naura cukup keras dan dia tidak habis pikir bagaimana bisa seorang ibu sampai menampar putrinya sampai sekeras itu. ‘Apa yang yang membuatnya hingga semarah itu?’ gumam Deanna yang masih belum paham.


Berkali-kali dia mengulurkan tangan hendak memeluk gadis yang terus saja gemetar dalam diam itu. Tapi berkali-kali pula tangannya terhenti.


Seolah-olah tahu kalau gadis itu belum bisa disentuh dengan sembarangan.


“Saya bukan Eleanor.” ucapnya lirih.


“Apa?” Deanna mengerutkan kening dan memasang wajah bingung tidak paham maksud perkataan Emily. Apa tadi dia salah dengar kalau gadis disebelahnya itu berbicara dengan suara sangat lirih.


“Saya bukan Eleanor! Mama tadi marah karena mengira kalau saya menikmati tempat yang seharusnya Eleanor isi. Tapi demi Tuhan, saya tidak bermaksud begitu.”


“Nak, apa maksudmu?”


“Saya tidak ingin menipu siapapun termasuk anda bu.” isak Emily dengan tubuh yang gemetar hebat. Dia meremas kuat ujung rok sampai buku-buku jarinya memutih.


“Saya juga tidak bermaksud untuk enak-enakan menikmati harta atau kekayaan keluarga anda. Sungguh Bu, tidak sama sekali. Karena saya tidak seharusnya berada di posisi ini.”


“Sudahlah sayang. Tenangkan dirimu dulu ya?” Deanna memeluk gadis yang histeris itu.


“Tenanglah. Ibu tahu kamu pasti sedang syok sehingga berbicara melantur.”

__ADS_1


Emily melepas paksa pelukan Deanna dan menatapnya dengan tatapan semakin frustasi. “Bukan bu. Bukan begitu. Saya benar-benar bukan Eleanor dan itulah alasannya pernikahan ini harus dibatalkan.”


Mendengar soal pembatalan pernikahan membuat Deanna terpaku sejenak. Bayangan bahwa dia akan kehilangan gadis didepannya sebagai calon menantu membuatnya cemas.


Seketika bayangan Sabrina Saab melesat dalam pikiran Deanna. “Tidak! Sayang, tidak ada gadis lain bagi Jaysen yang lebih baik selain dirimu.”


“Tapi saya bukan Eleanor…..”


“Itu hanya alasanmu saja kan? Pasti tadi ibumu yang sudah memaksamu sehingga kamu bicara seperti ini. Iyakan?”


Emily menghela napas berat disertai erangan putus asa. Dia benar-benar bingung bagaimana lagi caranya agar dia bisa keluar dari situasi yang semakin rumit ini? Bertahan di posisi ini jelas salah karena dia bukan Eleanor. Semirip apapun mereka, dia tetap bukan Eleanor. Lagipula dengan berada diposisi ini bisa dipastikan Emily akan kehilangan banyak hal.


Kebebasannya sebagai Emily Vionetta jelas akan hilang. Kehidupan tenangnya di New York, kekasihnya John, belum lagi kemarahan Naura yang mengira Emily menikmati semua fasilitas yang seharusnya menjadi milik Eleanor. Belum lagi kalau Jaysen nanti akhirnya mengetahui hal yang sebenarnya tentang siapa dia.


Bagaimana kelak reaksi pria itu apabila kelak mengetahui bahwa gadis yang bersamanya ternyata bukanlah Eleanor? Pasti Jaysen akan marah sekali. Memikirkannya saja sudah membuat Emily bergidik ngeri walau hanya sekedar memikirkan kemungkinan kemarahan Jaysen. Kalau sekedar marah, itu masih wajar namun bagaimana kalau Jaysen membencinya?


Lalu apa lagi yang bisa dia lakukan? Melirik handle pintu mobil, muncul pikiran gila dikepalanya. Pergi! Ya…dia harus pergi dan berusaha menemukan Eleanor. Entah kemana dia harus mencari, dia pun tidak tahu.


Gadis itu sama sekali tidak punya bayangan kemana saudara kembarnya itu pergi. Tapi setidaknya itu lebih baik bila dibandingkan tetap berada disini dan hanya menjadi sasaran kemarahan.


Emily melihat keluar jendela, dia tahu bahwa didepan dan dibelakang mobil yang dia tumpangi ada mobil lain yang mengawal mereka. Terdiam, didalam hatinya Emily berpikir dan menghitung jumlah dan kemungkinan yang ada.


Apakah dia benar-benar akan bisa kabur? Ponsel Deanna berbunyi bahkan sebelum dia melihatnya dia sudah tahu siapa yang menghubunginya.


Didalam hati perempuan paruh baya itu dia mengeluh entah sudah berapa kali orang itu meneleponnya, setiap lima menit sekali. “Iya Jaysen. Kami benar-benar sudah dalam perjalanan pulang. Paling dalam sepuluh menit lagi sudah sampai dirumah.” kata Deanna begitu menjawab panggilan telepon, dia bahkan tidak mengucapkan kata halo.

__ADS_1


Dia terdiam mendengarkan sahutan dari ujung sambungan telepon, Deana memijit ujung hidungnya. Dia terlihat pusing dan lelah dengan tingkah putra semata wayangnya.


“Ya Tuhan, Jaysen! Bukankah kamu juga sudah menerima laporan dari para pengawalmu soal keadaan kami? Jangan merecoki ibu terus-terusan dan membuatku pusing. Setidaknya biarkan ibu menenangkan calon istrimu dulu, oke?”


Entah apa sahutan yang Jaysen berikan yang jelas Deanna sampai harus menjauhkan ponsel dari telinganya. Dia lalu mengomeli putranya karena akhirnya dia pun kehilangan kesabaran juga.


“Sudah cukup! Ibu tahu kalau ibu salah. Ibu minta maaf karena sudah membawa calon istrimu keluar seharian. Tapi ibu sama sekali tidak tahu kalau hal seperti itu akan terjadi.”


“Memangnya darimana ibu bisa tahu kalau calon mertuamu itu akan datang lalu marah-marah seperti itu? Sekarang tutup dulu teleponnya dan tunggulah dengan tenang oke? Omong-omong apakah ayahmu sudah datang?” Deanna tersenyum mendengar jawaban Jaysen. Dia bisa membayangkan bagaimana kesalnya wajah Jaysen yang biasanya datar seperti tembok itu.


Namun senyuman diwajah Deanna mendadak lenyap diganti ekspresi pucat ketakutan. Ucapan Jaysen disambungan telepon pun tidak dihiraukannya. Sesaat wanita itu seolah membeku ditempat.


Detik berikutnya Deanna berteriak kaget melihat didepan matanya Emily sudah membuka pintu mobil yang tengah melaju kencang.


Bahkan tanpa rasa ragu sedikitpun gadis itu sudah berguling menjatuhkan diri keluar dari mobil.


“Eleanor!”


Seumur hidupnya tak pernah Jaysen merasa serisau ini. Lelaki itu sudah merasa gelisah sejak Deanna secara tiba-tiba datang siang tadi. Dan mendadak mengajak gadisnya pergi dengan dalih ingin berbelanja bersama.


Jaysen tahu bagaimana penilaian ibunya terhadap Eleanor. Meskipun tidak terlalu seperti Ruben ayahnya tapi Deanna juga tidak bisa dikatakan menyukai calon istrinya itu.


“Bagaimana kalau ibu bicara macam-macam?” gumamnya gusar sendiri. “Lalu, bagaimana kalau nanti Eleanor tersinggung dan marah lalu pergi meninggalkanku?”


Memikirkan perasaan orang lain seperti ini sebenarnya merupakan hal yang baru bagi Jaysen. Bisa dikatakan kalau dia jarang bahkan tidak pernah memperhatikan hal remeh semacam itu. Bagi Jaysen perasaan orang lain tidak pernah menjadi hal yang penting. Bukankah dengan uang semua bisa terselesaikan?

__ADS_1


Bahkan orang yang awalnya membenci atau menentangnya sekalipun mendadak bisa menurut kalau sudah disodori segepok uang. Jadi untuk apa dia harus repot-repot memikirkan bagaimana perasaan orang lain? Toh tidak ada gunanya. Iyakan?


__ADS_2