Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 66. TAKUT KEHILANGAN


__ADS_3

Ada kedamaian yang dirasakan Jaysen meskipun hanya sekejap saja saat dia membayangkan kehadiran gadis itu sampai kemudian, dengan terburu-buru dan bahkan tanpa mengetuk pintu, Argya masuk dan langsung melapor.


“Maaf saya mengganggu, Tuan Muda.” lapornya sesegera mungkin sebelum kemarahan Jaysen menginterupsi ketidaksopanannya.


“Ada laporan bahwa Nyonya Naura bertemu dengan Nona Eleanor di restoran.”


Deg!


Jaysen bergegas bangun, muncul rasa cemas sontak mengisi hatinya. “Tapi dia tidak membawa membawa Eleanor kan? Ibu ada disana kan? Lagipula bukankah ada beberapa pengawal tadi yang kuperintahkan agar kamu tempatkan disana untuk menjaga mereka?” cecar pria buta itu.


Entah sejak kapan ada rasa takut dalam hatinya kalau dia akan kehilangan Eleanor. Perasaannya seolah mengatakan kalau dia akan kehilangan gadis itu kapan saja. Itulah alasannya kenapa dia terus mengurung gadis itu didalam kediaman Wisesa. Sejak Eleanor datang gadis itu belum pernah sekalipun diijinkan pergi keluar rumah itu.


“Nyonya Naura tidak membawa Nona Eleanor pergi, tapi----” kata Argya tak menyelesaikan kalimatnya.


“Tapi apa?” tanya Jaysen dengan nada tinggi.


“Itu, eh---- Nyonya Naura menampar dan memaki-maki Nona Eleanor. Bahkan Nona sampai terjatuh karena didorong Nyonya Naura.”


Rahang Jaysen langsung mengetat dan suara kertak mengerikan sewaktu pinggiran nakas hancur seketika dalam genggaman tangannya.


Argya menarik napas dalam-dalam berusaha menyabarkan diri karena sekarang terlihat jelas aura gelap yang menguar sangat mengerikan.


“Bawa calon istriku pulang!” titahnya dengan suara mengeram. Bak srigala yang bersiap akan menerjang mangsanya Jaysen memberi perintah, “Bawa dia langsung pulang sekarang juga. Lalu hukum semua pengawal brengsek itu!”


“Mereka tidak becus melaksanakan tugas mereka! Perintahku jelas, lindungi calon istriku! Jaga dan awasi dia! Tapi apa yang terjadi sekarang? Masih ada yang bisa melukainya!”

__ADS_1


Prang! Prang! Prang!


Baik nakas, lampu meja dan semua yang ada dalam jangkauan lelaki buta itu beterbangan saat dibanting Jaysen. Argya tetap mempertahankan ketenangannya lalu menunduk hormat dan menjawab.


“Perintah anda sudah saya terima dan akan segera saya laksanakan Tuan Muda.”


Masih sayang dengan nyawanya, Argya segera berbalik pergi meninggalkan lelaki buta yang sekarang terlihat begitu mengerikan itu. Tidak ada sahutan apapun dari jaysen kecuali geraman mengerikan penuh emosinya.


Seumur hidupnya belum pernah Jaysen semarah ini. Dia tadi menelepon ibunya dan ibunya mengatakan kalau mereka sedang dalam perjalanan pulang. Tidak ada sepatah katapun tentang kejadian itu yang disampaikan ibunya saat ditelepon. Jaysen sangat marah, bagaimana bisa ibunya mendiamkan kejadian itu begitu saja?


Sementara itu ditempat lain, jantung Deanna nyaris melompat keluar. Dengan tubuh yang gemetaran, dia mempererat pelukannya yang melingkar diperut Emily sementara satu tangannya memegang kuat bingkai pintu mobil.


“Tenanglah sayang. Jangan bergerak dan meronta atau kita berdua akan jatuh bersama. Kamu mengerti kan?” bisik Deanna. 'Ya ampun. Itu tadi mengerikan sekali. Aku takut sekali!'


Sementara laju mobil perlahan melambat. Tadi itu nyaris saja Emily lompat dari mobil, dan itu bisa dipastikan akan berakibat fatal. Emily sudah membuka pintu mobil dan melompat keluar tanpa keraguan sedikitpun. Syukurlah Deanna masih sempat menangkapnya sebelum gadis itu benar-benar terjatuh.


Posisi Emily sedikit menindih dan keduanya terengah-engah namun Deanna masih belum melepas pelukannya.


Setidaknya sampai mobil benar-benar sudah berhenti dan sang supir langsung memburu memeriksa keadaan mereka berdua.


“Apa anda berdua baik-baik saja Nyonya? Nona?” tanya supir dengan wajah pucat pasi.


“Kami baik-baik saja. Bisakah berhenti sebentar? Lima menit saja rasanya aku butuh waktu untuk menenangkan jantungku.” jawab Deanna disela engah napasnya.


Supir mengangguk dengan tanggap dan menjawab, “Baiklah Nyonya. Saya akan menginformasikan ke mobil lainnya bahwa kita akan terlambat lima menit dari jadwal.”

__ADS_1


“Katakan saja kalau aku sedikit mual.” Deanna menambahkan. Kini hanya ada mereka berdua didalam mobil dengan kesunyian yang kembali hadir.


Namun baru satu menit berlalu ponsel Deanna kembali berdering membuat perempuan paruh baya itu mengeluh. “Oh ya Tuan! Apakah anak itu tidak bisa membiarkanku menarik napas dengan tenang sebentar saja?” desahnya, terlihat enggan untuk menjawab panggilan telepon. Belum lagi Deanna sanggup mengucapkan sepatah kata.


Seseorang dari ujung sambungan telepon rupanya sudah memberondongnya lebih dulu dengan begitu banyak pertanyaan beruntunt.


“Ya Tuhan. Jaysen! Apakah kamu tidak bisa menunggu lima detik saja agar ibu setidaknya bisa mengucapkan kata halo?” kata Deanna dengan kesal. Lalu entah apa balasan yang didengarkannya yang langsung membuat wajah perempuan itu pucat.


“Tidak ada apa-apa. Ibu hanya merasa sedikit mual saja makanya ibu minta agar berhenti dulu sebentar.” kata Deanna akhirnya memberi alasan. Ada sahutan lagi disambungan telepon dan kali ini Deanna bahkan harus menghela napas dalam-dalam beberapa kali. Sesekali dia melirik Emily dan sebelah tangannya tetap menggenggam tangan gadis itu.


Deanna masih merasa khawatir kalau Emily akan kembali berusaha kabur. “Iya iya dia ada disebelah ibu. Memangnya dia mau kemana lagi? Kenapa kamu menanyakan pertanyaan seperti itu Jaysen? Apa kamu mau bicara dengannya?” tanya Deanna seraya menatap Emily dengan tatapan serius diwajah cantik wanita paruh baya itu.


“Jaysen ingin bicara denganmu, sayang.” ujarnya sambil berbisik. Dia juga menjauhkan ponsel ditangannya seakan tidak ingin orang yang sedang berada disambungan telepon mendengar pembicaraan mereka. “Bersikaplah biasa dan apapun yang kamu katakan jangan pernah membhasa soal tindakan nekatmu tado. Paham?”


Meskipun merasa bingung, tapi Emily tetap mengangguk. Perlahan gadis itu mengambil ponsel yang disodorkan Deanna lalu mendekatkan ketelinga kanannya.


“Bicaralah Ele. Aku ingin mendengar suaramu.” terdengar suara tajam Jaysen membuat Emily sontak menggigit bibirnya.


“Jay,” bisik gadis itu dengan suara sedikit serak. “Ak---aku----”


Ada helaan napas panjang yang menyahutinya, lebih terdengar seperti sebuah kelegaan. “Cepatlah pulang. Aku menunggumu dirumah Ele. Cepat pulang ya?” ujar Jaysen lagi dengan suara lembut.


Emily mengangguk, dia lupa kalau Jaysen tidak bisa melihatnya. Emily membalas dengan nada tersendat. “Iya, Jay!”


“Berikan ponselnya kepada ibu lagi.” kata Jaysen dan kali ini suaranya tetap lembut. Emily pun menuruti perkataan Jaysen dan menyerahkan ponsel kepada Deanna yang tersenyum menerimanya. Pembicaraan Deanna dan Jaysen singkat saja setelahnya dan panggilan pun diakhiri.

__ADS_1


Namun Emily tahu bahwa dia belum sepenuhnya lolos dari pertanyaan. Dan benar saja, kali ini Deanna masih menggenggam kedua tangannya dan memandang wajah pucat gadis itu dengan tatapan serius.


"Nah, sayang. Ibu tidak tahu pikiran apa yang membuatmu sampai berpikir dan bertindak senekay tadi." ujarnya.


__ADS_2