Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 52. MULAI NYAMAN


__ADS_3

“Dia itu….kenapa sih? Aneh banget deh!” gumam Emily dihatinya sambil mengintip Jaysen dari balik buku yang dibacanya. Gadis itu bingung dengan perubahan sikap Jaysen yang mendadak.


“Apa kepalanya terbentur atau apa ya? Mungkin di kesambet malaikat kali ya? Aihhh aneh banget, aku jadi serba salah dengan sikapnya! Kenapa bisa tiba-tiba berubah begitu sih?” gerutunya sambil mengerucutkan bibirnya.


 


“Kalau ada yang mau kamu katakan jangan ngintip-ngintip begitu! Katakan saja! Aku nggak bakalan marah kok sama kamu, sayang.” ujar Jaysen tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan kertas didepannya. Membuat Emily nyaris menjatuhkan bukunya saking kagetnya.


 


Emily memasang wajah cemberut sambil menurunkan buku yang sedang dibacanya. Gadis itu lalu memasang sikap ketus untuk menutupi rasa malunya karena kedapatan mencuri pandang.


“Siapa yang bilang aku mau bicara denganmu? Nggak penting banget deh!”


 


“Kalau begitu, jangan memandangiku terus seperti itu.” ujar Jaysen seakan menatap tajam Emily.


“Ehhh sembarangan nuduh! Emangnya siapa yang memandangimu?”


Jaysen menghela napas lalu meletakkan tumpukan kertas ditangannya. “Sayang, kamu memang memegang buku tapi nggak membaca bukunya. Kamu sedang mengintipku dari balik buku itu, iyakan? Ayo ngaku saja deh!”


Kedua pipi Emily merona merah, entah bagaimana Jaysen bisa mengetahui apa yang dilakukannya selama satu jam ini.


‘Apa dia benar-benar buta atau hanya pura-pura buta? Mana mungkin orang buta bisa melihat? Apalagi kedua matanya ditutup dengan perban begitu?’ pikiran Emily dipenuhi dengan berbagai pertanyaan karena merasakan keanehan dari Jaysen.


 


“Aku memang nggak bisa melihat tapi bukan berarti aku nggak bisa merasakan,” ujar Jaysen seakan menjawab semua pertanyaan dikepala Emily yang berkecamuk.


“Bukan hanya aku saja, kurasa semua orang pasti akan menyadari kalau ada yang secara diam-diam memandangi mereka selama satu jam.”


 


“Maaf!” ucap Emily pelan sambil memainkan ujung-ujung jarinya. Sepasang mata abunya mengerjap saat dia melihat Jaysen mengulurkan tangan kearahnya.


“Kemarilah!” panggil lelaki buta itu tetap mengulurkan tangannya kearah Emily. “Ayo kemari! Kamu takut padaku? Mendekatlah kemari!”


 


Emily tidak bisa memahami dirinya sendiri yang selalu patuh pada Jaysen. Gadis itu juga terkejut saat tubuhnya otomatis bergerak mendekat dan menyambut uluran tangan Jaysen.


Kenapa dia selalu menuruti panggilan lelaki buta itu, ya? Gadis itu seolah selalu merespon dan mendekat setiap kali Jaysen memanggilnya.


 

__ADS_1


Emily sedikit menjerit saat lelaki itu langsung menariknya membuat Emily jatuh ke pangkuan Jaysen. “Apa-apaan sih Jay?” protes Emily. Dia mencoba mendorong Jaysen, berusaha menjauh dan berdiri namun seperti biasa, usahanya sia-sia. 


Sebelah tangan Jaysen sudah melingkari pinggangnya, sementara sebelah tangan lainnya mengelus-elus rambut dan pipi Emily membuat wajah gadis itu semakin memerah.


 


“Jay! Lepasin…..issss!” entah sudah berapa lama waktu yang dihabiskan Emily untuk berusaha melepaskan diri dari pelukan Jaysen, namun semuanya sia-sia saja.


Akhirnya dia pun menyandarkan kepala diatas pundak kiri Jaysen dengan napas terengah. Percuma saja dia berusaha melepaskan diri, yang ada dia membuang tenaga saja.


 


“Sudah capek?” tanya Jaysen dengan nada menyebalkan. “Atau masih mau berontak lagi? Hem?”


Emily tidak menjawab, dia memukul dada Jaysen yang malah membuat lelaki buta itu tertawa lepas.


“Kamu ini kenapa sih, Jay?” tanya Emilu dengan kepala tetap bersandar dibahu Jaysen, sementara lelaki buta itu mengelus-elus kepala dan punggungnya.


 


“Memangnya aku kenapa?” sahut Jaysen yang malah balik bertanya.


Emily menarik napas dalam-dalam, menikmati aroma tubuh Jaysen yang disukainya. Entah sejak kapan dia menyukai aroma tubuh lelaki buta itu, aroma segar dan beraroma pepohonan itu membuatnya nyaman. Napasnya perlahan menjadi teratur dan kedua mata abu itu pun terpejam perlahan.


 


Napasnya kian lama kian berat, baik sentuhan maupun hembusan napas gadis itu yang menerpa lehernya membuat sesuatu didalam diri lelaki itu menggeliat bangun.


 


Sentuhan Emily sampai dibagian dadanya. Seakan tanpa dosa tangan Emily malah menyelusup ke balik kancing kemeja dan turun menelususri gurat-gurat kotak perut Jaysen.


Lelaki buta itu harus mengepalkan tangan kuat-kuat, rahangnya menegang. Dia menarik napas berulang kali, lelaki buta itu mencoba untuk menahan gairahnya yang bergejolak.


 


“Sayang!” ujarnya dengan suara menggeram dan sedikit srak menahan tangan Emily agar tidak bergerak lebih jauh lagi. “Berhentilah sampai disitu atau aku nggak akan bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi. Yang didekat situ bahaya loh, sayang. Jangan kamu usik!”


 


Emily membuka mata dan mengangkat kepala memandang Jaysen merasa bingung dengan ucapan lelaki buta itu. Sampai kemudian dia mengalihkan pandangan dan menjerit kaget sewaktu melihat dimana posisi tangannya berada saat ini. “Aaaahhhhhh! Ma---maaf tidak sengaja.” gagapnya.


 


Didalam hati Emily merutuki dirinya sendiri. ”Aaahkkkk, aku benar-benar nggak sengaja Jay!” Emily dengan terbata-bata mencoba menjelaskan dia terlihat benar-benar bingung.

__ADS_1


Semakin lama menghabiskan waktu bersama Jaysen, entah mengapa membuat gadis itu semakin merasa nyaman dan semakin tidak mengenali dirinya sendiri.


 


Seperti yang baru saja terjadi. Kenapa itba-tiba dia meraba-raba tubuh Jaysen? Aku ini kenapa sih bisa jadi begini?’ keluhnya menggigit bibir kuat-kuat.


“Jangan gigit bibirmu.” sergah Jaysen langsung menyentuh wajah Emily dan membuat mereka saling berhadapan.


 


“Ap---apa?” Emily kembali merasa bingung bagaimana pria itu tahu apa yang sedang dia lakukan?


“Kamu kira aku nggak tahu ya? Lihat bibirmu sampai luka seperti ini.” sambungnya lagi mengusap bibir Emily dengan ibu jarinya membuat gadis itu mendesis nyeri karena bibirnya sedikit terluka.


 


“Sakit, Jay!” keluh Emily berusaha menyingkirkan tangan Jayse, tapi seperti biasa hasilnya sia-sia.


“Lepasin kenapa sih?” ujar Emily yang merasa agak kesal.


“Biar kulakukan.” Jaysen tak mempedulikan protes dari Emily dan tetap melanjutkan.


“Apa?”


“Menggigit bibirmu. Biar aku yang melakukannya, jangan menggigit bibirmu sendiri.”


 


Emily masih belum sempat mencerna ucapan Jaysen saat lelaki buta itu sudah menariknya membuat tubuh mereka menempel. Detik berikutnya, Emily merasakan ******* lembut dibibirnya. “Jay!” gumamnya lirih mulai menikmati sentuhan bibir lelaki buta itu.


 


“Aku suka bibirmu sayang,” bisik Jaysen ditelinga Emily seraya memeluknya lebih erat dan memperdalam ciumannya. “Balas ciumanku.” pintanya.


Namun gadis itu tidak menjawab, Emily hanya bergumam tidak jelas dan sebisanya dia mulai membalas ciuman Jaysen meski masih terasa kaku dan sedikit ragu.


 


Emily kembali menjerit saat lelaki buta itu mengangkat lalu memutar tubuhnya membuat gadis itu berbaring sementara Jaysen berada diatasnya dengan satu tangan menumpu.


Jantung Emily berdegup semakin kencang, jelas ada yang aneh dengan dirinya. Posisinya saat ini sangat berbahaya tapi bukannya memberontak, sebelah tangannya justru menyentuh dan menelusuri wajah Jaysen.


 


Gadis itu bisa melihat Jaysen yang menikmati sentuhannya. Lelaki buta itu mencium telapak tangan Emily berkali-kali bahkan sesekali mengulum dan menggigit jarinya.

__ADS_1


Dia tak peduli meskipun Emily berusaha menolak dan mendorongnya menjauh. “Jay!” desahnya merasa geli saat jari Jaysen menelusuri lehernya. “Ah!”


__ADS_2