Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 46. LELAKI BERBAHAYA


__ADS_3

Bukankah sebenarnya Jaysen ingin menghukum gadis itu atas pengkhianatan yang telah dilakukannya? Jaysen kembali duduk sambil meremas rambutnya merasa frustasi. Dia merasa bingung pada dirinya sendiri. Kenapa dia malah tidak sanggup untuk melakukan itu sekarang?


“Ruben suamiku,” Deanna kembali memanggil suaminya setelah dia melihat Jaysen sudah kembali tenang. “Kemarilah. Duduklah disampingku.”


 


Ruben hanya menggeram dan mendengus, dia masih dilingkupi oleh amarah.


“Sayang.” suara lembut dan manja istrinya memanggilnya namun Ruben menyadari adanya bahaya besar bila dia tidak mengikuti permintaan istrinya. Dengan mendengus keras lelaki asal Polandia itu lalu menghenyakkan diri disebelah Deana.


 


“Penampilan gadis itu memang berantakan tapi apa menurutmu Jaysen itu lugu sampai bisa digoda begitu saja?” Deana meraih satu tangan Ruben lalu meremasnya.


“Sayang, jangan melakukan kesalahan besar dengan berprasangka buruk pada seseorang hanya karena kamu membenci atau tidak menyukainya.” ujar Deana lagi menambahkan.


 


“Tapi Deana. Bukankah selama ini Eleanor memang seburuk itu? Dia memang seorang model dan ya harus diakui kalau dia memang cantik. Namun jangan lupakan betapa murahannya gadis itu. Lihat saja, bagaimana dia selalu berpakaian terbuka seolah dengan sengaja mempertontonkan tubuh. Tingkah laku seperti itu bukankah lebih mirip seperti pelacur yang---”


 


Deana menjerit kaget saat mendengar suara meja kaca diruang depan patah dan pecah. Suara derak yang mengerikan pun terdengar menggaung sementara pecahan kaca itu berhamburan kemana-mana.


Ruben segera menarik Deana kedalam pelukannya. Meskipun jarak mereka cukup jauh dan serpihan kaca tidak sampau mengenai mereka, tetapi lelaki bule itu secara reflek segera melindungi istrinya.


 


“Apa yang kamu laku---”


“Maaf, sepertinya meja ini sudah tua dan rapuh! Harus diganti dengan meja baru.” ujar Jaysen dengan entengnya sambil tersenyum sinis.


“Kualitas meja ini sangat buruk padahal harganya begitu mahal! Aku akan menggantinya dengan meja baru dengan kualitas yang jauh lebih bagus lagi! Ck!”


 


Semua orang yang ada diruangan itu langsung membeku ditempat. Nampak Jaysen yang sekarang sedang berdiri sambil mengibas-ngibaskan tangannya.


Terlihat jika tangannya terluka akibat pecahan kaca dan dia masih bersikap tenang seolah tak merasakan sedikitpun rasa sakit ditangannya. Luka tangannya lumayan besar dan berdarah.

__ADS_1


 


Dia tidak mempedulikan tangannya yang berdarah. Lengan Ruben yang memeluk Deana ikut bergetar melihat pemandangan didepan matanya. “Jay!” panggilnya dengan suara bergetar.


“Apa kamu baru saja menghancurkan meja itu?” pria paruh baya itu seakan tak percaya pada yang yang baru saja dilihatnya. Saat dia menatap putra semata wayangnya itu, ekspresi wajah Jaysen terlihat sangat tenang.


 


Jaysen tidak merespon dan hanya memberikan senyuman yang dingin dengan ekspresi wajah datar.


“Ayah,” ucapnya kembali duduk di sofa seolah tidak terjadi apa-apa. “Kalau ayah masih menentang pernikahanku dengan Eleanor maka sebaiknya ayah lupakan saja. Aku akan tetap menikahi Eleanor.”


“Jay----” Ruben tak melanjutkan ucapannya saat melihat Jaysen yang tampak marah.


 


“Lagipula bukankah Sabrina Saab tadi sudah melihat bagaimana penampilan kami sewaktu menemuinya? Lalu menurut ayah, bagaimana respon desainer terkenal itu kalau seandainya pernikahan ini gagal dilaksanakan? Saat ini mungkin dipikirannya sudah ada berbagai macam penilaian dan anggapan-anggapan, ya wajar jika dia berpikiran seperti itu! Lalu berita gagalnya pernikahan pun tersebar begitu cepat dan akan menjadi viral! Lalu pihak mana yang akan paling banyak dirugikan dengan pemberitaan itu?” Jaysen menjabarkan kemungkinan apa yang akan menimpa keluarga mereka.


 


“Kamu….”


“Berita tentang pewaris tunggal Keluarga Wisesa ternyata tidak lebih dari seorang pecundang brengsek yang suka meniduri putri orang lain! Setelah mengumumkan pernikahan, langsung dibatalkan begitu saja! Apakah itu terdengar sangat menyenangkan bagi ayah?” ujar Jaysen lagi.


 


Tidak ada sahutan baik dari Ruben maupun Deana, keduanya sama-sama terdiam mencerna perkataan putra mereka. Jika pernikahan ini batal dilaksanakan, keluarga merekalah yang paling berdampak. Nama baik keluarga besar mereka akan tercoreng, apakah mereka akan sanggup menghadapi sangsi sosial kelak?


 


“Meskipun ayah akan berusaha meredam gosip dan berita seperti itu dengan mengeluarkan uang yang banyak, tapi kesaksian seorang desainer terkenal kelas dunia seperti Sabrina Saab tentu tidak akan mudah untuk diatasi, bukan? Apalagi sekarang ini calon pengantinku yang cantik itu sedang fitting baju pengantin. Menurut ayah, kira-kira apa yang akan mereka lihat di tubuh calon istriku itu?”


 


“Kamu! Jadi kamu memang sengaja melakukan itu, Jaysen?” Ruben merasa geram hingga menunjuk putranya dengan jari telunjuk. Amarahnya tidak bisa dibendung lagi, ingin rasanya dia menghajar putranya itu habis-habisan.


Ruben tidak pernah terpikirkan jika putranya itu akan begitu liciknya. Dengan sengaja mempermainkannya dengan membuat skenario ini agar Ruben tak bisa melakukan apa-apa untuk menggagalkan pernikahan itu.


 

__ADS_1


Jaysen beranjak berdiri dengan senyuman di wajahnya, lalu dengan santainya dia menjawab, “Ayah, jangan bertanya dan aku tidak akan mengatakan kebohongan. Oh iya, aku hampir saja lupa, bukankah ibu juga tidak suka dengan kebohongan kan?” ucap Jaysen lalu menunduk sekilas sebagai ucapan bahwa dia undur diri.


 


Jaysen berlalu bersama Argya yang bergegas mengikutinya. Sementara itu, Deana dan Ruben serta beberapa pelayan yang ada disana masih dalam posisi berdiri dan diam. Bahkan setelah Jaysen pergi tak ada seorangpun yang berani untuk membuka mulut dan bicara.


 


Tidak ada yang sanggup bicara, mereka seolah membeku dalam keterkejutan. Terutama para pelayan yang berdiri dengan tubuh gemetar penuh ketakutan dan kengerian setelah melihat kemarahan Jaysen tadi.


Satu hal yang mereka catat di kepala mereka masing-masing, bahwa dibalik sikap dingin dan wajah datar yang nyaris tanpa ekspresi itu Jaysen adalah lelaki yang sangat mengerikan.


 


“Tuan Muda! Mohon tunggu.” Argya berjalan cepat untuk menyusul Jaysen. Dia bahkan sedikit berlari untuk mendahuli Jaysen dan langsung menghentikannya. Argya berdiri tepat dihadapan Jaysen. Dia sedikit nekat melakukan itu karena dia sudah tidak punya pilihan lain lagi.


 


“Maafkan saya Tuan Muda. Tapi mohon diobati dulu luka ditangan anda. Saya khawatir ada serpihan kaca yang masuk kalau tidak segera diobati takutnya nanti infeksi. Sedangkan Tuan Muda akan segera menikah.” ucap Argya menunjukkan kekhawatiran dan rasa kepeduliannya pada Jaysen.


“Bukan luka parah, tidak perlu dibesar-besarkan.” Jaysen menjawab dengan nada enteng.


 


Dengan santainya dia malah mengibas-ngibaskan tangannya sehingga membuat tetes darah terpercik mengenai permukaan dinding dan karpet.


“Maaf Tuan Muda, tapi----” ucapan Argya terpotong karena sudah Jaysen menyela duluan.


“Argya! Sejak kapan kamu menjadi cerewet begini, heh?”


“Maaf!”


 


Jaysen berdecak kesal lalu mengangkat tangannya hendak mengacak-acak rambut namun dia langsung merirgis merasakan nyeri saat luka ditangannya bersentuhan dengan rambut.


“Cih! Merepotkan saja!”


Jaysen terdiam sejenak sambil berpikir lalu dia berbalik dan mengambil arah jalan yang berbeda dari sebelumnya.

__ADS_1


 


“Tuan Muda, anda mau kemana?” tanya Argya kebingungan, dia sama sekali tidak mengerti apa maksud majikannya yang satu ini.


__ADS_2