
“Ada hal lain yang juga perlu ditangani oleh Tuan Muda.” lanjut Argya memahami keheranan Emily.
“Salah satunya mengenai pernikahan anda, nona! Tuan Muda berencana akan mempercepat pernikahan anda berdua!”
Emily pun langsung tersedak, dia batuk-batuk sampai Argya dengan sungkan menepuk-nepuk punggung gadis cantik itu.
“Apakah anda baik-baik saja nona?” Argya bertanya dengan ekspresi khawatir.
“Dipercepat?” tanya Emily mengeryitkan dahinya. ‘Apa-apaan pria itu? Kenapa dia malah mempercepat pernikahannya? Aissss……dasar gila! Dia tidak bisa ditebak sama sekali!’
“Eh iya benar nona.” jawab Argya dengan nada bicara yang sudah mulai tenang seolah tidak terpengaruh dengan ekspresi wajah Emily yang sudah memucat.
“Kenapa dia tiba-tiba memutuskan mempercepat pernikahan kami?” tanya Emily.
“Tuan Muda sendiri yang memutuskannya hari ini, nona! Untuk alasannya saya juga tidak tahu.”
“Iya tapi kenapa? Masa tidak tahu alasannya?” Emily terdengar tidak senang mendengar kabar itu.
“Sayangnya saya tidak terlalu paham tentang hal itu nona! Tuan Muda juga tidak mengatakan apa-apa pada tentang keputusannya.”
Emily menarik napas panjang. Dia berusaha keras untuk menenangkan dirinya. Terlihat jelas kalau gadis itu terlihat sangat syok, “La-----lalu, kapan rencana pernikahan itu akan dilakukan?”
Argya tersenyum dengan tenang dan menjawab, “Setahu saya, satu bulan lagi nona.”
“Apa? Sa---satu bulan lagi?” mata Emily melotot tak percaya akan kegilaan lelaki buta itu.
“Betul nona! Satu bulan lagi!” Argya mengangguk.
“Satu bulan?” Satu bulan lagi?” Emily kembali mengulang kata itu berulang-ulang.
__ADS_1
Sementara itu di kediaman Maleakhi. Naura Maleakhi menjerit kaget saat sebuah vas kristal dilemparkan suaminya kearahnya, vas itu jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping.
“Titus! Tenangkan dirimu! Jangan melempar barang-barang lagi.” seri perempuan itu dengan suara tersendat. Detik berikutnya dia kembali menjerit saat suaminya mencengkeram tangannya dengan erat sehingga dia kesakitan.
“Semua ini gara-gara ulahmu! Seharusnya kemarin kamu membawa pulang putrimu pulang! Bukan malah menamparnya dan memarahinya seperti itu! Lihatlah akibat ulahmu mereka malah memajukan tanggal pernikahannya semaunya tanpa memberitahu kita lebih dulu.”
“Bagaimana bisa aku membawanya?” protes Naura merasa tak senang disalahkan.
“Apa kamu tidak tahu? Meski tidak terlihat tapi para pengawal keluarga itu ada disekeliling Emily? Lagipula putrimu itu terlihat senang-senang saja hidupnya? Nyatanya dia bisa berbelanja dengan santai bersama calon ibu mertuanya.”
“Deanna Avshallom bukan ibu mertua Emily!” teriak Titus Maleakhi penuh amarah.
“Lalu apa bedanya? Toh dia juga tidak keberatan menggantikan posisi Eleanor!”
“Oh jadi begitu? Apa kamu juga berpikir hal yang sama sewaktu mereka menawarkan bantuan demi kebebasanku? Apa kamu sudah menjual putrimu sendiri? Aku bahkan tidak pernah menyetujui pernikahan ini tapi tiba-tiba semuanya sudah diatur atas persetujuanmu!”
“Jangan salahkan aku! Aku juga tidak punya pilihan lain! Bahkan para pengacara kita pun sudah menyerah untuk mendapatkan cara agar bisa membebaskanmu! Lalu apa yang harus kulakukan?”
“Jangan hanya menyalahkanku! Dan jangan berlagak kalau hanya kamu saja yang peduli dengan nasib Emily!” Naura Maleakhi mengamati tangannya yang gemetar.
“Tangan ini seharusnya memeluk dan melindunginya, bukan menamparnya. Tapi hatiku sakit sewaktu melihat betapa dia menikmati sentuhan lelaki iblis itu!” ujarnya meneteskan airmata.
“Hatiku juga sakit sewaktu melihat betapa dia menghabiskan waktu bersenang-senang bersama Deanna, dan dia bahkan memanggil perempuan itu dengan panggilan ibu. Menurutmu bagaimana perasaanku hah? Apa aku harus diam dan menahan diriku?” Naura menangis pilu.
“Empat belas tahun lalu aku terpaksa melepaskan putriku karena kondisi Maya yang depresi dan nyaris gila.” tangisan Naura semakin menjafi-jadi dan terdengar sangat memilukan hati.
“Selama empat belas tahun aku menahan diri dan membiarkan Maya merawat Emily karena dia nyaris gila setelah keguguran berulang kali. Aku berpura-pura tidak peduli padanya agar hatiku tidak sakit karena harus tinggal jauh darinya. Tapi apa? Saat kita datang kerumah lelaki iblis itu untuk meminta pengampunan atas kesalahan Eleanor, dengan mata kepalaku sendiri aku melihat putriku!”
“Dia tengah menikmati sentuhan yang diberikan lelaki iblis itu. Putri yang selama empat belas tahun tidak aku temui sedang bercinta dengan lelaki yang merupakan kekasih adik kembarnya sendiri. Lalu bagaimana menurutmu perasaanku?”
__ADS_1
Titus Maleakhi terdiam. Yang dikatakan istrinya adalah kejadian waktu mereka pertama kali mengetahui bahwa Emily berada dikediaman Wisesa.
“Dan sekarang dia malah memanggil perempuan lain sebagai ibunya. Ya Tuhan! Dimatanya aku pasti terlihat sebagai seorang ibu yang sangat buruk!” Naura jatuh terduduk diatas sofa menangis.
“Naura……”
“Apa orang-orang yang kamu kirim masih belum menemukan petunjuk soal keberadaan Eleanir? Apapun itu? Masih tidak ada sedikitpun informasi tentang Ele?”
Titus menggelengkan kepala lalu dia menundukkan kepala keatas pangkuan istrinya. Sementara Naura menghela napas putus asa.
“Oh ya Tuhan. Dimana sebenarnya Eleanor berada sekarang? Apa dia baik-baik saja? Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah pernikahan ini?”
Titus pun hanya bisa terdiam dan terlihat berpikir keras. Tampaknya ada yang sedang dipikirkannya dengan serius.
“Aku akan menemui Ruben Avshallom!” jawabnya.
”Apa?”
“Aku akan mencoba menjelaskan kepadanya bahwa orang yang sedang bersama dengan putranya itu adalah Emily, bukan Eleanor!”
“Apakah akan baik-baik saja kalau kamu pergi menemuinya? Titus, kamu tahu kan kalau lelaki itu sangat membenci keluarga kita karena perbuatan Eleanor pada putranya?”
Wajah Titus Maleakhi pun terlihat muram mendengar perkataan istrinya. Lelaki itu menyadari resiko yang akan dihadapinya. Malah, ada kemungkinan dia akan dihajar habis-habis sebelum dia bisa menemui pria keturunan Polandia itu.”
“Tapi sudah tidak ada pilihan lain. Selama Eleanor belum bisa ditemukan hanya ini cara terakhir kita untuk mencegah pernikahan itu terjadi.”
Naura meremas tangan suaminya, eskpresi wajahnya terlihat penuh kebimbangan. Apakah mereka bisa mencegah pernikahan yang salah ini? Apakah mereka akan bisa membebaskan Emilu dari kesalahpahaman yang menjadi alasan gadis itu terperangkap disana? Tapi apakah mungkin cara ini akan berhasil? Kalau gagal, apa yang akan terjadi selanjutnya?
Sementara itu dikediaman Jaysen, tampak pria itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya setelah lewat tengah malam. Meskipun kondisinya buta seperti ini tapi dia tidak betah kalau terus diam tanpa melakukan apa-apa. Memang semua urusan mengenai bisnis keluarga Wisesa dan Avshallom yang semula ditanganinya sudah dialihkan kebebrapa orang.
__ADS_1
Dia mengalihkan pekerjaan itu ke orang-orang kepercayaannya dan ditunjuk sebagai wakil secara langsung. Selain itu, ayahnya Ruben Avshallom juga ikut memantau dan mengawasi segalanya. Lelaki Polandia itu memutuskan tinggal di Indonesia untuk sementara waktu agar bisa membantu putra semata wayangnya. Dia juga tidak mau bisnis keluarga besarnya kacau.