Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 44. TAMPAK KUSUT


__ADS_3

Lalu dia memerintahkan orang yang berada dibalik pintu itu untuk segera masuk. Emily sudah duduk dengan tenang di sofa dan Jaysen duduk disebelahnya dengan wajah dingin dan datarnya. Pintu ruangan itu terbuka dan Argya terlihat mengangguk hormat pada Jaysen.


“Tuan, desainer sudah datang bersama asistennya. Semuanya sudah siap untuk fitting pakaian pengantin sekarang.” ujar Argya. Jaysen segera bangkit dan memegang tangan Emily untuk mengikutinya. Dengan patuh Emily hanya bisa mengikuti lelaki buta itu dalam diam.


...*********...


Sepasang pintu ganda yang terbuat dari kayu berukiran indah terbuka. Dibaliknya terhampar ruangan luas dengan tatanan dan dekorasi mewah khas keluarga Wisesa. Lantai marmer yang membentang begitu berkilau, nyaris bisa digunakan untuk berkaca. Lampu kristal yang menggantung tinggi di tengah ruangan terlihat sangat mengagumkan.


Di sebelah kanan dan kiri ruangan nyaris sepanjang ruangan berjejer banyak manekin yang memajang berbagai gaun pengantin dengan banyak model dan warna. Sedangkan di dekat pintu masuk berdiri tiga orang wanita dengan penampilan profesional. Mereka adalah para asisten Sabrina Saab.


Sabrina Saab melangkah masuk dan para asisten yang sudah menunggu serentak menunduk memberi hormat menyambutnya. Namun yang mereka herankan, setelah menunggu selama satu jam lebih dengan langkah cepat desainer cantik itu malah melewati mereka begitu saja. Tidak ada sapaan balasan seperti yang biasa dilakukannya.


Tidak hanya itu, ada seorang gadis berambut coklat madu yang tengah digandeng oleh Sabrina Saab sehingga mereka tidak bisa melihat dengan jelas wajah gadis itu. Meskipun begitu ketiga asisten pribadi Sabrina Saab diam-diam saling melirik karena mereka melihat penampilan sang gadis.


Gadis itu hanya memakai kemeja lelaki dengan rambut panjang yang terlihat kusut. Didalam hati mereka bertanya-tanya apakah itu gadis yang merupakan calon mempelai yang akan melakukan fitting gaun pengantin? Wajah ketiganya sontak memerah sewaktu memikirkan hal apa yang mungkin baru saja dilakukan gadis itu sampai berpenampilan sekusut itu.


‘Pasti dia baru saja bermesraan dengan calon suaminya,’ pikir asisten pertama yang nyaris kesulitan untuk mengedipkan matanya karena terkejut dengan penampilan Emily.


‘Ahhh, aku bahkan bisa melihat ada bercak merah dilehernya,’ wajah asisten kedua semakin memerah sewaktu dia memikirkan sesuatu. ‘Bercak merah itu tersebar dibagian tubuh yang mana lagi?’

__ADS_1


‘Sampai memakai kemeja lelaki seperti itu datang kesini untuk fitting gaun pengantin,’ batin asisten ketiga yang mendadak merasa panas sendiri. ‘ Kira-kira apa yang terjadi dengan bajunya ya? Wah...wah…..pasti calon suaminya ganas sekali sampai-sampai dia tidak sempat berpakaian dan hanya memakai kemeja pria saja.’


“Hei, kalian semua! Maaf karena sudah mengganggu fantasi liar kalian.” Sabrina menepuk tangannya membuyarkan pikiran ketiga asistennya. Dia membuka sebuah pintu yang ada di ujung ruangan dan segera mendorong Emily untuk masuk kesana. “Sepertinya kalian masih harus menunggu. Beri kami waktu beberapa menit, oke?” sambungnya dengan senyuman memikat.


Sabrian segera menutup pintu dan dia sama sekali tidak memberikan kesempatan pada ketiga orang asistennya untuk sekedar bertanya. Didalam ruangan itu Sabrian bicara pada Emily, “Pergilah kesana dan cucilah wajahmu dulu.” dia menyibakkan rambutnya lalu menunjuk kearah pintu lain yang menuju ke kamar mandi.


“Setidaknya kamu bisa menyegarkan diri sedikit sementara aku akan mencarikan baju ganti untukmu. Tidak mungkin kamu berpenampilan seperti ini terus.” ucapnya. Tak butuh waktu lama setelah dia bicara, barulah Sabrina menyadari tidak ada sahutan yang terdengar. Gadis yang digandengnya tadi itu diam seperti patung.


“Cepat, basuh wajahmu dan segarkan dirimu dulu disana. Jangan terlalu lama, aku tidak sabar ingin segera memulai fitting baju pengantinmu.” ujar Sabrina lagi sambil tersenyum.


Emily mengerjapkan matanya memandang wanita cantik yang sedang bersamanya itu. Sikap Sabrina terlihat santai sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan atau rasa tersinggung.


Suara high heelsnya terdengar berirama bagaikan lantunan nada-nada berirama sewaktu dia menghentak lantai marmer. Namun baru beberapa langkah, ada suara lirih yang tertangkap oleh telinganya. “Terima kasih…..”


Lalu dia menghentikan langkahnya, Sabrina menoleh dan tersenyum. “Aku memberimu waktu hanya lima menit sayang. Jadi bergegaslah menyegarkan dirimu oke?”


Emily sekali lagi mengangguk lalu masuk ke kamar mandi. Tidak berselang lama, gadis itu pun mendengar suara pintu yang ditutup. Sabrina sudah meninggalkan ruangan itu.


Sepeninggal Sabrina, Emily terdiam beberapa saat. Dia menghela napas panjang beberapa kali, gadis cantik bermata abu itu mencoba menenangkan duru dan mengurangi rasa sesak didalam dadanya tapi tidak berhasil juga. “Apa yang harus kulakukan sekarang? Kenapa aku sampai melakukan kesalahan bodoh sebesar itu?”

__ADS_1


Gadis itu mendongak menatap pantulan dirinya di cermin yang berada di wastafel. Apakah yang sedang dipandangnya ini adalah dirinya? Sepasang mata berwarna abu yang biasanya terlihat cemerlang kini nampak sayu dan muram. Ada rona pucat dan juga kuyu di wajah yang cantik itu. Rambutnya pun yang tadinya tergerai indah, sekarang terlihat kusut masai.


Bisa dikatakan, saat ini penampilan Emily sama sekali bukan dirinya. Gadis itu seolah nyaris tidak mengenali dirinya sendiri. Entah kemana hilangnya semua pesona yang selama ini dimiliki oleh gadis itu. Emily mengerjapkan kedua matanya saat melihat ada banyak tanda merah disekujur lehernya yang membuat gadis itu mengalihkan pandangan.


Tanpa bisa menahan dirinya lagi, Emily pun menangis. “Kenapa? Kenapa aku sampai sebodoh ini?”


Dia merasa jijik pada dirinya sendiri yang sangat mudah terperdaya dan takluk pada lelaki iblis itu. Kenapa dia bisa terjerumus kedalam sebuah kebodohan sebesar ini? Dia bahkan sudah melupakan kekasihnya John.


Dia memegangi dadanya yang terasa sesak dan sakit bagaikan ditusuk sembilu saat dia teringat pada kekasihnya itu. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi John apabila sampai mengetahui bahwa Emily sudah disentuh oleh pria lain? Dia kembali terisak meratapi nasibnya yang sial setelah pulang ke Indonesia.


“Aku bahkan menikmati setiap sentuhannya?” bisiknya tak percaya, teringat bahwa dia bahkan mendambakan semua sentuhan Jaysen. Tubuh Emily semakin gemetar, sepasang mata berwarna abu itu menatap nanar bayangan dirinya yang terpantul di cermin wastafel.


Emily seolah mendengar ada banyak suara yang berteriak padanya, membuat gadis itu bahkan memejamkan matanya sambil menutupi kedua telinganya dengan kedua tangannya.


“Dasar gadis jalan!”


“Gadis murahan! Pria itu kekasih Eleanor!”


“Penggoda! Pengkhianat! Kau bahkan mau merebut pria itu dari Eleanor!”

__ADS_1


“Nggak!” teriaknya entah kepada siapa. “Aku bukan gadis ******! Aku juga bukan gadis murahan! Aku bukan seorang pengkhianat! Aku tidak menginginkan semua ini!”


__ADS_2