
“Silahkan tehnya Nyonya.” seorang pelayan menunagkan segelas teh baru untuk Deanna. Sementara itu beberapa pelayan lain terlihat hilir mudik menata beberapa makanan ringan dan cemilan manis diatas meja.
Biasanya Deanna tidak pernah meminta untuk disiapkan makanan pendamping seperti itu tapi kali ini berbeda karena ada dua orang yang sekarang menemaninya minum teh.
Sebenarnya kedatangannya hanya untuk menemui salah satu dari dua orang itu.
“Selamat menikmati nyonya.” ujar salah satu pelayan sambil menunduk kearah tiga orang itu yang duduk dengan diam.
Sementara dibelakangnya sisa pelayan lain pun turut menunduk memberi hormat. Mereka semua undur diri karena Deanna memberikan kode dengan tangannya pada pelayan.
Saat ini ada suasana mencekam yang meiputi ruang depan kediaman Wisesa. “Jadi, bagaimana kabarmu?” tanya Deanna menatap kedua orang didepannya itu.
“Seperti yang ibu lihat. Kabarku baik-baik saja.” jawab Jaysen.
“Sayang sekali Jay, aku tidak bertanya padamu.” ujar Deanna menyesap tehnya perlahan lalu meletakkan cangkirnya dengan gerakan anggun.
Sementara Jaysen duduk diam dengan rahang menegang, dia terlihat sebal dengan sikap ibunya itu.
“Biar kuulangi pertanyaanku.” kata Deanna kali ini dia menoleh kearah gadis yang seolah mengkerut duduk disebelah putranya. “Bagaimana kabarmu?”
Emily menelan ludahnya dengan tangan saling meremas gadis itu terlihat seperti panik dan cemas.
“Ka---kabar saya----”
“Kabarnya baik, bu.” ujar Jaysen memotong Emily. Sebelah tangan lelaki buta itu diletakkan diatas lutut dengan posisi menengadah, meminta agar Emily menyambut dan menggenggam tangannya. Tadi sewaktu mereka sedang berduaan di dalam perpustakaan, Argya mengetuk pintu untuk memberitahukan tentang kedatangan Deanna.
Ibu kandung Jaysen itu ingin menemui Emily dan sudah menunggunya diruang tamu. Emily sempat terkejut karena harus menemui Deanna, tapi tentu saja Jaysen tidak akan pernah membiarkannya pergi seorang diri.
Lelaki itu memaksa ikut menemani Emily ke ruang depan untuk menemui ibunya. Perlahan Emily mengangkat tangannya dan menyambut genggaman tangan Jaysen.
Didalam hatinya dia merasa lega karena ada lelaki itu disana menemaninya. Ada seringai yang muncul diwajah tampan Jaysen sewaktu tangan gadis itu sudah berada dalam genggamannya.
Sesaat dia meremas tangan Emily yang terasa dingin, membuat sepasang alis lelaki buta itu bertaut. Jaysen tahu bahwa tangan Emily sampai dingin seperti itu karena gugup.
__ADS_1
Meskipun gadis itu tetap bersikap tenang sekalipun, tapi sebenarnya Emily merasa sangat gelisah. Kenapa Deanna tiba-tiba mau menemuinya?
“Jaysen kebiasaan memotong pembicaraan, Jaysen! Ibu bertanya pada calon istrimu bukan padamu!” tegur Deanna menatap tajam Jaysen.
Jaysen mencium tangan Emily yang digenggamnya dengan santainya dia menjawab, “Memang apa bedanya bu? Toh jawabannya juga bakalan sama saja? Jadi nggak masalah kan kalau aku yang menjawabnya? Benar kan bu?”
Dahi Deanna sedikit berkerut tapi perempuan itu tidak mengatakan apapun, dia menghela napas berat.
“Oh ayolah. Sadarlah Deanna! Putramu itu memang begitu kan? Sikapnya dari dulu memang menyebalkan?’ bisiknya berkeluh kesah. Perempuan paruh baya itu memijit pelan pelipisnya, dia mendadak merasa pusing. Tingkah putranya itu selalu membuat kepalanya pusing.
Sedangkan Jaysen malah mendengus, “Bu, lain kali kalau menggerutu tolong pastikan orang yang bersangkutan tidak sampai mendengar gerutuan ibu.”
Emily tak sanggup untuk menahan tawa geli, dia pun tertawa pelan. Ucapan Jaysen barusan sama persis seperti yang diucapkan padanya diruang perpustakaan tadi. Mendengar tawa lirih Emily membuat Jaysen tersenyum. Lelaki itu mencium lagi tangan Emily yang masih digenggamnya, dan kali ini giliran Deanna yang merasa heran.
Perempuan itu sampai menepuk-nepuk sebelah pipinya seolah tidak yakin apakah dia sedang berkhayal atau tidak. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan kalau apa yang dilihatnya itu nyata bukan halusinasinya.
“Lalu kenapa ibu datang kesini hari ini? Ada urusan apa bu?” tanya Jaysen memasang wajah acuh tak acuh yang membuat Deanna mengerjap dan segera menyadarkan diri.
Jaysen yang ditanya pun tidak langsung menjawab. Dia malah meraba meja lalu terlihat dia hendak mengambil cangkir tehnya.
“Biar kuambilkan Jay.” sahut Emily lalu mengambil cangkir teh dan memberikan pada Jaysen. “Ini.” ujarnya membantu lelaki itu memgang cangkir tehnya sendiri.
“Kukira kamu mau membantuku minum sekalian.”
“Hah?” Emily mengerjap. Sepertinya tadi dia mendengar gumaman Jaysen tapi mungkin juga tidak.
Sementara itu Deanna tersedak tehnya melihat hal seperti itu didepannya, dia seolah melihat lakonan drama yang sedang berlangsung.
“Iya dan tidak.” jawab Emily.
“Apa?”
__ADS_1
“Jawabanku atas pertanyaan ibu tadi.”
Deanna memijat kembali pelipisnya. Dia mendapatkan jawaban yang jelas dari seorang Jaysen baginya seperti sesuatu yang terlalu berlebihan karena kebiasaan Jaysen yang enggan menjawab pertanyaan.
“Jaysen, apa maksudnya itu? Ibu tidak mengerti--”
“Memangnya ibu harus punya alasan kalau ingin datang kesini?” Jaysen mengulangi pertanyaanibunya. “Maka jawabannya adalah iya. Lalu ibu bertanya lagi.
‘Memangnya ibu tidak boleh mengunjungimu begitu saja? Maka jawabannya adalah tidak. Hal sesimpel itu saja masa ibu tidak paham sih?”
Seolah tanpa memiliki dosa, Jaysen malah bersandar dengan santainya lalu menarik Emily kedalam pelukannya lalu mengecup sekilas puncak kepala gadis itu. Dia tidak peduli dengan ekspresi syok yang muncul diwajah ibunya.
“Maaf.” kata Emily cepat-cepat saat dia menyadari reaksi Deanna. Lalu Emily menoleh dan berbisik pada Jaysen, “Jay, jangan bicara seperti itu dong pada ibu.”
Jaysen menaikkan sebelah alisnya, “Memangnya kenapa?”
“Memangnya kenapa katamu? Nggak sopan tahu? Dia itu ibumu, setidaknya berlakulah sedikit sopan padanya. Kamu tidak boleh memperlakukan semua orang sama, bersikap sopanlah pada orang tua dan orang yang lebih tua darimu.”
“Memangnya aku tadi nggak sopan? Nggak sopan dimananya?” tanya Jaysen lagi sambil berbisik.
“Apa kamu selalu bicara seperti itu dengan ibumu?” tanya Emily lagi.
“Iya. Kenapa?”
Emily memukul dahi Jaysen, dia tidak bisa menahan dirinya lagi yang merasa putus asa. Dengan perasaan tidak enak hati, Emily menatap Deanna.
“Sekarang lakukan apa yang kuminta padamu Jay! Minta maaf pada ibumu sekarang.” bisik Emily.
“Kenapa aku harus meminta maaf padanya?”
Emily berusaha menahan diri agar tidak meneriaki lelaki buta yang membuatnya kesal dan putus asa itu. Emily menarik napas dalam-dalam lalu menahannya sebentar dan menghembuskannya perlahan.
“Lakukan saja. Atau jangan pernah menyentuhku lagi!” ancam Emily. Dia berdesis dengan penuh emosi lalu dengan cepat menarik tangannya yang sejak tadi digenggam Jaysen. Tidak cukup sampai disitu saja, Emily bahkan menggeser duduknya menjauh sehingga ada jarak dengan Jaysen. Dia ingin menunjukkan pada lelaki buat itu bahwa dia tidak bisa mentolerirnya.
__ADS_1
.