
“Ucapanmu yang mana Jay?” tanyanya merasa belum berhasil menemukan ingatan yang dimaksud. “Ucapanamu yang mana? Aku tidak ingat.”
“Terserah kamu itu siapa, aku nggak peduli. Yang jelas aku menginginkanmu, hanya kamu seorang!”
DEG
Emily terhenyak membeku ditempat. Sekarang dia ingat kalau Jaysen memang ada mengatakan itu. Lelaki buta itu mengatakan hal tersebut sewaktu mereka bercumbu di perpustakaan.
Memang belum terlalu lama sejak Jaysen mengatakan itu pada Emily, tapi kejadian di ruang perpustakaan waktu itu sangat menyita perhatian Emily sehingga ada banyak hal yang tidak dia ingat.
Emily lalu berpikir lebih keras lagi, mencoba mengingat jawaban apa yang dia berikan pada waktu itu. Lalu seolah bisa menebak isi pikirannya, Jaysen sudah kembali bersuara.
“Kamu menyetujuinya!” ujarnya. Sebelah tangan Jaysen menggenggam tangan Emily dan lelaki buta itu bisa merasakan betapa dinginnya tangan yang ada dalam genggamannya itu.
“Kamu menyetujuinya Ele! Jadi jangan pernah coba-coba untuk menyangkal atau mengingkari karena aku nggak akan pernah membiarkanmu melakukannya.” ujar Jaysen penuh penegasan.
“Jay! Aku-----”
John, dia memiliki John kekasihnya yang masih menunggunya di New York. Sambil meremas gaunnya, Emily mencoba untuk mengatakan hal yang sama pada dirinya berkali-kali. Dia harus mengatakannya. Dia harus memberi tahu Jaysen bahwa dia sudah memiliki kekasih dan bahwa dia mencintai kekasihnya itu.
Emily tahu, bahwa mungkin tidak akan ada kesempatan bagus lagi untuk mengatakan yang sebenarnya pada Jaysen. Namun sebelum gadis itu sanggup bicara, Jaysen tiba-tiba menunduk dan meletakkan kepalanya diatas pangkuan Emily membuat gadis itu terperanjat.
“Jay! Jaysen kamu kenapa?” tanyanya panik segera mengusap dahi Jaysen.
“Kepalaku sedikit pusing.” keluh Jaysen, dia semakin menenggelamkan kepalanya di pangkuan Emily seolah mencari posisi yang paling nyaman.
“Bagaimana kalau aku panggil dokter saja? Lukamu sudah selesai ku perban. Tapi---”
“Makanya jangan pergi. Tetaplah disini bersamaku, sayang.”
“Apa?” Emily mengerjapkan matanya tak percaya pada apa yang didengarnya.
“Jangan pergi dariku. Jangan tinggalkan aku sendirian, tetaplah disini bersamaku.” ujarnya lalu sebelah tangan Jaysen melingkari pinggang Emily sementara kepalanya tetap berada diatas pangkuan gadis itu.
Apa dia tertidur? Emily mengerjapkan matanya masih belum paham maksud ucapan Jaysen barusan.
__ADS_1
Gadis itu juga bingung dengan segala tingkah laku Jaysen. “Jay?” bisiknya mengusap lembut surai berwarna hitam itu. “Kamu tidur?”
Hanya terdengar suara seruan kecil yang membuat Emily menoleh. Gadis itu tidak menyangka kalau Sabrian Saab sudah ada didalam ruangan sementara ketiga asistennya baru saja datang.
Dengan tangan bersilang dan berdecak, Sabrina sedikit sebal dengan ketiga asistennya yang begitu berisik sewaktu masuk. Membuat desainer itu tidak bisa lagi menikmati pemandangan didepannya.
“Apa kalian tidak bisa bersikap lebih tenang sedikit?” gerutu Sabrina. “Padahal sedang mesra-mesranya.”
Namun sayangnya tak ada satupun dari ketiga asistennya yang menghiraukan ucapan desainer itu. Ketiga perempuan itu belum menikah dan melihat seorang lelaki tampan yang sedang bertelanjang dada dengan tubuh tegap serta atletis, tentunya sebuah pemandangan yang tidak bisa mereka lewatkan begitu saja.
“Ya Tuhan! Lihatlah betapa proporsionalnya tubuh itu.” bisik asisten pertama dengan mata takjub.
“Otot-ototnya juga menjanjikan! Terlihat begitu keras dan terbentuk!” asisten kedua mendesah.
“Six packnya….ini pertama kalinya aku melihat perut six pack seseksi itu.
“Lihatlah tato di pundak kirinya itu! Macho sekali!” asisten ketiga bahkan nyaris berliur.
“Argya! Tolong pinjamkan jas anda.” ujar Emily dengan nada tegas membuyarkan fantasi ketiga orang perempuan itu. “Sekalian tolong ambilkan baju untuk calon suamiku ini.”
“Jay! Ayo bangun. Jangan tidur disini, sekarang pakai dulu jasnya untuk sementara.” dengan tega Emily mendorong bahu Jaysen memaksa lelaki itu berdiri dan memandang ketiga asisten yang sekarang berdiri diam.
“Kalian bertiga! Tolong bantu saya berganti pakaian! Saya kira acara fitting gaun pengantin cukup sampai disini saja untuk hari ini. Kita bisa lanjutkan besok lagi.” ujar Emily menoleh pada Sabrina. Masih ada banyak gaun yang berderet yang belum dia coba, tapi gadis itu sudah ingin segera pergi dari tempat itu.
Sabrian Saab hanya tersenyum lalu mengangguk. Sepasanga mata biru desainer itu berbinar memandang sosok tegas Emily. Jelas sudah kalau perempuan cantik itu menyukai calin mempelai yang menjadi kliennya kali ini.
“Ladies!” sambil menepukkan tangan, Sabrina Saab memberi perintah untuk ketiga asistennya. “Seperti yang kalian dengar, cepat bantu calon mempelai kita berganti pakaian.”
Ketiga asisten itupun mengangguk lalu berjalan mengikuti Emily masuk ke kamar ganti. Meninggalkan Argya yang salah tingkah. Sedangkan Sabrina Saab tersenyum penuh arti dan Jaysen yang menggerutu karena dipaksa bangun begitu saja.
__ADS_1
“Ck! Sial!” keluhnya memijat kepala yang sekarang benar-benar terasa pusing. “Argg! Sialan!”
“Tidak akan mudah!”
“Apa?”
Sabrina tersenyum mengerling memandang lawan bicaranya. Saat ini Jaysen sedang duduk di sofa diseberangnya. Lelaki buta itu memakai jas mahal milik Argta dengan terpaksa. Sementara si pengawal pribadi sudah bergegas pergi mengambilkan pakaian untuk Jaysen.
“Apa maksud anda berkata begitu?” tanya Jaysen. “Kalau yang anda maksud adalah soal gaun itu, maka jangan khawatirkan itu. Saya akan menggantinya.” kata Jaysen serius.
Suara tawa merdu Sabrian Saab terdengar membuat dahi Emir mengerut.
“Apakah sesulit itu?”
“Ya!”
“Apakah sesulit itu unutk menghilangkan noda darahnya? Ele—maksud saya, calon istriku sepertinya sangat menyukainya.” ujar Jaysen dengan serius.
Lagi-lagi suara tawa merdu Sabrina yang terdengar yang membuat kerutan didahi Jaysen semakin dalam. Dia tidak mengerti mengapa desainer itu hanya tertawa saja merespon perkataannya.
“Oh, maafkan saya. Sepertinya Tuan Muda Jaysen masih belum memamhami hal apa yang saya maksudkan ya?” ujar Sabrina diantara kekehan tawanya.
“Soal noda darah itu bukan satu-satunya masalah Tuan Muda.” Sabrina berhenti tertawa dengan suara tenang dan merdunya menjelaskan.
“Memang akan sulit untuk membersihkan noda darah dengan sempurna. Tapi tentu saja masih bisa diakali. Tenang saja, saya dan ketiga asisten saya masih cukup terampil untuk bisa mengatasi masalah seperti ini.” ujarnya sambil menyilangkan kaki seolah tidak berminat untuk berbicara lebih lanjut.
Sambil menggertakkan rahangnya dengan tak sabar Jaysen berkata dengan nada memerintah, “Kalau begitu jelaskan sekarang!”
“Wah, memangnya apa keuntungan saya kalau saya menjelaskannya pada anda?” sahut Sabrina membuat Jaysen semakin kesal.
“Tapi bukankah tadi kata anda----”
__ADS_1
“Iya, tadi saya memang berkata-kata tapi memangnya kenapa? Toh tidak ada untungnya juga bagi saya jika menjelaskan dan tidak ada juga hubungannya dengan saya.”
“Kalau memang tidak berniat memberikan penjelasan, seharusnya dari awal anda diam saja dan tidak perlu membuat orang lain menjadi penasaran.” Jaysen memalingkan wajahnya dna menyergah napas kasar berniat untuk tidak lagi menanggapi desainer itu.