Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 55. BUANG SAJA


__ADS_3

“Heh? Kenapa kamu ambil?” tanya Emily tapi terlambat dia menyadari karena kini lehernya sudah kosong. Kalung liontin bulan sabit yang tadi dia kenakan sekarang sudah berpindah ke tangan Jaysen. “Jay! Kembalikan kalungku!” serunya berusaha merebut kembali kalung artemisnya. “Jaysen!”


 


“Tidak! Sudah kukatakan tadi kan? Aku paling nggak suka kalau kamu memakai pemberian orang lain.” ujar Jaysen menjauhkan tangannya dan memasukkan kalung itu kesalah satu saku dicelananya tanpa sepengetahuan Emily.


Emily mengerang kesal, lelaki buta didepannya ini benar-benar memiliki tingkat egoisme yang sangat tinggi.


 


Emily merasa putus asa tanpa dia bisa menahan lagi akhirnya Emily menangis.


“Sayang? Kamu…...kenapa menangis?” Jaysen terlihat tegang sementara bahu Emily sudah bergetar menahan isakan dan kesedihannya. Wajah tampan yang selalu datar tanpa emosi itu sekarang terlihat khawatir.


“Jangan menangis. Ayolah…..ini kan hanya kalung murahan? Aku bisa membelikanmu kalung yang harganya sepuluh bahkan seratus kali lipat lebih mahal!”


 


Emily tidak merespon dan terus menangis sambil menghapus airmatanya lalu dia mendorong Jaysen dengan kuat dan dia turun dari pangkuan lelaki buta itu. Gadis itu merasakan kembali dadanya sesak, berada dirumah ini dia sama sekali tidak memiliki kebebasan. Malah sejak dia diculik dan dibawa paksa kesini, Emily belum pernah sekalipun keluar rumah atau diijinkan menghubungi keluarganya.


 


Bisa dikatakan jika Jaysen benar-benar mengurungnya dengan sempurna didalam sangkar emasnya. Oleh sebab itu, saat pertemuannya dengan Sabrina Saab benar-benar memberikan angin segar bagi Emily.


Dia akhirnya bisa merasakan sedikit kelegaan karena bisa berinteraksi dengan orang lain. Apalagi sewaktu dia menerima kiriman kalung dari desainer itu, bagi Emily itu adalah pemberian yang sangat bermakna sekali.


 


“Dasar egois! Sikapnya selalu seenaknya mau menang sendiri. Nggak pernah mau mendengarkan ucapan orang lain. Suka marah-marah nggak jelas tanpa alasan! Licik!” gerutunya dengan wajah mencebik dan Emily kembali menangis lagi.


“Sayang, kalau kamu ingin membicarakan orang lain, pastikan orang itu nggak mendengarkan.” sahut Jaysen yang mendengar semua keluhan Emily dengan jelas.


 


“Memangnya siapa yang membicarakanmu? Kok situ yang merasa?”


“Lalu siapa lagi yang sedang kamu omeli dari tadi kalau bukan aku? Memangnya ada orang lain?”


“Oh jadi kamu merasa ya? Kege-eran ya?”


Jaysen tak mengira kalau ucapannya akan berbalik pada dirinya sendiri. Dia mengacak-acak rambutnya dengan kesal Jaysen menggenggam erat kalung yang jadi pemicu masalah itu.


 


Sambil menghela napasnya, Jaysen mendekat dan langsung memeluk Emily dari belakang. “Kamu sangat menyukai kalung ini ya?” bisik Jaysen menundukkan kepalanya dan meletakkan diatas bahu kiri Emily. Gadis itu mengangguk, membuatnya menghela napas berat lagi.

__ADS_1


 


“Bagaimana kalau kubuatkan yang baru yang sama persis seperti ini? Kamu mau kan?”


Kali ini Emily menggeleng dan ada kerutan didahi Jaysen. “Kenapa? Toh sama saja kan? Model kalungnya akan sama persis. Nanti akan kupesankan liontin berlian agar terlihat lebih indah dan mewah. Nggak seperti liontin ini hanya dihiasi swarovski saja. Itu kan murah sayang!”


 


Tidak ada reaksi dari Emily, sekarang Jaysen yang tambah kebingungan menghadapi gadis itu.


“Aku memang nggak bisa melihat bagaimana bentuk asli liontin bulan sabit ini tapi dengan menyentuhnya saja aku bisa menebak kalau ini pasti bukan berlian. Bukankah kamu sangat menyukai sesuatu yang indah dan mewah, sayang? Jadi nggak ada masalah kan? Kalai kalung ini dibuang saja?”


 


Emily masih terdiam lalu melepaskan pelukan Jaysen dan berjalan kearah pintu perpustakaan. Namun baru beberapa langkah saja, gadis itu pun berhenti dan berkata. “Buang saja.” ujarnya lirih.


“Tapi jangan pernah bicara lagi denganku kalau kamu benar-benar membuang kalung itu.”


“Apa?”


“Bahkan sebuah barang sekalipun nggak hanya dinilai dari harganya tapi juga dari siapa yang memberikan barang itu dan ketulusan dari yang memberinya.”


 


Tidak ada sahutan, terlihat kalau Jaysen sekarang seolah sedang berpikir keras. Hal semacam itu sangat konyol sekali bukan? Bukankah semua yang ada didunia ini selalu dinilai dari label harganya?


 


“Jangan bodoh! Sejak kapan kaca menjadi lebih berharga dari berlian?”


“Bisa saj! Semuanya tergantung dari siapa yang memberikannya, Jay! Tergantung niat orang yang memberikannya. Buat apa aku menerima seuntai kalung berlian kalau dengan pemberian itu aku hanya dianggap sebagai barang hiasan yang bisa dipamerkan?”


 


“Sayang, aku nggak bermaks----”


“Kalau begitu kembalikan kalungku! Itu milikku dan diberikan khusus untukku!”


“Apa?” Jaysen terkejut dan mengeryitkan dahinya.


“Kamu dengar kan apa yang kukatakan? Itu punyaku dan kamu nggak boleh mengambilnya dengan seenaknya tanpa seijinku seperti itu.”


 


Jaysen mengerang putus asa dan dia masih berusaha untuk menawar. “Sayang, aku bisa memberikanmu kalung yang jauh lebih mahal dari ini. Katakan saja kalung apa yang kamu mau, aku akan belikan untukmu berapapun harganya aku tidak peduli! Asalkan kamu bahagia, itu saja.” ujar Jaysen.

__ADS_1


 


“Aku nggak mau dan nggak akan pernah mau kalungku ditukar dengan kalung lain. Kembalikan kalungku atau jangan pernah bicara lagi denganku. Silahkan pilih!” Emily berujar tegas.


Jaysen meraup wajahnya kasar, dia benar-benar merasa sangat frustasi.s eumur hidupnya dia belum pernah menemui orang yang menolak berlian yang ditawarkannya.


 


“Ele….”


“Aku bukan Eleanor! Terserah kamu mau percaya atau tidak, aku bukan Eleanor! Jadi jangan perlakukan aku sama seperti kamu perlakukan dia.” ujar Emily penuh emosi.


Sedangkan Jaysen memaki didalam hatinya, dia benar-benar gusar kali ini. Kata mengalah tidak pernah ada didalam kamusnya tapi sepertinya sekarang ini dia tidak punya pilihan lain.


 


Meskipun sangat berat namun akhirnya dia pun memilih mengalah. “Baik….baiklah. Aku kembalikan kalung ini.” ujarnya kesal sambil menghela napas panjang. “Tapi nggak sekarang?”


“Apa?”


“Aku akan menambahkan sesuatu di kalung ini. Sedikit hiasan di kalung ini, setidaknya nanti kalung ini nggak benar-benar pemberian perempuan itu tapi tetap ada pemberianku juga.”


 


Senyum yang tadi diulas Emily sewaktu mendengar bahwa kalungnya akan dikembalikan sekarang bahkan memudar dan berganti dengan keheranan.


“Itu…..maksudnya bagaimana? Apa kamu tetap akan membuat kalung yang persis sama lalu menukarnya? Begitu ya?”


 


“Wah sayang. Sepertinya tuduhanmu itu sudah berlebihan. Aku mungkin orang yang sangat menyebalkan seperti yang kamu pikirkan tapi aku bukanlah seorang pembohong.” ujar Jaysen sembari menghempaskan tubuhnya ke sofa, ada seringai muncul diwajahnya yang membuat Emily mengerutkan kedua alisnya dan menatap Jaysen penuh selidik.


 


“Lalu? Apa yang mau kamu lakukan pada kalung itu sebenarnya?”


“Kemarilah.” Jaysen menjulurkan tangan kearah Emily. “Kemarilah sayang.”


Sambil menghela napasnya, Emily sudah mulai terbiasa kalau sewaktu dia menyambut uluran tangan itu maka Jaysen akan langsung menarik dan memeluk lalu memangkunya.


 


“Kalungmu akan kukembalikan, dan aku janji tentang itu. Tapi nanti, setelah aku menambahkan sedikit hiasan dikalungnya agar terlihat lebih bagus dan mewah, oke?” Jaysen membelai dan mencium rambut Emily. Ada senyuman di wajah tampannya sewaktu gadis itu pun mengangguk.


 

__ADS_1


“Tapi, kamu tidak akan menukarnya dengan kalung buatanmu sendiri kan?” tanya Emily yang masih belum seutuhnya percaya pada lelaki buta itu. “Kamu harus janji padamu kalau kamu tidak akan membohongiku dengan menukarnya dengan barang lain karena aku akan marah dan tidak akan pernah mempercayaimu lagi!”


__ADS_2