Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 36. MERINDUKAN ELEANOR


__ADS_3

Mimi tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya dan kakak tirinya saat ini. Untuk pertama kalinya dia disentuh oleh seorang pria.


Membuatnya semakin kebingungan karena pria itu adalah kakak tirinya. Beragam ******* dan sensasi yang menderanya sekaligus membuat akal sehatnya tidak bisa memikirkan hal lain lagi.


Mimi ingin berontak karena di satu sisi dia merasa ketakutan. Apa yang akan terjadi padanya?


Akal sehatnya memang meraung menyatakan bahwa semua ini tidak benar, bahwa apa yang dilakukannya sekarang ini salah.


Namun kenikmatan dari sentuhan kakak tirinya itu membuat Mimi hilang akal sehatnya dan lupa daratan. Dia hanya menginginkan kenimatan yang lebih dan lebih lagi. Gadis bisu dan lugu itu sekarang tengah gemetaran merasakan kenikmatan dipangkuan kakak tirinya sendiri.


Dia mendengus dan mendesah, nyaris gila menghadapi serangan demi serangan kenikmatan yang diberikan oleh Gian padanya. Tanpa sadar kedua tangannya meremas rambut kakak tirinya semenatra kepalanya mendongak menatap platform ruang kerja Gian. “Akhhhhh…..Hmmm...”


Lima menit setelah menerima gempuran dibagian atas dan bawahnya, Mimi menegang ada sesuatu yang hangat menyembur dari dalam tubuhnya. Terasa kenikmatan yang membuat gadis itu menjadi lemas.


Lalu saat Gian mengarahkan jarinya itu tanpa banyak bicara Mimi malah menurut saja melakukan apa yang diminta oleh kakak tirinya. Seolah terhipnotis oleh kakak tirinya, gadis itu melakukan apapun yang diminta oleh Gian.


Dia yang tadinya masih meronta, kini bak anak kucing yang manja dan penurut. Gian yang tak sadar jika wanita yang didepannya itu bukanlah Emily tapi Mimi adik kandungnya.


Tak sampai disana, Gian pun semakin menggila melihat kepolosan dan bagaimana penurutnya gadis itu. Dia masih tidak sadar jika gadis didepannya itu adalah adik tirinya, entah kenapa dia melihat gadis itu adalah Emily yang sedang menikmati setiap sentuhannya.


Gian pun menurunkan Mimi dari pangkuannya dan membuatnya dalam posisi terbaring dengan kedua kaki melebar. Mimi membelalakkan matanya dan mulutnya menganga lebar saat dia melihat sesuatu yang tak pernah dilihatnya selama ini.

__ADS_1


Tubuhnya gemetar melihat benda itu tapi dorongan hasrat asing yang ada sudah menggelapkan pikiran sehatnya. Mimi mencoba menggerakkan tangannya memberi bahasa isyarat.


Tapi Gian yang sudah kehilangan akal sehatnya seolah tak peduli. Mata gadis itu berkaca-kaca, ingin teriak tapi tak bisa.


Perlahan gadis itu membiarkan saja apa yang akan dilakukan Gian padanya. Dokter muda itu lalu menekan kepala Mimi membuatnya memasukkan benda itu kedalam mulutnya.


Setelah sekian lama melakukan itu, Gian mendapatkan pelepasannya tapi dia semakin menginginkan lebih lagi hingga dia pun memaksakan kehendaknya tanpa peduli Mimi yang menolak dan berusaha menyadarkan dirinya bahwa ini salah.


Namun lagi dan lagi, dia kehilangan akal sehatnya saat Gian menerjangnya dan gadis bisu itu tidak bisa berteriak saat sesuatu yang terasa robek ditubuhnya memberinya rasa sakit yang luar biasa.


Air matanya menetes, seiring dengan waktu rasa sakit itu berubah menjadi rasa lain yang membuatnya malah menikmatinya dengan membalas gerakan Gian.


“Ah...Eleanor…...Ya seperti itu Eleanor. Aku akan melakukannya denganmu berkali-kali sampai kamu takluk dan jadi milikku. Membayangkanmu saja sudah bisa memberikanku kepuasan setiap malam dan sekarang aku bisa menikmatimu. Ahhhh! Persetan dengan pria iblis itu!”


 Rasa penasarannya semakin besar saat Gian terus saja memanggil nama Eleanor. Ada rasa sakit di dadanya seperti ditusuk pisau tajam. Mimi menangis dalam diam. Andai dia tidak bisu, andai dia bisa teriak menyadarkan Gian bahwa dia adalah adiknya.


Hanya berciuman dengan kakak tirinya saja bahkan saling memberikan kepuasan dengan kakak tirinya tapi entah mengapa membuat Mimi semakin bergairah setelah Gian berhasil merenggut kesucian gadis itu. Gadis itu bisa merasakan sensasi yang luar biasa ditubuhnya yang selama ini belum pernah dia rasakan.


Mimi kini blingsatan saat Gian mempercepat gerakannya membuat mulut gadis itu kembali mendesah dan mendengus tanpa suara karena dia bisu.


Tidak terlalu lama kemudian gadis itu kembali mengejang bahkan kali ini dua gelombang menggulung sekaligus. Sudah tiga kali Mimi mendapatkan kepuasannya membuatnya kehilangan tenaga.

__ADS_1


Gadis itu terbaring lemas dengan napas yang masih tersengal. Gian mengurut miliknya lagi dan kembali menggempur gadis itu seolah tiada lelah. Mimi mengerang dan mendesah saat merasakan desakan ditubuhnya. “Sekarang aku merasa puas Eleanor! Aku sudah menjadikanmu milikku!” bisik Gian dengan suara parau.


“Lelaki iblis itu tidak akan mengganggumu lagi!” seolah tak sabar dengan satu hentakan lagi Gian kembali melakukannya untuk yang kesekian kalinya.


Hingga gadis itu menjerit kesakitan karena kali ini Gian bersikap agak kasar dan terburu-buru. Entah sudah berapa lama dan berapa kali Gian melakukannya pada adik tirinya malam itu.


Kakak tiri yang selama ini dihormati dan begitu disayang sekarang seolah menjadi binatang liar dan buas yang menikmati setiap jengkal tubuh Mimi. Ruang kerja dokter muda yang sepi itu pun menjadi saksi bisu atas terjadinya sebuah hubungan yang terlarang yang akan sangat disesali tapi menjadi candu sang dokter muda itu.


Flashback off


“Tuan Muda, Dokter Gian sudah datang. Apakah kami bisa masuk sekarang?” Argya mengetuk pintu dan berbicara dengan sopan, sementara Gian berdiri dibelakangnya. Wajah dokter muda itu terlihat cerah, setelah selama dua minggu belakangan terlihat murung.


Semalam dia bermimpi sangat indah. Tampak segaris senyum terbit diwajahnya saat dia teringat mimpinya semalam.


Mimpinya semalam terasa begitu nyata, seolah itu benar terjadi. Dia bermimpi sedang berduaan dengan Eleanor diruang kerjanya dan mereka bahkan bercinta semalaman.


Pagi hari saat Gian terbangun, badannya terasa segar dan perasaannya pun ringan. Rasanya seperti pada akhirnya dia bisa mendapatkan pelepasan atas apa yang selama ini sudah sangat membebaninya.


Sekilas dia mencium bau khas diruang kerjanya, tapi hal itu wajar karea sejak bertemu Eleanor setiap malam Gian memuaskan dirinya sendiri berbekal bayangan wajah gadis itu.


Tanpa sadar dia berdiri sambil senyum-senyum sendiri. Rasanya Gian tidak akan menolak kalau dia mengalami mimpi yang serupa lagi setiap malam. Memacu gadis itu sekedar membayangkan saja sudah membuat gairahnya kembali muncul.

__ADS_1


‘Si iblis itu pasti sangat puas karena bisa menikmati Eleanor setiap hari.’ gumamnya dalam hati sambil menggertakkan rahangnya saat pikiran itu melintas dibenaknya.


Eleanor! Dia menginginkan Eleanor. Sepasang mata bau gadis itu sudah begitu menawan hatinya. Saat tadi ada panggilan telepon dari kediaman Wisesa yang diterimanya, Gian merasa bahwa itu sebuah petanda bagus.


__ADS_2