Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 47. KERAS KEPALA


__ADS_3

“Bukankah tadi kamu yang menyuruhku untuk mengobati lukaku?” balas Jaysen. “Apa sekarang kamu sudah mulai pikun Argya? Baru beberapa detik yang lalu kamu bertanya dan sekarang sudah lupa.”


 


“Bukan begitu maksud saya bagaimana kalau Tuan Muda beristirahat sementara para pelayan akan membersihkan dan merawat luka Tuan Muda.” ujar Argya dengan langkah cepat mengimbangi Jaysen.


Dia juga masih kebingungan kemana sebenarnya tujuan Jaysen sekarang, katanya mau merawat luka tapi mengapa mengambil jalur ini. Ini bukan arah menuju ke ruang perawatan yang ada di rumah mewah itu.


“Bagaimana kalau kita memanggil dokter Gian saja untuk memeriksa luka Tuan Muda? Saya khawatir kalau lukanya menjadi lebih parah----Akh!” Argya berhenti dengan cepat untuk menghindari menabrak Jaysen yang berhenti mendadak.


“Argya aku punya satu perintah untukmu.” ujar Jaysen dengan nada dingin menoleh kearah pria itu.


 


“Jangan pernah menyebut nama dokter brengsek itu lagi. Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk mencarikan dokter pribadi yang lain? Apa kamu melupakan itu juga?”


“Lebih tepatnya Tuan Muda meminta saya untuk mencarikan dokter pribadikhusu untuk Nona Eleanor dan Tuan Muda juga menekankan bahwa dokter pribadi itu harus wanita.” jawab Argya dengan tenang.


 


“Jadi, secara teknis dokter Gian masih tetap sebagai dokter pribadi keluarga Wisesa, Tuan Muda.”


“Kalau begitu, cepat pecat dia dan gantikan dengan dokter lain! Bereskan?” ujar Jaysen.


“Sayangnya, dokter Gian ditunjuk langsung oleh Tuan Besar Wisesa jadi Tuan Muda tidak bisa memecatnya begitu saja.” ucap Argya.


 


Jaysen menjadi marah mendengar perkataan Argya, dia langsung memaki dan menghantam dinding saking kesalnya. Detik berikutnya dia meringis kesakitan, merasa tangannya semakin nyeri karena lukanya semakin parah.


“Sial! Kenapa sih kakek sangat menyukai si brengsek itu?”


 


“Mungkin karena keluarga Wisesa sudah berteman dekat dengan Keluarga Elkana sejak lama. Terlebih lagi sejak saat itu bisa dikatakan kalau hubungan kedua keluarga menjadi lebih dekat kan?”

__ADS_1


Jaysen memalingkan wajahnya sambil menghela napas berat. Dia tahu apa yang Argya maksud dengan ‘saat itu.’


 


Antara keluarga Wisesa dan Elkana sejak dulu memang sudah berhubungan dekat, seperti yang dikatakan Argya tadi. Kedua keluarga tersebut berkecimpung dalam jenis bisnis yang sama tapi meksipun begitu, hubungan mereka tetap berjalan dengan baik. Bahkan kedua keluarga menjadi sekutu.


Namun, semuanya mulai berubah sejak tragedi kecelakaan yang terjadi sekitar empat belas tahun lalu. Jaysen diculik dan nyaris terbunuh. Lalu pasangan suami istri Elkana yang berusaha menyelamatkannya justru tewas dalam kecelakaan. Tidak hanya itu, anak angkat perempuan mereka pun sampai mengalami trauma dan menjadi bisu akibat kecelakaan itu.


 


Jaysen mengerutkan dahi, dia tahu bahwa akibat meninggalnya pasangan suami istri Elkana secara mendadak, saat itu terjadi goncangan besar dalam bisnis yang dikelola keluarga tersebut. Ada terlalu banyak tangan serakah yang hendak memanfaatkan kekosongan pemimpin di keluarga itu.


 


Mereka berniat mengeruk habis kekayaan dan kekuasaan keluarga Elkana. Apalagi Gian saat itu masih harus fokus pada proses penyembuhan adik angkatnya dan juga belum berpengalaman dalam dunia bisnis. Dokter muda itu jelas tidak akan sanggup mengambil alih posisi pimpinan dalam bisnis keluarga Elkana ketika itu.


 


Bisa dikatakan kalau kerajaan bisnis keluarga Elkana nyaris runtuh kalau saja Julius Wisesa, kakek Jaysen tidak mengulurkan tangan dengan mengusulkan dilakukannya merger atau penggabungan bisnis antara dua keluarga tersebut.


Semuanya demi menyelamatkan bisnis keluarga Elkana dan juga sebagai balas budi Julius Wisesa atas usaha pasangan suami istri Elkana yang ingin menyelamatkan Jaysen, cucu satu-satunya.


 


 


Sejak awal dia memang tidak berminat untuk meneruskan bisnis keluarga. Gian lebih menyukai profesinya sebagai seorang dokter. Dokter muda itu saat ini sudah memiliki beberapa klinik kesehatan yang tersebar di beberapa kota dan juga tiga rumah sakit besar.


 


“Enak sekali Gian itu. Dia asyik bermain dokter-dokteran sementara aku yang harus pusing mengurus ini itu, karena sekarang kakek malah melimpahkan semua urusan bisnis padaku.” Jaysen menggerutu panjang lebar. “Sebenarnya cucu kakek itu siapa sih? Gian atau aku? Kesannya kok kayaknya si brengsek itu selalu mendapat bagian pekerjaan yang lebih mudah dibandingkan aku?”


 


“Tapi tetap saja, tingkah laku kakek juga berlebihan! Sedekat apapun mereka tetap bukan keluarga kita, bukan?” ujar Jaysen lagi. Nada suaranya terdengar jelas penuh kekesalan.

__ADS_1


“Mungkin Tuan Besar berharap kalian berdua menjadi teman dekat karena usia Tuan Muda dan Dokter Gian kan tidak terlalu terpaut jauh.” ujar Argya.


 


“Argya! Tadi sudah kukatakan jangan pernah menyebut namanya didepanku!”


Argya yang dimarahi Jaysen pun langsung terdiam dan menunduk sambil menghela napas panjang. “Kalau memang Tuan Muda tidak bersedia diperiksa oleh dokter…..” Argya berdeham saat menyadari aura gelap Jaysen. “Maksud saya dokter G, maka bagaimana kalau saya yang akan mencoba membersihkan dan mengobat luka Tuan Muda?”


 


“Ngak perlu! Ada yang bisa melakukannya dan aku ingin dia yang merawat lukaku, bukan kamu atau orang lain yang nggak jelas!”


“Heh?” Argya terkejut dan kembali berjalan cepat mengimbangi langkah Jaysen yang cepat dan terkesan terburu-buru. “Siapa maksud Tuan?”


 


“Siapa lagi kalau bukan calon istriku?” ucap Jaysen.


“Ya!”


Setibanya diujung koridor, Jaysen berhenti. Meskipun dia tidak dapat melihat tapi dia tahu bahwa didepannya terbentang sebuah halaman kecil. Lalu diseberang halaman tersebut berdiri sebuah bangunan dengan desain bergaya Eropa. Itu adalah sebuah bangunan hall dimana Emily sedang melakukan fitting baju pengantinnya.


 


Biasanya fitting baju pengantin dilakukan di butik atau di salon yang sang desainer tunjuk tapi Jaysen menolaknya. “Daripada aku dan calon istriku yang repot-repot datang kesana, bawa saja seisi studio dan seluruh asistenmu termasuk desainer Sabrina Saab sendiri untuk datang kerumahku.” perintah Jaysen waktu itu.


 


Karena itulah mengapa Sabrina Saab dan ketiga asistennya untuk pertama kalinya, mereka yang harus datang ke rumah klien dan mereka tidak keberatan karena keluarga yang meminta mereka datang adalah keluarga terpandang dan terkaya seperti keluarga Wisesa. Sudah bisa dipastikan bayaran yang akan mereka terima pun sangat besar.


 


Jarak yang mereka tempuh pun tidak main-main. Penerbangan dari Paris memakan waktu delapan belas jam. Itupun mereka harus menggunakan satu pesawat penuh untuk mengangkut semua barang-barang dan perlengkapan juga tenaga kerja yang lain. Ditambah satu jet pribadi khusus untuk Sabrina Saab dan ketiga asistennya.


 

__ADS_1


Tentunya semua biaya yang dikeluarkan secara penuh ditanggung oleh keluarga Wisesa. “Bawa aku kesana, Argya!” titah Jaysen membuat Argya nyaris melongo mendengarnya.


“Eh? Tapi disana kan sedang ad---”


__ADS_2