
Sementara itu di kediaman Wisesa tepatnya didalam kamar Jaysen. "Berbaringlah dulu sayang," bisik Gian membaringkan Emily dengan lembut disalah satu sisi tempat tidur. Namun gadis itu seakan tdak ingin berada jauh darinya meskipun hanya sebentar saja.
Karena sewaktu Gian beranjak pergi dengan cepat tangan Emily meraih dan mencengkeram kemeja Gian.
"Tenanglah sayang." Gian mengusap pipi gadis yang memandangnya penuh harap. "Aku hanya pergi sebentar kok, tidak jauh-jauh. Kedua orang pelayan perempuan itu harus kusingkirkan dulu. Supaya mereka tidak mengganggu kita."
Entah apa yang akan dilakukan dokter muda itu tapi sekilas Emily melihat Gian mengeluarkan sesuatu. Apakah itu sebuah suntikan? Entahlah tapi dia tidak melihatnya dengan jelas.
'Eh.....ini tempat tidur Jaysen,' pikir gadis itu menyadari bahwa dia sedang berbaring di tempat tidur Jaysen.
Emily menarik napas, dia bisa menghirup aroma yang sangat dikenalnya. Jaysen selalu berkata kalau kamarnya kini berbau khas Emily yang beraroma bunga-bungaan segar yang ringan. Namun gadis itu justru merasa sebaliknya.
Bagi Emily, aroma Jaysen seperti campuran antara aroma pepohonan dan musk seakan mendominasi sekelilingnya. Tapi sekarang dengan aroma manis dari Gian yang tercampurlah yang terhirup olehnya.
"Jaysen......" panggilnya lirih sambil bertanya-tanya didalam hati kemana lelaki buta yang sekarang sering kali berada disisinya itu. "Jay? Kamu dimana?"
Tiba-tiba dia mendengar suara terjatuh yang keras saat dia berusaha bangun. Kedua matanya melebar saat melihat kedua pelayan wanita itu sudah tergeletak dilantai. Gian sedang menyandarkan mereka ke sisi dinding sebelum dokter muda itu melangkah kearah pintu kamar lalu menguncinya.
"Apa yang.....Gian apa yang kamu lakukan?" Emily berusaha bangun dari tidurnya.
Gian tersenyum dan satu tangannya merogoh kedalam saku kemejanya lalu mengeluarkan sebuah botol kecil lalu membuka tutupnya. "Tenanglah, sayang. Mereka hanya ketiduran saja karena kelelahan. Kamu sendiri tahu kan kalau si iblis itu selalu membuat para pekerjanya bekerja lembur sampai kelelahan?"
Baru beberapa langkah saja Emily berjalan saat dia mencium aroma manis yang membuatnya candu itu. Tanpa sadar dia berhenti dan bernapas pelan-pelan sembari menghirup dalam-dalam aroma manis yang sekarang terasa lebih menyengat.
"Ya, benar seperti itu, sayang! Hirup aromanya sayang, tarik napasmu dalam-dalam dan nikmati aromanya." Gian semakin tersenyum puas lebih mendekatkan botol yang terbuka itu sehingga Emily pun tanpa sadar mengikuti intruksi Gian.
Sedangkan dokter muda itu menahan tawa senang saat melihat gadis itu sekarang dalam keadaan semakin tidak sadar. Tadi siang saat makan bersama, dia memang meneteskan beberapa cairan ke bajunya. Dan dia berusaha sedekat mungkin dengan Emily.
__ADS_1
Dia juga sengaja membuka tutup botol lalu meletakkan botol yang terbuka itu disela-sela krusinya sewaktu dia mengantarkan Emily pulang tadi. Sehingga roma yang menguar memenuhi mobil tanpa sadar dihirup oleh Emily. Semakin tinggilah dosis obat yang masuk kedalam tubuhnya.
"Untung saja aku sudah mengoleskan minyak kayu putih diujung hidungku tadi jadi aku nggak terlalu terpengaruh dengan aroma obatnya," gumam Gian yang kembali membopong Emily yang dalam keadaan setengah sadar.
"Gi----an?"
"Ya sayang. Ada apa memanggilku, sayang?'
"Apa----yang kamu la--kukan?"
Gian mengelus rambut panjang gadis itu dengan mesra dan mendekatkan ujung botolnya kebawah hidung gadis itu. "Sssstttt jangan berpikir macam-macam ya sayang. Hirup saja aromanya dan nikmati sensasinya oke? Semakin banyak kamu menghirup aromanya maka kamu akan semakin rileks dan merasa lebih baik."
Tidak ada respon dari Emily tapi pandangan mata gadis itu kosong dan wajah bahagia gadis itu sudah cukup bagi Gian untuk mengetahui kalau Emily sudha benar-benar takluk. Kini dia bisa melakukan apapun pada gadis itu.
Emily memang masih sadar tapi pikirannya sama sekali tidak berdaya dan dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Kondisi inilah yang diinginkan Gian untuk melancarkan rencana keduanya.
"Sayang, dengarkan aku ya." bisiknya setelah membaringkan Emily kembali, "Lelaki yang sedang bersamamu itu jahat. Dia sudah menculikmu dan menahanmu dirumah ini. Dia juga sering sekali menyakitimu. Kamu harus ingat itu. Dia sangat jahat dan kamu tidak boleh ikut dengannya."
"Iya sayang. Jaysen Wisesa Avshallom itu sangat jahat. Dia jahat kepadamu." ujar Gian mencuci otak Emily dan menanamkan kata-kata itu di kepalanya.
"Jaysen jahat!" ulang Emily lagi.
"Akulah yang akan membantumu membebaskan diri dari lelaki iblis itu, sayang. Aku....Gian Arkana adalah orang yang baik, sayang. Jaysen adalah orang jahat."
Pandangan mata Emily mengawang dan dengan nada datar dia mengulang kata-kata yang diucapkan Gian barusan. "Gian Arkana baik. Jaysen jahat."
"Iya sayang. benar begitu. Coba ulangi lagi dan kamu harus ingat itu." ucap Gian semakin senang.
__ADS_1
"Jaysen jahat dan Gian baik." ulang Emily sampai beberapa kali.
Gian tersenyum lebar dan menangkup kedua pipi Emily dan berkata, "Gadis pintar. Gadisku memang cantik dan pintar sekali. Aku adalah orang baik yang menolongmu, sayang."
Dokter muda itu tahu bagaimana keadaan orang yang sudah terpengaruh dengan obat. Orang itu akan merasakan bahagia tapi kesadarannya dan kemampuan untuk memilah mana yang benar dan mana yang salah, sangat rendah bahkan nyaris tidak bisa membedakan lagi.
Apalagi Gian sengaja memberikan dosis yang lebih tinggi lagi pada Emily, Membuat gadis itu tidak sanggup untuk berpikir secara rasional selain menuruti setiap perkataan Gian yang sudah memberinya kesenangan.
"Ini memang bisa membuatmu ketagihan, sayang." bisik Gian lagi. "Tapi kamu jangan khawatir, Gian baik akan bisa menyembuhkanmu dan memberikan kebahagiaan kepadamu. Kamu paham kan?"
"Iya." jawab Emily singkat.
"Ya benar. Memang harus seperti itu sayang. Coba ucapkan lagi kata-kata yang kuajari tadi padamu, sayang." desis Gian semakin bersemangat dan tangannya sudah mulai menyentuh tubuh Emily.
"Jaysen jahat. Gian baik." ulang Emily seolah-olah dia sudah seperti robot saja.
"Ah iya seperti itu." Gian membuka satu persatu kancing piyama Emily. Kedua matanya nyalang saat memandang kedua aset yang padat dan mulus dan sekarang tergantung bebas. "Oh Ele! Setelah membebaskanmu dari lelaki iblis itu kita akan segera menikah. Aku sudah memesan baju pengantin dari Sabrina Saab! Tapi desainer itu tidak tahu kalau aku memesan gaun pengantin itu untukmu, sayang.
Dokter muda itu mulai meremas dan bermain-main diarea sensitif Emily membuat gadis itu mendesah. Sepasang mata Emily memandang kosong saat Gian meraih dagunya, dengan senyum menyeringai Gian ******* bibir itu. Inilah yang sudah lama diidam-idamkannya.
Emily tidak bisa bersuara lagi, tubuhnya menggeliat bak cacing kepanasan saat Gian menjamah miliknya. "Kita tidak punya banyak waktu, sayang. Argya si brengsek itu pasti akan segera datang. Tapi sebelum itu aku ingin menyentuh dan merasaimu meski hanya sebentar."
Emily terengah-engah sama sekali tidak sanggup berpikir namun jauh didalam lubuk hatinya dia merasakan penolakan dan tidak suka apa yang dilakukan Gian padanya. Namun tubuhnya tidak bisa melakukan apapun.
"Jaysen jahat. Gian baik." ucapnya tanpa sadar. Kini pikirannya sudah dipenuhi dengan kata-kata itu. Kalimat itu seperti sudah tertanam didalam kepalanya dan seolah mendesaknya untuk mengulang kata itu.
Gian ingin rasanya bersorak gembira karena dia berhasil. Wajahnya yang biasa kalem kini nampak mengerikan dengan senyuman menyeringai jahat. "Nah sayang, jadilah gadisku yang baik dan medesahlah untukku." ujar Gian memelorotkan ****** ***** Emily.
__ADS_1
"Jangan takut sayang, aku hanya ingin merasai saja. Kita tidak punya waktu banyak untuk melakukannya. Kita akan melakukannya lagi lain waktu! Aku akan membawamu pergi dari sini, setelah itu kita bisa melakukannya sebanyak yang kita mau."
Gian begitu larut dalam kesenangannya, waktu yang terbatas digunakan dokter muda itu untuk sedikit menunaikan hasratnya. Dia sama sekali tidak menyadari airmata yang perlahan mengalir dari mata gadis itu. Sedangkan Emily merasakan dadanya terasa sakit tapi dia tidak tahu kenapa dia sangat sedih seolah dia melakukan sebuah kesalahan.