
Tapi kalau memang begitu kenyataannya, kenapa dia masih saja terus merasa khawatir?
“Kalau Eleanor yang dulu. Jelas dia akan membantah nyaris semua perkataan ibunya. Tapi Eleanor yang sekarang---” Jaysen terdiam tak dapat melanjutkan pemikirannya. Dia berpikir sejenak lalu menggelengkan kepalanya. Kenapa Eleanor sangat banyak berubah sekarang?
“Benar-benar seperti dua orang yang berbeda.” gumamnya termenung selama beberapa saat. Begitu banyak pikiran yang memenuhi benaknya saat ini. Sejak awal dia menerima laporan dari Argya yang membawa gadis itu, lalu laporan lainnya yang disampaikan berulang kali. Sepasang mata berwarna abu, rambut ikal bergelombang warna coklat madu.
Dari laporan dan informasi yang dia terima, dua hal itulah yang menjadi perbedaan antara Eleanor yang dulu dan yang sekarang. Karena Eleanor yang Jaysen tahu memiliki mata berwarna hitam dan rambut lurus panjang dengan warna hitam. “Tapi kalau hanya sekedar warna mata dan rambut….. Eleanor bisa saja memakai contact lens dan mewarnai rambutnya.”
Lalu ada lagi satu nama yang disebutkan Argya maupun Tantra. “Emily Violetta,” bisik Jaysen yang merasa heran karena merasakan denyut aneh dalam dadanya saat menyebutkan nama itu. “Siapa sebenarnya Emily Violetta?” ujar Jaysen menghempaskan tubuhnya keatas sofa yang ada diperpustakaan sambil menghela napas panjang.
Dahinya berkerut berusaha menghilangkan pikiran-pikiran buruk yang muncul memenuhi kepalanya saat ini. Dia mencoba untuk menemukan secuil ingatan tentang Emily Violetta tapi hasilnya tetap nihil. “Siapa sebenarnya Emily ini?” desahnya merasa sedikit pusing. Untuk pertama kalinya dia mengalami hal seaneh ini.
“Aku tidak ingat kalau Eleanor pernah mengatakan kalau dia mempunyai saudara kembar dan hasil penyelidikan juga menemukan hanya ada nama Eleanor saja yang tercatat sebagai anak di keluarga Maleakhi. Lalu siapa sebenarnya Emily Vionetta ini?” Berulang kali Jaysen memikirkan untuk menanyakan langsung pada orang tua Eleanor.
Setidaknya dia bisa segera mendapatkan jawaban pasti. “Tapi bisa saja membohongiku. Siapa yang bisa menjamin kalau mereka nggak akan menggunakan ini sebagai kesempatan agar aku melepaskan Eleanor? Toh mereka juga sudah pernah beralasan kalau Eleanor mengalami kecelakaan tapi nyatanya dia tidak ada dirawat dirumah sakit manapun.”
__ADS_1
Argya sudah memerintahkan anak buahnya untuk mengecek disemua rumah sakit. Hanya ada satu rumah sakit yang memiliki pasien bernama Eleanor tapi kurang dari dua puluh empat jam pasien sudah menyelesaikan semua administrasi dan pulang. Setelah itu anak buah Argya pun masih melanjutkan pencarian dirumah sakit lainnya.
Dan tidak mendapati nama Eleanor terdaftar sebagai pasien dirumah sakit manapun. “Masa iya kalau Eleanor memang benar mengalami kecelakaan, dia hanya dirawat sebentar? Lagipula waktu dia keluar dari rumah sakit bertepatan dengan waktu Argya menangkapnya di bandara. Bisa saja kan? Sebenarnya dia memang berencana kabur?”
Jaysen menyentuh perban yang melilit dan menutupi matanya. Jaysen mengeluh karena kebutaan yang dia alami ini membuatnya nyaris gila. Bayangkan saja dalam sekejap sekelilingmu hanya ada gelap. Baik saaj membuka mata ataupun tidak, hasilnya tetap saja. Seakan dunia ini seutuhnya hanya terdiri dari warna hitam belaka.
Awal dia mengalami kebutaan, emosinya tidak stabil. Dia membenci semua orang dan menyalahkan semua orang, dia marah pada semua orang. Lalu puncak dari semua itu yang paling Jaysen benci adalah Eleanor Milena. “Gadis pengkhianat!” geram Jaysen masih saja merasa emosi setiap kali mengingat pengkhianatan yang dilakukan Eleanor padanya.
Tidak ada rasa sayang apalagi cinta dalam hubungan mereka selama ini. Keduanya hanya terjalin dalam ikatan saling membutuhkan. Jaysen membutuhkan tubuh Eleanor sedangkan Eleanor membutuhkan harta keluarga Wisesa yang selama ini selalu dengan mudahnya dia dapatkan. Jaysen tidak pernah perhitungan soal uang karena uang bukan masalah bagi keluarganya.
Meskipun tidak ada perasaan mendalam pada gadis yang berprofesi sebagai model itu, Jaysen tetap tidak bisa tinggal diam saja sewaktu mengetahui bahwa selama ini Eleanor menjalin hubungan dengan pria lain dibelakangnya. Harga dirinya sebagai seorang pria dari keluarga kaya raya pun terluka. Dan baginya harga diri sama pentingnya dengan urusan nyawa.
“Danny Maitreya! Kalau aku menangkapmu nanti, itulah akhir dari hidupmu!” Jaysen mengepalkan kedua tangannya dan rahangnya menegang. Lelaki itu menengadah dan menyugar rambutnya dengan kedua tangan. Terdengar suara ******* dari sepasang bibirnya, didalam hatinya Jaysen masih mengeluh dengan kebutaan yang dia alami.
Dia teringat dengan hasil pemeriksaan dokter spesialis yang ayahnya tunjuk secara langsung. Lelaki asal Polandia itu membawa langsung beberapa ahli medis dari salah satu rumah sakit terkenal, khusus untuk menangani Jaysen namun hasil pemeriksaan mereka semua sama. Tidak ada luka kerusakan dikornea Jaysen. Tidak ada masalah dibagian otak.
__ADS_1
Semua syaraf optik lelaki buta itu baik-baik saja pada saat begitu banyaknya dokter spesialis yang memeriksanya. Semuanya memberikan kesimpulan yang sama bahwa kebutaan Jaysen kemungkinan disebabkan trauma atau syok berat yang lelaki itu alami. Bahwa kebutaannya itu hanya sementara saja dan dia hanya perlu bersabar dan tenang sembari melakukan pemeriksaan secara rutin. “Enak saja mereka mengatakan kalau aku hanya perlu bersabar!”
“Mereka nggak tahu bagaimana rasanya berada dalam kegelapan. Sial! Semuanya brengsek!” sebelah tangan Jaysen sudah meraih lampu meja yang ada diatas nakas dan nyaris membantingnya tapi kemudian lelaki buta itu ingat bahwa sekarang dia sedang berada di perpustakaan bukan diruang kerjanya. Perpustakaan adalah tempat favorit Eleanor.
Jaysen menghela napas panjang dan perlahan kemarahannya mereda. Perlahan dia menarik napas dan samar masih bisa menghirup aroma bunga ringan dan samar itu. Tidak terlalu lama kemudian napas lelaki itu sudah normal kembali. Kini dia berbaring diatas sofa. “Kenapa lama sekali?” gumamnya merasakan kekosongan dalam hatinya atas tidak adanya gadis itu disisinya.
Andai dia tahu begitu, tadi dia lebih baik menahan ibunya agak tidak membawa gadis itu pergi. Baru saja Deanna menelepon. Ibunya mengomelinya dan mencecarnya dengan nasihat sekaligus ancaman agar Jaysen belajar memperlakukan Eleanor dengan lebih baik lagi. Bisa dikatakan kalau tadi Jaysen tidak membantah ucapan Deanna sama sekali.
Hal itu tak pernah terjadi sebelumnya. Setengah jam sudah berlalu dari sepuluh menit yang dijanjikan ibunya. Jaysen semakin tidak sabaran, dia memang marah pada Eleanor dan Jaysen mengakui itu. Dia juga sempat sangat membenci gadis itu namun kehadiran Eleanor disisinya belakangan ini membuatnya banyak berubah.
Dia menyukai sikap gadis itu yang terkadang takut padanya tapi disisi lain juga sering membantahnya. Gadis itu juga cengeng tapi juga berani mempertanyakan perintah Jaysen apabila dianggapnya aneh dan tidak masuk akal. Gadis itu yang selalu bersikap malu-malu tapi ternyata bisa bersikap panas dan bergairah saat disentuh oleh Jaysen.
“Ah sial! Bahkan hanya sekedar memikirkannya saja aku sudah berhasrat.” keluh jaysen merasakan bagian tubuhna yang mulai bereaksi.
“Kenapa lama sekali perginya? Kemana ibu membawanya?” ujar Jaysen menyilangkan tangan seolah ada seseorang yang sedang dipeluknya. “Cepat pulang, sayang. Aku ingin memelukmu.”
__ADS_1