Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 63. INGIN KABUT


__ADS_3

Bukankah sekarang dia juga menikmati segala sentuhan Jaysen? Bahkan belakangan ini Emily juga berdebar setiap kali teringat pada lelaki buta itu. Emily menggigit bibir bawahnya dengan bingung memikirkan kemelut yang sedang dihadapinya. Dia termenung sejenak dan sebuah pemikiran yang sejak tadi menggoda pikirannya kembali melintas.


Bagaimana kalau sekarang dia kabur saja? Deanna masih belum kembali dari toilet dan Emily mungkin bisa mengelabui para pengawal yang entah bersembunyi dimana saat ini. Kalau saja dia bisa mencapai lobi mall dan menaiki taksi yang memang selalu tersedia didepan mall. Tapi dia harus pergi kemana nanti? Pulang kerumah orang tuanya?


Apakah kedua orang tuanya akan bisa melindunginya dari kejaran Jaysen? Bagaimana kalau lelaki buta itu semakin murka kalau tahu dia kabur dan bersembunyi di kediaman orang tuanya? Bagaimana nanti kalau kedua orangtuanya malah yang terkena imbasnya? Kalau saja dia bisa menghubungi Maya dan ibu angkatnya itu bisa membawa Emily kembali ke New York.


Setidaknya di New York dia merasa sedikit tenang dan tidak mungkin Jaysen akan mengejarnya sampai keseberang benua kan?


“Ya Tuhan! Apa yang sebaiknya aku lakukan sekarang? Kalau saja Eleanor ada, dia pasti bisa menjelaskan semuanya. Setidaknya aku tidak perlu menikah dengan Jaysen dan bisa pulang ke New York.” Emily mengusap wajahnya dengan kedua tangan, dia merasa kebingungan.


Benarkah? Emily termangu. Ada rasa sakit yang dirasakannya dalam dada sewaktu dia memikirkan seandainya Eleanor datang dan saudara kembarnya itu yang menikah dengan Jaysen. Emily sontak memegangi dadanya yang terasa sesak seolah ada yang menghimpit. “Kenapa jadi begini? Memikirkanmu menikah dengan Eleanor kenapa malah membuatku sesakit ini?”


Emily berusaha menarik napas beberapa kali untuk menenangkan dirinya. Untuk pertama kalinya dia merasakan rindu pada sosok lelaki buta yang sering kali membuatnya ketakutan dan kesal itu. “Jay…..” Emily bergumam lirih. “Aku kangen Jay.”


Bersamaan dengan itu ada seseorang yang menarik tangan Emily dengan kasar sampai membuat gadis itu terpaksa berdiri.


Belum sempat Emily melihat siapa yang sudah menariknya dengan kasar, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kirinya.


“DASAR GADIS RENDAHAN!” bentak orang itu sementara Emily masih belum bisa melihat dengan jelas wajah orang yang barusan menamparnya. Kepala gadis itu seketika merasa pusing mendapatkan tamparan keras. Belum lagi berhasil mengumpulkan kesadarannya, sebuah tamparan lain sudah dia terima dan kali ini tamparan itu mendarat di pipi kanannya.


PLAKKKK


“DASAR GADIS MURAHAN!”


“Akkhhh!” jerit Emily kesakitan sewaktu orang itu mendorongnya dengan keras hingga membuatnya jatuh terduduk. Diatas lantai restoran yang dingin dengan kepala pusing. Kedua pipinya terasa panas dan berdenyut perih.


Pandangan matanya yang mengabur karena air mata yang otomatis mengalir keluar. Dengan menahan sakit dipipinya, gadis itu mengusap airmata yang membasahi wajahnya. Kini pandangannya lebih jernih dan Emily akhirnya bisa melihat siapa yang tiba-tiba datang dan menamparnya.


Didepannya berdiri Naura ibu kandungnya yang menatapnya penuh amarah. “Ibu---?”

__ADS_1


Sementara itu, Deanna baru saja memasukkan kembali ponselnya. Tadi dia memang beralasan pergi ke toilet tapi sebenarnya dia menggunakan waktu yang ada untuk menelepon Jaysen. Setelah berbicara selama setengah jam dan bahkan diselingi omelan juga ancaman Deanna akhirnya memutuskan sambungan teleponnya.  Hati perempuan itu kini terasa ringan dan lega karena bisa mengomeli Jaysen.


Baru saja dia sampai di pintu toilet, dia mendengar suara bentakan dan tamparan. ‘Apa ada orang yang bertengkar ya? Aduh kenapa bergaduh ditempat umum seperti ini?’ pikir Deanna tidak curiga.


Restoran yang mereka pilih termasuk restoran kelas atas dimana tidak sembarangan orang bisa masuk. Lalu kenapa bisa tempat private seperti ini bisa ada keributan seperti itu?


“DASAR GADIS MURAHAN!”


“Ibu-----” pekik Emily menatap nanar ibunya yang mengamuk.


“Ya Tuhan.” Deanna nyaris tidak berpikir dia lalu berlari kearah Emily yang masih terduduk dilantai.


“Apa yang anda lakukan?” seru Deanna dan saking kagetnya nada suaranya meninggal. Menyadari hal itu dia segera bermumam, “Ma—maaf. Saya tidak bermaksud membentak anda.”


Deg!


Terpaku ditempat, Deanna membelalakkan mata melihat kedua pipi Emily yang memerah. “Ap---apa yang---” dia tersendat dan dengan tangan gemetar dia menyentuh pipi Emily tapi urung karena gadis itu sudah meringis duluan. “Wisesa!” geram Deanna dengan rahang bergetar, Seakan muncul begitu saja tampak beberapa orang dengan lambang keluarga Wisesa muncul seketika.


“Apa yang kalian lakukan? Lepaskan!” bentak Naura dengan emosi.


“Justru saya yang seharusnya bertanya Nyonya Naura Maleakhi.” balas Deanna.


“Kenapa anda tiba-tiba datang dan menyakiti calon menantu saya?” ujar Deanna.


“Kalian tidak tahu yang sebenarnya. Selama ini kalian salah paham! Kalian bahkan tidak tahu siapa gadis yang kalian kira Eleanor itu!” ucap Naura dengan emosi.


“Cukup!” Deanna memandang Naur dengan wajah mengeras. “Saya memang tidak paham apa yang anda ucapkan tapi tindakan anda sudah keterlalun!”


“Siapapun gadis yang bersama saya saat ini bukankah dia tetap adalah putri kandung anda. Lalu kenapa anda bisa bersikap semena-mena seperti ini?”

__ADS_1


“Ma, sudahlah.” gumam Emily perlahan menyentuh lengan Deanna. Dia bermaksud menenangkan perempuan paruh baya itu. Namun bukannya tenang, tampak tubuh Deanna gemetar, “Saya tidak apa-apa. Tadinya saya kira hanya tersandung sehingga jatu--”


“Mama? Jadi kamu memanggilnya mama? Lalu kamu anggap aku ini siapa, hah?” saat ini Naura sudah menyentakkan cekalan pengawal. Emily merintih karena ibunya mencengkeram kuat tepat dipergelangan tangannya yang sempat retak.


“Kamu putriku! Kamu putriku! Jangan seenaknya menjadikan orang lain pengantiku.”


“Jangan seenaknya menjadikan orang lain sebagai penggantiku! Aku yang mengandungmu, aku juga melahirkanmu! Aku juga yang menyusuimu! Jangan lupakan itu.”


“Maaf bu. Aku tiak bermak----Argggg.” Emily menjerit kesakitan sewaktu Emily merasakan Naura mencengkeram rahangnya sewaktu Emily berdesis, berbisik didekat teliganya.


“Jadi begitu ini? Apa kamu senang sekarang kamu menikmati peranmu yang Eleanor.


“Bukan bu…..bukan seperti itu.”


“Aku dan ayahmu bahkan satu dan bertengkar hebat gara-gara masalah ini. Tapi apa? Tapi nyatanya kamu malah enak-enaken. Belanja kesana kemari seolah tidak punya beban. Apa kamu begitu murahan?”


“Nyonya Maleakhi, sudah cukup. Tolong hentikan!” ucap Denna. “Kita sudah membuat keributan disini. “Tolong jangan marah dan mempermalukan diri anda.”


Naura yang menahan marah pun berdiri bergetar ditempat. Naura Maleakhi melontarkan pandangan tajam kearah Emily.


“Bu!” ucap gadis itu mencoba mengabaikan sakit hati dan juga fisik yang dia terima dari ibu kandungnya sendiri.


“Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Sungguh.”


“Sayang, sudahlah. Ayo kita pergi saja. Kita cari tempat lain yang untuk makan ya?” bujuk Deanna berusaha membantu Emily pergi.


Restoran yang mereka pilih ini memang restoran paling mahal sehingga tidak banyak orang yang bisa mengunjunginya. Bisa dikata tempat ini merupakan tempat yang paling banyak dikunjungi.


Saat ini terjadi hanya ada beberapa petugas yang bertugas sedangkan segelintir pengunjung yang tadi ada sekarang malah entah kemana. Besar kemungkinan para pengawal sudah menanganinya.

__ADS_1


“Jangan terlalu senang dulu!” hardik Naura menatap restoran itu sebelum akhirnya dia berbalik pergi dengan langkah penuh emosi.


__ADS_2