
Ruben menggelengkan kepalanya memandang istrinya tidak percaya. Selama bertahun-tahun pernikahan mereka, Deanna selalu bisa berpikir secara rasional. Soal apapun itu Ruben tidak pernah kehilangan keyakinan atas penilaian istrinya.
Tapi sekarang, rupanya ada juga sesuatu yang berhasil membuat seorang Deanna Avshallom kehilangan rasionalitasnya. Bukan sesuatu tapi leih tepatnya adalah seorang gadis bernama Emily.
"Oh ya Tuhan." desah Ruben disertai helaan napas panjang. "Deanna, jangan katakan kalau aku tidak memperingatkanmu soal ini. Tidak pernah ada kahir yang bagus dari sesuatu yang diawali dengan sebuah kebohongan."
"Itu bukan kebohongan Ruben! Toh, tidak ada bukti nnyata, Katakan saja sampai Eleanor memperlihatkan dirinya maka gadis yang sekarang akan segera menikah dengan putra kita adalah dirinya."
"Lalu bagaimana kalau nanti Eleanor kembali? Apa yang akan kamu lakukan Deanna?" tanya Ruben.
Deanna pun terdiam mendapatkan pertanyaan seperti itu dari suaminya. Dia memandang lurus entah kemana. Kedua tangannya masih saling meremas sedangkan wajah cantiknya pun terlihat menegang.
"Aku hanya punya satu menantu, Ruben! dan itu adalah gadis ini. Gadis yang sekarang bersama putra kita. Gadis yang dengan manis dan sopan memanggilku ibu. Gadis bermata abu dan berambut coklat madu itu. Hanya dia satu-satunya menantuku! Bukan yang lain. Walaupun Eleanor yang asli muncul sekalipun, tetap tidak bisa."
Suasana dikamar itu kembali hening, keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sampai kemudian suara lirih Ruben menyela, "Jadi apa keputusanmu sekarang?"
"Ya----" Deanna memandang suaminya dengan penuh keyakinan, "Pernikahan ini harus tetap dilaksanakan. Apapun resikonya nanti."
Ruben mengerutkan dahinya, dia tahu bahwa dia tidak bisa berbuat apapun. Lelaki itu terlalu mencintai istrinya sampai tidak berniat untuk menentang keputusan Deanna saat ini. Meskipun keputusan itu salah sekalipun.
******
"Ele, kamu kenapa?" Jaysen beranjak bangun. Tidurnya yang hampir saja lelao terganggu karena tubuh Emily mendadak gemetaran.
"Ele? Sayang? Kamu kenapa?" tanyanya lagi dengan nada cemas. Kedua tangan Jaysen meraba-raba berusaha meraih dahi gadis itu untuk sekedar memeriksa suhu tubuhnya. "Agak panas. Kamu demam sayang?"
Emily tidak bersuara, dia hanya menggelengkan kepala saja sebagai jawaban. Gadis itu mengetatkan rahangnya agar tidak bersuara. Sementara tubuhnya masih saja gemetar. Napanya pun mulai tersengal-sengal dan kedua matanya nanar terbuka lebar.
"Gi----an-----"
"Apa? Kamu kenapa?"
"Ak----kau mau Gian."
__ADS_1
DEG!
Rasanya belum pernah seumur hidup dada Jaysen merasa sesakit ini. Bahkan bisa dibandingkan dengan saat dia memergoki Eleanor sedang bercinta dengan pria lain rasanya tidak sesakit ini.
"Ele, apa maksudmu? Kenapa kamu malah menginginkan si brengsek itu?"
Emily tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepala saja disela tubuhnya yang gemetar hebat.
"Ele, lihatlah ada aku disini. Ada aku disini, kenapa kamu memanggil nama lelaki lain? Kenapa kamu membutuhkan lelaki lain saat ada aku disini?" Jaysen menarik dan menempelkan tanganĀ gadis itu didadanya sendiri.
Emily menggigit bibirnya kuat-kuat, dia sendiri merasa bingung dengan dorongan dirinya yang tiba-tiba saja dia sangat menginginkan Gian. Emily ingin berada didekat dokter muda itu dan menikmati aroma manis tubuh Gian yang sepanjang hari tadi dihirupnya.
Aroma itu. Aroma manis yang selalu membawa bayangan dokter muda nan tampan itu kedalam pikiran Emily. "Ak---aku kenapa?" engahnya mencoba bergulat antara rasa bingung dan juga hasratnya. "Ak---aku mau Gian. Aku mau bertemu dengannya."
"ELE!" teriak Jaysen marah. Dia menarik lau mengukung Emily dalam pelukannya. Jaysen kaget setengah mati karena gadis itu benar-benar suda beranjak bangun.
"Ele, kamu ini kenapa? Ada ada sebenarnya denganmu?" tanyanya berusaha menahan EMily dalam pelukannya sementara gadis itu terus berontak. "Sayang?"
"Ti---tidak tahu Jay, Aku tidak tahu apa yang terjadi." Emily meremas rambutnya sendiri, dia terlihat semakin kebingungan. Gadis itu benar-benar tidak mengerti dengan keinginan dan pikirannya sendiri. Kenapa dia tiba-tiba sangat menginginkan Gian? Dia ingin sekali bertemu dengan dokter muda itu.
Padahal tadi dia tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja dengan tubuhnya. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba Emily menjadi seperti ini? Sekujur tubuhnya terasa tidak nyaman dan ada kecemasan berlebihan yang menderanya membuatnya sangat tersiksa.
Ada juga rasa nyeri yang perlahan tapi pasti mulai mengumpul di kepalanya. Detak jantung gadis itu pun semakin cepat sehingga Emily merasa lemas dan juga mengigil gemetaran.
"Ele? Sayang? Kamu sebenarnya kenapa? Tunggulah disini sebentar, biar kupanggilkan dokter untukmu." Jaysen sama sekali tidak melonggarkan pelukannya tapi saat ini dia mengkhawatirkan Emily sehingga dia pun hendak melepaskan pelukannya saat dia mendengar Emily berkata.
"Gian! Aku mau Gian, ayolah Jaysen bawa aku padanya."
Tidak! Aku akan memanggilkan dokter pribadimu saja, ya sayang?"
Jaysen mengerang putus asa dengan tingkah aneh Emily tersebut. "ARGYA! ARGYA!" raungnya dengan frustasi.
"Ya Tuan Muda? Maaf, saya masuk tanpa izin." seru seorang pengawal yang memang berjaga didepan pintu kamar Jaysen.
__ADS_1
"Panggilkan dokter! Dokter pribadi Eleanor."
"Gian! Aku mau Gian yang datang kesini, Jaysen. Aku mohon!" potong Emily membentak Jaysen.
Jaysen merasakan hatinya sakit seperti tercabik-cabik dan tidak tega melihat Emily yang tersiksa sehingga dia memaki keras. "Oke! Oke! Panggilkan si brengsek itu agar datang sekarang!"
"Baik Tuan Muda."
"Dan panggilkan juga Argya datang kemari sekarang." perintah Jaysen lagi.
"Siap! saya permisi dulu kalau begitu." pengawal itu bergegas berbalik pergi.
"Jay!" erang Emily masih dengan tubuh gemetaran dalam pelukan Jaysen. "Gian akan datang kesini kan? Iyakan? Kamu memanggilnya untukku kan Jay?"
Jaysen menggertakkan rahangnya kuat-kuat, Jaysen mempererat pelukannya membuat Emily seoleh terkubur didalam dada bidang pria itu.
"Kamu milikku Ele! Milikku!" desisnya menahan amarah.
"Jaysen! Aku mau Gian! Aku menginginkan Gian disini sekarang!"
"Oh ****! Aku nggak tahu kenapa kamu sampai menjadi seperti ini Ele! Tapi kalau ini ada hubungannya dengan si brengsek itu maka aku akan membunuhnya." ancam Jaysen yang sudah tak bisa menahan dirinya lagi.
"Jay----" isak Emily seolah merasakan sakit. "Gi---an.....aku mohon!"
Jaysen tidak sanggup menjawab dan hanya memeluk gadis itu. Sesekali dia bergumam dan berbisik ditelinga Emily. "Ada aku disini! Sudah ada aku disini, sayang. Jangan mencari lelaki lain lagi."
"Gian----aku mau Gian----" ucap Emily.
Untuk pertama kalinya Jaysen bersyukur atas kebutaannya. Dia memang tidak bisa melihat tapi lelaki itu bisa merasakan dan menebak apa yang sedang terjado. Emily sedang dalam pelukannya sewaktu Gian datang dan gadis itu langsung menyentakkan tangan Jaysen lalu menghamburkan diri kedalam pelukan Gian.
"Ada apa?" tanya Gian yang dengan sukacita membalas pelukan gadis impiannya. Dia mengelus dan menciumi rambu Emily, menghirup dalam-dalam aroma bunga ringan dan samar. Kalau saja tidak ada Argya disana yang mengamati dengan cermat,mungkin Gian bisa lupa diri dan ******* sepasang bibir berwarna merah muda itu yang selalu membuatnya tergiur dan bergairah.
"Apa kamu merindukanku? Aku datang sayang," bisiknya dengan suara mesra.
__ADS_1
Emily tidak menjawab, dia hanya mempererat pelukan dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Gian. Sekilas tubuh gadis itu masih bergetar tapi yang jelas gemetarannya sudah jauh berkurang dibandingkan sebelumnya.
Saat ini gadis tiu sudah nampak lebih rileks dan nyaman dalam pelukan Gian. "Apa aku boleh memeriksanya?" tanya Gian berusaha keras menahan senyuman dan mencoba memasang wajah santai. "Aku harus memeriksa Eleanor agar aku tahu ada masalah apa?"