Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 30. BERITA VIRAL


__ADS_3

“Aku bukan milikmu dan takkan pernah menjadi milikmu! Aku bahkan tidak mengenalmu sama sekali! Apakah kamu begitu bodohnya untuk tidak menyelidiki siapa aku?”


“ELE!” bentak Jaysen mulai marah.


“Aku bukan Eleanor! Jadi jangan pernah paksa aku! Biarkan aku pergi dari sini dan kembali ke New York! Aku ingin pulang, ini bukan tempatku. Kumohon!” ingin rasanya dia menangis tapi dia tidak mau menjadi lemah lagi. Bagaimanapun ini adalah hidupnya dan hanya dia yang bisa diandalkan saat ini untuk menyelamatkan hidupnya sendiri.


Dia bukanlah gadis yang cengeng tetapi tekanan dan peristiwa buruk yang bertubi-tubi dialaminya semenjak tiba di Indonesia membuat gadis cantik itu mudah meneteskan airmata. Selama sempat belas tahun tinggal bersama Maya dan suaninya dengan kehidupan yang bahagia.


Meskipun selama empat belas tahun itu Emily merasa diabaikan oleh kedua orang tuanya tetapi hidupnya baik-baik saja. Dia punya bibi yang menyayanginya seperti putri kandungnya sendiri. Dia juga punya John kekasihnya yang baik dan selalu bersikap lembut padanya. Ada Amber sahabatnya yang selalu bersamanya semenjak mereka kuliah.


Juga Steve suami bibinya yang sudah mau menerimanya dan merawatnya selama empat belas tahun. Lalu dalam sekejap semuanya itu dirampas begitu saja oleh lelaki buta dihadapannya ini. Lelaki yang sama sekali tidak dia kenal, tetapi malah mengklaim bahwa dia adalah miliknya. Hanya karena mengira bahwa Emily adalah saudari kembarnya Eleanor, padahal bukan.


“Kumohon, apa yang harus kuperbuat agar kamu percaya padaku bahwa aku bukan Eleanor? Lepaskan aku, biarkan aku pulang ke New York dan melanjutkan kuliahku. Aku janji tidak akan membawa masalah ini ke jalur hukum. Asal kamu melepaskanku aku akan melupakan semuanya.” pintanya.


“Apa kamu sudah selesai bicara?”


Emily menatap lelaki yang sedang duduk santai di sofa bed itu dan sesaat dia menahan napas. Sosok lelaki tampan dengan tubuh atleris dan nyaris tidak berpakaian yang dilihatnya wajah Emily memerah.


“Ele, diatas bufet itu ada remote TV. Nyalakan TV-nya untukku.” ujar Jaysen sama sekali tak ada niat untuk menutupi tubuhnya yang nyaris telanjang. Masih dalam keadaan bingung dengan maksud lelaki itu, Emily menurutinya. Dia berjalan kearah bufet lalu mengambil remote dan menyalakan TV. Seketika itu juga wajahnya menjadi pucat pasi.


“Aku tidak bisa mendengar suara TV-nya. Keraskan volume TV-nya agar aku tahu tayangan apa yang sedang ditayangkan.” ucapnya dengan tenang.

__ADS_1


Dengan tangan gemetar Emily menekan tombol volume dan menaikkan suaranya. Suara pemberitaan terbaru yang dilihatnya muncul di TV semakin membuat gadis cantik itu semakin pucat.


“Nggak…..ini nggak mungkin! Ada yang salah! Pasti ada yang melakukan itu.” masih dengan tangan gemetar Emily memindahkan saluran TV kebeberapa channel dan seolah ingin memastikan penglihatannya dan pendengarannya. “Tidak! Berita ini tidak benar!”


“Seorang pengusaha kelas atas berinisial TM ditangkap oleh pihak berwajib setelah ditemukan memiliki barang berupa narkotika dikediamannya.” Jaysen mengulangi berita itu dengan suara datar. “Tidak hanya itu setelah dilakukan penyelidikan lebih lanjut, terkuah bahwa jaringan perusahaan yang dimiliki oleh tersangka TM ternyata terlibat dengan bisnis penyelundupan senjata dan pencucian uang. Pihak berwajib sudah berhasil mengumpulkan semua bukti-bukti.”


“Kira-kira siapa ya yang dimaksud dengan pengusaha berinisial TM itu? Sayang, kamu kan bisa melihat siapa orang yang sedang digelandang pihak berwajib disiaran berita itu. Apakah kamu mengenali siapa orang itu?” tanya Jaysen.


Emily merasakan dadanya yang terasa sesak saat dia melihat di layar TV, dengan sangat jelas dia melihat ayahnya yang diseret oleh pihak berwajib dan dicecar oleh para wartawan.


Dia juga bisa melihat wajah ibunya yang pucat dan kebingungan dengan apa yang terjadi. Meskpun selama empat belas tahun dia hidup terpisah dari mereka, tapi mereka tetaplah orang tuanya.


Hati Emily terasa sakit melihat kondisi mereka. “Apa kamu yang melakukan itu? APA KAMU YANG SUDAH MENJEBAK AYAHKU? APA KAMU PELAKUNYA JAYSEN? JAWAB AKU BRENGSEK!” teriaknya marah sambil menatap tajam pria buta yang masih duduk tenang di sofa.


Emily dengan marah membanting rmeote TV dan menatap jaysen yang malah bersikap santai dan tak berdosa. Seumur hidup belum pernah gadis itu merasakan kebencian yang begitu besar pada seseorang.


“Sayang, kenapa kamu menuduhku begitu? Aku kan ada disini bersamamu.” Jaysen berdiri lalu berjalan mendekati Emily sementara gadis itu terisak meluapkan kemarahannya.


“Ssstt….jangan menangis sayang. Aku nggak suka melihatmu menangis begini. Padahal beberapa hari yang lalu keinginan terbesarku adalah membuatmu menderita Ele!”


“Tapi ada yang aneh denganku. Kenapa ya Ele? Aku tidak bisa membuatmu menderita. Kamu sangat berbeda sekarang dan aku bisa merasakan kalau kamu bukan Ele yang dulu. Apa kamu tahu alasannya kenapa aku merasakan ini?” ujar Jaysen menghapus airmata Emily yang membasahi wajahnya.

__ADS_1


Gadis itu rasanya ingin berteriak saking kesalnya. “Mana aku tahu bodoh! Kamu itu benar-benar bodoh! Brengsek! Bajingan! Tidak punya hati nurani!” teriaknya menepis tangan Jaysen tetapi lelaki itu tetap saja mengelus pipinya.


“Makanya jangan pergi! Kamu boleh mengatai aku sesukamu asalkan kamu tidak pergi.”


“Apa kamu bilang? Cih!” dengus Emily yang merasa jijik dengan tingkah lelaki buta itu.


“Jangan pergi oke? Tinggallah disini sampai aku bisa menemukan penyebab keanehan yang kurasakan ini Ele. Atau jangan-jangan sebentar lagi aku mati ya?”


“Kata orang-orang tua, kalau kita merasakan hal yang berbeda dari biasanya itu adalah pertanda kalau kita sebentar lagi akan mati?”


Emily ingin menertawai kebodohan lelaki buta itu tetapi dia tidak mampu melakukan itu. Cara berpikir lelaki itu memang sulit untuk dipahami.


Dan benar saja, lihatlah belum lama tadi lelaki itu berbicara soal kematian tetapi sekarang dia malah tertawa terbahak-bahak yang membuat Emily kebingungan dan bergidik ngeri. Jangan-jangan lelaki ini memang ada gila-gilanya?


“Ele.” panggilnya diantara tawanya. “Pasti itu yang kamu harapkan bukan? Pasti kamu sangat berharap aku mati supaya kamu bebas kembali bersama kekasih gelapmu itu. Iyakan?”


Setelah berhenti tertawa, Jaysen mengelus lembut rambut Emily. Jarinya bermain-main diujung rambut gadis itu lalu dia menunduk untuk menciumnya.menghirup wangi rambut kecoklatan milik Emily.


“Ele! Aku bisa membebaskan ayahmu dari segala tuntutan hukum itu.” ucapnya lembut.


Tubuh Emily membeku seketika, dia tahu bahwa tawaran lelaki itu mustahil jika tanpa imbalan dan imbalan yang dimintanya pun pasti sesuatu yang tidak masuk akal.

__ADS_1


 


__ADS_2