Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 41. PERSIAPAN PERNIKAHAN


__ADS_3

Mimi menangis tergugu, gadis itu duduk meringkuk dibawah guyuran air dhower yang dibiarkannya menyala sejak satu jam lalu. Ada rasa bersalah karena tadi dia begitu menikmati permainan Gian. Bahkan dia mendapatkan pelepasan berkali-kali dari kakak tirinya itu. Lagi dan lagi Mimi menampar dirinya seolah ingin menghukum dirinya sendiri.


Dia merasa begitu rendah memanfaatkan kondisi Gian yang tidak sadar dan sedang mabuk. Didalam hatinya gadis bisa itu berharap semoga kakak tirinya itu tidak akan pernah menyadari apa yang sudah terjadi di antara mereka. Mimi takut kalau sampai Gian tahu maka dia bisa saja diusir. Dia akan kehilangan tempat tinggal, kemana dia akan pergi mencari perlindungan jika itu terjadi?


Tidak ada suara saat gadis itu menangis semalaman. Sakit dan nyeri yang dirasakannya disekujur tubuhnya, rasanya tidak sepadan dengan hatinya yang terasa sakit.


Suara jam yang berdentang lima kali saat Gian membuka matanya. Dengan susah payah dia bangun dan merasakan kepalanya yang sakit dan berat.


Sejenak pandangan mata dokter muda itu berputar. Barulah setelah beberapa saat berlalu, Gian melihat jelas jarum jam di arlojinya. Pukul lima dini hari. “Pantas saja aku merasa kedinginan.” keluhnya berusaha duduk. Namun saat berikutnya kedua mata dokter muda itu terbelalak. Kenapa dia tidur dalam kondisi tanpa sehelai pakaian pun?


Gian bergegas memakai celananya. Dokter muda itu juga kaget ketika mendapati kondisi ruangan didepannya yang porak poranda. “Seperti ada orang yang habis mengamuk.” gumamnya.


Sambil menghela napas, dengan terhuyung-huyung Gian menjatuhkan diri keatas sofa. Dia berusaha mengingat-ingat apa saja yang telah dilakukannya seharian ini.


Tadi sepulangnya dari kediaman Wisesa, Gian memang diselubungi amarah dan sekali lagi dengan bodohnya dokter muda itu memilih menghabiskan waktu dengan meminum minuman keras demi meredakan rasa sakit hatinya. Kabar soal Eleanor yang akan segera menikah dengan Jaysen benar-benar membuat dokter itu mengalami pukulan berat.


“Sepertinya aku sangat mabuk.” sambil memejamkan matanya Gian bergumam. “Lalu sepertinya aku mengambuk setelah sampai dirumah. Sunyi seaat, ada jeda waktu Gian masih merasa begitu pusing. Namun kemudian ada satu pemikiran yang terlintas dalam benaknya.


Dokter muda itu membuka matanya kembali, “Kalau begitu, kenapa tadi aku sampai telanjang?” mendadak ada serangan nyeri yang mendera di kepalanya saat Gian berusaha untuk mengingat lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. “Apa mungkin aku bermain solo tanpa sadar?”


Beberapa kali Gian memijat pangkal hidungnya dalam kepalanya berkelebat beberapa ingatan tidak utuh yang saling tumpang tindih. “Apa itu khayalanku saja ya?” bisiknya saat dia mengingat akan sosok seorang gadis yang ditindihnya dan dipacunya dengan liar dan buas. Wajahnya memang tidak terlihat jelas karena saat itu Gian sudah jauh dari ambang kesadarannya.


Tapi Gian mengingat jelas warna coklat madu gadis itu, “Eleanor, lagi-lagi aku membayangkanmu.” keluhnya. Gian teringat kembali betapa gadis itu gemetaran saat berada dipangkuan Jaysen. Otaknya segera berputar, memikirkan cara untuk membantu Eleanor agar bisa terbebas dari lelaki iblis Jaysen.


“Sial!” makinya, merasakan kepalanya yang kembali berdenyut nyeri.


Perlahan dia bangkit berusaha untuk berjalan menuju ke kamar tidurnya tapi belum lama berdiri, dokter muda itu terhuyung dan kembali terjatuh. Mimi, sepertinya aku membutuhkan bantuannya.”

__ADS_1


Namun Gian menyadari bahwa ini masih terlalu pagi, biasanya Mimi selalu bangun pada pukul enam pagi. “Ya sudahlah. Aku tidur disini saja. Toh nanti Mimi akan datang lalu membangunkanku.”


Dengan mata tetap terpejam, Gian terus bergumam dan berpikir. “Sepertinya aku perlu memanggil bibi Janni untuk membereskan kekacauan ini. Meskipun diluar jam kerjanya, toh nanti aku akan membayarnya lebih. Soal Eleanor, apa yang bisa kulakukan untuk mengeluarkan dia dari sana?”


“Aku sudah tidak sanggup untuk membayangkan kalau dia benar-benar menikah dengan Jaysen.” pikiran mengenai Eleanor terus menerus menguasai benaknya selama beberapa saat, membuat Gian rileks kembali. Ditambah suasana dini hari yang hening, berhasil mengantarkan dokter muda itu ke alam mimpi dan melupakan kebodohannya sejenak.


“Ele,” igaunya menyusul seulas senyum bahagia. Entah mengapa sepertinya hari inipun Gian akan bermimpi indah. Lelaki berwajah tampan itu sama sekali tidak menyadari kesalahan yang sudah dia lakukan untuk kedua kalinya pada adik tirinya. “Eleanor….oh!”


...************...


Dirumah kediaman Keluarga Wisesa. Beberapa pelayan tampak bergerombol dan saling berbisik-bisik.


“Apa terjadi sesuatu?”


“Entahlah. Bagaimana menurutmu?”


“Percuma saja. Mereka juga tidak tahu apapun karena mereka hanya menunggu diluar ruang kerja. Aku sudah menanyai mereka berdua tadi.”


“Lalu apa yang sebenarnya terjadi?”


Emily menghela napas. Suara bisik-bisik dan gumaman para pelayan masih bisa didengarnya meskipun hanya samar-samar.


“Saya akan menegur dan memberi mereka peringatan nona.” ujar Argya yang langsung tanggap.


Emily menggeleng, tanpa berkata apapun Emily kembali meneruskan langkahnya ke perpustakaan dengan diikuti Argya dibelakangnya.


Sudah dua hari berselang sejak kejadian diruang kerja itu dan sudah dua hari pula Emily tidak bertemu dengan Jaysen. Lelaki itu seolah berusaha menghindarinya, entah apa alasannya. Mungkin semua itu hanya perasaannya saja tapi yang jelas dia tidak perlu berurusan dengan Jaysen dan Emily merasa tidak perlu mengeluhkan hal itu.

__ADS_1


Namun ada satu masalah lainnya. Itu adlaah Argya yang terus saja mengikutinya kemanapun Emily pergi. Ya, seperti sekarang ini contohnya. “Apa sekarang anda harus mengikuti saya kemanapun saya pergi?” tanya Emily mulai merasa sebal karena merasa terus-terusan diawasi. Gadis itu sudah merasa sesak karena dia tidak bisa pernah keluar dari rumah ini. Dan sekarang malah ada orang yang terus saja mengikutinya kemana-mana.


“Benar nona.” jawab Argya tenang. “Saya mohon maaf apabila nona merasa tidak nyaman.”


“Apa ini juga atas perintah orang gila itu?”


“Betul nona.”


Emily mendengus lalu menghentakkan kaki kiirnya dan dia langsung menjerit lirih karena kesakitan.


Dia lupa kalau kaki kirinya ini terkilir dua hari lalu dan sekarang bertambah nyeri oleh ulahnya sendiri.


“Hati-hati nona,” seru Argya menatap cemas sewaktu Emily dengan hati-hati saat duduk. “Kaki anda baru sembuh jadi mohon lebih berhati-hatilah. Jangan lupa kalau sebentar lagi adalah hari pernikahan nona.” ujar Argya mengingatkannya.


Wajah Emily berubah muram seketika. Pernikahan yang Emily bayangkan adalah pernikahan yang dilakukan denga orang yang dicintainya tanpa ada paksaan apapun dari pihak manapun. Namun nyatanya, kondisi yang dia alami saat ini tidaklah begitu. “Apa aku akan benar-benar menikah?” bisiknya memilin-milin ujung roknya.


“Hari ini adalah jadwal nona untuk fitting gaun pengantin.” ujar Argya lalu menghidangkan secangkir teh dan cemilan manis untuk Emily.


“Sebentar lagi Nyonya Sabrina Saab akan datang membawakan beberapa desain yang bisa nona pilih.”


“Sabrina Saab?”


“Betul nona.”


“Desainer terkenal itu?”


“Betul.”

__ADS_1


 


__ADS_2