Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 42. FITTING BAJU


__ADS_3

Emily mengerjapkan matanya, gadis itu sama sekali tidak pernah bermimpi untuk bisa membeli satupun gaun rancangan Sabrina Saab yang harga per gaunnya saja tidak tanggung-tanggung mahalnya. Satu gaun rancangan Sabrina Saab bisa mencapai ratusan juta rupiah. Apalagi gaun berkelas ekslusif semacam gaun pengantin, mungkin harganya bisa sepuluh atau bahkan seratus kali lipat.


“Dan nanti aku nggak hanya memakai satu gaun tapi beberapa gaun ya?” gumam Emily syok. “Memangnya, orang itu mau mengeluarkan uang berapa banyak untuk menikahiku? Kalau dia punya uang sebanyak itu, lalu kenapa sampai harus menekan keluargaku dengan meminta uang kompensasi sebesar itu pada mereka?”


Emily mengeryitkan keningnya, dia benar-benar semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran Jaysen. “Memangnya dia itu punya bisnis apa sih? Bisa punya uang sebanyak itu?” tanya Emily dengan wajah merengut sambil menatap Argya yang berdiri disampingnya.


“Bukankah nona Eleanor sudah ta---”


“Kalau aku tahu mana mungkin aku bertanya. Lagipula aku bukan Eleanor tapi tak ada satupun diantara kalian yang mau percaya.” potong Emily dengan kesal. Dia sudah cukup kesal karena dia berulang kali mengatakan kalau dia bukanlah Eleanor Milena. Baik Jaysen maupun orang-orang dirumah ini, semuanya seolah sepakat untuk menjadi patung tuli tiap kali gadis itu mengatakan siapa dia sebenarnya.


“Aku ini Emily Vionetta, bukan Eleanor! Kenapa sih nggak ada yang mau mendengarkan? Ish...menyebalkan kalian semua!” gerutunya mengaduk-aduk tehnya dengan berlebihan saking kesal.


“Anu, Pak Argya...”


“Cukup panggil saya Argya saja, nona.”


“Hmm….itu--” Emily menarik-narik ujung rambutnya, terlihat malu dan grogi bertanya. “Apa orang itu juga akan ikut saat proses fitting baju pengantin nanti?”


Semburat merah langsung saja menghiasi kedua pipunya. Belakangan ini Emily sendiri tidak paham bagaimana perasaannya sendiri pada lelaki buta itu.


Emily masih merasa takut pada orang itu. Iya….itu hal yang sudah pasti. Namun sejak kejadian di ruang kerja dua hari lalu itu Emily mulai merasakan adanya perasaan lainyang menyusup kedalam hatinya dan dia merasakan sebuah rasa yang berbeda. Seolah dia ingin keberadaannya diakui.


Emily ingin dia dianggap sebagai dirinya sendiri bukan sebagai Eleanor. Gadis itu menundukkan wajahnya, dia ingat betul betapa sakit hatinya sewaktu Jaysen menyatakan perasaan cintanya padanya. Karena bukan namanya yang disebut, melainkan nama Eleanor. ‘Jangan bodoh Emily! Dia mengatakan itu karena menganggapmu sebagai Eleanor.’ bisik hatinya mengingatkan.


Pernyataan cinta Jaysen adalah untuk Eleanor bukan Emily. Sambil menggigit bibirnya, Emily berusaha menahan air mata yang sudah mengenang. Gadis itu sama sekali tidak mengerti, kenapa dia harus merasakan semua ini? Bukankah Jaysen menganggapnya ada atau tidak bukan masalah baginya?

__ADS_1


Toh memang sejak awal bagi lelaki buta itu memang tidak pernah ada gadis bernama Emily Vionette. Bagi Jaysen yang ada hanyalah Eleanor Milena. Emily kembali merasakan sesak didadanya yang serasa ditusuk ribuan jarum. Perasaan bahwa keberadaannya tidak dianggap membuat gadis itu sampai kesulitan bernapas.


Dulu orangtuanya, yang hanya menyayangi dan memperhatikan Eleanor. Bahkan mereka rela melepaskan Emily dna dibawa jauh ke New York sealam empat belas tahun dan selama itu pulalah, Baik Titus maupun Naura tidak pernah sekalipun datang menemuinya.


Hal tersebut membuat Emily merasa bahwa dia sudah dibuang oleh kedua orang tua kandungnya sendiri. Lalu sekarang, Jaysen dan semua orang dirumah ini. Rasanya memang tidak pernah ada tempat bagi Emily Vionetta.


“Mama,” rintih Emily lirih, dia benar-benar merindukan Maya, ibu angkatnya, “Aku mau pulang.”


Gadis itu benar-benar ingin kembali ke New York. Setidaknya disana ada orang-orang yang masih menganggapnya ada. Setidaknya disana masih ada tempat bagi seorang Emily Vionetta.


Argya terkejut setengah mati saat melihat Emily yang sekarang muram dan tergugu. “Nona, ada apa? Apakah kaki anda masih sakit?” tanya pria itu dengan panik. Sikap tenang yang selama ini melekat dalam dirinya, sekarang hilang entah kemana. “Kenapa anda menangis?”


“Aku mau pulang. Seharusnya yang menikah itu Eleanor, bukan aku.” isak Emily berusaha mengusap air mata yang membasahi pipinya.


“Nona…..”


Argya berdiri dengan kebingungan. Dia ingin menenangkan gadis yang menangis itu tapi disatu sisi, pengawal itu juga ingat betul tentang perintah dan juga larangan Jaysen untuk tidak menyentuh sembarangan. “Ada apa ini?” sebuah suara datar menyela.


Melihat siapa yang datang, Argya segera membungkuk lalu berdiri menjauh. Sementara tangisan Emily pun berhenti. Tanpa perlu melihat dia sudah tahu siapa yang datang. Jaysen berjalan masuk lalu memegang lengan kursi dimana Emily duduk. Lelaki buta itu lalu berlutu dan meraba-raba emncari pergelangan kaki Emily, membuat gadis itu terkejut.


“Jaysen! Apa yang----”


“Apa kakimu masih sakit Ele? Apa karena itu makanya kamu menangis?”


Emily terdiam. Sekilas dia bertukar pandang dengan Argya yang malah memasang wajah tanpa ekspresi. “Sudah nggak sakit lagi kok. Aku baik-baik saja.”

__ADS_1


“Lalu kenapa kamu malah menangis?”


Sebelah tangan Jaysen terulur, Emily tahu bahwa lelaki itu ingin menyentuh wajahnya. Memegang tangan Jayse, dia lalu menyentuhkan tangan pria itu kesalah satu pipinya.


“Kamu cengeng sekali sekarang.” gumam Jaysen mengangkup wajah Emily dengan kedua tangannya dan mengusap bekas airmata gadis itu, “Apa ada sesuatu yang kamu inginkan Ele? Katakan saja, kalau aku bisa, aku pasti akan mengabulkannya.”


Sambil menunduk dan *******-***** ujung roknya, Emily menjawab, “Apa boleh aku pulang?”


“Pulang kemana? Sebentar lagi kita menikah dan kamu akan menjadi istriku. Jadi sekarang rumah ini adalah rumahmu juga.”


Sambil menghela napas panjang, Emily berusaha memikirkan cara lain. Sangat jarang sekali Jaysen bersikap selembut ini padanya. Jadi dia harus memanfaatkannya sebisa mungkin. “Ap—apa aku boleh menemui orang tuaku? Ay—ayahku. Aku ingin mengetahui keadaannya.”


“Nanti saat upacara pernikahan kedua orang tuamu akan datang. Kalian bisa bertemu saat itu, jadi tunggulah sebentar lagi. Dan tentang ayahmu, dia sudah keluar dari penjara dan bebas dari segala tuntutan. Sesuai janjiku Ele, nama baik keluargamu masih terjaga.”


Emily cemberut, usahanya gagal lagi. Entah cara apalagi yang harus dia lakukan untuk bisa keluar dari rumah itu. Lelaki ini sekarang memang terlihat lembut, tapi rupanya tetap ada tembok baja yang mengelilinginya. “Jay, bukankah kamu ingin menikahi Eleanor Milena?”


“Iya.”


“Tapi aku bukan Eleanor. Namaku Emily.”


Hening sesaat. Emily mulai merasa takut kalau-kalau Jaysen akan marah dan mengamuk seperti yang sudah-sudah. Dia menatap wajah lelaki buta itu untuk melihat ekspresi wajahnya.


“Argya!”


“Ya Tuan.”

__ADS_1


“Tinggalkan kami.”


Sontak Emily tercengang. Dugaannya ternyata benar, Jaysen marah lagi dan lagi. Ini yang paling tidak disukainya dari pria ini.  Temperamennya sangat buruk. “Jay….ak----aku. Ah!”


__ADS_2