
Ada nada geram dari suara Gian, dokter muda itu merasa hati dan pikirannya panas saat melihat gadis itu berada dalam pelukan dan pangkuan Jaysen. Sekilas pandangan mata dokter muda itu sedikit nyalang sewaktu dia menelusuri sepasang kaki jenjang nan mulus Eleanor yang terjulur. Ingatannya akan mimpi yang dialaminya semalam membuat Gian kembali bergairah.
Kalau saja mimpinya semalam itu adalah kenyataan. Kalau saja dia dan Eleanor benar-benar bercinta semalam suntuk.
“Hanya kakinya.” ujar Jaysen lagi mengingatkan dokter muda itu.
“Ya? Apa?”
“Aku hanya mengijinkanmu menyentuh pergelangan kaki kirinya. Itupun harus memakai sarung tangan.” jawab Jaysen penuh penegasan. Dan butuh beberapa saat bagi Gian untuk bisa memahami maksud ucapan Jaysen.
“Apa mak----.”
“Aku nggak mau dan nggak suka kalau milikku disentuh orang lain secara sembarangan.” ucap Jaysen.
“Hanya aku saja yang boleh menyentuhnya karena itu kau harus pakai sarung tanganmu Gian!”
Dokter muda itu tambah terpelongo mendengarnya. Aturan konyol darimana itu datangnya? Ini benar-benar gila! Belum pernah dia menemukan ada lelaki yang membuat peraturan konyol seperti itu hanya untuk hal sepele.
“Argya!”
“Ya Tuan Muda.”
“Pastikan Dokter Gian memakai sarung tangannya sebelum memeriksa pergelangan kaki calon istriku.”
“Apa?” Gian berseru tanpa sadar karena terkejut.”Calon istrimu?”
“Iya. Kenapakau terkejut begitu? Apa kau keberatan?” balas Jaysen dengan nada menantang.
Gian membuka mulutnya lalu menutupnya lagi. Dokter muda itu benar-benar kehilangan kata-kata yang sudah ada diujung lidahnya untuk diucapkan.
Eleanor menikah? Dengan Jaysen? Ini benar-benar berita mengejutkan baginya karena dia sudah memikirkan rencana untuk membawa Eleanor pergi jauh-jauh dari sana. Rasanya seperti ada sesuatu yang menghantamnya begitu keras, membuat dada Gian sesak.
__ADS_1
“Apa lagi yang kamu tunggu?”
“Hah?” Gian berubah menjadi bodoh seketika.
“Bukankah aku memanggilmu dokter Gian untuk datang kesini agar memeriksa pergelangan kaki calon istriku? Lalu kenapa sekarang Dokter Gian malah bengong dan diam saja disitu?”
Sambil menggertakkan rahangnya, Gian mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Tubuhnya terasa kaku saat akhirnya dia bergerak maju mendekati Eleanor.
Eleanor….Eleanor-nya. Perlahan dia menekuk lutut dan duduk di karpet tepan didepan kaki Emily. “Bagaimana kalau Eleanor duduk dengan benar agar aku bisa memeriksanya dengan lebih leluasa?” tanya Gian semakin merasa tidak suka karena gadis yang mereka kira Eleanor itu terus saja berada dipangkuan Jaysen.
“Eleanor akan tetap duduk di pangkuanku.” jawab Jaysen dengan nada datar dan dingin. “Lagipula kamu hanya perlu memeriksa kakinya kan? Jadi lakukan saja, jangan banyak tanya dan banyak alasan!”
Lagi-lagi Gian mengeratkan rahangnya dan menarik napas berat. “Aku akan memeriksa kakimu Ele. Jadi tolong katakan kalau ada yang sakit ya?”
Suara Gian terdengar lebih lembut dan dia emndongak memandang rambut coklat yang sewarna madu itu dengan senyuman diwajahnya. Dia berharap semoga mata berwarna abu itu menatapnya balik.
Ada gerakan sewaktu Emily reflek mengangkat kepalanya. Saat gadis itu berniat untuk menjawab ucapan Gian. Tapi belum sempat dia menoleh dan memandang dokter itu, Jaysen sudah menekan kepalanya.
Tidak ada sahutan apapun dari lelaki buta itu, Jaysen seolah tidak rela kalau ada lelaki lain yang menatap wajah gadis yang dikiranya Eleanor itu.
Dia baru berhenti menekan kepala Emily saat akhirnya gadis cantik itu mengalah dan kembali bersandar di bahu kirinya. Ada senyuman diwajah tampannya saat dia kembali mengelus-elus rambut coklat Emily.
“Bicara padaku saja Gian! Aku akan memberitahumu apakah Eleanor merasa kesakitan atau tidak. Jadi jangan coba-coba mengajaknya bicara.”
Gian kembali terpelongo mendengar perkataan pria itu. Dia menatap Jaysen dengan tatapan tidak percaya. “Apa kamu sudah segila itu Jaysen?” ucapnnya dengan kesal.
“Iya. Memangnya kenapa?”
Tak ada respon apapun dari Gian, suasana didalam ruangan itu dipenuhi keheningan sampai suara dehaman Argya memecahkan keheningan.
Pria paruh baya itu sengaja melakukannya karena baik Jaysen maupun Gian terlihat seperti sudah sama-sama tegang karena emosi dan siap baku hantam lagi.
__ADS_1
“Baiklah. Aku akan memulai pemeriksaannya. Yang mana yang terkilir?” tanya Gian.
“Pergelangan kaki kiri. Dan jangan sentuh selain tempat itu atau aku akan benar-benar menghajarmu habis-habisan Gian!” ancam Jaysen lagi.
Dia mengeratkan pelukannya pada Emily seolah Gian akan merebut dan membawa kabur gadis itu. Jaysen benar-benar tidak suka kalau ada yang menyentuh Emily entah mengapa dia bersikap seperti itu.
Padahal dia tidak pernah seperti itu sebelumnya bersama Eleanor. Belakangan ini dia merasa tidak rela kalau ada yang mengusik gadis yang masih dia kira Eleanor itu.
Jangankan menyentuh, bahkan sebenarnya Jaysen juga tidak suka kalau ada yang memandangi Emily terlalu lama. “Kamu milikku Ele. Kamu milikku!” bisiknya tepat ditelinga gadis itu.
Sedangkan Emily menggigit bibirnya kuat-kuat. Gadis itu mati-matian menahan agar suara desahannya tidak lolos dari bibir mungilnya.
Bisikan dan sentuhan yang dilakukan oleh Jaysen entah mengapa membuat gadis itu meremang. Seolah ada sesuatu yang mulai menggeliat ditubuhnya. “Jay.” bisiknya nyaris dengan suara tertahan dan terengah. “Ngeli….”
Tangan Jaysen meremas pinggul Emily. Dia menahan napas sesaat, menundukkan kepala diantara rambut gadis itu dan sedikit menggigit bahu Emily.
“Ele,jangan bergerak terus seperti ini. Jangan menyiksaku lebih dari ini. Please.”
Emily bergetar, bukan karena rasa sakit atau nyeri sewaktu Gian menyentuh dan menggerak-gerakkan kakinya yang sakit dengan hati-hati. Tapi karena ada sesuatu yang memercik dalam dirinya terasa seamkin berkobar dan membara.
Gadis itu menarik napas panjang tapi hanya ada aroma Jaysen yang bisa dihirupnya. Dan aroma itu berhasil membuat Emily semakin bergairah. Aneh…..ini sangat aneh.
Emily yakin bahwa dia tidak makan atau meminum sesuatu yang aneh. Sejak kejadian minum the di taman waktu itu, memang Emily menjadi lebih berhati-hati.
Untuk semua yang dikonsumsinya, dia selalu memastikan tidak ada yang menaruh sesuatu. Meskipun sebenarnya dia juga belum yakin dengan apa yang sebenarnya terjadi waktu itu.
Namun gadis itu belum makan apapaun sejak semalam akrena memikirkan proses pembebasan ayahnya hari ini. Dia bahkan tidak bisa tidur saking gelisahnya.
Kalau begitu, kenapa Emily merasa sangat bergairah seperti ini? Sentuhan dan aroma Jaysen terasa bagai candu baginya bahkan semakin lama gairahnya semakin bergelora.
“Ugh! ****!” maki jaysen sewaktu merasakan napas Emily ditengkuknya. Jelas kalau gadis itu mulai tersengal. Dan bukan itu saja, Emily bahkan menjilat dan menggigit tengkuknya membuat Jaysen menjadi blingsatan.
__ADS_1
Tanpa sadar Jaysen memaki, sehingga membuat Argya dan Gian memandang tidak mengerti. Mereka heran kenapa tiba-tiba Jaysen memaki sendiri?