Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 72. RASA SAYANG


__ADS_3

“Padahal ayah nggak perlu repot seperti itu.” gumamnya seraya menyugar rambut dan menghela napas panjang. “Kenapa capek sekali ya rasanya? Padahal biasanya kalau aku bekerja sampai pagi pun tidak pernah ada masalah.”


Dia menelungkupkan kepala diatas meja dan menyatukan kedua tangannya ditengkuk. Beberapa kali lelaki buta itu menghela napas panjang.


Setelah dia mengalami kebutaaan, Jaysen langsung mempelajari huruf braille sehingga sekarang semua laporan yang perlu dia priksa dicetak dalam huruf timbul yang bisa ditelaah lewat rabaan saja. Memang sedikit merepotkan karena itulah Jaysen hanya mengecek hal-hal yang dirasa paling penting saja. Sedangkan sisanya biasanya dia alihkan kepada wakilnya.


“Sedang apa dia sekarang ya? Apa dia sudah tidur?” gumamnya kali ini memiringkan kepala dengan kedua tangan sebagai bantalan.


“Ahhhhh sial! Apa begini yag namanya rindu? Meskipun tinggal serumah tapi seharian ini aku nyaris tidak bertemu dengannya setelah sarapan tadi.” Jaysen memijat dahinya sesaat dan akhirnya dia berdiri.


Dia pun memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya keesokan harinya. “Urusan memajukan pernikahan ini ternyata lebih repot, tidak seperti perkiraanku.” gerutunya sambil berjalan menuju kearah pintu ruang kerjanya dengan tongkat.


Jarang sekali Jaysen menggunakan tongkat itu karena dia merasa udah menghapal letak dan denah rumahnya beserta isinya.


Tapi saat dia sedang banyak pikiran dan tidak fokus seperti sekarang ini,  lelaki buta itu merasakan kalau dia memerlukan alat bantu. “Sabrina Saab!” gumamnya.


“Desainer itu, dia malah mengatakan kalau gaun yang dipesan tidak akan bisa selesai dalam waktu satu bulan. Katanya paling tidak butuh dua sampai tiga bulan untuk semua gaun rancangannya.”


Jaysen membelok ke arah koridor sambil menghela napas. Syukurlah kedua orang tuanya terutama Deanna ibunya tidak terlalu menentang keputusan Jaysen untuk memajukan tanggal pernikahan secara mendadal.


Padahal awalnya Jaysen sudah masa bodoh dan tidak peduli kalau seandainya orang tuanya akan menentang keputusannya yang tiba-tiba itu.


Meskipun ayahnya memang masih menentang pernikahan mereka karena tidak menyukai Eleanor. Tapi entah apa yang ibu Jaysen lakukan, yang pasti pria Polandia itu akhirnya memilih untuk diam dan tidak berkomentar lagi.


“Ibu juga sudah menyanggupi akan mengurus masalah Sabrina Saab sendiri!” dengus Jaysen yang merasa aneh sekaligus lucu.

__ADS_1


Dia teringat sewaktu Deanna bicara dengannya ditelepon tadi. “Kenapa ibu justru terdengar begitu bersemangat ya? Seperti ada dendam tertentu saja?” Jaysen menggelengkan kepala berusaha mengusir pemikirannya yang tidak penting. Bukankah ibunya dan Sabrina Saab selama ini memiliki hubungan yang sangat baik? Tapi kenapa tiba-tiba?


“Tidak mungkin kan kalau hubungan dua orang itu tiba-tiba berubah menjadi renggang? Apalagi disaat semua gaun pengantin dan para pendamping nanti akan memakai rancangannya? Keluarga Avshallom sudah memberikan bisnis dan keuntungan besar kepada desainer itu dari pernikahan ini. Belum tentu dia bisa mendapatkan pesanan sebesar itu bukan?”


“Sepertinya ibu dan Sabrina Saab sedang memperebutkan sesuatu?” kekeh Jaysen. Belakangan ini suasana hatinya sedang sangat baik. Sehingga wajah lelaki itu sering berekspresi dan tersenyum tipis yang terkadang dia tunjukkan pada semua orang. Beberapa langkah didepannya adalah kamar tidurnya dan jaysen pun berhenti tepat didepan pintu.


Belakangan ini suasana hatinya sedang baik sehingga wajah lelaki buta itu lebih sering berekspresi termausk senyuman tipis yang terkadang dia tunjukkan. Beberapa langkah didepan kamar tidurnya, Jaysen berhenti, dia melihat kehadiran dua pengawal yang berjaga didepan pintu kamar membuat lelaki itu teringat tentang laporan yang Argya berikan padanya.


Orang kepercayaannya itu melaporkan bahwa ada hukuman yang diberikan kepada para pengawal yang bertugas mengawal Emily semalam. Memang Jaysen sudah berjanji untuk tidak memberikan hukuman pada mereka asal Emily bersedia tidur satu kamar dengannya.


“Tapi kan yang memberi hukuman bukan aku tapi Argya?” gumamnya dengan seringai licik diwajah tampannya.


Sambil tersenyum Jaysen masuk ke kamar tidurnya namun baru beberapa langkah, dia tertegun. Kenapa kamarnya terasa kosong? Dia mencoba mendengarkan jika ada suara didalam kamar itu namun hanya keheningan yang ada.


“Sayang?” panggilnya. Dia bergegas menuju ke tempat tidur dan mendapati ranjangnya yang kosong. Jaysen menjadi panik seketika.


“Ele? Dimana Eleanor?” tanyanya pada kedua pengawal yang berjaga dengan nada marah dan membentak.


“Eh? No-----nona? Beliau sama sekali tidak ada masuk ke kamar ini Tuan muda.” jawab salah satu pengawal, mereka merasa keheranan dengan sikap Jaysen. Lelaki buta itu memaki lalu bergegas pergi.


Yang ditujunya adalah kamar tidur Emily yang berada dikoridor sebelah kamarnya. Hatinya luar biasa lega sewaktu mendapati gadis itu sedang tertidur nyenyak.


“Oh ya Tuhan!” desahnya, menghela napas berat. Perlahan dia duduk disebelah Emily yang tidur nyenyak. Jaysen lalu membelai rambut gadis itu dan menikmati aroma bunga yang samar yang sekarang sangat dia sukai dari tubuh gadis itu.


“Ternyata begini ya rasanya takut kehilangan? Ah, sial! Apa seperti ini yang namanya rasa sayang?”

__ADS_1


Dengan hati-hati Jaysen lalu menggendong Emily. Sesekali dia juga menyempatkan diri untuk mencium dahi dan pipi gadis itu. “Eleanor!” gumamnya dengan senyuman diwajahnya.


“Kamu benar-benar merepotkanku saja.” Jaysen membawa gadis itu ke kamarnya lalu perlahan membaringkannya diatas ranjang. Tak lama dia pun berbaring disebelah Emily.


...*******...


Perlahan Emily membuka matanya dan sesaat dia merasa kebingungan. Dia mengedarkan pandangannya ke sekliling. Bukankah dia tertidur dikamarnya sendiri? Lalu kenapa dia malah berada disini?


Sekilas dia kembali mengedarkan pandangan mencari seseorang karena dia tahu siapa pemilik kamar itu. Meski hanya semalam pernah tidur dikamar itu.


Tapi Emily menyadari saat ini dia sedang berada dimana. Tempat tidur berukuran super besar, kamar bergaya minimalis dengan aksen berwarna coklat dan furnitur yang didominan warna hitam.


Aroma kayu-kayuan dan musk yang samar tercium. Dia menghela napa berat merasa ingin tahu bagaimana dia bisa pindah dan tidur dikamar Jaysen?


“Apa aku berjalan dalam tidur ya?” bisiknya heran. Dia mencoba menahan rasa kantuknya, dia sudah mulai bergerak tapi ada yang menahan tubuhnya.


Emily mengerjapkan matanya saat dia menemukan Jaysen yang tidur disebelahnya. Lelaki itu jelas sudah terlelap dan seakan secara alami kedua tangan Jaysen terulur dan membelit Emily dalam pelukannya.


Sejak kapan mereka tidur sambil berpelukan seperti ini? Emily hanya bisa diam dengan jantungnya yang berdegup kencang dan dia mulai merasa panik. Bukan apa-apa, tapi tepat dibawah sana ada bagian pribadi Jaysen yang terasa mengeras dan menekan punggungnya. Rasanya seperti sedang beraa disamping serigala yang tertidur.


Emily tahu bahwa sangat berbahaya apabila serigala itu sampai terbangun nantinya. ‘Setidaknya sekarang aku masih berpakaian lengkap. Oh ya ampun.’ keluhnya lagi-lagi berharap semoga pagi segera menjelang.


Gadis itu berusaha untuk memejamkan matanya kembali namun dia merasa sulit untuk tidur. Rasa takutnya membuat Emily waspada sepanjang malam.


...*******...

__ADS_1


Dengan tubuh tinggi dan proporsional, rambut berwarna hitam serta mata kecoklatan. Lelaki buta itu seperti sang pangeran impian yang berasal dari negeri dongeng. Ditambah lagi penampilannya yang super rapi dan juga sikap yang sopan dan ramah membuat siapapun pasti akan sependapat bahwa Gian Elkana adalah sosok dokter tampan dan baik hati.


__ADS_2