
Sabrina mendesah pelan, “Ya sepertinya saya sudah salah perkiraan kalau begitu. Ternyata sang dewi Artemis tidak sepenting itu bagimu. Sayang sekali ya.” Sabrina tersenyum. Seandainya tidak ada perban yang menutupi dan melingkari mata Jaysen, pasti sepasang mata itu sudah menghunjamnya dengan tatapan tajam sekarang.
Tapi desainer cantik itu sudah merasa cukup puas saat dia melihat lelaki buta itu memasang sikap serius kepadanya sekarang. Ternyata lelaki buta itu akhirnya terpancing juga dengan ucapan Sabrina.
“Apa ini ada hubungannua dengan calon istriku?” tanya Jaysen yang penasaran. Nada bicaranya terdengar dingin dengan aura gelap yang menguar, seolah ingin mengintimidasi lawan bicaranya.
Namun Sabrina tetap menanggapi dengan santai seolah tidak menyadari apapun.
“Sepertinya begitu,” jawabnya asyik mengamati hiasan dikuku jarinya yang cantik.
Jaysen merasa ingin mengerang putus asa, tetapi lelaki itu masih berusaha menambah batas kesabarannya menghadapi Sabrina kali ini.
“Kalau kamu tidak mau menjelaskannya dengan baik --”
“Kalau ada yang ingin meminta sesuatu pada orang lain, bukankah sebaiknya ada satu kata yang harus diucapkannya? Ya, anggap saja sebagai secuil bagian dari yang namanya sopan santu.”
Ada keheningan selama beberapa saat karena Jaysen maupun Sabrina sama-sama terdiam.
Keduanya bergelut dalam pikiran mereka masing-masing. Terutama Jaysen, lelaki buta itu menggertakkan rahangnya dan mengepalkan kedua tangan. Dia merasa kalau rasa sebalnya pada desainer terkenal itu meningkat draktis beratus kali lipat. Dia tahu apa yang perempuan itu ingin ucapkan.
“Oh baiklah!” Sabrina menepuk tangannya sekali,
“Sepertinya sudah jelas kalau masalah sang Artemis bukanlah hal yang terlalu penting bagi seorang Jaysen Avshallom!” lalu dia beranjak dari sofa setelah selesai bicara.
Suara merdu Sabrina terdengar setajam pisau bagi Jaysen.
“Kalau begitu saya permisi dulu.”
__ADS_1
“Tunggu! Setidaknya jelaskan dulu, apa yang ingin kamu katakan tentang calon istriku.” Jaysen berdeham sekali saat dia menyelesaikan kalimatnya.
Kedua alis Sabrina naik, dia masih menunggu kelanjutan ucapan Jaysen yang terlihat seperti sedang kesulitan untuk bicara.
“To--” Jaysen berdeham sekali lagi. “Tolong?”
Sabrina pun menghela napas panjang lalu menggeleng dengan ekspresi putus as. “Apa sesusah itu bagi anda untuk mengucapkan kata tolong?” kelhnya sambil berjalan mendekat dan kembali menghenyakkan diri ke sofa. “Ya Tuhan, aku bisa membayangkan seberat apa Artemis-ku saat berada disisi orang semacam ini.”
“Apa maksudmu berkata begitu?” sergah Jaysen dengan nada emosi. Sepasang mata biru Sabrina berkilat menatapnya dengan tajam.
“Duduk!”
Tidak ada reaksi dari Jaysen yang tampaknya masih saja keras kepala. Dia berdiri tak bergeming seolah tak mendengar perkataan Sabrina tadi.
“Kalau anda memang ingin saya memberitahu apa yang saya tahu, maka silahkan duduk dengan tenang dan dinginkan kepala anda! Jangan biarkan emosi yang terus mengendalikan anda! Itu akan berakibat buruk nantinya bagi calon istrimu.” kata Sabrina menjelaskan dengan penuh penekanan.
Sabrina menghela napas panjang, dia merasa putus as dan berkata, “Oh Tuhan! Kenapa kamu pertemukan Artemis-ku dengan iblis semacam ini?” keluhnya dengan nada dramatis.
Jaysen menggertakkan rahangnya, dia sangat tidak suka setiap kali mendengar Sabrina menyebutkan kata -ku dibelakang nama Artemis. Dia tahu betul siapa yang dimaksud desainer cantik itu dengan sebutan Artemis.
Siapa lagi kalau bukan calon istrinya yang cantik? Tidak boleh ada seorang pun yang bisa mengkalim kepemilikan itu, wanita itu hanya miliknya!
“Jangan memanggilnya seperti itu!” protes Jaysen. “Tidak perlu menambahkan kata -ku! Dia itu milikku bukan milikmu!” dengus Jaysen sehingga membuat Sabrina semakin mengeluh.
“Ya Tuhan! Menghadapi iblis ini memang membutuhkan kesabaran tingkat dewa.”
Kepala Sabrina dibuat berdenyut pusing oleh tingkah Jaysen yang terlalu berlebihan menurutnya. Sabrina menarik napas dalam-dalam beberapa kali berusaha untuk menenangkan dirinya.
__ADS_1
“Baiklah Tuan Muda. Sekarang dengarkan saya ya. Lebih baik kalau anda bisa mengingatnya dengan baik. Catat kalau memang diperlukan tapi yang jelas, saya tidak akan mau mengulanginya. Paham?”
Jaysen mengangguk sambil memasang ekspresi serius siap mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh Sabrina. Lelaki tiu tidak menyadari sama sekali kalau dia mulai menaruh perhatian terhadap apapun yang menyangkut calon istrinya. Bahkan hal sepele sekalipun tak ingin dia lewatkan sedikitpun.
“Jelaskan padaku. Aku akan mendengarkan.”
Sabrina mengeluh didalam hati karena menghadapi sikap kaku dan memaksa dari lelaki didepannya ini.
“Oh Artemis! Perjuanganmu masih sangat panjang dan berat sekali sayangku!” keluhnya.
...*****...
Ada yang aneh dan berbeda dari Jaysen. Di saat pagi hari dia sudah bangun duluan.
“Sayang, ayo bangun. Sudah pagi loh jangan tidur lagi…..sayang ayo bangun!” panggil Jaysen dengan suara pelan. Sebelah tangannya mengelus rambut dan pipi Emily dengan lembut seolah tak ingin mengagetkan gadis itu.
Padahal biasanya Jaysen akan langsung menarik selimut Emily kalau dia masih tidur sehingga gadis itu akan gelagapan dan langsung bangun. Kesabaran Jaysen membangunkan Emily tak sedikitpun mengganggunya ataupun membuatnya emosi. Benar-benar perubahan yang cukup drastis.
Sewaktu sarapan pagi.
“Sayang, kamu mau sarapan dikamar atau diruang makan?” tanyanya sambil duduk manis dan dengan sabar menunggu sampai Emily selesai berdandan. Padahal biasanya, siap atau tidak siap Jaysen akan menyeret atau bahkan memanggil paksa Emily agar menemaninya sarapan diruang makan.
Lalu sewaktu makan siang dan makan malam, yang bisanya mereka akan makan secara terpisah namun sekarang mereka selalu makan bersama. Dan Jaysen selalu menanyakan lebih dulu menu makanan apa yang diinginkan oleh Emily lalu menyuruh juru masak membuatkannya.
Tidak cukup sampai disitu saja, Jaysen bahkan menemani Emily sesering mungkin mulai dari gadis itu bangun tidur sampai akan tidur lagi dimalam harinya. Bahkan tak segan-segan dia menawarkan sesuatu pada Emily misalnya apakah gadis itu mau pedicure manicure, perawatan wajah dan tubuh bahkan menanyakan jika dia ingin beli sesuatu maka Jaysen akan memenuhi semua keingingannya.
Sekarang setiap harinya baik itu waktu siang sampai sore, lelaki buta itu akan membawa tumpukan kertas yang penuh tulisan timbul ke perpustakaan. Jaysen lalu mengecek satu persatu lembaran dokumennya disana dengan dalih agar Emily tidak merasa bosan membaca buku sendirian.
__ADS_1
Sudah seminggu ini berlalu sejak jadwal fitting baju waktu itu dan sejak itulah kelakuan Jaysen mulai berubah. Memang tidak terlalu banyak perubahan dari lelaki bersurai hitam itu. Dia masih sering kali bersikap kaku dan irit kalau bicara tapi yang pasti Jaysen tidak sekasar dulu lagi.
Setidaknya Emily merasa sedikit lega sekarang tidak pernah lagi mendapat perlakuan kasar dan teriakan marah Jaysen. Dia bisa menjalsni hari-harinya dengan tenang dan damai.