Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 59. MENGALAH LAGI


__ADS_3

Kali ini giliran Jaysen yang merasa putus asa. Entah sejak kapan lelaki buta itu menyadari bahwa dia tidak suka apabila harus berjauhan dengan Emily. Oleh karena itu,dia tidak pernah bisa untuk tidak menarik gadis itu mendekat padanya atau untuk tidak menyentuh gadis itu atau untuk tidak mencari alasan apapun agar gadis itu bisa Jaysen tahan berada didekatnya selama mungkin.


 


Kalau sampai Emily benar-benar tidak mau dia sentuh lagi, jelas Jaysen tidak akan mau menerima begitu saja. Sekarang saja tangannya sudah terasa begitu kosong karena tidak ada lagi tangan Emily yang digenggamnya. “Aku ini kenapa jadi seaneh ini?” bisiknya mengeluh sambil meraup wajahnya dengan kasar.


 


Jaysen mengacak-acak rambutnya, dia menyadari bahwa kali inipun dia harus mengalah lagi. Kenyataannya bahwa seorang Jaysen Avshalom Wisesa harus mengalah pada seorang gadis tentunya bukan hal yang biasa. Apalagi dalam sehari ini sudah dua kali dia harus mengalah.


“Ini bisa masuk buku rekor kalau begini ceritanya.’ gerutunya berkeluh kesah sendiri. Tapi jika dia menolak keinginan Emily maka dia juga yang akan tersiksa.


Sambil menarik napas dalam-dalam, Jaysen memperbaiki duduknya, “Bu, maafkan aku. Tadi ucapanku terlalu kasar pada ibu. Tentu saja ibu boleh datang menemuiku kapan saja ibu mau.”


Bagai dihantam badai petir disiang hari, Deanna terkejut mendengar permintaan maaf putranya itu. Untuk pertama kalinya Jaysen meminta maaf? Jaysen Avshalom Wisesa barusan meminta maaf?


 


Pikiran Deanna seolah diaduk-aduk, dia mencoba mengingat kapan terakhir kali dia mendengar Jaysen meminta maaf padanya. Bahkan sampai lima menit berlalu dalam keheningan namun Deanna masih belum berhasil menemukan secuil ingatan yang dicarinya. Ini benar-benar aneh, hal yang tidak biasa baru saja terjadi pada putra semata wayangnya itu.


 


Bahkan teh di cangkirnya sampai tumpah tanpa dia sadari, membuat Deanna terkejut dan bergegas meletakkan kembali cangkir tersebut. Perempuan itu segera mencari tisu untuk membersihkan baju yang terkena tumpahan tehnya, tapi ada hal lain yang membuatnya lebih terkejut lagi.


“Mari saya bantu membersihkannya, bu.” ujar Emily yang langsung mendekatinya dan membawa sekotak tisu.


 


Dengan sangat berhati-hati gadis itu mengusapkan tisu keatas pakaian Deanna yang basah. “Sepertinya akan meninggalkan sedikit noda.” gumam Emily dengan nada menyesal, sementara Deanna terus mengamatinya.


Ini pertama kalinya Deanna berada sedekat ini dengan Emily. Terakhir kali mereka berada sedekat ini saat dia menyelimuti gadis itu.


 


Dulu saat keponakannya nyaris memperkosanya dan Jaysen yang sangat murka lalu menghajar sepupunya sendiri sampai babak belur. Bahkan sepupu Jaysen itu hampir saja tewa kalau saja ayah Jaysen tidak segera melerai mereka waktu itu. Ada perasaan aneh yang Deanna rasakan didalam hatinya.


 

__ADS_1


Gadis disampingnya ini pasti sudah mengalami banyak hal berat dan mengerikan selama berada dirumah ini. Deanna tahu betapa kasarnya Jaysen kalau sedang marah lalu belum lagi kelakuan sepupu Jaysen yang sempat bersikap kurang ajar pada gadis itu. Deanna menarik napas berat, dia mulai merasa iba pada gadis cantik itu.


 


Tanpa sadar tangan Deanna membelai rambut secoklat madu itu membuat Emily terkejut lalu mendongak. Sepasang mata berwarna abu itu memandang Deanna lekat-lekat. Tatapan mata itu membuat Deanna tercengang sejenak.


Dia memandang mata yang cemerlang dan indah itu memiliki pesona yang menarik. Dia menghela napas sekarang dia bisa memahami hal apa yang ingin disampaikan oleh Sabrina Saab secara tersirat padanya waktu itu.


 


“Artemis.” bisiknya tersenyum dan membelai rambut juga pipi Emily yang sekarang memerah.


“Ya?” Emily mengerjap karena merasa kebingungan dengan sikap ibu Jaysen.


Deanna tersenyum dan mulai merasakan keraguan didalam dirinya. Memang masih ada sedikit keraguan yang tersisa namun tidak sebesar sebelumnya.


 


Dia berpikir sejenak dan menyadari bahwa dia memang perlu menghabiskan waktu berdua saja dengan gadis ini untuk menuntaskan keraguan dalam hatinya dan dia tahu bagaimana caranya.


“Jaysen, kedatangan ibu hari ini sebenarnya adalah untuk mengajak keluar kekasihmu ini.” ucap Deanna menggenggam tangan Emily dan meminta gadis itu untuk duduk disampingnya.


 


“Iya Jaysen.” Deanna tersenyum menanggapi dua orang yang kini terlihat kaget. “Sangat wajar kan kalau seorang ibu mertua keluar bersama calon menantunya untuk berbelanja berdua saja?”


Ekspresi wajah Jaysen terlihat seperti baru saja dihantam truk, ada campuran rasa kaget dan ngeriyang terpampang jelas diwajah tampannya.


 


Lalu, seolah tidak menyadari ekspresi wajah putranya itu dengan nada ringan dan santai Deanna kembali berkata, “Ibu akan mengajak calon istrimu ini berbelanja. Jangan repot-repit mengantar karena kami akan pergi dengan supir ibu. Jadi tidak perlu capek menunggu karena kami akan keluar seharian dan menghabiskan waktu bersama.”


 


Deanna lantas berdiri sambil menggandeng tangan Emily, “Sampai ketemu nanti Jaysen!”


“Hah?”

__ADS_1


“Kamu tidak perlu berdiri mengantar kami. Habiskan saja tehmu dengan tenang dan lanjutkan pekerjaanmu. Aku yakin kamu masih memiliki banyak pekerjaan yang harus kamu selesaikan kan?” lanjut Deanna menepuk-nepuk bahu putranya.


 


“Bu? Apa ibu serius ini?”


“Ya tentu saja serius! Lagipula ibu juga perlu berganti pakaian karena pakaian yang ibu pakai sudah terkena tumpahan teh. Iyakan?”


“Tapi----”


“Jaysen! Sampai ketemu lagi nanti.” ucap Deanna mengabaikan ekspresi frustasi putra semata wayangnya itu.


Jaysen mengerang sebal karena dia sama sekali tidak bisa memahami apa yang sebenarnya ibuny pikirkan. “Bu, aku bahkan belum memberikan ijin pada Eleanor untuk ikut dengan ibu.”


 


“Oh Jaysen!” Deanna berusaha mengelus kepala putranya dengan penuh kasih sayang tapi Jaysen sudah menghindar dengan cepat. Perempuan itu harus cukup puas hanya dengan menepuk-nepuk lengan lelaki itu saja. “Kalian bahkan belum menikah kan. Jadi kekasihmu ini jelas tidak memerlukan ijinmu untuk hal apapun. Iyakan?”


 


Wajah Jaysen menegang tapi dia tidak dapat membantak semua perkataan ibunya. Hari ini, untuk pertama kali dalam hidupnya Jaysen sampai harus mengalah sebanyak tiga kali itupun langsung dalam sehari.


“Arggg sial!” geramnya menatap kepergian ibunya yang berjalan bergandengan tangan dengan Emily. Ada senyum diwajah Deanna karena berhasil membawa gadis itu keluar bersamanya.


 


Sementara itu diwaktu yang bersamaan. Di Grandale Hotel and Resort. Tepatnya di dalam ruangan penthouse suite. “Silahkan Nyonya Sabrina.”


“Terima kasih Lennie.”


Lennie tersenyum lalu duduk diseberang meja Sabrina Saab sementara desainer cantik itu menikmati teh hangatnya yang baru saja disuguhkan.


 


“Benar-benar ruangan yang sangat mewah.” ujarnya mengagumi kamar tempat Sabrina Saab menginap selama beberapa hari. “Saya jadi penasaran seberapa kaya keluarga Wisesa itu sampai bersedia memberikan akomodasi semewah ini. Saya dengar, mereka bahkan menyediakan satu pesawat untuk mengangkut para pegawai dan gaun-gaun juga semua peralatan. Dan satu jet khusus untuk anda dan ketiga staff anda.”


 

__ADS_1


Sabrina meletakkan cangkir tehnya dengan anggun sambil mengedikkan bahunya. “Bukan sesuatu hal yang luar biasa bagiku.” jawabnya. Dibandingkan dengan semua hal remeh ini, aku lebih suka kalau aku bisa mendapatkan Artemis.” ujar Sabrina melambaika sebelah tangannya dengan sembarangan dan nada yang acuh


__ADS_2