Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 37. SALAH PAHAM


__ADS_3

Semalam dia bermimpi bercinta dengan Eleanor dan sekarang mereka akan bertemu membuatnya semakin bersemangat. Tapi ada yang agak mengusik perasaan bahaginya itu.


Mimi adik tirinya karena tiba-tiba Mimi demam pagi ini. ‘Kenapa Mimi bisa demam ya? Padahal kemarin dia baik-baik saja. Apa mungkin dia masuk angin?’ bisik hatinya.


Gian agak merenung, dia teringat wajah Mimi yang memerah saat dia memeriksa gadis itu pagi tadi. Tubuh gadis bisu itu panas dan berkeringat banyak.


Napasnya juga tersengal sewaktu Gian membuka tiga kancing piyamanya lalu menempelkan stetoskop didada gadis itu. “Detak jantungnya cepat sekali.” Gian merenung teringat kalau Mimi terus mengerang. “Nanti akan kuperiksa lagi.” desahnya.


Tapi dia mencoba menhingat-ingat lagi apa yang terjadi padanya tadi malam. Sekelebat bayangan dia berbicara dengan adik tirinya. Itu sebelum dia bermimpi bercinta dengan Eleanor.


Bagaimanapun ini adalah kesempatannya untuk bisa menemui Eleanor. Ini sudah sangat dinantikannya dan menyita sebagian besar perhatian dokter muda itu. Soal Mimi bisa dipikirkannya lagi nanti. “Eleanor!” gumamnya penuh kerinduan. “Akhirnya kita akan bertemu lagi.”


Pikiran Gian kini hanya ada Eleanor, dia melirik melalui pundak Argya kearah pintu yang masih tertutup rapat,


Gian mengeryitkan keningnya, memikirkan jika dibalik pintu itu pasti ada si lelaki iblis dan Eleanor. Mengingat itu saja sudah membuatnya mengeram marah, dia tak ingin Jaysen menikmati sendiri gadis pujaannya itu. Saat ini sang dokter muda sedang memikirkan cara bagaimana membawa lari Eleanor dari sisi Jaysen apapun rintangannya.


“Beri kami waktu lima menit!”


Argya mengerutkan dahinya saat mendengar perintah Jaysen dari dalam ruangan. Tadi dia pergi menghubungi Gian dan memang sengaja menunggu sampai dokter muda itu datang.

__ADS_1


Kejadian sewaktu terakhir kali Gian datang berkunjung tidak terlalu bagus dan Argya hanya berjaga-jaga saja sehingga dia sendiri yang menyambut dan mengantar dokter pribadi Keluarga Wisesa itu.


Tidak terlalu lama selang waktu sejak Argya meninggalkan ruang kerja. Mungkin ada sekitar empat puluh sampai empat puluh lima menit sampai akhirnya Dokter Gian datang dengan terburu-buru. Sekilas tadi argya memang sempat heran melihat wajah berseri dokter muda itu yang seolah begitu senang karena sudah dipanggil.


Namun saat mengingat bahwa Tuan Muda maupun Nona Eleanor sudah menunggu, pengawal itu tidak memikirkan lebih lanjut dan segera mengantarkan Dokter Gian ke ruang kerja.  Tapi ternyata sekarang mereka bahkan tidak boleh masuk kedalam dan malah disuruh menunggu. Dalam hati pria paruh baya itu bertanya-tanya.


Apa yang sudah dilakukan oleh Tuan Mudanya sampai-sampai tidak langsung mengijinkan mereka masuk? ‘Ini pasti ada sangkut pautnya dengan Nona Eleanor.’ gumamnya dalam hati lalu menghela napas putus asa. Sedetik kemudian ada rasa cemas yang dirasakan oleh Argya. ‘Semoga saja Tuan Muda tidak melukai nona Eleanor lagi.’


Untuk pertama kalinya Argya menaruh perhatiannya pada orang lain diluar majikannya yang memang harus dilayaninya. Entah mengapa, lelaki paruh baya itu menemukan adanya rasa sayang yang timbul dalam dirinya setiap kali melihat gadis cantik bermata abu-abu itu. Kalau saja dia memiliki seorang putri, mungkin putrinya akan seperti ini.


Begitulah pikirannya yang kadang terlintas dibenaknya setiap kali dia mengawaasi Eleanor diam-diam. Namun biasanya, dengan perasaan sedih Argya akan selalu mengusir pikirannya tersebut. Bagaimana pun istrinya ebserta putri mereka yang masih ada dalam kandungan sudah tewas dalam kecelakaan yang terjadi bertahun-tahun lalu.


‘Sejak kami menculik Nona Eleanor dari bandara, sejak itu pula perangainya dan tingkah lakunya memang benar-benar berubah drastis.’ gumamnya. Berkali-kali Argya merasakan ada yang mengganggu pikirannya, memberinya peringatan. Firasat pria paruh baya itu seolah berkata bahwa ada yang tidak benar.


Dia merasakan kalau mereka telah melakukan sebuah kesalahan besar tapi dia tidak mengerti dimana letak kesalahan itu. Berbagai kejanggalan yang dirasakannya membuat Argya memutuskan untuk meneruskan kembali penyelidikannya mengenai asal-usul gadis itu, meskipun secara diam-diam dan hati-hati agar tidak ada yang mengetahuinya.


‘Tentu saja hasilnya akan lebih lambat karena semua harus kulakukan dengan tanpa sepengetahuan Tuan Muda dan Tuan Besar.’ gumama Argya. Kerutan didahinya semakin dalam saat dia berpikir semakin keras. ‘Yang sedang bersama Tuan Muda saat ini apakah dia Eleanor Milena ataukah Emily Vionetta?”


Lima menit kemudian. Pintu ruang kerja akhirnya dibuka dan mereka diijinkan masuk. Namun baru selangkah masuk, Gian langsung terhenyak karena terkejut melihat pemandangan didepan matanya. Dokter muda itu benar-benar terkejut dan merasakan perih dihatinya, terlihat Jaysen yang saat ini sedang santai di sofa bed. Lelaki itu hanya mengenakan celana dan bertelanjang dada.

__ADS_1


Dengan ekspresi puas sekaligus angkuh di wajah tampannya. Namun sebenarnya yang membuat Gian tercekat adalah sosok gadis yang ada diatas pangkuan Jaysen. Sebelah tangan lelaki itu memeluk erat pinggang ramping sang gadis sedangkan tangan lainnya mengelus-elus paha mulus sang gadis.


Sedangkan gadis itu terlihat hanya diam dengan kepala yang seolah terkulai di pundak kiri Jaysen. Wajahnya tidak terlihat karena tertutupi oleh rambut panjanganya tapi Gian tahu siapa gadis yang tengah berada dipangkuan dan dipeluk Jaysen itu.


“Apa dia baik-baik saja?” tanya Gian, ada nada khawatir disuaranya. Tanpa perlu menunggu lama Dokter Gian langsung berlari mendekat. “Apa dia pingsan? Kenapa dia diam saja?”


“BERHENTI DI TEMPATMU GIAN!” teriak Jaysen tak senang.


Gadis itu bergetar karena suara teriakan Jaysen yang terdengar dingin dan tajam. Menyadari tubuh gadis itu gemetar, Jaysen langsung menarik napas perlahan berusaha menguasai amarahnya. “Aku tidak marah padamu Ele.” bisiknya selirih mungkin.


Sebelah tangannya mengelus-elus rambut gadis itu. “Tenanglah ya?” ujar Jaysen terus saja mengelus rambut dan punggung Emily untuk menenangkannya. Saat ini pria itu terlihat persis seperti orang yang sedang berusaha menenangkan kucing kecil yang ketakutan.


Merasakan gerakan mengangguk dari gadis yang duduk dipangkuannya itu membuat senyum diwajah jaysen. Sesaat lelaki buta itu mencium rambut Emily, menghirup aroma wanginya. “Gadis baik.” ujarnya lagi dengan penuh kepuasan.


Lalu dia mengangkat kepalanya dan memasang sikap angkuh dan dingin menatap dokter muda dihadapannya.


“Jangan mendekat lagi kecuali aku memberikan ijin padamu gian!”


“Tapi bukankah aku harus memeriksanya, iyakan? Bagaimana caraku memeriksanya kalau tidak mendekat?” tanya Gian yang merasa kesal dengan sikap Jaysen.

__ADS_1


 


__ADS_2