Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 53. SEPERTI ROLLER COASTER


__ADS_3

Jari Jaysen bergerak memutar-mutar membentuk motif abstrak, seakan memang berniat bermain-main dileher dan tengkuk Emily membuat gadis itu semakin menggelinjang menahan geli. “Jay!” tolak Emily berusaha menghalau jari nakal Jaysen tetapi kembali usahanya sia-sia. “Jaysen! Hentikan! Geli!”


 


“Jaysen tersenyum setiap kali mendengar protes atau ******* Emily. Jarinya terus saja bergerak nakal bahkan sesekali menggelitik tengkuk Emily, lalu berhenti di seuntai kalung yang melingkar dileher gadis itu. Tangannya meraba-raba benda yang melingkar dileher gadis itu.


“Apa ini?” tanyanya dengan dahi berkerut, dia meraba dan mengusap liontin kalung berbentuk bulan sabit. “Aku nggak pernah memberimu kalung seperti ini.”


 


Lelaki buta itu bergegas bangun dan membantu Emily duduk. Sebelah tangannya masih saja meraba liontin kalung yang dikenakan gadis itu. Jaysen kembali mengeryitkan keningnya, ada rasa tak senang.


“Bulan sabit! Kamu dapat kalung ini darimana, sayang? Siapa yang memberikannya padamu?”


 


“EH, itu!” dengan hati-hati dan perlahan Emily menarik kembali linton kalungnya dari tangan Jaysen. Dia takut jika lelaki buta itu akan menarik lepas kalungnya. “Nyo---nyonya Sabrina yang memberikan kalung ini----”


“Kapan?” potong Jaysen mulai terlihat tidak sabar. Rahangnya menegang seperti sedang menahan amarah. “Kapan kamu menerima kalung ini darinya?”


 


“Ehm, waktu selesai proses fitting baju minggu lalu, belia berkata kalau dia akan menghadiahkanku sesuatu.” Emily memainkan ujung roknya dan sesekali meremasnya.


Perlahan dia merasa kegelisahan, dia bisa merasakan perubahan emosi Jaysen. Emily pun mulai berpikir kalau sebentar lagi Jaysen pasti akan meledak amarahnya.


 


“Lalu?”


“La---lalu, kemarin ada kiriman paket untukku dan ternyata isinya kalung ini. di—didalam kotak paket juga ada surat dari Nyonya Sabrina Saab yang menjelaskan bahwa kalung Artemis ini adalah hadiah untukku darinya.” ucap Emily menjelaskan yang sebenarnya. Dia menunduk dan *******-***** ujung roknya lagi. Kecemasan semakin meningkat, lelaki buta ini sulit untuk diprediksi.


 


Gadis itu merasakan sesak saat dia menarik napas dalam-dalam. Dia sungguh tidak menyukai kalau harus berhadapan dengan Jaysen yang mulai emosi seperti ini. Bukankah tadi semuanya baik-baik saja? Bahkan masih belum lama berselang sejak mereka bermesraan. Kenapa suasana yang sekarang mendadak menjadi dingin dan mengerikan?


 


Gadis itu kembali menelan ludah dengan susah payah. Seketika Emily merasakan rasa dingin yang mencekam. Rasa takut terhadap lelaki buta didepannya ini yang semula perlahan memudar tetapi sekarang seolah hadir kembali. Kenapa Jaysen tiba-tiba semarah ini? Dia salah apa memangnya?

__ADS_1


 


“ARGYA! CEPAT DATANG KESINI!” teriaknya kencang membuat Emily semakin takut.


Tubuhnya bergetar ketakutan mendengar suara kencang yang berteriak membuat jantungna berdetak semakin kencang.


Dia bahkan sampai terlonjak kaget sewaktu Jaysen berteriak memanggil Argya . Tubuh gadis itu semakin  gemetar karena takutnya dengan aura gelap Jaysen yang menguar kuat.


 


“Ya, Tuan Muda.” jawab Argya yang sedari tadi memang berjaga-jaga didepan pintu perpustakaan.  Tidak membutuhkan waktu lam bagi pengawal itu untuk segera masuk dan menghadap majikannya. “Ada yang bisa saya bantu? Apakah ada sesuatu yang Tuan Muda butuhkan?” tanyanya.


 


“Mulai sekarang jangan pernah ada lagi kiriman masuk dari luar begitu saja. Semuanya harus sepengetahuanku! Harus atas ijinku baru boleh dibawa masuk. Nggak peduli kiriman itu dari siapa, apa kamu mengerti?” ujarnya dengan intonasi suara marah.


 


Argya masih tetap tenang menghadapi kemarahan jaysen yang melambung tinggi, dengan sopan dia bertanya, “Semua paket Tuan Muda?”


“Nggak perlu semua paket. Khusus paket yang ditujukan untuk calon istriku saja. Aku nggak suka kalau dia menerima paket atau kiriman nggak jelas dari orang lain!”


 


“Kalau sampai ada kiriman yang lolos, itu tanggung jawabmu Argya!”


Sambil menunduk sopan dan suara yang terjaga ketenangannya, Argya menjawab, “Baik, Tuan Muda. Perintah sudah saya terima dan akan saya laksanakan.”


 


Tanpa sengaja Ragya beradu pandang dengan Emily. Seketika ada rasa khawatir dihatinya saat melihat wajah gadis itu yang sudah pucat pasi.


“Apa yang kamu tunggu Argya? Kalau memang sudah mengerti, cepat keluar dari sini! Tinggalkan kami!” ujar Jaysen lagi dengan nada dingin penuh penekanan.


 


Argya merasa berat hati meninggalkan ruangan itu ditambah lagi tatapan memohon yang Emily arahkan kepadanya. Namun perintah Jaysen adalah mutlak, bahkan tanpa perlu mengucapkan sepatah katapun pengawal itu bisa merasakan tekanan intimidasi yang luar biasa dari lelaki buta itu.


 

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu.” uajrnya dengan enggan, dengan menunggukkan kepala Argya akhirnya berbalik pergi. “Silahkan panggil saya jika ada yang dibutuhkan lagi.”


Sesaat ada keheningan yang terasa mencekik saat Argya suda berlalu pergi dan pintu ruang perpustakaan tertutup kembali. Suasana sepi perpustakaan yang biasanya Emily sukai, namun sekarang bagaikan tempat teror yang menakutkan bagi gadis itu.


 


“Sayang, dimana kamu?” dahi Jaysen berkerut saat dia kembali duduk dan meraba sofa disebelahnya namun dia tidak menemukan keberadaan Emily disana. “Sayang? Kemarilah! Kamu dimana?”


Emily meringkuk bersembunyi dibawah meja. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar tidak mengeluarkan suara.


 


Takut! Dia sangat ketakutan. Gadis itu tahu bahwa tindakannya bersembunyi seperti ini cukup konyol. Tapi tidak ada cukup keberanian yang dimilikinya untuk menghadapi Jaysen yang sedang emosi.


Belakangan ini dia seolah terlena dengan sikap Jaysen yang berubah menjadi sedikit ramah. Gadis itu lupa bahwa lelaki buta yang tengah bersamanya itu bisa sangat mengerikan apabila sedang marah.


 


“Sayang? Kamu bersembunyi ya? Kenapa diam saja, sayang? Kalau kupanggil kamu harus menjawab dong? Jangan diam saja! Sayang, ayo keluarlah!”


Emily mengintip dari balik meja, dia memperhitungkan kemungkinan baginya untuk bisa keluar dari perpustakaan diam-diam. Apakah aman? Lalu bagaimana kalau nanti dia tertangkap dan Jaysen akan menyakitinya lagi?


 


“Kamu mau main petak umpet ya, sayang? Mau coba-coba bersembunyi dariku?” tanya Jaysen tetap duduk santai diatas sofa.


Dengan senyum disudut bibirnya yang tampak terangkat. Emily nyaris menangis, perubahan emosi Jaysen yang drastis seperti ini seakan memberikan sebuah pemicu bagi gadis itu.


Semua ingatan mengerikan tentang kekerasan yang dia alami sejak tiba dirumah ini seketika itu juga bermunculan dibenaknya. Emily mengingat kembali semua kekejaman lelaki buta itu yang pernah dialami Emily. Tanpa sadar dia mengelus pergelangan tangan kirinya yang dulu sempat retak akibat dicengkeram kuat oleh Jaysen.


 


Semua rasa takut dan was-was seolah kembali menghantam gadis itu dengan keras, membuat tubuhnya gemetar semakin menjadi-jadi. Dia membenamkan wajahnya diantara kedua pahanya dan menahan agar tidak bersuara.


 


“Kuhitung sampai sepuluh ya, sayang. Kalau kamu nggak keluar juga maka aku akan kesana untuk menangkapmu loh.” ucap Jaysen memperingatkan.


“Ugh!” isak Emily menahan tangis. “Mama, takut! Aku takut sekali.”

__ADS_1


“Satu…..dua…..tiga…...”


Emily memejamkan mata kuat-kuat, berusaha menahan rasa takutnya. Sungguh dia merasa bersama Jaysen seperti menaiki roller coaster yang sangat berbahaya.


__ADS_2