
Mulut Emily terbuka lebar karena hal-hal semacam ini sama sekali tidak pernah melintas dipikirannya. Sebenarnya sekaya apa keluarga Wisesa dan Avshallom itu?”
“Lalu menurutmu, bagaimana nasib mereka kalau Jaysen sampai tahu bahwa kamu nyaris saja meloncat dari mobil? Bagaimana juga nasib mereka kalau kamu benar-benar berhasil keluar dari mobil, terjatuh lalu terguling-guling di aspal?”
Deanna kembali buka suara dan berusaha menyakinkan Emily agar gadis itu tidak bertindak nekat lain kali. Deanna tahu betul sifat anaknya yang sangat kejam dalam menghukum siapa saja yang gagal menjalankan perintahnya.
“Sayang, Jaysen bisa saja membunuh mereka tanpa pikir panjang karena mereka lalai menjagamu.”
"Ah? Ba----bagaimana bisa?" ujarnya membuat napas Emily tercekat, wajahnya yang memang sejak tadi sudah pucat sekarang semakin pucat. Deanna membelai rambut gadis itu sambil tersenyum lembut.
“Iya, sayang. Lihatlah perbuatan apa yang nyaris kamu lakukan tadi, tindakanmu itu secara tidak langsung kamu nyaris membuat orang-orang ini terbunuh.”
Emily langsung gemetar habis-habisan, dia sangat terpukul dengan kenyataan bahwa dia nyaris membuat banyak orang kehilangan nyawanya.
“Sa--saya tidak----” gagapnya. “Sa---saya tidak tahu sa--saya sama sekali tidak bermaksud. Apa Jaysen sekejam itu?” Emily mengeratkan tautan kedua tangannya dengan gemetar.
“Setahu ibu memang begitu sayang. Tapi sayangnya, putraku itu memang sekejam itu.” desah Deanna dengan nada penuh penyesalan.
“Tapi mungkin kamu bisa sedikit membantunya berubah ya sayang?” bujuk Deanna.
“Saya? Bagaimana caranya, bu?” tanya Emily dengan terkejut. "Saya tidak tahu caranya mengubah Jaysen! Dia terlalu kejam."
Deanna tersenyum dan memberi tanda agar mereka melanjutkan kembali perjalanan.
“Tetaplah bersikap seperti ini, sayang. Itu saja yang cukup kamu lakukan.” jawab Deanna. Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka selama sisa perjalanan.
Baik Deanna maupun Emily sama-sama terdiam dalam hening dengan pikiran mereka masing-masing. Deanna memandang keluar mobil dengan berpangku tangan entah apa yang sedang dipikirkannya.
__ADS_1
Sedangkan satu tangannya yang lain terulur menggenggam tangan Emily dan sesekali meremasnya seolah menenangkannya. Sedangkan Emily sendiri juga duduk dalam diam tapi dengan bermacam pikiran.
Setelah ini, apa yang akan terjadi padanya? Bagaimana nasibnya nanti? Apakah ini memang akhir dari semuanya? Apakah dia memang tidak akan bisa lepas dari berbagai hal yang sudah memerangkapnya ini? Emily menghela napas panjang mencoba mengurangi rasa sesak didadanya.
Gadis itu benar-benar bingung tidak tahu harus melakukan apa lagi agar semua kesalahpahaman ini berakhir dan dia bisa bebas. Sebuah pemikiran lain kemudian melintas di benaknya membuatnya sampai menahan napas.
Deanna tadi memang meminta Emily agar merahasiakan soal usahanya untuk kabur tapi itu justru membuatnya ketakutan. Apalagi setelah mendengar penjelasan wanita cantik paruh batmya itu. Emily tidak bisa membayangkan Jaysen membunuh para pengawalnya.
Bagaimana kalau pada akhirnya Jaysen tetap mengetahui hal itu? Dia memang tidak tahu dengan pasti tapi ada beberapa orang yang sedang bertugas mengawalnya dan Deanna.
Tapi memikirkan kalau orang-orang itu mungkin saja akan kehilangan nyawa akibat ulahnya, membuat sekujur tubuh Emily seketika membeku dalam kengerian. Dia memang tak pernah kepikiran tentang Jaysen yang akan menghukum semua orang karena dirinya.
‘Apa yang bisa kulakukan untuk menyelesaikan masalah ini?” bisik hatinya dengan gelisah sambil meremas ujung roknya. ‘Apakah yang bisa kulakukan setidaknya untuk mengurangi sedikit hukuman mereka?” wajah Emily kian memucat sewaktu gadis itu melihat sepasang ergabng hitam yang kokoh mulai terlihat didepan matanya.
'Lagipula aku baik-baik saja sekarang. Tapi---apa Jaysen akan mau mendengarkanku?' bisiknya didalam hati.
Mereka akan sampai di kediaman Wisesa dan kegelisahan Emily semakin memuncak. Apa yang harus dia lakukan saat bertemu Jaysen nanti?
Semuanya menundukkan wajah, seakan mengangkat kepala sedikit saja bisa membuat mereka kehilangan nyawa. “Kenapa mereka lama sekali? Memangnya jarak kerumah sejauh itu? Sampai-sampai mereka belum sampai juga?” tanya Jaysen dengan nada geram, dia terlihat sangat gusar dan wajahnya memerah karena amarah.
“Tenanglah Jaysen, sebentar lagi mereka pasti sampai. Ayah, lama-lama juga pusing melihatmu mondar mandir sambil menggerutu terus seperti itu.” sela Ruben menyindir putranya.
“Kalau saja ibu tidak mengajaknya----”
“Jangan salahkan ibumu! Memangnya dia tahu akan terjadi hal seperti itu?”
“Tapi kan memang----”
__ADS_1
“Sekali lagi ayah katakan, jangan salahkan ibumu Jaysen!” teriak Jaysen dengan suara penuh amarah.
Para pelayan dan staff yang ada semakin tenggelam dalam kegelisahan mereka. Terasa nyata bahwa aura diantara ayah dan anak itu tidak begitu bagus saat ini.
Membuat suasana malah terasa semakin mencekam. “Memang keluarga mereka bisanya hanya bikin susah saja!” decak Ruben. Wajah tampan khas Polandia-nya terlihat kesal sekaligus angkuh. “Tidak orang tuanya, tidak putrinya sama-sama membuat masalah!” gerutunya lagi.
“Kalau yang ayah bicarakan itu adalah calon istriku maka hentikan sekarang!” Jaysen mengeram.
Dia bahkan sampai mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat demi bisa menahan diri.
“Memangnya kenapa? Toh memang begitu kenyataannya. Lagipula apa pentingnya keluarga sekelas Maleakhi itu? Tidak ada guna kan? Bahkan putri mereka yang seorang model itu ternyata juga cukup murahan dan tak tahu diri!”
“AYAH!”
“Jaga kesopananmu Jaysen. Jangan membentakku.”
“Kalau begitu berhentilah membicarakan calin istriku seperti itu.” balas Jaysen tak kalah sengit.
“Seperti apa memangnya? Kan memang gadus itu yang sudah berselingkuh darimu? Bahkan gara-gara dia kamu sampai mengalami kecelakaan dan buta seperti ini.”
“Ayah. Sekali lagi kukatakan berhenti membicarakan calo istriku.” ujar Jaysen dengan suara dingin.
Ruben menatap putranya yang bergetar menahan emosi. ‘Jaysen! Ada apa sebenarnya denganmu? Kenapa kamu sangat membela gadis itu? Bukankah kamu sangat membencinya bahkan sampai ingin menghancurkan keluarganya? Lalu apa semua ini?”
Tidak ada jawaban apapun dari Jaysen, hanya samar terdengar suara kertakan rahang Jaysen yang mengetat.
“Jangan kamu kira ayah tidak tahu soal kasus narkoba yang membelit Titus Maleakhi baru-baru ini. Itu hanya akal-akalanmu saja iyakan? Kamu kan yang memerintahkan pada Andra untuk merekayasa bukti dan saksi yang memberatkan Titus?”
__ADS_1
Hanya dingin yang mengerikan seakan menyelimuti saat kedua orang itu saling diam. Meski tanpa kata sekalipun sikap mereka berhasil membuat suasana semakin mencekam.
Saat terdengar deru suara mobil para pelayan dan staff yang ada pun menghela napas lega secara bersamaan. Akhirnya mereka akan terbebas dari siksaan penuh kengerian dan perasaan mencekam selama tiga puluh menit terakhir ini. Hanya tiga puluh menit lamanya waktu mereka harus menunggu kedatangan Deanna dan Emily.