Dendam Berselimut Gairah

Dendam Berselimut Gairah
BAB 87. TAK MENYIAKAN WAKTU


__ADS_3

Gian tidak menyadari airmata yang perlahan mengalir dari sepasang mata berwarna abu itu. Tak terasa sepuluh menit sudah berlalu. Gian membenahi pakaian gadis yang sekarang tertidur nyenyak itu. Emily tertidur setelah dia mengalami pelepasan akibat ulah dokter muda itu.


Efek obat dan rasa lelah yang dialaminya membuat gadis itu segera tertidur pulas. Gian sempat menatap nyalang dan hampir kehilangan kesadarannya sewaktu dia menatap tubuh molek yang terbaring nyaris telanjang itu terlihat pasrah di depan matanya.


Berulang kali dia menelan salivanya menahan gairah yang sebenarnya sudah menyelimuti dirinya. Namun dengan cepat dokter muda itu memutuskan untuk segera membereskan kekacauan yang ada sehingga tidak meninggalkan kesan apapun. Bisa gawat kalau dia sampai ketahuan.


'Ya aku memang belum sempat melakukannya. Sial! Sayang sekali padahal ini peluang yang bagus! Tapi aku harus menahan diri, kalau sampai Jayden mengetahuinya maka aku bisa dibunuhnya!' bisik hati Gian.


Dia hanya memiliki keterbatasan waktu dan tidak mungkin dia gunakan untuk bercinta. Meskipun gadis itu sudah tidak sadar dan tidak akan menolak perbuatannya tapi Gian tidak yakin kalau dia bisa berhenti hanya dengan satu kali permainan saja.


Rasanya waktu sepanjang hari pun pasti akan terasa kurang apabila dia menghabiskan waktu bercinta mengarungi lautan gairah bersama gadis pujaannya itu. Gian tidak sebodoh itu, apalagi dia memikirkan akibatnya jika dia sampai ketahuan.


Saat ini dia berada di rumah Jaysen yang memiliki banyak pengawal yang berjaga. Kalaupun dia memaksakan diri untuk meniduri Emily, itu sama saja dengan bunuh diri. Namun sebenarnya kehadiran semua pengawal itu bukan satu-satunya masalah yang ada.


Jaysen saja sudah cukup tangguh untuk menghajarnya sampai tewas. 'Ck! Lelaki buta sialan itu." gerutunya sambil menatap Emily. Dia ingin memastikan kalau keadaan gadis itu tidak berantakan. "Dia benar-benar iblis! Aku harus memikirkan cara untuk menyingkirkan pria buta itu."


Dengan telaten, Gian membersihkan tubuh Emily menggunakan tisu basah. Setelah itu dia bahkan melipat dan menyimpan tisu basah itu dengan hati-hati. Dia pun mengecup bibir merah itu sambil tersenyum.


"Sampai jumpa lagi sayang....." gumamnya memandang wajah cantik yang sedang tertidur pulas. Dia berdiri diam dan memandang Emily dengan tatapan mesra. Dia kembali ******* bibiur Emily sambil menggerutu didalam hatinya.


Kalau saja dia mempunyai waktu yang lebih lama lagi, mungkin dia benar-benar akan bercinta dengan gadis pujaan hati. Memacunya dengan kencang seperti yang selalu Gian mimpikan setiap malam.


"Apa aku harus mabuk dulu agar bisa bermimpi menghabiskan malam bersamamu?" bisiknya lagi teringat pada malam-malam panasnya yang terasa sangat nyata.

__ADS_1


Gian menarik napas lalu berpaling. Dia tidak bisa menyia-yiakan waktu. Dia nyaris berlari kearahkedua pelayan wanita yang dia tidurkan tadi. Dokter muda itu segera menyuntikkan Niacin sejenis vitamin B untuk menetralisir obat insulin yang disuntikkannya tadi yang membuat kedua pelayan wanita itu pingsan.


Gian mengamati arlojinya dan menunggu sambil menghitung waktu sampai kedua pelayan wanita itu kembali sadar. Dia segera memasang wajah ramahnya saat kedua pelayan itu membuka mata dan terlihat terkejut.


"Dok---dokter? Apa yang terjadi? Kenapa kami----"


"Tidak ada apa-apa." sahut Gian.


"Ya? Maksudnya?" tanya pelayan wanita itu dengan bingung.


"Kalian hanya kelelahan karena bekerja keras sehingga tadi kalian merasa sedikit pusing." jawab Gian.


Dengan sikap yang baik dan sopan, Gian membantu kedua pelayan wanita itu berdiri. Wajah keduanya terlihat memerah dan terlihat malu sekaligus sungkan.


Kedua pelayan wanita itu merasa terharu dengan kebaikan hati sang dokter muda. Merekapun mengangguk setuju lalu membenahi pakaian mereka yang agak kusut karena berbaring diatas lantai.


"Bagaimana keadaan Nona Eleanor?" tanya salah seorang pelayan wanita itu pada Gian tanpa merasa curiga sedikitpun dia memutar kunci pintu kamar yang tadi dia kunci. "Apakah beliau baik-baik saja?"


"Jangan khawatirkan dia. Eleanor baik-baik saja dan sekarang dia sedang tertidur pulas." jawab Gian.


"Oh syukurlah." desah kedua pelayan wanita itu dengan nada lega. Salah satu dari mereka memeriksa keadaan Emily dan mengangguk untuk menyakinkan rekannya. Dia lalu merapikan selimut gadis itu yang sedikit tersingkap. "Semoga dia lekas sembuh."


"Iya," angguk pelayan wanita satunya. "Keadaan bisa gawat kalau beliau tidak sehat juga. Apalagi pernikahannya kurang dari tiga hari lagi."

__ADS_1


Senyuman diwajah Gian langsung hilang mendengar ucapan pelayan wanita itu. Kenyataan yang menamparnya bahwa dalan tiga hari lahi gadis impiannya akan menikahi pria lain. Merampas sebagian kebahagiaan yang tadi memenuhi hatinya.


"Tiga hari lagi? Jadi pernikahannya tiga hari lagi?" gumamnya lirih.


Perhatian ketiga orang itu teralihkan saat terdengar suara ketukan di pintu sebelum daun pintu itu mengayun terbuka memperlihatkan Argya yang berdiri disana. Dan dibelakang pria itu berdiri jaysen yang berdiri dengan angkuh dengan aura gelapnya yang dingin.


"Maaf kami mengganggu. Apakah semuanya sudah beres? Apakah pemeriksaan Nona Eleanor sudah selesai dokter?" tanya Argya.


"Ah iya. Aku sudah selesai memeriksanya, Argya. Dia baik-baik saja. Sepertinya demam dan gejala yang ditunjukkan Eleanor tadi disebabkan karena terlalu banyak beban pikiran. Mungkin pernikahan yang akan berlangsung sebentar lagi membuatnya stress."


"Apa maksudmu?" tukas Jaysen dengan nada tajam. Sikapnya sangat dingin sekaligus berbahaya, "Apa kau ingin mengatakan kalau pernikahan ini membuat calon istriku stress? Pendapat macam apa itu hah?"


Seandainya mata Jaysen tidak buta, sudah bisa dipastikan kedua mata hitam sehitam langit kelam itu pasti memandang Gian dengan tajam. Jelas terlihat ada nafsu membunuh yang menguar dari lelaki itu. Argya yang membaca situasinya pun dengan cepat segera mengambil tindakan.


"Apakah sekarang anda akan pulang, dokter? Mari saya antarkan ke depan. Untuk resep obat Nona Eleanor biar saya saja yang menerimanya." ujar Argya mengusir Gian secara halus.


Gian terdiam sesaat memandangi sosok lelaki dengan perban yang melilit menutupi kedua matanya itu. Mereka sudah saling mengenal sejak kecil dan dulu mereka juga sangat dekta nyaris seperti saudara sendiri. Namun hubungan mereka berdua memburuk sejak kecelakaan yang dialami kedua orang tua Gian yang menewaskan mereka.


Kecelakaan itu terjadi karena kedua orang tua Gian berusahamenyelamatkan Jaysen yang diculik. Tapi disaat pengejaran berlangsung justru mobil mereka ditabark dan terguling hingga terbakar. Menewaskan pasangan suami istri itu. Sejak kejadian itu, semuanya langsung berubah.


Gian yang bersedih dan harus mengurus adik tiri perempuannya yang selamat dari kecelakaan karena terlempar keluar mobil saat tabrakan terjadi. 'Sekarang, bocah yang dulu sering bermain bersamaku dan memanggilku kakak sekarang malah berdiri sambil memasang sikap angkuh padaku. Bukan itu saja, dia juga berubah menjadi lelaki dingin dan kejam bahkan tidak mengenal belas kasihan.' gumam hati Gian.


Sambil menghela napas dan menggelengkan kepala, Gian memasang senyum diwajahnya. "Baiklah Argya. Ini juga sudah larut dan aku ingin beristirahat. Silahkan kalau ingin mengantarku sampai ke depan."

__ADS_1


Argya mengangguk dengan sopan. Beberapa pelayan dan pengawal yang kebetulan ada disana diam-diam menghela napas lega. Sudah menjadi rahasia diantara mereka kalau hubungan antara Jaysen dan Gian memang sudah tidak sedekat dulu dan semakin memburuk.


__ADS_2